
Cahya terbangun ditengah malam, dan melihat Aditya tertidur dengan lelapnya. Dia tidak pernah merasa bosan saat melihat Aditya sedang tidur dan tidak berhenti mengaguminya. Cahya mendekatkan kepalanya didada Aditya lalu menutup matanya agar bisa tertidur lagi. Cukup lama dia mencoba tetapi tetap tidak bisa kembali tidur.
Cahya akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dan membuka tirai jendela, lalu duduk dan memandang keluar jendela. Beberapa saat kemudian Aditya mencoba meraih tubuh istrinya untuk dipeluk tetapi tidak menemukannya, membuatnya membuka sedikit matanya untuk mencari dan benar tidak ada Cahya disebelahnya. Aditya membalikkan badannya dan menemukan istrinya sedang duduk menghadap jendela.
Aditya beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Cahya. "Sayang, kamu kenapa malah bengong disini, ayo tidur"
"Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi"
"Ayo tidur" Aditya merangkul Cahya dan membawanya ke tempat tidur. Cahya duduk mendongakkan kepalanya dan menatap Aditya yang berdiri didepannya. "Bisakah kau membuka bajumu" Ucap Cahya tanpa berdosa.
"Apa??? Jangan aneh-aneh, ayo cepat tidur ini sudah sangat larut"
"Aku bilang buka bajumu Aditya suamiku sayang"
"Disebelah ada kamar Papa dan Mama, kau jangan mengajakku yang aneh-aneh"
"Kau tidak mau menuruti keinginan istrimu"
Tatapan tajam Cahya padanya membuat Aditya terpaksa membuka satu persatu kancing piyamanya dan menanggalkannya. Cahya mulai menatap tubuh Aditya dan menelusurinya dengan kedua tangannya dari mulai perut hingga ke dada Aditya lalu berdiri tepat dihadapannya.
Tiba-tiba Cahya langsung memeluk Aditya dengan erat, membuat Aditya kebingungan dengan tingkahnya. "Aku hanya ingin memelukmu seperti ini, memangnya kau pikir aku akan mengajakmu apa? aku suka aroma tubuhmu dari afteshave yang kau pakai, sekarang ayo tidur" Ucap Cahya lalu naik ke atas ranjang memposisikan tubuhnya untuk tidur.
"Kau ini ada ada saja, sini mendekatlah aku akan memelukmu"
Cahya lalu mendekatkan tubuhnya pada Aditya, lalu tersenyum menatap dalam suaminya. Aditya membalas senyuman itu dan mengecup lembut bibir Cahya. Cahya membalas kecupan itu dan membiarkan Aditya merasakan kelembutan bibirnya.
Lama bibir mereka saling beradu, dan Aditya kemudian melepaskannya, nafas keduanya pun terengah-engah. Jemari Cahya menyentuh lembut pipi Aditya, membuat lelaki iti memejamkan matanya.
"Kau tidak ingi melakukannya sekarang?" Tanya Cahya dengan suara lirih.
Aditya meraih tangan Cahya dan mengecupnya "Kita bisa melakukannya kapan saja, sekarang waktunya kau beristirahat, ayo tidurlah"
Karena jengkel, Cahya menjauhi Aditya dan membalikkan badannya membelakanginya. Aditya pun menyadari jika Cahya sedang kesal karena penolakannya, dia pun mendekatkan badannya dan membalikkan badan Cahya lalu bergegas menindihnya tetapi tetap menumpu badannya dengan kedua lengannya.
"Jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa menolak permintaanmu, kau tahu aku sebenarnya sangat benci jika harus bercinta dengan menahan suara ******* menurutku itu tidak bisa mengekspresikan kenikmatan yang dirasakan tapi karena istriku memaksa maka aku harus menurutinya jika tidak dia pasti tidak mau berbicara denganku esok hari, aku menyukai desahanmu jadi mendesahlah ditelingaku"
Aditya mengangkat badannya dan melepaskan celananya, lalu bergantian melepaskan baju tidur Cahya dan seluruhnya yang menempel ditubuh istrinya itu. Setelah mereka berdua tidak memakai apapun, Aditya menindih Cahya lagi dan bertumpu pada satu lengannya, dan mulai menggesek-gesekkan kepemilikannya yang sudah mengeras ke area sensitif milik istrinya membuat perempuan itu menggeliat dan reflek melingkarkan kedua tangannya dileher Aditya.
Kenikmatan itu begitu intens, keduanya mengerang menikmati setiap gerakan Aditya. Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas ranjang berseprei putih yang sekarang sudah acak-acakan itu. Ketika puncak itu hampir tiba Aditya membuat Cahya mencapai kenikmatan itu lebih dulu. Dan ketika istrinya mengerang mencapai puncaknya, Aditya merasakan tubuh Cahya mencengkeramnya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam tubuh Cahya.
Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Aditya masih berbaring menindih tubuh Cahya, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh istrinya, kepalanya berbaring di bantal di samping kepala isterinya. Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya bercinta dengan orang yang dicintai.
****
Setelah sarapan, Cahya, Chika dan Adri pergi untuk berjalan-jalan dipantai. Langit tampak cerah, biru dihiasi awan putih berbagai bentuk, seakan-akan menyambut mereka dengan keindahan pemandangannya. Sedangkan Aditya bilang akan menyusulnya nanti setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Cahya berdiri tanpa alas kaki, menginjak pasir putih itu dan memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut yang hangat yang menerpa pipinya. Rasanya hangat dan mendamaikan, apalagi dengan alunan deburan ombak yang begitu menenangkan. Sedangkan Chika dan Adri sibuk bermain pasir seperti anak kecil.
"Senang?" suara Aditya yang dekat di sampingnya membuat Cahya hampir terlonjak kaget. Dia menoleh dan melihat Aditya berdiri di sampingnya. Lelaki itu berpenampilan santai, dengan t-shirt putih dan celana pendek warna khaki dan kaki telanjang. Cahya sangat menyukai jika Aditya memakai itu, menurutnya itu terlihat sangat tampan.
"Kau mengagetkanku saja, apakah sudah selesai pekerjaanmu? Sedang liburan kau masih saja mengurusi pekerjaanmu" Gerutu Cahya.
"Tidak bersamaku kurang dari 30menit saja kau sudah menggerutu, oke aku minta maaf"
"Ibu, Mama dan Papa kemana?"
"Mama dan Papa akan menyusul, ibu sedikit pusing jadi tidak ikut dan tetap tinggal di Villa mungkin karena kemarin kita terlalu lama dipantai sampai senja"
"Iya mungkin saja"
Aditya lalu mengajak Cahya berkeliling, suasana hari ini sangat cerah menambah keindahan pemandangan dipantai ini. Mereka bersenang-senang hari ini, Aditya ingin sekali untuk pergi snorkeling tetapi menyadari Cahya sedang hamil itu sangat tidak bagus. Aditya berjanji akan mengajak Cahya nanti jika sudah melahirkan untuk liburan ke pantai lagi dan mereka bisa berenang dilaut dan snorkeling.
Adri dan Chika pergi untuk snorkeling, sedangkan Aditya mengajak Cahya untuk kembali ke Villa dan berenang di kolam renang saja. Saat ingin kembali, Aditya melihat Mama dan Papanya bergandengan ditepi pantai sambil bercanda, membuatnya dan Cahya tersenyum.
"Kau iri ya melihat Mama dan Papa masih sangat romantis di usia mereka yang sudah tidak muda lagi?" Goda Cahya.
"Kau tahu, dulu waktu aku masih kecil, aku sangat kesal jika melihat Papa sedang bersama Mama, aku sangat cemburu hahaha"
"Dan itu akan terjadi lagi nanti, saat anak kita melihat kita sedang berduaan mereka yang akan mengusirmu untuk menjauhiku"
"Semoga tidak, karena aku tidak bisa jauh dari istriku yang cantik ini" Aditya merangkul Cahya dan mereka tertawa.
Akhirnya mereka sampai di Villa, Cahya menghampiri ibunya yang sedang duduk dikamarnya lalu menanyakan keadaannya, ibunya mengatakan jika sudah lebih baik. Aditya mengajak Cahya untuk berenang dikolam renang, karena hari ini sangat cocok untuk berenang. Dengan senang hati Cahya menyetujuinya.