
Aditya sampai di rumah sore hari, melihat Cahya sedang membuka koper mereka dan memilah pakaian.
" Kau sudah pulang, aku sedang membereskan ini semua, kau mandi saja dulu dan akan kubuatkan minum" Ucap Cahya tersenyum melihat suaminya masuk ke kamar.
" Lihatlah yang aku bawa, aku memesannya khusus untukmu di desainer yang dulu mengurus gaun pengantinmu, apa kau suka??" Tangan Aditya menenteng sebuah gaun berwarna silver yang terbungkus plastik transparan.
" Gaun untukku?? Ini indah sekali, warnanya sangat elegan, tetapi untuk apa kau memberi gaun ini padaku!"
" Apa kau lupa, besok adalah pernikahan mantan kekasihmu si tollol Theo itu, aku ingin kau memakai gaun ini besok, baiklah aku mandi dulu, bawakan saja air dingin untukku, aku sedang ingin yang dingin-dingin" Aditya memberikan Gaun itu pada istri lalu mengeecup keningnya dan pergi ke kamar mandi.
***
Setelah makan malam, Aditya menyibukkan dirinya diruang kerjanya, Cahya menemaninya dan sedang membaca buku, wajah Aditya sejak pulang dari menemui Ariel terlihat berbeda dari biasanya, lebih kepada seperti orang yang sedang marah dan tetap mencoba tenang, tetapi wajah dan ekspresinya tidak bisa membohongi orang yang melihatnya. Cahya tidak berani menanyakannya takut justru akan membuat suaminya meledak, jadi dia memilih untuk diam tidak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Adit, bisakah besok kita mampir menemui ibu? tadinya aku ingin menemuinya hari ini tetapi kau sepertinya sibuk dengan urusanmu sampai sore" Suara Cahya membuyarkan Aditya yang sedang menatap laptopnya.
" Ah iya sayang, maafkan aku tadi aku mengurus beberapa hal, besok aku akan menjemputmu dikantor lebih awal dan kita kesana bersama, kau sudah siapkan oleh-olehnya untuk ibu?"
" Sudah aku sudah menyiapkannya tadi"
" Baiklah, besok kita kesana setelah itu malamnya kita datang menghadiri pernikahan mantan kekasihmu itu"
Sebenarnya Cahya merasa enggan untuk datang ke pesta pernikahan Theo, dia sangat malas harus menemui lagi Theo beserta keluarganya, bahkan mengingat kekacauan yang dibuat Cyntia saat dirumahnya menambah keengganan Cahya untuk datang, tetapi tampaknya Aditya datang kesana untuk membuat bungkam Theo dan Cyntia, mau tidak mau dia harus datang. Aditya ada bersamanya jadi Cahya merasa lebih tenang.
*****
Setelah pulang dari menjenguk ibunya yang kini tinggal dirumah Adri, Aditya dan Cahya beranjak untuk pulang, dan bersiap untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Theo dan Cyntia.
Cahya bersiap-siap, sudah memakai make up dan menata rambutnya, kini dia berdiri menatap gaun berwarna silver itu dengan senyuman karena gaun itu sungguh sangat indah. Segera dia mengambilnya lalu memakainya, karena Aditya sudah menunggunya dibawah.
Aditua sedang duduk bersama Mama dan Papanya dan terkagum melihat Cahya yang sedang turun dari tangga, istrinya itu terlihat seperti seorang putri.
" Cahya sayang, kamu sangat Cantik, gaun itu sangat pas ditubuhmu, pada dasarnya kamu sudah cantik jadi dipoles dikit cantiknya semakin bertambah" Nyonya Harry memuji kecantikan dan penampilan menantunya, selama ini Cahya selalu memakai riasan tipis dan jarang dengan make up seperti saat ini.
" Mama terlalu berlebihan memujinya" Ucap Cahya
" Tidak sayang, kau memang sangat cantik, kau tidak boleh takut atau ragu, suamimu ada disampingmu dia yang akan menjagamu, datang dan tegakkan dagumu tunjukkan kebanggaanmu pada Cyntia dan Theo, bahwa kamu lebih beruntung dari mereka"
Cahya tersenyum mendengar perkataan ibu mertuanya itu, Aditya ada disampingnya untuk apa dia merasa takut pada Cyntia dan Theo.
" oh iya Adit, apakah kamu sudah menyiapkan hadiah untuk pengantinnya" Tanya Cahya pada Aditya.
" Sudah, jangan khawatir, bahkan hadiah yang sudah kusiapkan ini akan menjadi hadiah yang luar biasa bagi yang melihatnya, sekarang ayo kita segera berangkat" Jawab Adity dengan senyuman yang sedikit mengejek Theo dan Cyntia.
***
Akhirnya sampailah mereka ditempat pesta itu digelar. Aditya menggandeng Cahya, membuat Cahya merasa tenang. Suaminya itu juga terlihat tampan dengan setelan berwarna hitam. Cahya masih belum tahu hadiah apa yang sudah disiapkan oleh Aditya karena memang Aditya sengaja tidak memberitahu Cahya.
Butuh bertahun-tahun bagi Cahya untuk bisa bangkit dari keterpurukan karena Theo, hingga akhirnya takdir membawanya bertemu dengan Aditya, lelaki yang saat ini telah melakukan banyak hal untuk dirinya, bahkan sangat mencintainya.
" Sayang, kenapa kau melamun" Suara Aditya itu membuayarkan pikiran Cahya.
" Kau tidak apa-apa??? Apa kau ingin melempar sesuatu kepada pengantinnya, aku bisa mengambilkan gelas atau piring untukmu, kau bisa melemparnya jika mai" Ucapan Aditya itu membuat Cahya tertawa.
" Sudah cukup, jangan bercanda, kau ini"
" Ayo kita naik kesana, dan kita salami mantan kekasihmu yang tidak beruntung itu"
Aditya lalu menggandeng tangan Cahya dan membawanya ke atas pelaminan untuk menyalami kedua mempelai.
Setelah sudah diatas, Cahya langsung berhadapan dengan kedua orang tua Theo, masih teringat jelas dipikirannya saat Theo membawanya datang kerumah nya untuk bertemu kedua orang tua Theo, saat itu mereka menolak uluran tangan Cahya. Kali ini ibunya Theo mengulurkan tangannya pada Cahya dan Cahya langsung menjabatnya, seburuk apapun perlakuan mereka dulu Cahya tidak boleh membalas dengan keburukan juga.
Sampailah kini mereka berhadapan dengan Theo dan juga Cyntia, Aditya tersenyum mengejek pada Theo, sedangkan Theo menjabat tangan Cahya dengan erat membuat Cahya merasa sedikit risih, melihat itu Aditya langsung meraih tangan istrinya dan membawanya untuk langsung pergi dari pelaminan itu.
Aditya mengambil ponselnya yang berdering lalu menjawabnya.
" Oke, lakukan sekarang dan bawa mereka masuk"
Cahya kebingungan dengan apa yang diucapkan Aditya, siapa yang disuruhnya untuk membawa orang masuk ke pesta ini. Belum selesai dia berpikir, tiba-tiba ada beberapa polisi yang masuk di tengah pesta, dan seorang polisi membawa lelaki yang tangannya diborgol, wajah lelaki itu memiliki banyak luka seolah dia habis dihajar oleh seseorang. Semua orang di gedung itu tertegun melihat ada beberapa polisi yang ikut masuk ditengah pesta itu.
" Istriku sayang, hadiah kita untuk pengantin itu sudah datang, mari kita lihat apa yang selanjutnya terjadi" Bisik Aditya di telinga Cahya, dan istrinya itu masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
Kemudian Ariel dan Randy menghampiri Aditya dan Cahya yang berdiri melihat kekacauan yang terjadi.
" Thanks brother, kalian sudah membantuku sejauh ini" Ucap Aditya dengan senyuman kemenangan.
Para polisi itu naik ke atas pelaminan, dan menunjukkan sebuah surat tugas penangkapan terhadap Cyntia, karena Cyntia telah melakukan kejahatan besar dengan membakar rumah seseorang dan hampir saja melenyapkan pemiliknya.
Seketika semua orang yang hadir disana terkejut dengan apa yang didengarnya, termasuk Cahya, dia tidak menyangka jika Cyntia tega melakukan semua itu pada ibunya. Cahya merasa langsung lemas dan hampir terjatuh, untunglah Aditya langsung menahannya. Sedangkan Cyntia langsung ditangkap dan tangannya diborgol, Theo hanya terdiam dengan apa yang terjadi. Cyntia meronta dan berteriak.
" Kalian salah, aku tidak melakukannya, jangan tangkap aku"
" Lelaki ini sudah kau bayar untuk membantu aksimu, jelaskan semuanya dikantor polisis saja" Ucap seorang polisi pada Cyntia tetapi Cyntia meronta mengatakan tidak mengenal laki-laki itu.
Saat polisi yang membawa Cyntia lewat didepan Aditya, Cahya, Ariel dan juga Randy. Aditya menghentikan mereka.
" Wow Cyntia kau ternyata perempuan yang sangat licik, berani-beraninya kau berencana membunuh mertuaku, sekarang terimalah akibat dari perbuatanmu, bersyukurlah aku masih mengizinkanmu untuk menikmati pesta pernikahanmu ini, dan nikmati malam pertamamu dihotel prodeo, jangan sekali-kali kau memiliki rencana buruk terhadap istriku dan keluarganya, jika aku sudah bertindak, kau akan menyesalinya seumur hidupmu"
Setelah mengucapkan itu, Aditya meminta kepada polisi untuk membawa Cyntia pergi.