Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 43. When My Act Begins



Sekitar 4 minggu aku ikut Lorvah


terus ke kediamannya, selesai dia kerja di kedai kakek.


Anehnya…


“…”


…dia itu selalu keluar setiap


malam.


Mungkin aku udah tidur, tapi aku


selalu tau kalo dia pergi.


..................


Selain kerja di kedai kakek, Lorvah


juga selalu latihan di waktu kosongnya.


Aku seneng banget waktu liat dia


latian.


Dia keren banget.


“Lorvah, Lorvah! Kamu kok bisa


kuat banget, sih?”


“Iya lah! Aku kan dulunya Kapten!


Kalo Kaptennya nggak kuat, gimana caranya dia bisa pimpin anggotanya?! Hahaha!”


Ngeliat dia, aku jadi pengen


sekuat dia.


Tapi, waktu itu aku masih gampang


sakit. Aku pikir untuk jadi kayak dia itu cuma mimpi, sampe akhirnya…


“A…Anu…”


“Hm?”


“A…Aku mungkin berharap


ketinggian kalo aku bilang gini, tapi…”


“Tapi…?”


“Tapi aku mau kuat kayak kamu, Lorvah!


Tapi keliatannya nggak bi—”


“Bisa! Kamu pasti bisa!”


“Masa—”


“Kalo kamu minum ini! Hihi!”


“*Gluk, gluk…(suara menelan


minum)”


“Bleeeggghhh! Nggak enak!”


“Haha! Tapi itu bikin kamu kuat,


kok!”


Jujur, minuman itu nggak enak


banget!


Karena waktu aku masih kecil, aku


nggak sadar akan satu hal.


Itu minuman apaan? Kok dia bisa


punya minuman kayak gitu, ya?


Tapi, karena masih kecil, aku


nggak terlalu banyak mikirin hal itu.


..................


Waktu selesai latian malam-malam,


kita balik lagi ke kediamannya.


“Oh ya, Gia.”


“Hm?”


“Coba pegang ini. Terus sebut


kata ini: Luminescence.”


Lorvah kasih botol sihir ini ke aku.


“Luminescence...”


“…”


“Wah! Nyala!”


“Hihi! Ini hadiah aku untuk kamu!”


“Wah! Makasih, Lorvah!”


Semenjak itu, aku jadi deket


banget sama Lorvah.


Mulai dari main bareng, kerja


bareng di kedai kakek, bahkan waktu aku dilatih keras sama dia. Semuanya


menyenangkan.


Adanya Lorvah di hidup aku, bikin


aku ngerasa kalo dia itu hadiah paling indah yang pernah aku dapet.


Sampe berdoa pun, aku selalu


berharap kalo dia gak akan pernah tinggalin aku.


Sayang, Dewa-Dewi nggak denger


doa aku.


Lorvah ditangkep sama orang-orang


desa.


Dan malam sebelum Lorvah


ditangkep…


“Bleeeehhh! Lorvah! Apa aku harus


minum ini terus?!”


“Haha! Tenang, itu yang terakhir,


kok.”


“Beneran?! Horeee!”


Andai aku gak se-seneng itu.


Karena besoknya, aku nggak liat Lorvah


sama sekali di kedai.


“Kakek! Lorvah kemana ya—”


“*Puk… (suara pelukan)”


Waktu itu aku kaget karena kakek


tiba-tiba peluk aku erat.


Nggak cuma itu doang, aku bisa


ngerasain pundak aku basah.


“Ma…Maafin kakek, Gia! An…Andai


kakek berani kayak Lorvah!”


“Ka…Kakek—”


“Lor…Lorvah…dieksekusi…demi kamu!”


Awalnya aku bingung maksud kakek


apa.


Sampe akhirnya, aku pergi ke


kediamannya dan nggak ada juga keberadaannya.


Tapi, aku ada liat 3 lembar surat


dari Lorvah untuk aku.Semua surat itu ada angka 1, 2, dan 3.


Aku yakin ini pasti urutan surat


yang harus aku baca.


Waktu aku buka surat pertama,


langsung muncul suara dia yang kedengerannya lagi ngobrol sama seseorang.


“Me…Mergie! Maafin gue karena


te—”


“Ka…Kapten…sa…satu permintaan…”


“Se…Sebutin permintaannya! Gue


usahain untuk kabulin permintaan lo!”


“A…Ambil kertas ini…Kapten…”


“Surat ini…untuk a—”


“To…Tolong anak aku…Kapten…”


“Hah? Ini…resep untuk anak


lo?! Resepnya pake Buah Xi—”


“Cu…Cuma Buah Xia yang


bisa…selamatin Gia, Kap…te…”


“Mergie!”


Dari situ aku sadar.


Minuman yang sering Lorvah kasih


untuk aku ada kandungan Buah Xia.


Abis itu, aku buka kertas kedua…


“Hah?! Ke…Kenapa Lorvah


berani-beraninya curi Buah Xi—”


“Tolong buka surat ini, Pak


Fred. Ini rekaman dari Mergie sebelum dia wafat.”


Abis itu, kedengeran dialog


antara Lorvah sama ibu aku, persis kayak kertas pertama tadi.


bilang sekarang, nak?! Hiks*!*”


“Makanya itu, sesuai wasiat


terakhir dari anggota yang bener-benar saya percaya, saya rela ngelakuin hal


apapun.”


“Hiks…hiks…Maafin saya,


Lorvah! Karena saya, anda jadi—”


“Tenang, Pak Fred. Saya siap


tanggung semua konsekuensi karena kegagalan saya untuk jaga anak bapak.”


Begitu kira-kira dialog Lorvah


sama kakek.


Dan terakhir, surat ketiga…


“Hai, Gia! Kalo kamu buka


surat ini, mungkin aku udah nggak ada. Sebelumnya, maafin aku ya karena selalu


paksa kamu untuk minuman nggak enak itu. Padahal aku sendiri belum pernah minum


itu! Ahahaha!


Gia, aku yakin, kalo kamu


pasti bisa jadi orang yang kuat, bahkan leeeeebih kuat daripaa aku! Nanti kalo


kamu udah dewasa, pasti kamu ketemu sama orang-orang kuat yang jadi satu Party


sama kamu! Semoga kamu jadi Petualang, ya! Oh ya, bawa juga pedang aku yang


namanya World Quaker itu, ya! Aku yakin, kamu pasti layak kok pakai pedang ini!


Kamu nggak perlu sedih kalo


nggak bisa ketemu aku lagi! Karena hari-hari yang kita lewatin bareng itu


menyenangkan semua! Ya, kan? Semoga memori itu melekat di hati dan pikiran


kamu! Karena dimanapun kamu berada, aku selalu ada disitu! Di hati kamu!”


Sedih.


Aku bener-bener sedih dengernya.


Nangis sekeras-kerasnya, karena


aku tau aku nggak akan ada yang denger aku nangis.


“HUUAAAAAHA!!! LORVAAAAAAAHHH!!! AKU MAU MINUMAN DARI KAMUUUUU!!! AKU MENDING MINUM ITU DARIPADA KEHILANGAN KAMU, LORVAH!!! JANGAN TINGGALIN AKUUUU!!! HUAAAAAAAAA!!! LORVAAAAAAHHH!!!”


..................


Aku pun bener-bener pasrah.


Seminggu aku tidur di tempat Lorvah,


tanpa keluar dari tempat ini. Nangis sampe kering air  mata aku.


Anehnya, aku nggak ngerasa laper,


nggak ngerasa sakit, dan bahkan nggak ngerasa lemes.


Selama aku ada ruangan ini,


tiba-tiba suara teriakan Ghoul King kedengeran jelas banget, bahkan ruangan di


tempat ini bergetar.


Walaupun, waktu itu aku nggak tau


Ghoul itu apa.


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!”


Aku awalnya kaget. Tapi kejadian nggak berhenti sampe


situ aja.


“*Drap, drap, drap, drap… (suara banyak langkah


berlari)”


Banyak langkah kaki itu bikin aku semakin takut untuk


keluar dari ruangan ini.


Tambah lagi…


“*Drap! (suara hentakan kaki)”


Aku bisa tau kalo ada sesuatu yang berdiri tepat di


atas ruangan ini.


““Graaaaw!””


Ada banyak suara dari Ghoul yang lari-larian di atas


aku. Tapi, masih ada Ghoul King yang berdiri di atas ruangan ini.


Aku ketakutan. Aku takut kalo Ghoul itu tau kalo ada


orang di bawahnya.


Aku tunggu berjam-jam sampe Ghoul itu pada pergi.


“*Drap, drap, drap… (suara langkah kaki)”


Keliatannya semua Ghoul itu udah pergi.


Tapi nggak tau kenapa, aku punya firasat kalo itu


belum waktunya aku untuk pergi dari ruangan ini.


“*Drap, drap, drap, drap… (suara banyak langkah kaki)”


““Graaaaaaw!””


Ternyata bener firasat aku.


Aku coba keluar dari ruangan ini, sambil bawa


pedangnya Lorvah untuk jaga-jaga. Tapi…


“…”


…masih ada Ghoul King yang natap tajem aku.


Karena ketakutan, aku coba angkat pedang Lorvah,


yang namanya World Quaker ini, sambil arahin ke Ghoul King.


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!”


“…”


Ghoul King cuma teriak ke arah aku. Abis itu dia lanjut


lari ke arah dalam hutan.


Awalnya aku ngerasa lega, tapi karena terlalu fokus


sama Ghoul King, aku jadi nggak sadar kalo ada yang terang dari desa.


Ya. Terangnya itu karena terang api yang ngebakar


sebagian besar dari desa.


“Ka…Kakek!”


Aku langsung lempar pedang Lorvah ke ruangan ini dan


lari secepet mungkin ke arah desa. Bahkan jatoh pun, aku langsung diri tanpa


pikirin luka karena jatoh.


..................


Waktu aku sampe di desa, aku bisa liat keadaan yang


makin kacau.


Beberapa rumah yang rubuh, ladang yang kebakaran, dan


banyaknya korban luka maupun korban jiwa.


Nggak cuma warga aja yang jadi korban, bahkan


Petualang pun juga jadi korban.


Bahkan, kedai kakek bener-bener hancur, sampe sisa


setengah bangunan aja.


“Gia!”


Mungkin awalnya aku lega karena tau kakek selamat.


Tapi ada perasaan takut karena aku udah seminggu hilang dari kakek.


Aku cuma bisa tutup mata dan siap dimarahin kakek,


tapi…


“*Puk… (suara pelukan)”


…kakek peluk aku erat.


“Ja…Jangan pergi lagi dari kakek, ya?! Kakek takut


kehilangan satu-satunya anggota keluarga kakek! Hiks!”


“Ka…Kakek…ma…maafin Gia, kakek!”


Akhirnya aku sama kakek cuma bisa saling pelukan di


tengah kacaunya desa ini.


..................


Ternyata, Ghoul itu nggak cuma sekali samperin desa.


Mereka terus ngehantuin desa bahkan sampe 10 tahun.


Tapi, seminggu setelah Lorvah pergi, aku jadi inget


kata-kata Lorvah yang ada di surat waktu itu…


“Gia, aku yakin, kalo kamu


pasti bisa jadi orang yang kuat, bahkan leeeeebih kuat daripaa aku! Nanti kalo


kamu udah dewasa, pasti kamu ketemu sama orang-orang kuat yang jadi satu Party


sama kamu! Semoga kamu jadi Petualang, ya! Oh ya, bawa juga pedang aku, ya! Aku


yakin, kamu pasti layak kok pakai pedang ini!”


Bener. Aku harus makin kuat.


Aku beraniin diri untuk ambil pedang Lorvah di hutan.


Aku latihan terus, persis apa yang Lorvah ajarin ke


aku.


Dan 8 tahun semenjak aku latihan, akhirnya aku beraniin


diri untuk jaga desa ini dari serangan para Ghoul, khususnya yang keliatan


paling kuat dari antara mereka semua, Ghoul King.


Selesai aku berhasil kalahin Ghoul King, di situ aku


mulai percaya diri untuk jadi Petualang.