Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 372. The Legend Shows Herself



““Roaaaarrr!!!””


Cih! Sekarang ada banyak banget singa bersayap yang mau nyamperin gue! Gue bener-bener mau dimangsa mereka!


“…”


““Roaaaarrr!!!””


Mending lari dulu aja di atas awan empuk ini, daripada harus lawan mereka yang terbang-terbangan!


““*Swush, swush, swush…””


Sekarang singa-singa bersayap itu ngejar gue.


Tapi ada satu hal yang gue sadar, waktu gue lari di atas awan ini.


“…”


Hembusan angin kencengnya nggak berasa dari bawah!


Sialan! Kenapa gue baru sadar, kalo semakin tinggi kita di atas udara, semakin tinggi tekanan udaranya!


Kalo gitu gue saranin Bocil Naga untuk terbang di bawah aja, daripada di atas!


Tapi gue nggak boleh sesalin terus apa yang udah lewat! Mending gue fokus aja lawan singa-singa bersayap ini!


Mungkin sebelumnya gue ngomong…


“Andai kekuatan gue masih ada!”


Tapi sekarang gue udah siapin diri gue untuk hadapin skenario kayak gini!


……………


Beberapa hari sebelum kita masuk Hidden Dungeon, gue sempet minta sesuatu ke Katanaka.


“Suatu senjata yang bisa dilempar?”


“Ya. Senjatanya nggak perlu gede-gede. Tapi kalo boleh, gue mau senjata yang bisa ditempel sihir gue.


Mungkin pernah denger yang namanya Runecraft?”


“Tentu saja saya tahu, Djinn-dono! Ribuan tahun yang lalu, Klan Tanzō menerima didikan untuk menempa


senjata oleh Kaum Dwarf! Maka dari itu, tentunya klan kami mengenal sihir itu!”


Mungkin gue ngerasa agak beruntung nanya gitu ke dia, karena gue jadi tau sejarah tentang klan dia.


“Terimalah ini, Djinn-dono.”


“…”


Dia ngasih gue gulungan kertas. Awalnya gue kira dia mau kasih gue tata cara buat senjata yang mau dia


rekomendasiin.


“I-Ini—”


“Gulungan ini berisikan senjata khas kami yang bernama shuriken. Mungkin shuriken ini terbuat dari material terbaik yang klan kami miliki. Tetapi tidak ada atribut sihir yang terdapat di senjata ini.”


“Tapi semua shuriken ini bisa dipasang Runecraft, kan?”


“Tentu saja, Djinn-dono!”


“Yaudah. Selama senjata ini bisa dipasang Runecraft, artinya cukup buat gue.”


Kalo gue perhatiin lagi, shuriken ini agak mirip sama shuriken yang waktu itu dipake Nekomi. Bedanya, shuriken dia ukurannya jauh lebih gede daripada shuriken ini.


“Tetapi, Djinn-dono…”


“Mm?”


“Alangkah baiknya jika anda berjaga-jaga, dengan memegang ini.”


“Ini…”


“Kunai.”


“…”


Pisau ini cuma tajem di ujungnya. Tapi tajemnya nggak main-main.


“Makasih sebelumnya, Pak Katana—Hm, Katanaka-san?”


“Ahaha… Senang bisa membantu anda, Djinn-dono. Tetapi saya rasa shuriken saja tidak cukup, Djinn-dono.”


“Hm?”


“Terimalah senjata ini, Djinn-dono.”


“…”


Ujung-ujungnya gue nggak cuma dapet kunai sama shuriken aja dari Katanaka. Gue juga punya senjata lain.


Tapi senjata yang satu ini, untuk di cerita lainnya.


“*Shruk! Shruk! Shruk!”


“…”


Sehabis dapet shuriken, gue langsung latian cara pakai senjata ini. Katanaka juga bantuin gue cara lempar shuriken yang bener.


Mungkin konsepnya agak mirip sama lempar bumerang, di mana kekuatan lemparan itu pengaruh ke rotasi senjata ini. Makanya itu gue harus lebih akurat.


……………


Makanya sekarang gue udah siap banget untuk lawan monster-monster ini!


((Rune Spell: Explosive Throw))


“*Shringringring…”


“*Boom!”


““Roaaaarrr…””


Bagus! Ternyata singa-singa bersayap ini gampang diserang sayapnya!


“*Boink, boink, boink…”


Karena mereka sekarang jatoh ke awan-awan empuk ini…


“*Shruk! Shruk! Shruk…”


…gue langsung ambil kesempetan untuk tusuk kepala mereka pake kunai, sebelum mereka bisa bergerak lagi!


Karena di dunia yang aneh ini, kita nggak akan pernah tau tentang mahluk-mahluk aneh ini bisa apa aja!


Makanya gue langsung ambil tindakan preventif, sebelum mereka bisa ngapa-ngapain!


“…”


Keliatannya mereka gampang mati. Gue kira monster-monster ini bisa regenerasi.


Tapi… semoga aja Machinno nggak liat tindakan gue, deh. Dia kan nggak tegaan untuk bunuh binatang. Bahkan dia kadang-kadang kesel sama daging-daging yang gue potong untuk masak lauk.


Eh ngomong-ngomong soal daging…


“…”


…kira-kira daging singa bersayap ini bisa dimakan nggak ya?


Eh, tapi kan dia Spirit Beast. Mungkin nggak ya Spirit Beast bisa dimakan—


““Roaaarrr!!!””


“…”


Cih! Kenapa tiba-tiba gue jadi gagal fokus?! Kan masih ada beberapa dari antara mereka yang pasti ikutan


ngejar gue!


“*Shringgg…”


Mending gue siapin shuriken dulu untuk—


“Chaaaakkk!!!”


“*Chrak!”


“Rrrr…”


Duh! Kenapa tiba-tiba ada Griffin, sih?!


Badannya lebih gede daripada semua singa-singa bersayap! Apalagi Bocil Naga udah ingetin ke kita tentang bahayanya monster ini!


““*Chrak, chrak, chrak…””


““Chaaaakkk!!!””


““Roaaaarrr!!!””


Mereka lagi berantem, kan?!


“…”


Yaudah! Sekarang gue nggak boleh sia-siain waktu gue lagi untuk lari dari tempat ini!


Semoga aja mereka berantemnya lebih lama lagi, sampe gue—


“Rooaaaar!”


“*SWUSH!!!”


*****! Kok tiba-tiba ada singa bersayap yang nyerang gue?!


“*Shruk!!!”


“Roaar!”


Gue lempar shuriken yang masih gue punya di gulungan kertas ini.


((Rune Spell: Electrocution))


“*Chrrkkchrrkk!!!”


“Roaaaarr…”


Terus gue setrum pake Runecraft gue!


“*Bruk…”


Yaudah deh! Mumpung udah nggak ada—


““Raur! Raur!””


Haaaaahhh…! Kenapa sekarang ada anjing-anjing bersayap yang ngejar gue?!


Tapi nggak apa-apa! Karena mereka nggak secepet singa-singa bersayap tadi, gue bisa lawan mereka dari jarak deket!


“Raur! Raur—”


“*Bhuk!”


“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”


“Heaaaagh!”


“*Bhuk!”


“*Crat, crat, crat…”


Huh! Untung aja mereka nggak terlalu kuat! Jadinya bisa gue hajar langsung pake tangan gue!


““Roaaarrr!!!””


Cih! Singa-singa bersayap itu mau ngejar gue la—


“Haurp, haurp, haurp…”


“…”


T-Ternyata mereka makan anjing-anjing bersayap yang barusan gue hajar?


Yaudah deh! Waktunya gue lari dari sini secepetnya! Daripada gue harus lawan Griffin—


“CHAAAAAAKKK!!!”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


G-Gila! Kok tiba-tiba ada Griffin yang mau serang gue?! Apalagi, ukurannya jauh lebih gede daripada Griffin yang lainnya!


Kalo gue telat dikit untuk hindarin kakinya, mungkin gue udah ditangkep burung empat kaki itu!


Nggak! Ditangkep aja masih mending! Bahkan gue bisa aja langsung dimakan?!


““Roaaaarrr!!!””


“Chaaaaakkk!!!”


“*FWUSH!!!”


“*Shrak, shrak, shrak!”


HAH?!


“…”


Kok tiba-tiba singa-singa bersayap itu pada kepotong-potong?! Padahal kan Griffin itu cuma kepak sayapnya aja!


A-Apa mungkin… Griffin itu bisa sihir?!


““*Chaaaakkk…””


““*Fwup, fwup, fwup…””


“!!!”


Bener dugaan gue! Ternyata Griffin satu ini tuh pimpinan kawanan Griffin lainnya!


Pantesan aja badannya jauh lebih gede daripada Griffin lainnya!


“Cih!”


“…”


Sekarang mereka lagi pada makanin singa sama anjing bersayap itu! Kalo gitu gue harus lari secepet-cepetnya darivmereka, daripada gue lawan mereka—


“!!!”


Huh! Untung aja gue nggak jatoh!


Karena terlalu panik sama semua Griffin itu, gue sampe nggak sadar, kalo gue udah ada di ujung awan empuk ini!


“…”


Kalo awan ini bisa mantulin gue ke atas awan yang ada di situ, artinya gue masih bisa lari dari mereka!


“Huuuuu… haaaaaahh…!”


Satu! Dua! Tiga!


“*Boiiiinnk…”


“!!!”


B-Bener! Ternyata gue bisa lompat ke awan yang ada di atasnya—


“*Boink!”


Aduh!


“*Boink!”


Kenceng banget…


“*Boink!”


…efek mantulnya!


“…”


“Huff! Huff! Huff!”


Seenggaknya… gue nggak mantul-mantul lagi…!


Tapi semoga aja…


“…”


…gue nggak dikejar semua Griffin itu—


“*FWUSH!!!”


“!!!”


Brengsek! Kok tiba-tiba awan ini kepotong—


“Chaaaakkk!”


Cih! Gue kira Griffin-Griffin tadi masih makan singa sama anjing bersayap! Ternyata mereka udah ada di sini!


““*Fwup, fwup, fwup…””


“…”


Mereka udah dateng dari bawah ya?!


Mau nggak mau, gue harus lawan mereka!


“*Shringringringring…”


((Rune Spell: Explosive Throw))


“*Boom!”


““…””


A-Apa-apaan?! Kok shuriken yang gue lempar nggak mempan?!


“Chaaaaakkk!”


Brengsek! Mereka udah mau serang gue!


“*Swush!”


“…”


Hindarin salah satu dari antara mereka, terus tusuk pake Kunai ini!


“*Chringgg…”


“!!!”


Hah?! Kok keras banget sayapnya?!


“*Chrak!”


“Argh! Bangsat!”


S-Sakit banget cakarannya…! Walaupun gue udah hampir berhasil hindarin cakarnya, tapi dada gue tetep kenav cakarnya…!


““…””


S-Sialan…! Terus gimana cara lawan mereka…?!


“*Boom! Boom! Boom!”


“*FWUSH!!!”


“Chaaaakkk!!!”


Cih! Gue putus asa banget! Padahal gue tau lempar Shuriken pake Runecraft gue nggak akan berhasil! Tapi gue tetap harus lakuin apapun, supaya mereka nggak—


“*DHUMMMMMMMMM………”


“!!!”


A-Aura apa ini…?!


K-Kenceng banget…!


““Chaaaakkk!!!””


“…”


B-Bahkan semua Griffin yang ada di depan gue sampe kabur…!


“*Drap, drap, drap…”


A-Ada orang yang jalan dari belakang gue?! Siapa dia—


“Ternyata engkau sudah kembali, kah?”


“…”


S-Siapa cewek ini…?!


Kok mukanya ditutup pake kain…?!


Tunggu! J-Jangan-jangan…


“Lo… yang namanya… Ayasaki… bukan…?”


“…”


Dia diem aja.


Berarti cewek ini tuh gurunya Myllo sama Bocil Naga, yang juga Pahlawan Kuno, sekaligus temen lamanya Melchizedek!