
Ariel kembali ke rumahnya pada malam hari, dia melihat rumah Elea tampak sepi bahkan lampu depannya juga tidak menyala. Ariel berpikir mungkin Elea dan keluarganya masih berada di rumah Ayahnya. Ariel masuk ke ruang keluarga dan melempar tubuhnya ke sofa. Sejak siang dia mematikan ponselnya, pasti banyak sekali pesan dan panggilan masuk. Tetapi dia sama sekali tidak peduli, lagipula Danist pasti sudah mengurus semuanya. Dan sebentar lagi Ayah sambung dari Gienka itu sudah pasti akan menerima seluruh aset yang dimiliki Ayahnya, tetapi tetap saja Ariel tidak akan peduli dengan semua itu. Ayahnya terlalu banyak meninggalkan luka untuknya dan Mamanya, jadi biarkan saja.
Setelah sedikit melepas penatnya, Ariel naik ke kamarnya dan menyalakan ponselnya. Benar saja banyak sekali pesan yang diterimanya juga ada puluhan panggilan dari banyak kontak yang ada di ponselnya, bahkan Aditya dan Randy juga berkali-kali menghubunginya. Ariel melempar ponselnya di tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Air shower mulai mengguyur tubuh Ariel, sambil memejamkan mata, dia mulai memikirkan banyak hal lagi. Danist pasti akan memiliki segalanya yang seharusnya dia miliki, terlebih lagi setelah Ayahnya meninggal. Beberapa lagi dia akan melihat Danist bukan lagi pergi ke perusahaan perkebunan milik Aditya, tetapi akan jadi pewaris tunggal dari seluruh perusahaan Ayahnya. Entah kenapa, Ariel mulai memupuk lagi kebenciaannya pada Danist. Semua kebenaran yang ada didepan matanya begitu menyakitkan, membuatnya marah, tetapi selama 4 tahun ini dia mencoba menahan diri hanya untuk kepentingan Gienka saja. Dibalik itu semua tentu saja dia masih menahan semuanya dalam hatinya. Dan selanjutnya dia hanya akan jadi penonton saja saat Danist akan menikmati kenyamanan dan kemewahan yang sudah di tinggalkan Ayahnya.
Ditempat lain. Kesedihan masih menyelimuti Danist, baginya ini terlalu cepat sekali. Dia juga masih tidak menyangka Ariel begitu teganya melakukan hal yang begitu buruk seperti ini. Elea mendekati Danist yang duduk sendiri di sebuah kursi untuk menenangkannya. Danist tampak terpukul sekali juga tadi sangat berharap Ariel akan datang dan mereka berdua bisa menuntaskan kewajiban terakhir mereka kepada Ayahnya.
"Lebih baik kau istirahat di kamar" Ucap Elea pada Danist.
"Kita pulang saja sekarang!"
"Pulang??? Tapi anak-anak sudah tidur??"
"Kita bawa mereka pulang, aku tidak mau kehadiran kita disini jadi membawa prasangka yang tidak baik dari Ariel, kita pulang!"
"Baiklah jika itu yang kau mau"
Danist mengangkat Gienka dan mengajak Mamanya serta Mama mertuanya untuk bersiap dan pulang selarang juga. Danist benar-benar ingin menghindari pemikiran buruk Ariel terhadapnya. Tidak ingin memperburuk keadaan yang sudah ada. Danist yakin hal yang terjadi saat ini pasti sudah menimbulkan pemikiran buruk Ariel terhadapnya. Itu sebabnya lebih baik dia membawa seluruh keluarganya untuk pulang saja.
Sementara itu Aditya dan Cahya sedang dalam perjalanan pulang. Aditya merasa sangat kesal terhadap sikap Ariel, harusmya dalam keadaan seperti ini Ariel bisa sedikit saja mengesampingkan kemarahannya. Semua orang menantikan kehadirannya tetapi Ariel tidak datang.
"Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran dari Ariel?? Elea mengatakan padaku bahwa om Andi sangat ingin sekali bertemu dengan Ariel, tetapi kenapa Ariel sama sekali tidak peduli" Gumam Cahya.
"Aku sendiri tidak menyangka!"
"Marah boleh saja tetapi harusnya tidak seperti itu, sikap keras kepalanya tidak pernah berubah sama sekali....!"
"Aku akan berbicara padanya nanti"
Beberapa hari kemudian......
Karena kesal tidak ada kabar sama sekali dari Ariel, pesan dan panggilannya tidak dijawab oleh Ariel, Aditya dan Randy datang bersamaan ke kantor sahabatnya itu. Ariel sama sekali tidak pernah mengunjungi rumahnya setelah Ayahnya meninggal, mereka mendapat kabar tentang hal itu dari pelayan yang ada disana, juga melihat sendiri setiap malam saat mereka datang dalam acara doa bersama yang diadakan disana. Bahkan Elea juga bercerita jika Ariel terlihat dirumah setiap hari, dimana lampu kamar Ariel menyala dan akan mati saat tengah malam. Ariel juga sesekali datang menemui Gienka memberikan mainan atau sekedar snack tanpa banyak berbicara. Dan sekali meminta ijin padanya untuk menjemput Gienka di sekolah dan membawanya ke kantor, itu terjadi karena setelah meninggalnya Kakek Gienka, Elea menyuruh agar Danist atau dirinya yang menjemput Gienka disekolah karena dia dan Danist mendapat cuti beberapa hari dari Aditya.
Aditya dan Randy sempat ditahan oleh sekretaris Ariel agar tidak masuk, tetapi mereka tidak peduli dan masuk begitu saja tanpa permisi. Ariel sedikit terkejut dan hendak marah karena pintu ruangannya dibuka cukup kasar dari luar, tetapi tersenyum saat melihat kedatangan Aditya dan Randy. Ariel berdiri dan mempersilahkan kedua sahabatnya itu untuk duduk dan dia berjalan ke mini bar yang ada diruangannya dan mengambil sebotol wine dan tiga gelas lalu membawanya ke depan Aditya dan Randy yang duduk di mini bar itu.
"Bagaimana kabar kalian???" Tanya Ariel sambil menuang wine ke gelas yang ada di depan Aditya dan Randy.
"Jika tidak baik tentu aku dan Adit tidak akan ada disini" Jawab Randy.
Ariel terkekeh lalu membuka sebungkus kacang almond dan memakannya. Ariel menyadari bahwa sepertinya Aditya dan Randy sedang marah kepadanya dan pasti akan menanyakan kemanakah dia beberapa hari ini. Tetapi tentu saja Ariel sudah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan yang akan diajukan oleh Aditya ataupun Randy.
"Apa kau belum membayar koneksi internet di rumahmu atau dikantormu, sehingga kau tidak membaca atau membalas sama sekali pesan dari kami??? Apakah kau semiskin itu Iel???" Tanya Randy dengan nada menyindir.
"Aku sibuk sekali jadi tidak sempat membaca pesan kalian, maafkan aku!"
"Alasan yang sangat klasik, sudahlah...!!!! Tidak perlu basa basi lagi, kau kenapa tega sekali tidak menghadiri acara pemakaman Ayahmu??? Sesibuk apakah dirimu sampai sedikit saja kau tidak bisa menyisihkan waktumu, berhentilah bersikap kekanak-kanakan Iel???" Gumam Aditya.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia, lagipula sudah ada anaknya yang lain yang mengurusnya"
"Danist sendiri masih menghormatimu Iel, dia sangat menunggu kedatanganmu kemarin, karena dia masih merasa bahwa kau memiliki hak yang paling tinggi daripada dia, lagipula kenapa juga kau tidak mau datang ke rumah sakit saat itu, padahal om Andi sangat ingin bertemu denganmu, dia pasti ingin menjelaskan semuanya padamu"
"Penjelasan apalagi, sudahlah berhenti membahas tentang orang yang sudah meninggal, aku tidak ingin menambah dosaku dengan berbicara hal buruk tentangnya" Ujar Ariel.
Aditya dan Randy hanya bisa saling berpandangan, sikap Ariel seperti ini sudah mereka duga sebelumnya. Semua tidak akan berubah, Ariel tetap akan terus bersikap seperti ini. Memang dari awal, Ayah Ariel salah mengambil sikap tentang permasalahan dengan Danist, andai saja saat itu dia berbicara dengan Ariel lebih dulu tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.
Wanita itu memasuki halaman rumah keluarga Ariel, dia turun dari mobilnya. Dia terlihat masih cantik meskipun ada guratan di wajahnya menandakan bahwa dia sudah tidak lagi muda, dengan wajah blesteran yang begitu ketara. Dia menurunkan kacamata hitamnya, dan melangkah pelan mendekati pintu rumah besar itu, kemudian menekan bel yang ada di sisi kiri.