Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 249. The Prime Target



“Aaaargh!”


“Lari! Lari! Lari!”


Beberapa warga Gazomatron mulai dilanda kepanikan karena kedatangan beberapa Children of Purgatory yang datang.


Kali ini, di Voxhaben Point.


“Jadi mereka semua…”


“Kita ambil Jiwa-nya!”


Anggota Children of Purgatory mulai bergerak.


“Aaaaa—”


“*Shrak!”


“JANGAN SUAMI SA—”


“*Shruk…”


Mereka langsung membunuh warga di Gazomatron dan mengambil Jiwa masing-masing korban, dengan menggunakan Soul Devourer.


“Cih! Masa segini doang, sih?!”


“Ini sih secuil doang! Bahkan kalo mau ubah bangkai Naga jadi Undead Dragon, cuma kelingking doang yang bisa gerak!”


“Ternyata negara ini cuma kuat dari teknologi doang! Warganya nggak ada apa-apanya!”


Seru beberapa anggota Children of Purgatory yang mengungkapkan kekesalan mereka terhadap Jiwa


yang mereka koleksi.


““*Boom! Boom! Boom!””


““Uarrgh!””


Pasukan Gazobot datang dan menyerang beberapa anggota Children of Purgatory.


Walaupun dengan kekuatan tempur yang besar…


“Haaaah, sialan!”


“Benda macem apa sih tuh yang nembak kita?!”


…namun nyatanya pasukan yang menyerang negara tersebut terlihat baik-baik saja.


“*BOOM!”


“Aaargh!”


Salah satu unit Gazobot diserang oleh salah seorang anggota Children of Purgatory.


“Dasar mainan sialan! Kalo pun kita punya regenerasi, mereka pikir kita nggak bisa ngerasain sakit, ya?!”


“Yaudah lah! Yang penting nggak ada yang bisa serang kita lagi!”


“Bener banget! Kalo mereka cuma bisa gitu doang, yang perlu kita lakuin cuma nahan rasa sakit aja, kan?!”


Seru beberapa anggota Children of Purgatory, dengan maksud meremehkan pasukan unit Gazobot.


“Mustahil…”


“Bagaimana cara kita… menaklukan monster-monster ini?!”


Seru beberapa pengendara unit Gazobot dengan resah.


“Ayo kita bantai mere—”


“*DOR!!!”


““!!!””


Beberapa anggota Children of Purgatory dikejutkan dengan adanya tembakan senapan jitu yang membunuh salah satu dari mereka.


“Woy! Bangun woy!”


“Kenapa ada yang ma—”


““*DOR! DOR! DOR!””


““…””


Anggota Children of Purgatory lainnya mati tertembak.


“A-Anda adalah…”


“Observer dari Aquilla?!”


“Ya. Gue Dalbert.”


Jawab Dalbert kepada beberapa pengendara unit Gazobot.


“Garry, untung ada lo yang bantu gue tunjukkin lokasi Jiwa anggota sesat ini.”


“Hehe! Tenang wae atuh, Dalbert!”


Balas Garry kepada Dalbert yang ia lengkapi dengan Sihir Roh miliknya.


“Denger gue! Kalo Jiwa mereka hancur, mereka langsung mati!”


“Jiwa mereka?! Lantas, bagaimana kita mencari tahu Jiwa mereka se—”


“Nah itu dia. Kalian nggak akan bisa. Makanya kalian fokus bantu warga aja! Ini perintah dari Garrett!”


““Baik, Petualang!””


Balas beberapa pengendara unit Gazobot kepada Dalbert.


“Untung ada Siren yang ngasih tau cara lawan mereka.”


Pikir Dalbert, sambil teringat akan pesan Delolliah dan dua saudarinya.


“Dengarkan kami! 5,000 tahun yang lalu, ketika Iblis menginjakkan kaki di Geoterra untuk pertama kalinya, mereka selalu berusaha untuk merasuki Mahluk Fana ketika dikalahkan.”


“Ketika memasuki Mahluk Fana, satu-satunya cara membunuh mereka adalah dengan menghancurkan Jiwa dari Mahluk Fana yang mereka rasuki!”


“Oleh karena itu, ketika ada anggota penyembah Iblis yang datang, alangkah baiknya jika kita menyerang Jiwa mereka!”


Jelas Jennania, Delolliah, dan Nemesia kepada anggota Petualang dan Mistyx.


“Mungkin kita harus cari Jiwa mereka supaya mereka mati. Masalahnya, Myllo nggak tau soal itu! Semoga aja dia nggak kenapa-kenapa!”


Pikir Dalbert yang mengkhawatirkan Myllo.


Sedangkan Myllo yang berada di Snellsham Point…


“Hyaaaat!”


“*TUK!!!”


““Uaaargh!””


…sudah berada di tengah-tengah pertarungan melawan anggota Children of Purgatory.


“A-Ada yang aneh!”


“Kenapa kita kehilangan kekuatan Iblis kita?!”


“Sialan! Kekuatan macem apa yang dia—”


““*TUK!””


““Aaaargh!””


Myllo langsung menyerang beberapa anggota Children of Purgatory yang dilanda kekhawatiran dan kepanikan karena kekuatan mereka yang hilang.


“S-S-Semuanya! Hati-hati sama orang itu!”


““…””


“Dia itu Saint yang dibilang Master!”


“Dia itu Saint?! Pantes aja dia bisa hilangin kutukan yang kita terima!”


Seru beberapa anggota Children of Purgatory, sambil menyaksikan Myllo yang berdiri di atas tumpukan rekan-rekan mereka.


“Hah?! Saint ini, Saint itu! Gue bahkan nggak butuh kekuatan Zegin untuk lawan kalian semua!”


““!!!””


Terkejut dan amarah mengaburkan pikiran mereka.


“Dasar brengsek!”


“Jangan lo pikir kita langsung lo gitu aja, budak dewa!”


“Mati lo, dasar biadab!”


Seru beberapa anggota Children of Purgatory yang bersama-sama menyerang Myllo.


Melihat mereka semua…


“Hehe!”


“*Swush!”


…Myllo hanya berlari melewati mereka semua.


Sambil berlari, ia juga menyerang mereka dengan sangat cepat.


“*Tuk, tuk, tuk, tuk…”


““Aaaargh!””


“Cih! Jangan biarin Saint itu—”


((Dark Flame))


“*Vwumm!”


““Aaargh!””


Karena mereka kehilangan kekuatan Iblis mereka, Styx langsung membunuh mereka semua.


“Hehe! Tanpa gue kasih aba-aba, lo bisa ngikutin gue ya, Styx?!”


“Hmph! Pokoknya awas aja kalo lo sampe nyuruh-nyuruh gue lagi! Dasar dongo!”


Seru Styx sambil mencemooh Myllo.


“Apa lo bilang?! Gue bisa aja langsung kalahin mereka semua!”


“Bawel! Striker doang tapi banyakan gue yang ngalahin mereka!”


Balas Styx, sambil menunjukkan anggota Children of Purgatory yang ia kalahkan.


“Apa lo bilang?! Banyakan gue, tau!”


“Hah?! Lo bisa ngitung nggak sih?!”


Mereka terus berdebat, sebelum menghadapi anggota Children of Purgatory yang berlari ke arah mereka.


“Yaudah! Sekarang kita buktiin siapa yang lebih banyak!”


“Haaaah… Udah lah, Myllo! Lo kayak anak kecil a—”


“Hmph! Dasar penakut!”


“HAAAAAAH?!?! Sini gue buktiin!”


Balas Styx dengan kesal, setelah Myllo mencemoohnya.


……………


Di lokasi Duskmere Point, Gia terpaksa harus menghadapi anggota Children of Purgatory sendirian.


“*Prang!”


“Dasar cewek biadab! Dia nggak tumbang-tumbang!”


Seru salah seorang anggota Children of Purgatory, sambil meregenerasi lengannya yang terpotong oleh pedang besar Gia.


Namun ketika mereka sedang meregenerasi luka yang mereka terima…


((Rune Spell: Curse Cleansing))


““!!!””


…Angela berhasil menjebak mereka dengan Sajak yang ia siapkan di sekitar Duskmere Point, agar kekuatan kutukan dari setiap anggota Children of Purgatory menghilang.


“A-Apa-apaan ini?! Kenapa kekuatan Iblis gue hi—”


“Serang mereka semua, pasukan Gazomatron!”


““Baik!””


“*Boom, boom, boom…”


““Uaaaargh!””


Karena aba-aba dari Angela, seluruh pasukan unit Gazobot langsung menyerang mereka, hingga membunuh beberapa dari mereka semua. Namun, ada juga beberapa anggota Children of Purgatory yang masih bisa hidup.


“Si-Sial. Menggunakan Runecraft seperti tadi menggunakan sangat banyak Mana. Tetapi masih ada yang bisa bertahan hingga efek dari Runecraft saya habis?!”


Seru Angela, sambil menyaksikan Sajak yang ia tuliskan hilang secara perlahan-lahan dan juga anggota Children of Purgatory yang kekuatan kutukannya kembali. Karena hal tersebut, terpikir sesuatu di benak Angela.


“Menghancurkan Jiwa, kah? Bahkan tidak semua Mahluk Abadi bisa melakukan hal seperti itu! Yang bisa melakukan hal seperti itu… hanyalah orang-orang yang bisa menggunakan Union! Tanpa hal tersebut, maka usaha kami akan sia-sia!”


Pikirnya akan kelemahannya.


“Nyonya Maevin, maafkan saya. Andai saya memiliki Mana yang le—”


“A-Aku juga. Andai aku bisa kalahin mereka langsung!”


Balas Gia dengan kesal.


“Duh! Gimana sih cara ngalahin mereka?! Percuma aja aku lawan mereka, tapi mereka tetap bangkit terus-terusan?!”


Pikir Gia dengan resah karena harus menghadapi beberapa anggota Children of Purgatory.


“Tapi nggak apa-apa! Selama aku jadi Frontliner, tugas aku cuma jagain orang-orang di sekitar aku! Makanya itu, semoga aja Machinno sama warga lainnya nggak ketauan!”


Kembali pikirnya, sebelum menghadapi serangan dari anggota Children of Purgatory.


Di belakang Gia, terdapat beberapa warga yang gagal melakukan proses evakuasi dan terjebak dengan pertarungan antara Gia melawan sekte yang menyerang negara tersebut.


“Duh, nasib kita gimana, nih?!”


“S-S-Serem banget…”


““…””


Sahut beberapa warga Gazomatron, dengan gemetar ketakutan.


Di antara mereka, terdapat Machinno yang ikut bersembunyi. Sebelum ia bersembunyi bersama warga Gazomatron, Machinno diberikan pesan oleh Gia.


“Kalo kamu takut, jangan coba-coba untuk keluar ya, Machinno! Biar aku sama pasukan Gazomatron yang jagain kalian!”


“…”


Karena pesan itu, Machinno menjadi sangat khawatir.


Bukan karena dirinya takut tertangkap basah oleh Children of Purgatory, melainkan takut akan apa yang dihadapi Gia.


“Gia…”


Pikir Machinno yang mengkhawatirkan Gia.


……………


Jauh di atas Gazomatron, di mana sekumpulan Undead Dragon terbang mengitari negara tersebut.


“Di beberapa wilayah terlihat imbang. Tetapi saat ini, kelihatannya Gazomatron masih mendominasi.”


Bisik Master yang menganalisa peperangan.


“Anakku, Chyrra. Aku merasakan ada beberapa mahluk yang seharusnnya sudah punah yang berada di tempat itu. Seranglah titik itu.”


“Siap, Master.”


Jawab Chyrra ketika Master menunjuk ke pertarungan di mana terdapat para Siren.


“Ganon. Aku mengagumi kebrutalanmu. Jadi, seranglah titik itu.”


“OK, Master!”


Jawab Ganon ketika Master menunjuk pertarungan Gia dan Angela melawan anggota mereka.


“Sickus. Seranglah titik itu. Aku merasakan adanya Mahluk Abadi di titik itu.”


“Baik, Master!”


Balas Sickus yang bersiap untuk menyerang dua anggota Aquilla yang bersama dengan dua mantan Scholar.


Dengan perintahnya, ketiga Acolyte itu menjalankan perintah Master.


Namun, berbeda dengan Zoe.


“Master, apa yang harus saya laku—”


“Maafkan aku, anakku. Karena kau yang memiliki akal paling sehat dari antara ketiga saudaramu, maka aku memberikanmu tugas khusus.”


“Tugas khusus…?”


“…”


Master pun menjelaskan tentang tugas khusus yang harus ia kerjakan.


 “!!!”


Zoe yang mendengar tugas yang ia emban pun terkejut.


“Jadi…”


“Ya. Ikutilah aku dan jagalah aku. Jangan sampai ada satupun yang menghampiriku.”


“Baik, Master.”


Jawab Zoe yang ikut bersama Master, untuk menjalankan tugas besarnya.


Dalam perjalanannya, Zoe bertanya kepada Master.


“Master, bagaimanakah dengan seseorang yang Master inginkan?”


“Jangan dulu. Kondisinya saat ini sangat berbahaya.”


“Berbahaya?”


“Kau benar. Kita harus memisahkan dirinya dari seorang Saint. Oleh karena itu, biarlah aku memberikan ujian kepada dua anakku tersebut.”


Jelas Master, yang membicarakan tentang Styx sebagai target utamanya.