
Yongki menengok ke belakang karena mendengar suara mobil yang berhenti. Security menghampiri Erica yang baru saja keluar dari mobilnya . "Mbak siapa? Kok main masuk-masuk saja tidak permisi" Tegur Security itu..
"Memang apa urusanmu, kulihat tadi mobil didepanku ini juga langsung masuk kesini"
"Itu karena sudah mendapat ijin dari pak Aditya, mbak kan belum mendapat ijin, kenapa main langsung masuk saja?"
"Sudah diam saja, kembali saja ke tempatmu, lihat itu dia mengenalku" Erica mengarahkan telunjuknya ke arah Cahya.
Melihat kedatangan Erica, Mama Aditya mengajak Ibu Yongki untuk masuk ke dalam sambil membawa kedua cucu nya. Sementara Cahya dan Yongki hanya diam melihat perdebatan Erica dan Security nya. Sampai kemudian, Erica berlalu meninggalkan security dan berjalan menghampiri Cahya.
"Wah ada satu pria tampan lagi disini, Cahya, pria ini simpananmu ya?" Gumam Erica sambil berlalu melewati Yongki.
Saat itu juga Yongki mengernyit mendengar ucapan perempuan itu dan penasaran siapa dia sebenarnya. Sementara itu, Nyonya Harry langsung memberitahu putranya yang asyik mengobrol dengan suaminya juga Ayah Yongki bahwa Erica datang dan sekarang sedang ada diliar bersama Cahya. Mendengar itu Aditya langsung berdiri dan sangat terkejut.
"Erica? Bagaimana dia bisa masuk Ma?" Tanya Aditya.
"Dia masuk begitu saja saat gerbang dibuka karena Yongki datang dan langsung mengikuti mobil Yongki masuk"
Aditya pun langsung bergegas keluar rumah.
*****
"Hai kita berjumpa lagi, kemarin di restoran kau buru-buru pergi, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sembuh dari sakit jiwamu? Ku dengar kau pernah mengalami gangguan jiwa setelah kehilangan bayimu hahaha sayang sekali waktu itu aku tidak melihat kondisimu yang tidak labil"
Sekali lagi Yongki dibuat terkejut oleh ucapan perempuan itu. Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa Cahya pernah mengalami gangguan jiwa.
"Tutup mulutmu itu Erica.......!!!!!" Teriak Aditya.
Aditya lalu berjalan menghampiri Cahya dan langsung berdiri didepan istrinya itu. "Kau mengatakan bahwa istriku mengalami gangguan jiwa tapi kau sendiri tidak sadar bahwa yang jiwa yang sedang terganggu itu adalah dirimu sendiri? Kau memasuki rumah orang lain tanpa ada ijin darinya setelah itu kau menghina pemilik rumah itu, kalau kau memang waras kau pasti tidak akan melakukannya" Aditya mencibir Erica.
Bukannya merasa malu atas ucapan Aditya, Erica justru menertawakannya. "Tenanglah Adit sayang, aku datang hanya untuk menengok bayimu, kudengar kau memiliki bayi kembar, jadi aku datang membawa hadiah untuk mereka?"
"Tidak perlu repot-repot, cepat pergilah sekarang"
"Aku juga membawa hadiah untuk istrimu, dia sepertinya baik-baik saja, penyakit gilanya tidak kambuh lagi kan???"
Plaaaakkk........
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Erica. Ternyata Aditya yang menampar Erica, Cahya pun terkejut tidak menyangka Aditya menampar seorang wanita.
"Pergilah dari rumahku sekarang juga dan jangan berani-berani lagi kau menghina istriku, atau kau akan berurusan denganku, cepat pergi, atau aku akan menyeretmu keluar dari sini" Gertak Aditya.
Tatapan kemarahan Aditya kepada Erica semakain tajam, entah apa yang sedang dipikirkan wanita ini, dia selalu saja tidak bisa menjaga tutur katanya dan juga perilakunya. Dengan penuh kemarahan Aditya menarik pergelangan Erica dan menyeret wanita itu dengan kasar.
Setelah menarik Erica ke mobilnya, Aditya langsung mendorongnya hingga wanita itu hampir tersungkur. Erica lagi-lagi hanya tertawa melihat kemarahan Aditya, tetapi kemudian memilih untuk masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Aditya.
Setelah kepergian Erica, airmata Cahya mulai menetes, melihat Adiknya mulai menangis, Yongki langsung menghampirinya dan merangkul bahu Cahya mencoba menenangkannya. "Ayo masuk Ca"
Cahya menyeka airmata nya dan Yongki pun mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah dan mengantarkannya ke kamar.
****
Aditya langsung masuk ke rumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya pada sang Mama. Dia pun langsung berlari naik ke kamarnya. Aditya melihat Cahya sedang terisak dan ditenangkan oleh Yongki. Melihat kedatangan Aditya, Yongki langsung berdiri dan menepuk bahu Aditya sambil tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.
"Jangan kau masukkan hati ucapan perempuan gila itu, mulutnya memang busuk sejak dulu, berhentilah menangis" Ucap Aditya lalu membawa istrinya jtu ke dalam pelukannya dan mengusap lembut lengannya.
"Apa menurutmu aku memang gila seperti yang diucapkan Erica?"
"Seperti yang ku katakan, dia yang gila bukan dirimu, sudahlah jangan kau pikirkan, dia hanya ingin membuatmu down dengan ucapannya lalu ketika itu berhasil dia akan merasa senang, jadi kau jangan sampai terpengaruh dengannya"
Aditya melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu istrinya, lalu menatapnya dengan dalam sambil tersenyum kemudian mengusap bekas airmatanya.
"Kau tadi menampar Erica, kau harusnya tidak boleh melakukan hal itu pada perempuan"
"Aku tidak akan pernah membiarkan ada orang lain yang menghina istriku atau menghina keluargaku, aku tidak peduli dengan gender jika itu demi menjaga harga diri orang yang ku cintai, sebenarnya ini kedua kalinya aku menampar Erica" Ucap Aditya lalu tersenyum.
"Kedua kalinya???"
"Iya, yang pertama adalah saat dia berbicara dengan kasar kepada Mama, dia memarahi Mama dan menyuruh Mama untuk meninggal saja"
"Apa???? Dia mengatakan itu???" Seru Cahya tidak percaya.
"Ya, dia mengatakannya saat aku mengajaknya menjenguk Mama, dan itu terjadi didepan Mama dan Papa, dia mengatakan itu karena saat itu waktuku dengannya menjadi berkurang karena aku sibuk mengurus Mama yang mulai sakit, lalu hubungan itu aku akhiri, aku tidak ingin memiliki pendamping hidup yang tidak bisa menjaga ucapannya, akan bagaimana nanti rumah tangga yang kami jalani jika dia saja tidak bisa menghormati orang yang sudah melahirkanku, itu juga yang aku lakukan tadi, aku menamparnya karena dia menghina perempuan yang aku cintai dan yang sudah melahirkan anak-anakku dengan bertaruh nyawa" Tutur Aditya.
Cahya lalu memeluk Aditya dengan sangat erat, tidak pernah berhenti dia bersyukur karena telah mengirimkan lelaki seperti suaminya. Walaupun ada beberapa hal dari Aditya yang terkadang membuatnya merasa jengkel, tetapi tugas istri adalah tetap harus menghormati suaminya.
Aditya merasa sangat bersyukur atas semua yang sudah Tuhan berikan padanya. Tuhan telah memberinya keluarga yang begitu harmonis, orangtua yang selalu mensupportnya, istrinya yang selalu membuatnya merasa nyaman ketika berada didekatnya dan juga dua bayinya yang begitu lucu dan menggemaskan membuatnya selalu ingin pulang lebih cepat hanya untuk segera bertemu dengan mereka. Apapun yang terjadi, Aditya akan menjaga mereka semua dan tidak akan membiarkan siapapun menghina dan menyakiti keluarganya.
Sementara itu, Erica menepikan mobilnya dan berteriak, merasa sangat marah karena sekali lagi Aditya sudah menamparnya dan juga menyeretnya dengan begitu kasar didepan Cahya.
"Shiiiiittt ..... Kau memang pandai Aditya..... Kali ini aku mengalah tetapi bukan Erica jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, aku masih belum menyerah..... Kau lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada istri gilamu dan seluruh keluargamu yang selama ini selalu menjadi penghalang kita" Ucap Erica dengan penuh kekesalan.