SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 106



Terlalu kalut dengan pikirannya dan tidak ingin memikirkan apa yang sedang dilakukan Aditya dibawah, Cahya memilih untuk mengambil ponselnya dan berencana memesan makanan via online karena dia merasa sangat lapar. Setelah memilih beberapa makanan, sebagai pengganjal perutnya, Cahya membuka laci dimana dia menyimpan Cokelat miliknya, karena Cahya focus dengan ponselnya dia salah membuka laci, justru laci yang dibukanya adalah laci paling bawah. Tanggannya mencoba mencari Cokelat tetapi yang diambilnya justru benda kecil, saat melihatnya yang dipegangnya ternyata permen.


Permen yang sama seperti saat dia menemukannya dilantai rumah saat di Swiss, permen milik Elea dan Ariel. "Adit juga nyimpan permen ini ternyata, dasar para lelaki itu" Cahya menutup laci itu dan membuka laci lainnya dan menemukan Cokelatnya.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya ponsel berbunyi dan pesanannya sudah tiba, Cahya bergegas keluar kamar dan kebetulan ada mbak Tina yang sedang membereskan sofa di ruang keluarga. "Mbak Tina bis atolong saya, makanan pesenan saya sudah datang didepan bisa tolong ambilkan dan bawa ke kamar saya ya, tungguin aja sampai datang semua, ada 5pesanan saya yang berbeda-beda, ini uangnya, kalau ada kembaliannya kasih aja ke bapak ojeknya"


"Baik non"


"Ah iya sekalian bawakan saya piring, mangkuk dan juga sendok garpu, makasih"


****


Aditya mengantar Olivia keluar rumah untuk pulang, dan berpapasan dengan mbak Tina yang sedang membawa makanan pesanan Cahya.


"Mbak, bawa apaan banyak banget belanjaan ya?" Tanya Aditya.


"Oh bukan tuan, ini semua pesanan non Cahya, saya masuk dulu sudah ditunggu sama non Cahya"


Aditya menatap semua barang yang dipegang oleh ARTnya itu keheranan dengan apa yang sebenarnya dipesan oleh istrinya. Aditya kembali masuk setelah mengantar keluar Olivia dan naik kekamarnya untuk menemui Cahya, dia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor.


Dikamar Cahya mulai membuka semua makanan yang dipesannya, dan tersenyum bahagia mendapatkan apa yang diinginkannya.Cahya memulai dengan meminum Soy matcha latte faforitnya lalu menuang rujak buah yang dibelinya dan memakannya dengan lahap. Cahya tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Aditya dan sahabatnya itu dibawah, memikirkan mereka hanya membuatnya sakit kepala, lebih baik dia menikmati semua yang sudah dibelinya.


Aditya memasuki kamar dan menemukan Cahya sedang duduk disofa dengan menyalakan televisi serta dihadapannya berjejer aneka makanan. Aditya duduk memandang semua makanan yang ada dimeja,


istrinya makan rujak buah dengan sangat lahap, dan masih ada Siomay, Pempek dan Galantine dihadapannya. "Apa kau akan menghabiskan ini semua??" Tanya Aditya, tetapi bukannya menjawab Cahya justru menaruh rujak yang dipegangnya dan bergantian menuang saus diatas Galantin lalu memakannya.


"Kamu makan apa aja boleh tapi jangan berlebihan, nanti berat badanmu naik drastis, dikurangin porsinya, lihat tadi kamu juga udah habis berapa bungkus itu cokelatnya"


"Lalu kenapa jika berat badanku naik? Apa kau akan meninggalkanku lalu kembali ke pelukan mantan kekasihmu dan kau bisa memajang foto kalian sedang berpelukan dan tertawa bahagia, lakukanlah"


"Kamu ngomong apaan sih, udah ah aku mau mandi dulu, kamu lanjut saja makannya" Aditya berdiri dan meninggalkan Cahya yang sedang makan.


Cahya berkeliling kamar dan mengambil frame foto berisi fotonya dan Aditya lalu memasukkannya kedalam kotak yang sudah dibawanya tadi. Cahya menumpuk bantal diatas tempat tidur untuk dijadikan pijakan agar bisa lebih mudah mengambil frame besar berisi foto pernikahannya yang menggantung ditembok diatas tempat tidurnya. Cahya mulai naik keatas bantal itu, belum sempat meraih framenya, tumpukan bantal yang ia jadikan pijakan ternyata bergeser yang membuatnya langsung terpental kebelakang. Aditya yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berlari dan menangkap Cahya sehingga Cahya tidak terpental keluar dari ranjang.


"Astaga Ca, Bagaimana kalau kau jatuh dikasur lalu terpental keluar, astaga kau ini apa yang ingin kau lakukan?" Teriak Aditya, dia masih merasa shock dan beruntungnya dia datang tepat waktu jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan istrinya.


"Aku hanya ingin mengambil frame itu" Cahya menunjuk kearah Frame besar yang ada ditembok.


"Untuk apa??"


"Aku ingin mengambil semua frame berisi foto kita dan membuangnya"


"Kenapa?"


"Supaya kau bisa memajang fotomu dengan mantan kekasihmu, itu yang kau lakukan dikantormu kan?"


Dengan perasaan bingung Aditya mencoba mencari apa yang dimaksud oleh istrinya. Sedangkan Cahya berjalan mengambil frame foto-foto mereka yang ada dikamar dan memasukkannya kedalam box. Aditya akhirnya mulai mengerti semuanya ternyata Cahya marah sejak tadi dikarenakan dia tidak melihat ada foto mereka dikantornya.


"Ca..!!! Apa yang kau lakukan, sudahlah kenapa kau seperti anak kecil saja marah dengan hal seperti itu, hentikan kekonyolanmu ini, itu hanya sebuah foto dan Olu itu sahabat masa kecilku, kenapa kau membesar besarkan masalah kecil seperti itu"


"Kau bilang aku seperti anak kecil dan konyol?? Dan aku membesarkan masalah kecil, sebuah foto membuatku berpikir bahwa aku melihat diriku seperti tidak ada nilainya untukmu, kau memajang fotomu serta keluargamu disana dan disana juga ada fotomu dan perempuan lain tetapi kau tidak memajang foto kita, itu hal kecil tapi memberi dampak besar, kau tahu bahwa aku sedang marah dan meminta untuk pulang tapi saat kau sampai dirumah kau malah berduaan dengan Olu tersayangmu itu, kalian berbicara banyak hal tentang kebersamaan kalian, dia seperti tidak menghargaiku yang sedang berada dihadapan kalian, dia terus mengatakan semua hal yang pernah kalian lakukan dulu, bahkan dia membawakanmu makanan dan kalian berdua tidak menawariku lalu langsung pergi ke ruang makan, dia buruk sekali dan tidak berperasaan"


"Cahya..... Diamlah...!!! Tutup mulutmu berhentilah membicarakan hal buruk tentang Olivia dan hentikan kekonyolan ini" Aditya berteriak tepat dihadapan Cahya sambil menggoncangkan pundaknya, sontak membuat Cahya kaget dan memundurkan kakinya.


Cahya menatap Aditya sambil melempar senyum dinginnya. "Sekali lagi kau meneriaki diriku, wow Aditya luar biasa, kau tidak memperdulikan keberadaanku saat kalian bersama, ah ya sama seperti saat kita di Swiss, kau mencari pelarian dengan wanita lain disaat kondisi kesehatan mental istrimu sedang tidak baik bahkan kalian hampir melakukan hal diluar batas atau bahkan mungkin kalian sudah melakukannya tanpa aku ketahui, aku memaafkan kekhilafanmu dengan hati yang lapang walau sebenarnya aku sangat tersakiti, aku mencoba memakluminya karena menganggap itu kesalahanku karena melupakan tugasku sebagai seorang istri sehingga kau butuh belaian wanita lain tapi kau lupa Aditya bahwa aku mengalami itu semua tidak lain karena aku berusaha menyelamatkan nyawamu sehingga aku harus kehilangan bayiku, jika bukan diriku siapa lagi wanita yang mau memaafkan kekhilafan suaminya dengan wanita lain, aku menjaga harga diri suamiku dengan tidak menceritakan kepada siapapun tentang hubunganmu dengan Cheryl, karena ulahmu aku disana seperti seorang tawanan yang tidak kau ijinkan pergi kemanapun tanpa dirimu dan aku mengikuti semua kemauanmu dan sekarang aku hanya ingin menjaga suamiku lagi agar tidak melakukan hal yang sama seperti dulu, tapi kau...?? Ah sudahlah" Cahya meneteskan airmatanya lalu melepaskan pegangan Aditya dipundaknya dan hendak pergi meninggalkannya tetapi Aditya memegang pergelangan tangannya.


"Ca.... Bukan begitu.... Aku tidak bermaksud meneriakimu!"


Cahya mengangkat tangannya "Stop... Sudah cukup Aditya cukup... Aku tidak ingin mendengar apapun darimu"


Cahya mengangkat box berisi frame foto dan membawanya keluar kamar, meninggalkan Aditya sendirian. Cahya berjalan keluar sambil menangis merasa sangat kecewa dengan semua ucapan Aditya kepadanya.