
Hm?
Gue dimana?
“…”
Eh?! I…Ini…Luvast?!
Kok berani banget nih cewek pake
baju minim sambil tidur di samping cowok?!
“*Tap… (suara menyentuh kepala)”
Waduh, kok kepala gue banyak
perbannya?!
Tunggu, tunggu, tunggu…coba gue
inget baik-baik dulu.
Terakhir yang gue inget itu, gue
debat sama Si Dongo yang jadi Kapten gue. Nggak lama kemudian, Bismont dateng
bareng pasukan sama ‘anak-anaknya’ untuk jemput kita berdua.
Abis itu… Oh!
Si Dongo itu iseng mainin ekor
anaknya Bismont yang bentuknya kayak kucing.
“JANGAN ASAL MAININ EKOR
ORANG!!!”
“*Dhuk! (suara menendang)”
Si Manusia Kucing itu mau nendang
Myllo, tapi dia udah terlanjur lompat tandunya. Karena itu, makanya gue yang
jadi kena tendang sama Manusia Kucing itu, sampe…
“*Brak! (suara tertabrak)”
…gue kepental jauh dan ujung-ujungnya
kepala gue nabrak tiang kapal.
Makanya itu gue pingsan.
Hadeeehh…kalo bangun, gue jitak
tuh orang!
“Fuu…haaa…”
Duh! Kok malah makin nempel
tidurnya?!
Nih cewek tidurnya pules banget,
lagi! Mau bangunin nggak enak, mau diem-diem beranjak takut kebangun!
“Hmm…”
“…”
WOY!!! GUE BUKAN GULING!!! JANGAN
PELUK-PELUK!!!
Hadeh! Mau nggak mau harus gue
bangunin nih!
“EHEM!!!”
“Hm?”
“…”
“Ah, Djinnardio. Kamu sudah
bangun?”
“U…Udah! Gue mau makan dulu!”
“…”
Ni…Nih cewek kenapa malah
ngeliatin gue?! Minggir, woy!
“Mengapa wajahmu merah, Djinn?
Apakah kamu demam? Atau jangan-jangan, kamu…”
“Pa…Panas! Gue butuh udara!
Makanya minggir dikit!”
“Hoo…seperti itu, ya. Aku kira
kamu senang dipeluk wanita cantik seperti ak—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Aw!”
“Lo gila kali, ya?! Lo sodara
gue! Kenapa juga gue nafsu sama sodara sendiri?!”
“Haaah?! Kamu kira hal seperti
ini tidak lumrah bagi ras kita?!”
HAH?! LUMRAH?! GILA KALI, YA?!?!
“Tenang saja, Djinn. Bahkan kakek
kita menikahi bibinya, yang merupakan nenek kita.”
KELUARGA RUSAK!!!
Atau lebih tepatnya…
RAS RUSAK!!!
“Padahal aku membayangkan bahwa
kita bisa menikah. Tapi jika cara berpikirmu seperti Manusia, apa boleh buat…”
“Nggak! Lo gila kali, ya?!”
“Ah, begitu ya.”
“…”
Huuuh… Untung dia lepas!
Namanya cowok, ‘adek’ gue hampir
berontak!
“Kamu tidak perlu berkata kasar
seperti itu, Djinn. Aku ini perempuan, loh. Kamu kira hatiku tidak sakit
mendengar kata kasarmu?”
AAAAAAAHHHH!!! KOK JADI GUE YANG
SALAH?!?!?!
Lebih tepatnya, gue jadi merasa
bersalah denger dia ngomong kayak gitu!
“Gu…Gue mungkin belom kenal lo
lama karena lupa ingetan, tapi gue percaya kalo lo itu sodara yang baik buat
gue.”
“Saudara, ya…”
“I…Iya, lah! Lagian buat apa
pacar atau pasangan gitu kalo gue ada temen atau sodara?!”
“Djinn…”
Tunggu…
Kenapa…gue inget seseorang, ya?
“Djinn? Apa yang ada di benakmu?”
“Gue punya temen masa kecil.
Nggak tau kenapa, gue inget dia.”
Sebenernya bukan temen gue sih,
tapi gue nggak tau kenapa, gue penasaran sama orang yang muncul di mimpi gue.
“Teman semasa kecil? Apakah ia
seorang Manusia?”
“Ya. Masalahnya gue pernah
mimpiin dia, tapi gue jadi lupa sama wajahnya waktu gue bangun.”
“Apakah kamu ingat nama temanmu
itu?”
“Gue…lupa…”
Duh, kayaknya Meldek pernah kasih
tau deh namanya siapa, tapi kok gue bisa lupa sama dia?!
“Hey, Djinn. Sudah, sudah, sudah.
A…Aku hanya bercanda, saudaraku.”
“Hah?”
“Hihi! Menyenangkan juga
menggodamu seperti itu. Lagipula kamu adalah saudaraku, tidak lebih dari itu.”
Dasar setan nih orang!
“Baiklah. Mari kita makan bersama!”
“Ya, ayo.”
Sambil siap-siap, ada satu hal
yang masih bikin gue penasaran.
“Vast, sebelum lo bilang kalo lo
itu bercanda, bagian tentang kakek kita yang nikahin kakaknya itu juga becanda,
kan?!”
“Oh, itu? Tentu saja tidak.
Memangnya ada apa?”
“Se…Serius?!”
“Tidak mungkin aku bercanda
dengan membawa nama kakek, Djinn. Itu sama saja dengan menghinanya.”
KELUARGA RUSAAAAK!!!
“Djinn? Ada a—”
“A…Ahahaha… Ayo kita makan…!”
Mending ke kedai makan aja dulu,
daripada mikirin keluarga rusak!
...................
Waktu gue sampe sana, semua
pengunjung lagi pada kelilingin Myllo yang cerita-cerita.
“Abis itu…hicc…gue liat
Kak Sylv berantem pake tangan kosong…”
““Hah?!””
“Masalahnya…hicc…abis itu
dia luka-luka…”
““Aw…””
“Huaaa… Andai gue nggak banyak
minta…hicc…”
“Huu… Ternyata kakak yang baik
ya, Pahlawan Sylvia itu…”
“Andai punya ibu yang baik kayak
gitu!”
Si Dongo lagi cerita-cerita
sambil mabok, ya?
Buset, deh! Masih pagi udah mabok
Bahkan pengunjung yang lain juga
pada nangis-nangis denger ceritanya!
Tambah lagi…
“Hiks… Kak Sylvia…”
…Bismont ada di depan banget! Terus
dia ikutan nangis juga!
“Bang Myllo… Terus lawannya
gimana?!”
“Hah…? Ya itu luka-luka…hicc…”
“Hah?! Itu bukan Kak Sylvia?!”
“Bukan…hicc… Dia lagi
lawan babi hutan…untuk kasih makan gue…”
““KIRAIN KAK SYLVIA YANG
LUKA-LUKA!!!””
Buset! Pada teriak-teriak gitu!
Lagian orang mabok yang
ngomongnya ngelantur kayak gitu di dengerin!
“Haaaaah?! Mana mungkin?! Dia
cuma…hicc…capek aja abis petualangan!”
“Ya ngomong dong kalo babi
hutannya yang luka-luka!”
Sambil gue nyimak ceritanya dia,
gue makan bareng Luvast.
“Myllo itu orang yang
menyenangkan, ya?”
“Iya, sih. Tapi asli, dia itu
dongo banget!”
“Ahahaha! Tidak apa-apa jika ia
dungu. Namun, lihat saja itu. Orang-orang pun tertarik mengikuti ceritanya, walaupun
ia sudah sangat mabuk.”
Iya, bener juga.
Bahkan gue pun juga bingung
kenapa gue mau ikut jadi Petualang bareng dia.
“!!!”
Ah, itu pesenan kita!
Akhirnya makan juga!
“Selamat pagi, Pangeran dan
Putri—”
“Eh, eh, eh! Jangan panggil gue pangeran!
Gue udah bukan lagi!”
“Jangan juga panggil saya dengan
jabatan. Saya sedang berada di luar kerajaan. Alangkah baiknya jika anda
mengenal kami sebagai Petualang.”
“Ba…Baik, Para Petualang
sekalian. Silakan dinikmati pesanan anda sekalian.”
WAW!!! BANYAK BANGET
MAKANANNYA!!!
“Hap! Hap! Hap!”
Ah, enak banget! Nggak tau sih
karena laper atau emang enak!
“Ka…Kamu memakan makananan
hewani…?”
“Hagh?! Ghakh apwah-apwah
lagh! Ngamanwa lwapwer! *(Hah?! Gak apa-apa lah! Namanya laper!)”
“Pa…Padahal aku ingat kamu itu
seorang herbivora—”
“Bfffttt!”
Gue—Eh, maksud gue, Djinnardio
itu vegetarian?!
“Uhuk! Uhuk!”
“Hey! Pelan-pelan makannya!
Mengapa kamu jorok dan memalukan sekali?!”
“I…Iya, iya, iya!”
"Mi…Minum ini!"
"*Gluk, gluk, gluk… (suara menenggak anggur)"
“Bfffttt!”
"Dji…Djinn! Mengapa kamu—"
"Gue kan minumnya air putih! Kenapa malah dikasih anggur?!"
"Oh…maafkan aku karena lupa bahwa anggur ini adalah
minuman yang kupesan."
Dasar pikun!
Gelas aja bisa kebalik!
“Haaah… Sepertinya karena lupa
ingatan, maka genetik Manusia milikmu jadi semakin menonjol daripada High Elf.
Padahal kamu sendiri lebih dari 10 tahun hidup sebagai High Elf.”
Kan emang gue aslinya juga
Manusia!
Tapi…
“Emang semua High Elf
itu…vegetarian?”
“Vegetarian? Maksudmu…herbivora?”
“Ah, iya.”
Kok kayak binatang sih
nyebutnya?!
“Tentu saja! Kami itu sangat
menghargai mahluk hidup! Maka dari itu, kami tidak memakan makanan hewani!”
Tapi makan tumbuhan. Kan mahluk
hidup juga itu.
“…”
Tunggu, gue baru sadar deh.
Kalo gue perhatiin pengunjung
lain yang lagi dengerin cerita Myllo, kok ada pengunjung yang unik, ya?
“Vast, itu High Elf bukan, sih?”
“Ah, iya. Mereka dibebaskan oleh
Myllo. Namun beberapa dari mereka sepertinya terlihat senang berbaur bersama
Myllo di kedai ini.”
Oh, jadi mereka ya yang ada di
dalem gudang di pelabuhan?!
Abis itu Luvast ceritain tentang
Myllo yang nolongin High Elf yang ditahan Goldiggia. Kata Luvast, mereka semua
jadi mengkubu semenjak ditolong Manusia kayak Myllo.
“Hmph! Dasar nggak tau diri!”
“Ya, kamu benar. Untung saja ada
beberapa dari mereka yang berutang nyawa dengan Myllo dan…kamu bisa lihat
sendiri sekarang bagaimana mereka.”
Ya.
Bahkan ras sombong kayak mereka
aja bisa nempel bareng Myllo.
Apa mungkin itu yang namanya
keuntungan jadi orang dongo kali, ya?
“Permisi.”
Eh, ada yang dateng.
“Saya adalah Lombart, pasukan
khusus dari Duke Louisson. Beliau mengundang anda sekalian untuk membahas sesuatu
terkait Goldiggia. Jika anda berdua tidak keberatan, saya mohon agar kiranya
anda berdua menghadiri kediamannya pada malam nanti.”
“Malem? Kenapa nggak siang ini
aja?”
“Untuk itu…bisa anda lihat
sendiri…”
Hah? Ada apaan emang—
“*Brak! (suara tertidur di meja)”
“Papa! Jangan kebanyakan
minumnya!”
Ya ampun. Bismont, Bismont,
Bismont…
Malu-maluin aja bangsawan kayak
gitu!
“OK. Nanti gue ke sana.”
“Apakah saya perlu ikut?”
“Tidak apa-apa jika anda tidak
keberatan, Petualang Luvast.”
Hah?
Kok Luvast nggak perlu ikut?
“Lo bukannya perlu ikut juga,
walaupun ke pelabuhannya bareng Bismont waktu itu?”
“Aku sudah memberikan laporanku,
Djinn. Kamu tidak sadar selama 5 hari, sedangkan Myllo terbangun 2 hari yang
lalu. Maka, sambil menunggumu, Duke Louisson menunggu laporan kalian berdua
sekaligus.”
5 hari nggak sadar karena
ditendang Manusia Kucing, ya…
Dasar dongo emang tuh orang! Kalo
nggak karena dia, mungkin gue udah sadar dari kemarin, kali!