Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 173: Party Brawl



Party Brawl dimulai.


“Serang mereka, Virgo!”


““Ya!””


Virgo beserta beberapa anggota Lynx menyerang mereka Aquilla, beserta beberapa anggota Lynx lainnya dan Ocean Witch.


“Djinn! Bawa lari cewek itu!”


“OK!”


“Eh?! Apa yang kau laku—”


“Bawel!”


Seru Djinn, sambil menopang Ocean Witch di pundaknya.


“Jangan biarkan pria itu pergi!”


““Ya!””


Seru seluruh anggota Virgo saat ini.


Kedua Striker Virgo, Nautina dan Kaili, berlari dengan kencang untuk mengejar Djinn.


Akan tetapi…


“*Fwush!”


…Myllo menghadang mereka dengan kekuatan Zegin.


“Hehe! Ayo lawan gue, kalian berdua!”


Seru Myllo kepada mereka berdua.


Mereka pun menyerang Myllo.


““*Bwush!””


“Ups! Hehe!”


Myllo menghindari dua pisau air milik Tina.


Sedangkan Kaili…


“*Tuk!”


“Hehe! Lo kira gue nggak sadar kalo lo bakal serang gue dari samping?!”


…hendak menyerang Myllo dengan pedang miliknya.


Sementara itu, beberapa anggota Lynx saat ini sedang bertarung dengan satu sama lain.


“*Chringgg…”


Molly dan Vizrox saling beradu pedang.




“*Bwush!”


Evri dan Kristotte saling beradu sihir.


Sedangkan dua anggota lainnya…


“Woy, Paul! Kok lo malah lari?!”


“Nih orang lari! Makanya gue juga lari!”


…hanya berlari, seakan mereka sedang bermain kejar-kejaran.


“Woy, bocah topeng! Kok lo lari doang, sih?! Katanya kuat! Dasar pengecut!”


“Bacot! Gue mau amanin dia dulu, *****!”


Seru Djinn dengan kesal.


Namun, karma datang begitu cepat untuk Paul.


“Woy, Paul! Jangan kayak pengecut, deh! Ayo lawan gue!”


“Hah?! Apa lo bilang?!”


Seru Paul dengan kesal atas cemooh Awva.


“Sialan lo, Awva!”


“*Chringgg…”


Ia pun menyerang Awva dengan kapaknya.


“Hmph! Bener aja gue harus pancing emosi lo dulu!”


“Diem lo!”


Seru Paul dengan kesal.


“Ayo! Keluarin wujud asli lo, Paul!”


Seru Awva kepada Paul.


Melihat semua anggotanya yang bertarung satu sama lain…


“Hmph…”


…Ollie tersenyum.


“Yaudah deh, gue mau tidur dulu. Semoga kalian bisa manfaatin waktu latihan ini.”


Kata Ollie, sebelum ia tertidur.


Sementara semua sedang bertarung satu sama lain…


“Hey! Jangan berlari terus!”


“Nggak mau!”


…Garry hanya berlari menjauhi Aely.


“Cih! Jika kau berlari terus…”


“*Vwumm!”


“…maka aku akan membunuhmu dari jarak jauh!”


“Hiiieeeekkkhh!!!”


Teriak Garry dengan ketakutan.


Sambil berlari, Garry mengingat pesan gurunya, Wilfred Witherose.


“Garry. Sia teh nggak boleh sakitkeun cewek atuh yak, mau fisik atau perasaan. Apapun kondisinya, sia harus buktikeun kalo sia teh cowok jantan!”


Pesan Wilfred di dalam ingatannya.


Oleh karena itu, Garry pun tidak ada niat untuk menyerang Aely.


Walaupun…


“Hey! Apakah anda benar-benar anggota Aquilla yang diagungkan layaknya pahlawan di Erviga?! Mengapa anda hanya bisa berlari?!”


…dirinya maupun Aquilla diremehkan Aely.


“Duh, Myllo! Maafkeun aing atuh, ya! Aing teh nggak punya niat sakitkeun teteh geulis!”


Pikir Garry, yang merasa telah mencoreng nama baik Myllo maupun Aquilla.


Dan terakhir…


“Terima ini!”


“*Bwush!”


“…”


Djinn terus dikejar oleh Piedda dan Jenna, sambil menopang Ocean Witch.


“Le-Lepaskan aku! Aku baik-baik saja! Kau tidak perlu mengkhawatirkanku!”


“…”


Djinn menatap kondisi Ocean Witch yang terluka.


“Cih! Gimana nggak apa-apa?! Lo aja luka-luka kayak gitu!”


Seru Djinn kepada Ocean Witch.


Tambah lagi…


“Apalagi secara nggak langsung gue yang bikin lo sekarat kayak gitu!”


…ia merasa bersalah akan apa yang menimpa Ocean Witch.



Dengan sihirnya, Piedda memanggil hiu yang sangat besar, yang datang dari depan Djinn.


Walaupun ia melompat dengan tinggi untuk menghindarinya…


“*Haurp!”


“Agh! Anjing!”


…Djinn tetap tidak bisa menghindari gigitan hiu itu, yang menggigit kaki kirinya hingga putus.


Walaupun kehilangan satu kakinya…


“*Bruk…”


…Djinn masih bisa mendarat dengan satu kakinya.


“Djinn! Kakimu—”


“Tenang aja. Mending lo tunggu di sini.”


Balas Djinn kepada Ocean Witch yang mengkhawatirinya.


“Ayo sembuh, brengsek!”


“…”


Perlahan, kaki Djinn yang hilang pun tumbuh kembali.


Melihat regenerasi miliknya yang sangat cepat, Jenna dan Piedda siap menghadapinya dengan waspada.


“Piedda. Hati-hati akan pria itu. Sebagai Mahluk Fana, aku yakin bahwa ia sangat kuat.”


“Baiklah, Nyonya Jenna.”


Balas Piedda kepada Jenna, sambil meraka bersiap untuk menyerang Djinn.


Kembali ke pertarungan yang ada antara Aquilla dan Virgo.


“*Shring! Shring!”


Molly masih berkutat melawan Vizrox.


Keduanya sama-sama mencari celah satu sama lain, selama pedang mereka saling beradu.


Setelah lama menyerang satu sama lain…


“Bagus! Dapet celah!”


“*Shrak!”


…Molly berhasil menyerang Vizrox terlebih dahulu.


Namun, hal seperti itulah yang ditunggu oleh Vizrox.


“Humph!”


“…”


“Cih! Kenapa nggak mau lepas?!”


Seru Molly, setelah pedang yang ia gunakan tidak bisa lepas dari otot paha Vizrox yang ia tusuk.


Karena itu pun, Vizrox menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya.


“Hruaaagh!”


Teriak Vizrox, sambil mengayunkan pedangnya ke arah Molly.


“*Swush!”


Molly berhasil menghindari ayunan pedang Vizrox.


Namun…


“Pe-Pedang gue!”


…pedangnya masih tersangkut di paha Vizrox.


“Bagaimana bisa, Molly?!”


“*Shrrrkk…”


“Anda ini Striker, tetapi bagaimana bisa anda meninggalkan senjata anda begitu saja?!”


Cemooh Vizrox, sambil menanggalkan pedang Molly dari pahanya.


Karena cemoohan itu, Molly pun menjadi marah.


“*Swush!”


Ia bergerak dengan sangat cepat, lalu…


“Hupp!”


“Kaaakh!”


“*Krrrtt…”


…ia membanting Vizrox dan mencekiknya.


“Akkh! Mo-Molly!”


“Humph!”


“Sa-Saya menyerah!”


“…”


Molly tidak melepasnya dan hampir membunuhnya.


Tidak lama kemudian…


“*Tap, tap, tap…”


“OK. Cukup, cukup, cukup…”


…Ollie datang untuk menghentikannya.


“Bos! Tapi—”


“Oi, oi, oi! Gue masih butuh dia, tau!”


“…”


Atas permintaan Ollie, Molly pun melepaskannya.


Ketika ia melepaskannya…


“*Shringgg…”


“Jangan bergerak, Vizrox. Lo udah kalah.”


“Cih!”


…Ollie menghunuskan kapaknya untuk menghentikan Vizrox yang hendak menyerang Molly.


“OK. Karena Vizrox kalah, artinya udah satu kosong, ya?”


Kata Ollie, sambil memperhatikan pertarungan anggotanya yang lain.



“*Boom!”



“*Jgrum!”



“*Shrrrk!”


Kristotte terus menyerang Evri dengan sihirnya tanpa henti.


Sementara Evri…


“*Brrk! Brrk! Brrk!”


…hanya bersembunyi dari balik batu besar yang ia ciptakan dengan sihirnya.


“Bos! Liat gue, bos!”


“Hm?”


“Serangan gue nggak ada abisnya! Harusnya gue ini Striker, bos!”


Seru Kristotte yang memamerkan serangan sihirnya kepada Ollie.


Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama.


“Kristotte, seriusan lo serang dia terus-terusan kayak gitu?”


Tanya Ollie kepada Kristotte yang…


“I-I-Iya, bos…”


“*Bruk…”


…kehabisan Mana karena serangan sihirnya yang berlebihan.


“Haaaah… Makanya itu gue minta lo jadi Keeper aja, bego. Kalo lo jadi Striker, bisa-bisa lo dikit-dikit Mana-Burnout.”


Kata Ollie kepada Kristotte yang sudah tidak sadar.


Setelah menyaksikan pertarungan antara Evri melawan Kristotte, ia pun hendak menghampiri pertarungan antara Paul melawan Awva.


Walaupun…


“Yang ini nih yang paling harus diawasin!”


…ia mengkhawatirkan pertarungan tersebut.


“*Crat, crat, crat…”


“Huff! Huff! Huff!”


Paul sudah berlumuran darah ketika melawan Awva.


“Udah gue bilang kan? Mending lo keluarin wujud asli lo. Kalo nggak, bisa-bisa lo mati di tangan gue.”


Sahut Awva kepada Paul dengan niat memancing kemarahannya.


Karena emosinya yang terus dipancing oleh Awva, Paul pun hendak mengikuti kemauan Awva.


“Hraaaaargh! Brengsek lo, Awva!”


Teriak Paul dengan amarah yang meluap-luap, sambil berubah wujud.


Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama.


“*Bhuk!”


Ollie datang dan langsung memukul Paul dengan hulu kapaknya.


Sementara Awva…


“*Shrak!”


“Urgh…”


…ia tebas dengan kapaknya.


“Oi, Awva. Gue kalian lawan satu sama lain tuh buat latihan, loh. Bukan buat saling bunuh. Coba kontrol diri lo sedikit.”


“Ma-Maaf, bos.”


Balas Awva yang terluka.


“Nih lagi, bocah satu ini. Kalo sampe mereka tau siapa lo sebenernya, bisa-bisa lo langsung diincer sama mereka semua.”


Pikir Ollie sambil menyaksikan Paul yang terpingsan.


Tidak lama kemudian…


“*Prok, prok, prok…”


““Hm?””


…mereka semua menyaksikan Myllo yang bertepuk tangan, seakan ia telah mengalahkan Tina dan Kaili dengan sangat cepat.


“Keren, keren, keren! Mungkin lain kali metode lo bisa gue pake juga, Ollie!”


“…”


Ollie hanya menatap Myllo yang memujinya.


“Woy.”


“Hm?”


“Lo udah berapa lama duduk sambil nontonin mereka ini?”


Tanya Ollie, yang memandang Myllo beserta Kaili dan Tina yang sudah tidak sadarkan diri di sampingnya.


“Hmm… Gue lupa, deh. Kayaknya sih waktu Molly lagi cekek Vizrox.”


Jawab Myllo kepada Ollie.


“Kalo gitu, tinggal tunggu anggota lo aja, ya?”


“Hehe!”


“Hm?”


Ollie heran dengan Myllo yang menjawab pertanyaannya dengan senyuman.


“Kok lo senyum?”


“Tenang aja! Mereka pasti menang, kok!”


Seru Myllo kepada Ollie.


Akan tetapi, tidak semua seperti yang Myllo harapkan.


“Huff! Huff! Huff!”


Garry mulai letih dan terluka karena menghindari dan juga terkena serangan Aely.


Walaupun ia berhasil melukai Garry…


“*Crat, crat, crat…”


…nyatanya Aely juga mengalami luka berat.


Akan tetapi itu semua bukan karena Garry.


“Teh Aely teh masih luka-luka karena kena serangan Sea Serpent tadi, ya?”


Tanya Garry yang mengkhawatirkan Aely.


Namun, Aely tidak menghargai rasa khawatirnya.


“A-Aku ini hendak membunuhmu! A-Apakah kau sepantasnya mengkhawatirkan musuhmu…?!”


Tanya Aely dengan kesal.


Namun, perasaan Aely pun perlahan mulai berubah ketika melihat aksi Garry.


“Et?! Kita teh musuh?! Bukannya kita teh lagi jalankeun Joint Party?!”


“Joint Party?! Apa gunanya Joint Party… jika…”


“*Bruk…”


“Teh Aely?!”


Melihat Aely yang jatuh tergeletak, Garry pun menghampirinya.


Ketika ia berada di dekatnya…


“*Shringgg…”


“Hiieeeekkh!”


…Aely menghunuskan pedangnya, hingga membuat Garry ketakutan.



“*Ngungg…”


Garry tidak memperdulikan ancaman Aely karena ia hanya ingin menyembuhkannya, walaupun ia merapal sihirnya dengan gemetar ketakutan.


“Me-Mengapa kau menyembuhkan—”


“A-Aing teh nggak tegaan kalo ada orang yang luka, atuh! Lagian teh ini juga udah jadi tugas Keeper untuk sembuhkeun orang!”


Potong Garry.


“Ja-Jangan naif! Mengapa kau hendak menyembuhkan musuhmu sendi—”


“Ih! Si teteh mah berisik pisan, euy! Kenapa atuh teteh sebut diri teteh musuh aing?! Emangnya kita teh musuhan?!”


“…”


Aely begitu takjub dengan perbuatan Garry.


Perlahan-lahan, pedang yang ia hunuskan ke leher Garry pun ia lepaskan.


Tidak lama kemudian…


“*BRUK!!!”


…terlihat Djinn yang terpental dari balik bongkahan batu besar, sambil menahan Ocean Witch.


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Woy! Bangun, woy!”


“…”


“Woy! Lo masih sadar, kan?!”


Tanya Djinn kepada Ocean Witch.


Dengan gelisah…


“*Tap…”


“!!!”


…ia secara tidak sadar melihat masa lalu Ocean Witch, setelah memegang kepalanya.


Namun, cerita itu terjadi beberapa saat setelah pertarungannya melawan Jenna dan Piedda.