
"Kalian???? Kenapa ada disini? Mari masuk....!"
"Tapi Bu Cahya tadi pak Adit bilang mereka harus menunggu sampai dia kembali" Protes security.
"Aku kenal mereka, tidak apa biarkan mereka masuk" Ujar Cahya kemudian mengajak keduanya untuk masuk.
Dengan sopan, Cahya mempersilahkan untuk duduk dan menyuruh asisten rumah tangganya membuatkan minuman dan juga cemilan. Wajah Ibu Farah terlihat pucat karena memang sedang sakit. Sementara Cahya masih belum mengetahui ada keperluan apa tetangganya itu datang kesini untuk menemui Ibunya.
Teh dan camilan disajikan oleh asisten rumah tangga dan Cahya mempersilahkan kedua tamunya untuk meminumnya. Selain wajah pucat, Cahya juga melihat ada ketakutan serta dimata Ibunya Farah, tetapi Cahya mencoba untuk tidak menanyakan keperluan mereka, karena sepertinya sesuatu yang penting ingin mereka bicarakan dengan Ibunya.
"Jangan malu-malu, silakan minum tehnya, sebentar lagi pasti Ibu akan datang" Gumam Cahya.
Kemudian Cahya tersenyum saat keduanya mau meminum teh yang sudah di sajikan. "Bagaimana sekolahmu Dim?" Tanya Cahya.
"Baik kak, sekarang sedang persiapan ujian" Jawab anak laki-laki itu.
"Kau harus belajar dengan rajin supaya bisa membanggakan Ibumu dan kakakmu"
Sementara di luar Aditya baru saja datang, bergegas securitynya membukakan gerbang. Aditya keluar dari mobil dan menanyakan apakah orang yang datang sudah pulang karena di depan tidak ada siapapun. Aditya diberitahu jika mereka sudah ada di dalam karena Cahya yang mengajak keduanya untuk masuk.
Aditya kemudian menyusul ibu mertuanya masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah masuk tiba-tiba Ibu Farah berlari dan langsung memeluk kaki Ibu Cahya sambil menangis dan meminta maaf atas perbuatan anaknya. Sementara Cahya dibuat terkejut oleh kejadian itu karena dia juga masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Ibu Cahya mencoba menyuruh Ibu Farah agar berdiri dan tidak berlutu di kakinya. Akhirnya Ibu Cahya berhasil membujuk dan membuat Ibu Farah mau berdiri. Sambil terisak, dia meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas apa yang sudah dilakukan oleh putrinya dan berharap agar putrinya bisa di bebaskan. Mendengar permintaan itu, semua terdiam dan hanya saling berpandangan.
Aditya mengernyit, baginya permintaan itu tentu saja sangat berat untuk dilakukan mengingat apa yang sudah di lakukan Farah sangatlah fatal dan dampaknya sangat merugikan. Hanya demi uang satu juta, Farah melakukan hal itu yang kerugiannya mencapai ratusan juta. Bangunan rusak parah dan semua bahan pokok dan peralatan lainnya habis terbakar bahkan dalang utama juga masih belum ditemukan. Bagaimana bisa dengan mudahnya Ibunya datang meminta maaf dan ingin anaknya di bebaskan.
Dengan bijak, Ibu Cahya memberi maaf untuk semua perbuatan yang dilakukan oleh Farah, tetapi permasalahan membebaskannya dari jeratan hukum dia masih belum bisa melakukannya. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Ibu dan Adik Farah berpamitan pulang, karena kebetulan supir Cahya sudah kembali, Aditya menyuruhnya agar mengantar keduanya pulang.
*****
"Apa kau tidak akan kembali ke kantor lagi??" Tanya Cahya.
Aditya melepaskan jas dan dasinya dan memberikannya pada Cahya, kini mereka berdua sudah ada di kamar.
"Tidak, aku sedang malas, apa yang terjadi hari ini membuatku kesal dan ingin sekali mengumpat kasar"
Cahya tersenyum dan mengusap lembut pundak Aditya. "Sudahlah jangan marah-marah, aku akan membuatkanmu makan siang, kau pasti lapar, kau ingin makan apa?"
"Aku ingin mandi lalu kita pergi makan siang di luar"
"Makan siang di luar?? Lalu anak-anak gimana??"
"Ayolah, ada ibu disini lagipula mereka sedang tidur, sebentar saja, aku mandi dulu dan kau bersiap ya?"
"Oke baiklah!"
Setelah bersiap Aditya dan Cahya turun dan menitipkan kedua anaknya ke Ibunya karena mereka akan keluar sebentar untuk makan siang. Dan karena mobilnya di pakai oleh supir mengantar ibu Farah. Aditya malas jika harus mengeluarkan lagi mobil Papanya yang tadi digunakan oleh supirnya untuk mengantar Ibu mertuanya yang sudah di masukkan ke dalam garasi. Tetapi pandangan Aditya tertuju kepada motor Adri yang ada di luar garasi, tadi pagi dia sengaja menyuruh Marco untuk membersihkannya karena berdebu dan ternyata belum di masukkan lagi. Aditya melirik ke arah Cahya dan tersenyum karena istrinya saat ini mengenakan celana jeans bukan dress. Akan sangat menyenangkan jika mengajak Cahya pergi dengan naik motor, mengingat selama ini dia belum pernah melakukannya.
"Sayang, tunggu sebentar aku masuk ke kamar dulu mengambil sesuatu, tunggu disini" Gumam Aditya lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Tak lama Aditya kembali keluar dengan membawa jaket lalu memberikan jaket itu ke Cahya. Tentu saja Cahya bingung kenapa suaminya memberinya jaket dan menyuruhnya untuk memakainya. "Ini untuk apa??"
"Pakai saja! Kita akan pergi naik itu!" Aditya menunjuk ke arah motor Adri yang terparkir di luar.
Aditya mengangguk dan tersenyum.
"Tidak! Kau tidak pernah mengendarai motor sebelumnya" Cahya memprotes karena selama ini dia tidak pernah melihat Aditya menaiki motor, terlebih motor Adri adalah motor besar yang pasti membutuhkan orang berpengalaman untuk mengemudikannya.
"Siapa bilang? Dulu aku anak motor, aku sering touring kemana-mana dengan komunitas yang ku ikuti, aku berhenti karena Papa memberiku tanggung jawab di perusahaan dan itu menyita waktuku, jadi jangan khawatir, ayo cepat pakai jaketnya, aku akan membawa motornya kesini"
Aditya kemudian meninggalkan Cahya dan berjalan untuk mengambil motor Adri, tetapi sebelumnya di masuk ke garasi dan mengambil helm untuknya dan Cahya. Aditya memakai jaketnya dan memakai helm lalu mulai menaiki motor itu, dia terlihat sangat keren dan gagah, membuat Cahya tersenyum melihatnya. Aditya menghampiri Cahya dan menyuruh istrinya itu untuk naik. Seolah mengerti majikannya akan keluar, dengan sigap securitynya membuka gerbang, tak lupa Aditya berpesan kepadanya agar tidak menerima tamu siapapun itu karena Ibu mertuanya dan anak-anaknya ada di dalam.
Aditya dan Cahya pun meninggalkan rumah untuk makan siang. Kali ini Aditya akan mengajak Cahya untuk menikmati makan siang di salah satu restoran milik Ariel, sudah lama sekali dia tidak mengajak Cahya makan di luar. Aditya mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang, tidak terlalu tinggi atau pelan, baginya yang terpenting adalah kenyamanan dari Cahya.
Cahya mempererat pegangannya di perut Aditya dan menempelkan kepalanya di punggun suaminya itu. Cahya sangat menikmatinya, ini pengalaman pertamanya naik motor dengan Aditya. Dan ternyata sangat mengasyikan bisa melakukan hal semacam ini.
"Apa kau menyukainya sayang???" Teriak Aditya.
"Ya.....! Ini sangat mengasyikkan....! Kau harus sering-sering melakukannya....!!!!"
"Kau ingin jalan-jalan dulu atau makan lebih dulu....!!???" Tanya Aditya lagi.
"Aku lapar.... Kau juga pasti lapar.... Kita makan dulu saja.....!!!"
"Oke....!!! Pegangan lebih erat lagi.... Aku akan sedikit menambah kecepatannya...!!!"
Aditya pun menaikkan sedikit kecepatannya dan seolah sangat ahli mengemudikan motor itu. Cahya mempererat pegangannya dan berteriak kegirangan karena sensasi yang begitu menyenangkan.
Tetapi tanpa Cahya dan Aditya sadari, mereka sedang diikuti oleh orang suruhan Cyntia. Sebelumnya dia melihat ada pergerakan dari gerbang rumah Aditya dan tidak diduga ada laki-laki dan perempuan keluar dari rumah itu dengan mengendarai motor. Melihat itu, dia pun tergelitik rasa penasaran siapakah mereka, akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya karena itulah yang harus dia lakukan atas perintah Cyntia, bahwa dia harus memastikan siapa saja yang keluar masuk rumah itu, dan dia sudah hafal semua mobil keluarga Aditya. Kali ini ada hal baru yang didapatkannya yaitu motor yang keluar dari rumah itu, tentu saja dia harus melihat siapa yang mengendarainya, mengingat selama ini dia belum pernah melihat ada yang keluar dengan mengendarai motor. Setelah nanti berhasil mengikutinya, dia baru akan melaporkannya pada Cyntia karena mungkin bosnya itu akan memberinya tugas baru mengenai hal ini.
Akhirnya motor itu berhenti di sebuah restoran mewah dan keduanya turun lalu melepaskan helm serta jaket mereka. Dia tersenyum karena ternyata itu adalah Aditya dan Istrinya, dengan segera dia mengambil ponselnya dan menghubungi Cyntia memberitahukan hal ini.
Setelah memberitahukan info terbaru yang di dapatkan tentang Aditya, dia terlihat diam mendengarkan arahan dari Cyntia lalu mengatakan siap melakukannya. Dia menutup teleponnya dan ikut masuk ke dalam restoran itu menyusul Aditya dan Cahya seperti yang diperintahkan oleh Cyntia.
****
Aditya dan Cahya mulai memesan makanannya, dan mereka harus menunggu sebentar. Wajah Cahya terlihat sangat senang karena Aditya selalu melakukan hal yang tidak diduga sebelumnya.
"Bagaimana, kau menikmatinya? Seru kan??" Tanya Aditya.
"Ya aku sangat menikmatinya, kau memang ahli dalam segala hal, tak ku sangka kau juga bisa mengendarai motor, kupikir kau hanya ahli dalam berbisnis saja"
"Aku ahli dalam segala hal, bahkan aku juga sangat ahli membuatmu selalu bahagia" Gumam Aditya yang langsung membuat Cahya tersenyum.
Aditya dan Cahya kemudian mengobrol sambil menunggu makanan mereka datang. Hingga seorang pelayan datang mengantarkan minuman ke mereka. Keduanya terlihat sangat bahagia bahkan sesekali Aditya menyandarkan kepalanya di pundak Cahya.
Dan diam-diam dari kejauhan orang itu memotret semua aktifitas Cahya dan Aditya di restoran dan mengirimkannya kepada Cyntia.
..."Good job! Dan lakukan apa yang ku perintahkan tadi dengan baik saat mereka keluar dari restoran itu, kau akan mendapatkan bayaranmu setelah berhasil melakukannya" balas Cyntia setelah menerima kiriman foto-foto itu....