Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 33. Aftermath Against Demon



Hm?


Gue dimana?


“…”


Eh?! I…Ini…Luvast?!


Kok berani banget nih cewek pake


baju minim sambil tidur di samping cowok?!


“*Tap… (suara menyentuh kepala)”


Waduh, kok kepala gue banyak


perbannya?!


Tunggu, tunggu, tunggu…coba gue


inget baik-baik dulu.


Terakhir yang gue inget itu, gue


debat sama Si Dongo yang jadi Kapten gue. Nggak lama kemudian, Bismont dateng


bareng pasukan sama ‘anak-anaknya’ untuk jemput kita berdua.


Abis itu… Oh!


Si Dongo itu iseng mainin ekor


anaknya Bismont yang bentuknya kayak kucing.


“JANGAN ASAL MAININ EKOR


ORANG!!!”


“*Dhuk! (suara menendang)”


Si Manusia Kucing itu mau nendang


Myllo, tapi dia udah terlanjur lompat tandunya. Karena itu, makanya gue yang


jadi kena tendang sama Manusia Kucing itu, sampe…


“*Brak! (suara tertabrak)”


…gue kepental jauh dan ujung-ujungnya


kepala gue nabrak tiang kapal.


Makanya itu gue pingsan.


Hadeeehh…kalo bangun, gue jitak


tuh orang!


“Fuu…haaa…”


Duh! Kok malah makin nempel


tidurnya?!


Nih cewek tidurnya pules banget,


lagi! Mau bangunin nggak enak, mau diem-diem beranjak takut kebangun!


“Hmm…”


“…”


WOY!!! GUE BUKAN GULING!!! JANGAN


PELUK-PELUK!!!


Hadeh! Mau nggak mau harus gue


bangunin nih!


“EHEM!!!”


“Hm?”


“…”


“Ah, Djinnardio. Kamu sudah


bangun?”


“U…Udah! Gue mau makan dulu!”


“…”


Ni…Nih cewek kenapa malah


ngeliatin gue?! Minggir, woy!


“Mengapa wajahmu merah, Djinn?


Apakah kamu demam? Atau jangan-jangan, kamu…”


“Pa…Panas! Gue butuh udara!


Makanya minggir dikit!”


“Hoo…seperti itu, ya. Aku kira


kamu senang dipeluk wanita cantik seperti ak—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Aw!”


“Lo gila kali, ya?! Lo sodara


gue! Kenapa juga gue nafsu sama sodara sendiri?!”


“Haaah?! Kamu kira hal seperti


ini tidak lumrah bagi ras kita?!”


HAH?! LUMRAH?! GILA KALI, YA?!?!


“Tenang saja, Djinn. Bahkan kakek


kita menikahi bibinya, yang merupakan nenek kita.”


KELUARGA RUSAK!!!


Atau lebih tepatnya…


RAS RUSAK!!!


“Padahal aku membayangkan bahwa


kita bisa menikah. Tapi jika cara berpikirmu seperti Manusia, apa boleh buat…”


“Nggak! Lo gila kali, ya?!”


“Ah, begitu ya.”


“…”


Huuuh… Untung dia lepas!


Namanya cowok, ‘adek’ gue hampir


berontak!


“Kamu tidak perlu berkata kasar


seperti itu, Djinn. Aku ini perempuan, loh. Kamu kira hatiku tidak sakit


mendengar kata kasarmu?”


AAAAAAAHHHH!!! KOK JADI GUE YANG


SALAH?!?!?!


Lebih tepatnya, gue jadi merasa


bersalah denger dia ngomong kayak gitu!


“Gu…Gue mungkin belom kenal lo


lama karena lupa ingetan, tapi gue percaya kalo lo itu sodara yang baik buat


gue.”


“Saudara, ya…”


“I…Iya, lah! Lagian buat apa


pacar atau pasangan gitu kalo gue ada temen atau sodara?!”


“Djinn…”


Tunggu…


Kenapa…gue inget seseorang, ya?


“Djinn? Apa yang ada di benakmu?”


“Gue punya temen masa kecil.


Nggak tau kenapa, gue inget dia.”


Sebenernya bukan temen gue sih,


tapi gue nggak tau kenapa, gue penasaran sama orang yang muncul di mimpi gue.


“Teman semasa kecil? Apakah ia


seorang Manusia?”


“Ya. Masalahnya gue pernah


mimpiin dia, tapi gue jadi lupa sama wajahnya waktu gue bangun.”


“Apakah kamu ingat nama temanmu


itu?”


“Gue…lupa…”


Duh, kayaknya Meldek pernah kasih


tau deh namanya siapa, tapi kok gue bisa lupa sama dia?!


“Hey, Djinn. Sudah, sudah, sudah.


A…Aku hanya bercanda, saudaraku.”


“Hah?”


“Hihi! Menyenangkan juga


menggodamu seperti itu. Lagipula kamu adalah saudaraku, tidak lebih dari itu.”


Dasar setan nih orang!


“Baiklah. Mari kita makan bersama!”


“Ya, ayo.”


Sambil siap-siap, ada satu hal


yang masih bikin gue penasaran.


“Vast, sebelum lo bilang kalo lo


itu bercanda, bagian tentang kakek kita yang nikahin kakaknya itu juga becanda,


kan?!”


“Oh, itu? Tentu saja tidak.


Memangnya ada apa?”


“Se…Serius?!”


“Tidak mungkin aku bercanda


dengan membawa nama kakek, Djinn. Itu sama saja dengan menghinanya.”


KELUARGA RUSAAAAK!!!


“Djinn? Ada a—”


“A…Ahahaha… Ayo kita makan…!”


Mending ke kedai makan aja dulu,


daripada mikirin keluarga rusak!


...................


Waktu gue sampe sana, semua


pengunjung lagi pada kelilingin Myllo yang cerita-cerita.


“Abis itu…hicc…gue liat


Kak Sylv berantem pake tangan kosong…”


““Hah?!””


“Masalahnya…hicc…abis itu


dia luka-luka…”


““Aw…””


“Huaaa… Andai gue nggak banyak


minta…hicc…”


“Huu… Ternyata kakak yang baik


ya, Pahlawan Sylvia itu…”


“Andai punya ibu yang baik kayak


gitu!”


Si Dongo lagi cerita-cerita


sambil mabok, ya?


Buset, deh! Masih pagi udah mabok


Bahkan pengunjung yang lain juga


pada nangis-nangis denger ceritanya!


Tambah lagi…


“Hiks… Kak Sylvia…”


…Bismont ada di depan banget! Terus


dia ikutan nangis juga!


“Bang Myllo… Terus lawannya


gimana?!”


“Hah…? Ya itu luka-luka…hicc…”


“Hah?! Itu bukan Kak Sylvia?!”


“Bukan…hicc… Dia lagi


lawan babi hutan…untuk kasih makan gue…”


““KIRAIN KAK SYLVIA YANG


LUKA-LUKA!!!””


Buset! Pada teriak-teriak gitu!


Lagian orang mabok yang


ngomongnya ngelantur kayak gitu di dengerin!


“Haaaaah?! Mana mungkin?! Dia


cuma…hicc…capek aja abis petualangan!”


“Ya ngomong dong kalo babi


hutannya yang luka-luka!”


Sambil gue nyimak ceritanya dia,


gue makan bareng Luvast.


“Myllo itu orang yang


menyenangkan, ya?”


“Iya, sih. Tapi asli, dia itu


dongo banget!”


“Ahahaha! Tidak apa-apa jika ia


dungu. Namun, lihat saja itu. Orang-orang pun tertarik mengikuti ceritanya, walaupun


ia sudah sangat mabuk.”


Iya, bener juga.


Bahkan gue pun juga bingung


kenapa gue mau ikut jadi Petualang bareng dia.


“!!!”


Ah, itu pesenan kita!


Akhirnya makan juga!


“Selamat pagi, Pangeran dan


Putri—”


“Eh, eh, eh! Jangan panggil gue pangeran!


Gue udah bukan lagi!”


“Jangan juga panggil saya dengan


jabatan. Saya sedang berada di luar kerajaan. Alangkah baiknya jika anda


mengenal kami sebagai Petualang.”


“Ba…Baik, Para Petualang


sekalian. Silakan dinikmati pesanan anda sekalian.”


WAW!!! BANYAK BANGET


MAKANANNYA!!!


“Hap! Hap! Hap!”


Ah, enak banget! Nggak tau sih


karena laper atau emang enak!


“Ka…Kamu memakan makananan


hewani…?”


“Hagh?! Ghakh apwah-apwah


lagh! Ngamanwa lwapwer! *(Hah?! Gak apa-apa lah! Namanya laper!)”


“Pa…Padahal aku ingat kamu itu


seorang herbivora—”


“Bfffttt!”


Gue—Eh, maksud gue, Djinnardio


itu vegetarian?!


“Uhuk! Uhuk!”


“Hey! Pelan-pelan makannya!


Mengapa kamu jorok dan memalukan sekali?!”


“I…Iya, iya, iya!”


"Mi…Minum ini!"


"*Gluk, gluk, gluk… (suara menenggak anggur)"


“Bfffttt!”


"Dji…Djinn! Mengapa kamu—"


"Gue kan minumnya air putih! Kenapa malah dikasih anggur?!"


"Oh…maafkan aku karena lupa bahwa anggur ini adalah


minuman yang kupesan."


Dasar pikun!


Gelas aja bisa kebalik!


“Haaah… Sepertinya karena lupa


ingatan, maka genetik Manusia milikmu jadi semakin menonjol daripada High Elf.


Padahal kamu sendiri lebih dari 10 tahun hidup sebagai High Elf.”


Kan emang gue aslinya juga


Manusia!


Tapi…


“Emang semua High Elf


itu…vegetarian?”


“Vegetarian? Maksudmu…herbivora?”


“Ah, iya.”


Kok kayak binatang sih


nyebutnya?!


“Tentu saja! Kami itu sangat


menghargai mahluk hidup! Maka dari itu, kami tidak memakan makanan hewani!”


Tapi makan tumbuhan. Kan mahluk


hidup juga itu.


“…”


Tunggu, gue baru sadar deh.


Kalo gue perhatiin pengunjung


lain yang lagi dengerin cerita Myllo, kok ada pengunjung yang unik, ya?


“Vast, itu High Elf bukan, sih?”


“Ah, iya. Mereka dibebaskan oleh


Myllo. Namun beberapa dari mereka sepertinya terlihat senang berbaur bersama


Myllo di kedai ini.”


Oh, jadi mereka ya yang ada di


dalem gudang di pelabuhan?!


Abis itu Luvast ceritain tentang


Myllo yang nolongin High Elf yang ditahan Goldiggia. Kata Luvast, mereka semua


jadi mengkubu semenjak ditolong Manusia kayak Myllo.


“Hmph! Dasar nggak tau diri!”


“Ya, kamu benar. Untung saja ada


beberapa dari mereka yang berutang nyawa dengan Myllo dan…kamu bisa lihat


sendiri sekarang bagaimana mereka.”


Ya.


Bahkan ras sombong kayak mereka


aja bisa nempel bareng Myllo.


Apa mungkin itu yang namanya


keuntungan jadi orang dongo kali, ya?


“Permisi.”


Eh, ada yang dateng.


“Saya adalah Lombart, pasukan


khusus dari Duke Louisson. Beliau mengundang anda sekalian untuk membahas sesuatu


terkait Goldiggia. Jika anda berdua tidak keberatan, saya mohon agar kiranya


anda berdua menghadiri kediamannya pada malam nanti.”


“Malem? Kenapa nggak siang ini


aja?”


“Untuk itu…bisa anda lihat


sendiri…”


Hah? Ada apaan emang—


“*Brak! (suara tertidur di meja)”


“Papa! Jangan kebanyakan


minumnya!”


Ya ampun. Bismont, Bismont,


Bismont…


Malu-maluin aja bangsawan kayak


gitu!


“OK. Nanti gue ke sana.”


“Apakah saya perlu ikut?”


“Tidak apa-apa jika anda tidak


keberatan, Petualang Luvast.”


Hah?


Kok Luvast nggak perlu ikut?


“Lo bukannya perlu ikut juga,


walaupun ke pelabuhannya bareng Bismont waktu itu?”


“Aku sudah memberikan laporanku,


Djinn. Kamu tidak sadar selama 5 hari, sedangkan Myllo terbangun 2 hari yang


lalu. Maka, sambil menunggumu, Duke Louisson menunggu laporan kalian berdua


sekaligus.”


5 hari nggak sadar karena


ditendang Manusia Kucing, ya…


Dasar dongo emang tuh orang! Kalo


nggak karena dia, mungkin gue udah sadar dari kemarin, kali!