
Cahya duduk dan berhadapan dengan Theo. Theo tersenyum padanya, senyum yang sama yang dulu pernah membuatnya luluh menggetarkan hatinya karena ketampanan Theo, tetapi senyum itu saat ini tidak bisa mengalahkan pesona suaminya kini hatinya telah tertawan oleh Aditya yang tiada duanya. Dan tidak ada laki-laki manapun yang bisa mengalahkannya.
Theo menyalami Cahya dan mempersilahkannya duduk lalu memberikan buku menu dan Cahya memesan jus alpukat saja.
" Ca, kau semakin cantik saja dan semakin bersinar"
Seperti biasa Theo selalu pandai merayu, Cahya membanmtin sambil tersenyum.
" Terima kasih Theo, well apa yang mau kau katakan, aku tidak punya banyak waktu" Ujar Cahya.
" Kau takut dengan suamimu ya??"
" Suamiku tidak pernah membuatku takut, hanya saja aku harus segera pulang banyak pekerjaan dirumah yang menungguku"
Theo menghela napas panjang, diam sejenak lalu mengangkat kepalanya dan menatap Cahya dalam-dalam.
" Ca, aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, atas semua yang terjadi, kekacauan yang telah dibuat istriku pasti sangat menyakitimu, bahkan dia juga telah membakar rumahmu dan hampir saja melenyapkan nyawa ibumu, aku sangat menyesal ak benar-benar tidak tahu menahu jika istriku bisa melakukan hal sejahat itu dan sekarang dia sudah mendapatkan hukumannya, maafkan aku"
Theo menundukkan kepala menyesal, bahkan dia juga sempat menyeka airmatanya.
" Sudahlah aku sudah memaafkanmu, kau bisa tenang, dan aku juga minta maaf jika suamiku pernah menyakitimu, baiklah semua sudah clear aku permisi dulu ya?" Cahya beranjak dari tempat duduknya dan menyalami Theo.
" Tapi kau belum menghabiskan minumanmu Ca, tunggu sebentar lagi, duduklah"
" Tidak, maaf aku harus segera pulang keluargaku pasti sudah menungguku"
Cahya bergegas keluar dari cafe, dia harus segera pulang jika tidak Aditya akan sampai dirumah lebih dulu dan itu akan membuatnya bingung harus mengatakan apa, karena tidak mungkin jika dia mengatakan kalau menemui Theo.
Theo langsung berdiri mengejar Cahya yang sudah keluar dari pintu Cafe, lalu mengambil sapu tangan di saku nya. Theo menengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya, lalu membekap Cahya dengan sapu tangannya dan langsung menangkapnya setelah Cahya pingsan. Theo langsung menggendong Cahya dan membawanya masuk ke mobilnya.
****
Aditya pulang bersama Papanya setelah melakukan meeting dikantornya. Tidak sabar memberikan kabar bahagia kepada istrinya tentang hasil meetingnya hari ini. Nyonya Harry sedang duduk diruang tamu sambil meminum teh. Aditya menghampiri mamanya, tetapi pandangan Nyonya Harry mengarah ke pintu mencari menantunya.
" Adit sayang, dimana istrimu, kenapa kau hanya pulang dengan Papamu saja??"
Seketika Aditya terkejut dengan ucapan mamanya, kenapa Cahya belum pulang, ini sudah hampir 2 jam setelah Cahya meminta untuk dijemput.
" Apa?? Jadi Cahya belum pulang Ma? Tadi aku sudah menyuruh pak Udin untuk menjemputnya"
" Belum, daritadi Mama menunggunya, Mama pikir dia akan pulang bersamamu, jangan panik dulu coba kau hubungi dia ibu siapa tahu Cahya mampir ke rumah ibunya" Nyonya Harry mencoba menenangkan putranya.
Aditya mengambil ponselnya dan menghubungi Cahya, tetapi tidak diangkat. Kali ini dia mencoba menghubungi ibu mertuanya dan ternyata Cahya tidak datang kesana. Aditya semakin panik dan Mamanya menyuruh untuk menghubungi Pak Udin saja segera Aditya menghubungi supirnya itu.
" Halo pak, bapak dimana? Kenapa belum membawa Cahya pulang?"
" Apa??? Cepat masuk dan suruh dia untuk segera pulang"
***
Cahya terbangun dengan rasa pusing lalu terkejut melihat apa yang ada disekelilingnya. Dia ada disebuah kamar yang tidak dia kenal dan mulai mengingat kejadian sebelumnya bahwa saat dia kluar dari Cafe ada seseorang yang membekapnya lalu dia tidak ingat apapun.
" Apakah Theo yang menyekapku disini" Gumam Cahya panik. Dia mulai mencari tasnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Aditya.
Cahya semakin panik karena tidak menemukan tasnya, dia mulai menggedor gedor pintu berharap ada yang membukakan pintu tapi tidak ada satu orang pun yang menjawabnya.
Theo hanya tersenyum mendengar teriakan Cahya, dia duduk dan menikmati alcohol yang ada dihadapnnya. Kali ini dia berhasil membawa Cahya pergi, dan Aditya tidak akan bisa menemukannya. Sekarang akhirmya Cahya ada bersamanya dan dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
Disisi lain pak Udin tidak menemukan Cahya didalam cafe, segera dia menghubungi Aditya dan mengatakan semuanya.
" Maaf tuan muda, non Cahya ternyata tidak ada di dalam Cafe, saya sudah mencarinya"
" Tidak ada?? Bagaimana bisa, sekarang pak Udin ada dimana?? Aku akan segera kesana"
Tanpa pikir panjang Aditya langsung bergegas pergi ke Cherry's Cafe dimana istrinya tadi pergi kesana. Aditya mulai panik luar biasa, dan terus saja menghubungi Cahya tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali.
Saat sampai di Cafe itu Aditya langsung bertemu pak Udin, setelah mendengar semuanya Aditya masuk ke cafe dan melihat sekeliling tetapi tidak menemukan istrinya. Aditya menanyakan pada pelayan dimana dia bisa melihat rekaman Cctv Cafe karena istrinya menghilang setelah masuk ke Cafe ini.
Lalu pelayan mengantarnya ke ruangan dimana disitu ada beberapa monitor berisi rekaman cctv. Lalu petugas menanyakan kira-kira jam berapakah istrinya datang ke Cafe ini, Aditya menanyakan kepada pak Udin dan pak Udin mengatakan jika dia mengantar Cahya sekitar jam setengah 5 lebih.
Benar saja rekaman itu menunjukkan saat Cahya mulai masuk ke Cafe, istrinya berjalan dan duduk disebuah kursi yang disana ada seorang laki-laki. Aditya penasaran dengan lelaki itu.
" Pak, berhenti, bisakah kau memperbesar layarnya, aku penasaran dengan lelaki yang ditemui istriku" Ucap Aditya.
Setelah layar diperbesar, Aditya sangat mengenal lelaki itu. Dia sangat terkejut kenapa bisa istrinya menemui Theo sendirian dan tidak memberitahunya. Sampai kemudian rekaman itu menunjukkan jika Cahya berdiri dari duduknya dan meninggalkan Theo tatapi kemudian Aditya terhenyuk ketika melihat Theo berlari mengejar Cahya dan yang terjadi selanjutnya membuat amarah Aditya mulai memuncak.
" Brengsek dia membekap Cahya"
Aditya langsung berlari keluar untuk mencari Theo, karena pasti Theo sudah membawa Cahya pergi bersamanya tapi tidak tahu kemana Theo sekarang.
Aditya terus mencoba menghubungi Cahya tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali.
" Cahya dimana kau sekarang, kenapa tidak menjawab teleponku?" Gumam Aditya.
***
Cahya mulai menangis ketakutan, dia tidak tahu bagaimana caranya bisa keluar dari sini. Aditya pasti sangat khawatir karena dia belum pulang sampai saat ini. Perutnya sedikit terasa kram, mungkin karena dia panik dan tadi terus berteriak. Cahya mencoba menenangkan dirinya agar perutnya tidak semakin sakit dan berusaha berdoa agar ada segera pertolongan untuknya.
Pintu kamar itu terbuka dan Theo berdiri disana, Cahya beringsut ketakutan karena Theo terlihat seperti sedang mabuk. Theo mulai berjalan mendekatinya, dan Cahya semakin ketakutan.