
Djinn telah berhasil mengalahkan Melual, seorang High Elf yang hendak membalaskan dendamnya kepada Luscika, lewat dirinya atau Luvast.
Tetapi ketika ia sedang bertarung dengannya, Luvast dan Machinno, serta Petualang lainnya, sedang berhadapan
dengan Passio Lunar, salah seorang Executioner.
““*Chring, chring, chring…””
Luvast, Evri, dan Hakuya, sama-sama menyerang Passio. Namun Executioner tersebut mampu mempertahankan
dirinya dengan menggunakan ratusan sabit darah ciptaannya.
((Ice Magic: Blizzard Blow))
“*Fwush…”
((Kaze Tsume))
“*Shring, shring, shring…”
((Earth Magic: Gravel Shot))
“*Bruk, bruk, bruk…”
Mereka bertiga hendak menyerang ratusan sabit darah ciptaan Passio dengan sihir mereka masing-masing. Tetapi
usaha mereka sia-sia.
“Cih! Kita bahkan nggak bisa pake sihir kita untuk hancurin semua sabit darah ini?!”
Seru Evri dengan kesal karena usahanya yang sia-sia.
((Barrier Magic: Walking Shield))
“*Bwungbwungbwung…”
“Bagus, Machinno!”
Seru Luvast, setelah Machinno melindungi dirinya beserta Evri dan Hakuya dari ratusan sabit darah ciptaan
Passio. Oleh karena itu mereka mampu menghampiri Passio tanpa harus mengkhawatirkan serangannya.
Mungkin itu yang dibenak mereka.
“Semuanya! Kita serang dia bareng-bareng!”
““Ya!””
Jawab Luvast dan Hakuya kepada Evri.
Akan tetapi…
““*Swush!!!””
““!!!””
…mereka semua dikejutkan dengan Tubuh Passio yang terurai menjadi darah, setelah mereka menyerangnya secara bersamaan.
“K-Kemana dia—”
“Machinno!!!”
Teriak Luvast, setelah ia mendapati salah satu sabit darah yang berubah menjadi Passio, yang hendak menyerang Machinno.
“*Bwung!”
Dengan sigap Machinno melindungi dirinya dari sabit yang digunakan Passio.
“Cih! Dasar monster sialan!”
“*BWUNG!!!”
“Nyusahin banget!”
Seru Passio, setelah menendang Machinno dengan sangat keras, walaupun ia masih dilindungi oleh sihirnya.
“*BRUK!!!”
“Agh.”
Walaupun Machinno masih melindungi dirinya, tetapi ia tetap merasakan sakit karena tertabrak pada sebuah pohon, setelah menerima tendangan keras dari Passio.
Karena ia terluka, seketika sihirnya tidak aktif.
“Hati-hati sama sabit darah ini!”
““*Chring, chring, chring…””
Luvast, Evri, dan Hakuya terpaksa melindungi diri mereka kembali dari ratusan sabit darah ciptaan Passio, setelah
sihir Machinno menghilang.
“*Blub, blub, blub…”
Melihat Machinno yang terluka, Winona dengan sigap menyembuhkannya.
“Cih! Elah! Nyusahin banget sih jadi cewek!”
“*Swush!”
“!!!”
Winona sangat terkejut dengan Passio yang menyerangnya secara tiba-tiba. Beruntung dirinya masih mampu
menghindari serangannya.
“Sialan! Cewek itu bisa kenapa-kenapa kalo kita nggak secepetnya hancurin semua sabit darah ini!”
Seru Hakuya, sambil menghancurkan sabit darah ciptaan Passio yang terus menyerang dirinya beserta Evri dan
Luvast.
“Greaaaagh!”
“*SPLASH! SPLASH! SPLASH!”
“Keuk!”
Winona terus melindungi dirinya dengan gelembung-gelembung ciptaannya, yang meledak setelah diserang Passio menggunakan Harvestia, sabitnya. Karena itu Passio sangat kesal.
“Haaaaah! Kenapa sih lo terus nyusahin gue—”
((Shitokaze))
“*FWUSSSHHH…”
“Keuk…!”
Tubuh Passio tertarik oleh angin ciptaan Hakuya.
((Earth Magic: Rock Cannon))
“*BRUK!!!”
Evri menciptakan sebuah batu raksasa, yang kemudian ia pukul dengan pedangnya.
“*Bruk!”
Namun Passio mampu menghancurkan batu tersebut dengan mengayunkan Harvestia.
“…”
Passio memperhatikan Luvast, Evri, dan Hakuya yang berhasil menghancurkan ratusan sabit ciptaannya.
“Dari antara mereka bertiga, yang paling bahaya pasti cewek High Elf itu! Karena sama kayak temen-temen satu
Party-nya, dia juga ditangkap langsung sama Bos Leonard!”
Pikir Passio, yang menganalisa semua Petualang yang ia hadapi.
“Mungkin gue harus hajar mereka bertiga dulu, tapi Keeper satu ini pasti bakal nyusahin gue, karena dia pasti bisa sembuhin mereka bertiga.”
Kembali pikir Passio, sebelum ia memulai aksinya.
“Kalo gitu…”
“*CHRINGGG…!”
“…Swordsmage ini aja dulu yang gue serang! Soalnya dari antara mereka semua, dia yang paling lemah!”
Passio langsung menyerang Evri, sebagai seseorang yang layak ia kalahkan terlebih dahulu.
“Keuk…!”
Evri pun kesulitan untuk menahan ayunan sabit yang keras dari Passio.
{Blood Sickle Art: Happy Harvest}
“*Shrak!”
“Keuk…!”
“*Shrak, shrak!”
“Argh!”
Passio berhasil melukai Evri dengan teknik sabit miliknya.
“Oraaaa!”
“*Chringgg…”
Hakuya kemudian menyerang dirinya. Ia menggunakan Yajū no Ikari untuk menyerang Executioner tersebut.
Akan tetapi…
“*Shrak, shrak, shrak!”
“Gue baca serangan lo kayak baca buku, Beastman aneh!”
“*Shrak!”
“Aaaargh!”
…dengan mudah Passio menyerang dirinya.
Namun Hakuya mampu bangkit berdiri dengan cepat.
“Oraaa!”
“*Shrak!”
“Keuk…!”
Ia juga mampu melukainya.
“Sialan lo—”
“*Shrrrkkk…”
“!!!”
Passio hendak menyerang Hakuya kembali. Beruntung ada Luvast yang mampu menyerang dengan menembakkan es yang tajam.
“Sialan! Gue nggak nyangka Beastman satu ini bisa nyerang gue balik! Gara-gara dia, High Elf ini bisa serang gue!”
Pikir Passio dengan kesal, sebelum mempersiapkan sihirnya.
((Blood Harvest))
“…”
Ia menciptakan dua sabit darah yang ia genggam.
Sementara Harvestia miliknya…
“Gih, kalo kamu mau ambil darah lainnya!”
“*Swush!”
…terbang dari genggamannya, menuju lokasi dengan jasad yang banyak di sekitar Chaoseum.
“Sial! Kepergian sabitnya terlihat mencurigakan! Aku harus menghentikan sabit i—”
“*Swush!”
Passio menghentikan langkah Luvast yang hendak mengejar Harvestia, dengan dua sabit darah ciptaannya.
“Sini kalo berani! Dasar orang-orang sialan!”
Seru Passio kepada Luvast dan Hakuya.
““*Chring, chring, chring…””
Ia pun terus beradu senjata dengan Luvast dan Hakuya.
“*Blub, blub, blub…”
“M-Makasih banyak…”
Kata Evri, sementara dirinya disembuhkan oleh gelembung ciptaan Winona.
“*Shrak, shrak, shrak!”
“Keuk—”
“*DHUK!!!”
“Argh!”
Passio kembali melukai Hakuya, yang kemudian ia tendang dengan keras hingga jauh.
“*Chring, chring, chring…”
Sementara Luvast masih terus berkutat untuk menghadapinya.
{Vlerion Sword Art: Neck Point}
“*SWUSH!!!”
“Cih!”
Dengan teknik pedangnya, Luvast hendak menghujam leher Passio. Tetapi Passio mampu menghindarinya.
{Blood Sickle Art: Blood Cut}
“*CHRING!!!”
“Keuk…!”
“*Chring, chring, chring…”
Mereka pun terus berusaha melukai satu sama lain dengan senjata mereka masing-masing. Karena itu Petualang
lainnya menjadi khawatir akan Luvast.
“U-Udah belom?!”
“Sebentar lagi!”
“Cepetan!”
“I-Iya!”
Balas Winona kepada Evri, yang mengkhawatirkan Luvast.
“Cih! Ternyata mahluk ini udah bener-bener nggak sadar ya?!”
“…”
“Kalo gitu… gue harus bangun…!”
Pikir Hakuya, yang memperhatikan Machinno dan berusaha untuk bangkit berdiri.
Bersama-sama mereka berdua hendak membantu Luvast. Namun ada sesuatu yang mengejutkan mereka semua.
“*Chring, chring, chring…”
Luvast dan Passio masih terus beradu senjata.
Tiba-tiba…
“*SWUSH…”
“*CHRANG!!!”
““!!!””
…mereka semua dikejutkan dengan pedang Luvast yang hancur karena Harvestia, yang datang kembali kepada Passio dengan laju yang sangat cepat.
“Hihiahaha!”
“*Tap!”
“Sekarang lo udah nggak bisa apa-apa kalo nggak ada senjata lo, High Elf!”
Seru Passio, sambil menangkap Harvestia.
“…”
Luvast hanya terdiam dengan tidak percaya.
“P-Pedangku—”
“*SWUSH!!!”
“*Chringg…”
“K-Kalo udah nggak bisa ngapa-ngapain… seenggaknya lo bisa minggir dikit…! Jangan sampe lo mati di
tangan orang ini!”
Seru Evri kepada Luvast, sambil menahan serangan Passio yang menuju Luvast.
“Oraaa!”
“*Chring!”
“M-Mundur! Biar kita yang lawan orang ini!”
Seru Hakuya, yang datang dan langsung menyerang Passio.
“Cih! Lagi-lagi kalian nyusahin gue!”
“*Chring, chring, chring…”
“Gara-gara kalian, gue nggak bisa habisin waktu berdua pacar gue!”
Seru Passio kepada Evri dan Hakuya, sambil menyerang mereka dengan Harvestia.
((Blood Sickle))
“…”
Passio kembali menciptakan ratusan sabit darah dengan menggunakan Harvestia.
“Hihiahahaha!”
“*Shrak, shrak, shrak…”
“Sekarang kalian bisa apa, kalo ada sabit darah gue?!”
Seru Passio dengan angkuh kepada Evri dan Hakuya, setelah ia berhasil melukai mereka.
Dengan adanya ratusan sabit darah ciptaannya, Passio merasa bahwa ia sudah memenangkan pertarungan antara mereka semua.
Tetapi ia melupakan satu orang, yang belum sempat hadir di hadapannya.
((Judgement…
“*Chrrrkkk…”
…Charge))
“*JGRUM!!!”
“Aaaakh!”
““!!!””
Luvast, Winona, Evri, dan Hakuya dikejutkan dengan adanya petir yang menyerang Passio, serta menghancurkan
seluruh sabit darah ciptaannya.
“Kalian semua nggak apa-apa, kan?”
“Dj-Djinn!”
Seru Luvast dengan gembira, setelah mendapati saudaranya yang datang di hadapannya.
Akan tetapi berbeda dengan Djinn, yang menatap Luvast dengan khawatir karena pedang yang patah yang dipegangnya.
“Vas, lo nggak apa-apa?”
“A-Aku baik-baik saja. Hanya saja… seperti yang kau lihat. Mungkin aku sudah tidak bisa bertarung kembali.”
Jawab Luvast kepada Djinn, dengan tertunduk lesu.
“Win, buruan sembuhin mereka semua.”
“Ya! Aku juga mau sembuhin mereka!”
“*Blub, blub, blub…”
Winona langsung menyembuhkan Luvast, Evri, dan Hakuya, setelah mereka sama-sama menghadapi Passio.
“Dji-Djinn… Djinn Draco…rion…!”
“…”
Djinn hanya menatap Passio yang memanggilnya dengan kondisi kritis.
“D-Da-Dasar sialan lo…! Lo pikir… lo bisa—”
“*Chrrrkkk…”
“Sini kalo berani, anjing! Jangan cuma ngomong doang!”
Seru Djinn kepada Passio, sambil mengalirkan petir pada kepalan tangannya.
“…”
Passio hendak berdiri kembali untuk menghadapi Djinn.
Akan tetapi, sesuatu yang tidak terduga muncul di hadapan mereka semua.
“G-Gue buktiin… kalo gue bisa—”
“*Shrak!”
““!!!””
Djinn dan rekan-rekannya sangat terkejut dengan Harvestia yang tiba-tiba menusuk jantung Passio. Setelah itu
mereka mendengar seseorang yang berbicara.
“Aaaaangh…! Passio, sayangku…!”
“…”
“Kamu tau nggak sih?! Aku tuh udah nggak sabar hisap darah kamu, loh!”
““!!!””
Djinn dan rekan-rekannya kembali terkejut. Kali ini mereka menyaksikan gumpalan darah yang keluar dari Harvestia, yang kemudian membentukkan dirinya menjadi seorang wanita berukuran besar.
“H-H-Harvestia…! K-Kamu—”
“Boleh ya darah kamu buat aku! Tapi kalau darah kamu aku hisap sampai habis, aku pasti juga hisap darah
siapapun! Bahkan bisa temen-temen kamu!”
“Ng-Ng-Nggak apa-apa… sayang…! Demi kamu… aku… rela…!”
“Hihi! Makasih ya, sayang!”
“*Sluuuuuurrrrp…”
Wanita tersebut menjilat wajah Passio, sambil menghisap darahnya hingga ia meninggal karena kehabisan darah.
“A-Apaan tuh…?! Kok bisa—”
“S-Sial…! Selama ini… aku kira senjata tersebut adalah Spirit Armament, di mana terdapat Roh di dalam suatu
senjata…! Tapi tidak kusangka… bahwa sabit tersebut merupakan senjata terkutuk, di mana terdapat Iblis di dalamnya!”
““!!!””
Evri dan Hakuya terkejut ketika mendengar penjelasan Luvast.
Namun berbeda dengan Djinn.
“*Sniff, sniff…”
Ia mencium Aroma dari wanita raksasa itu. Sesuai yang Luvast katakan, Djinn mencium Aroma seorang Iblis dari
wanita tersebut.
Karena itu, ia hendak menyerang wanita itu secepatnya.
“*SWUSH!!!”
((Judgement—
“*Chrak!”
Djinn berusaha menyerang Iblis tersebut dengan kekuatan petirnya. Tetapi Iblis tersebut berhasil menyerangnya
terlebih dahulu, dengan mengayunkan cakarnya hingga berbentuk bilah darah yang besar.
“Cih! Dasar—”
“*BHUK!!!”
“!!!”
Kali ini Djinn dikejutkan dengan dadanya yang berlubang akibat pukulan keras Iblis tersebut.
“DJIIIIINNN—”
“*Swush!”
“Tenang aja! Gue masih baik-baik aja—”
“Kamu yakin?”
Tanya Iblis tersebut kepada Djinn, yang menjawab kekhawatiran Luvast sambil mundur dari Iblis itu.
“…”
Djinn hendak menyembuhkan dirinya dengan kekuatan regenerasi miliknya. Namun ada sesuatu yang membuatnya heran.
“*Bruk…”
“Djinn!”
“S-Sialan…! K-Kok gue… nggak bisa regenerasi…?! Eh, ini bukan nggak bisa regenerasi! Tapi ada Mana gue bocor!”
Pikir Djinn, setelah kemampuan uniknya tidak aktif, tanpa menghiraukan kekhawatiran Luvast.
“Hihihihi! Kamu pikir kamu bisa regenerasi ya?!”
“…”
“Regenerasi itu butuh Mana, kan?! Yaudah gih! Coba regenerasi! Tapi kalo kamu mau coba regenerasi,
ujung-ujungnya Mana kamu aku serap terus! Karena darah kamu udah jadi kepunyaan aku!”
“!!!”
Djinn terkejut dengan apa yang dijelaskan Iblis itu kepadanya.
“Mungkin daritadi Passio panggil aku Harvestia. Tapi nama asli aku itu, Vylsalea! Aku ini salah satu Herald yang setia untuk Demon Lord of Disease, Ingezeth! Salam kenal semuanya!”
Sapa Iblis bernama Vylsalea itu kepada Djinn dan rekan-rekannya, sebelum ia membunuh mereka semua.
Sementara Djinn yang mendengarnya, juga tidak bisa berbuat apa-apa, setelah ia terkutuk dengan kekuatan
dari Vylsalea.
“Cih! Terus gue bisa ngapain, kalo mau ngapa-ngapain aja serba salah?!”
Pikir Djinn dengan resah dan bingung untuk menghadapi Vylsalea.