
Ariel menatap Maysa dalam-dalam, Maysa pun melakukan hal yang sama. Dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ariel padanya. Apakah Ariel akan mengatakan hal buruk lagi kepadanya tentang apa yang dilakukan Mamanya dulu, ataukah Ariel akan mengatakan hal lainnya. Tetapi jika lelaki didepannya ini menghinanya lagi, mungkin dia nanti tidak akan pernah lagi mengingat semua kenangannya dengan Ariel.
"Aku ingin meminta maaf padamu May atas semua kesalahan yang sudah ku lakukan padamu dulu, aku tidak bermaksud mengatakan semua hal buruk tentangmu, aku saat itu hanya ingin membuat Mamamu sakit hati karena perbuatannya dulu kepada keluargaku, dan setelah kupikir-pikir kau tidak bersalah dalam hal itu, semua kesalahan yang terjadi adalah kesalahan orangtua kita, tolong May maafkan aku, mungkin dengan ini beban dipundakku bisa sedikit berkurang, dan permasalahan diantara kita bisa selesai, maafkan aku"
"Kau menyakitiku!"
"Aku tahu May, aku sudah begitu dalam menyakitimu, bahkan memperlakukanmu dengan sangat buruk, aku juga merendahkanmu didepan orang banyak, harusnya aku tidak melakukannya mengingat aku juga menikmatinya dan tidak menolakmu saat itu, tolong maafkan aku, dan kita bisa berteman lagi seperti dulu" Ariel menundukkan kepalanya diatas ounggung tangan Maysa, mengisyaratkan bahwa dia sangat menyesal.
"Aku mengerti keadaanmu saat itu, Mama juga sudah menjelaskan semuanya padaku, dia juga sangat menyesal atas apa yang sudah dia lakukan dulu, mengenai permintaan maafmu aku menerimanya tetapi jika kau melakukan hal semacam itu lagi padaku, tentu aku tidak akan lagi bisa menerima maafmu"
Ariel mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Maysa seraya mengucapkan terima kasih karena perempuan itu mau memaafkannya. Dan Ariel berjanji bahwa dia tidak akan lagi mengatakan hal buruk pada Maysa. Dan mereka pun memutuskan untuk berteman lagi.
Dulu keadaan begitu buruk, Ariel sangat marah dan sebenarnya Mama Maysa juga ingin sekali meminta maaf pada Ariel, akan tetapi situasi dan kondisi sangat tidak memungkinkan. Setiap hari Maysa melihat Mamanya menangis setelah kejadian itu, menangis bukan karena apa yang dikatakan Ariel, tetapi dia menangis karena menyesali kesalahannya yang akhirnya membuat Maysa harus mengalami penghinaan itu. Dan saat ini Ariel sudah meminta maaf dan menyadari kesalahannya, mungkin suatu saat nanti Ariel juga berkenan menerima maaf dari Mamanya, sehingga semua bisa saling memaafkan.
"Istirahatlah dikamarku bersama Gienka, aku akan tidur disini" Ujar Ariel.
"Tidak, aku akan beristirahat dikamarku saja, antar aku kesana!"
"Istirahat disini saja, kau sakit, bagaimana jika kau butuh sesuatu dan tidak ada yang membantumu, istirahat saja disini, ayo aku akan membawamu ke kamar"
Ariel berdiri dan membungkukkan badannya lagi untuk mengangkat Maysa. Gerakannya terhenti saat wajahnya dekat dengan wajah Maysa dan mereka saling bertatapan.
Gienka tiba-tiba terbangun, dan turunlah bocah itu dari tempat tidurnya. Dia melangkah pelan mendekati Ariel.
"Papa Yel....!!!!" Panggilnya sambil menepuk pinggang Ariel, sontak Ariel dibuat terkejut dan tubuhnya hampir saja tersungkur diatas Maysa.
Ariel menoleh kemudian menghadap ke belakang dan menemukan putrinya sedang menguap dan berdiri dibelakangnya. Ariel duduk berjongkok dan memegang pundak Gienka. "Sayang....!!! Kau kenapa bangun???" Tanya Ariel.
Mata Gienka kini melirik ke arah Maysa yang duduk di sofa. "Tante Cantik ada disini!" Gumamnya.
"Iya, tante Maysa kakinya sedang sakit, Gie malam ini tidur dengan tante May ya??? Papa Yel akan tidur di sofa" Ucap Ariel.
"Kenapa Papa Yel tidul di sofa? Papa Yel kan bisa tidul belsamaku dan tante cantik disana" Gienka menunjuk ke tempat tidur.
Ariel mengusap rambutnya bingung jawaban apa yang harus dia katakan pada putrinya itu. "Ehhh....! Gie saja yang tidur bersama tante May, Papa Yel tidur disini saja, kaki tante May kan sedang saki, kalau kita bertiga tidur disana bisa-bisa nanti kaki tante May bertambah sakit karena tersenggol kaki Papa, ayo sekarang Gienka ke kamar mandi dan gosok gigi sebelum.kembali tidur"
Dengan langkah kecilnya yang menggemaskan, Gienka meninggalkan Ariel dan Maysa lalu masuk ke kamar mandi. Ariel mengangkat Maysa dan membawanya ke tempat tidur, kemudian menyusul putrinya ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Ariel keluar dari kamar mandi bersama Gienka. Ariel melepaskan pakaian yang dipakai putrinya itu, kemudian berdiri dan membuka tas kecil. Ariel mengeluarkan pakaian tidur milik Gienka serta sebuah pack kecil berisi keperluan bocah itu, seperti bedak bayi, parfum, minyak telon dan lainnya. Dengan telaten, Ariel menuang minyak ditangannya dan membalurkan ke seluruh tubuh putrinya baru setelahnya dia memakaikan baju tidur.
Maysa sejak tadi tersenyum melihat apa yang dilakukan Ariel. Lelaki itu sangat cekatan dan terlatih, bahkan keahliannya itu seperti seorang Ibu. Ariel tampaknya sangat menyayangi Gienka, bahkan dia bisa melakukan hal seperti itu, padahal dia selama ini sendirian, dan pasti hal semacam itu hanya dilakukan oleh Mama Gienka, tetapi kenyataannya Ariel juga bisa melakukan semua itu. Maysa yakin, Ariel selama ini pasti banyak menghabiskan waktu bersama putri semata wayangnya itu.
Gienka mencium pipi Ariel dan menganggukkan kepalanya, lalu berlari dan naik ke atas tempat tidur. Gienka menggeser tubuhnya dan mendekat ke Maysa yang duduk bersandar di tempat tidur. Bocah itu menoleh dan menodngakkan kepalanya menatap Maysa.
"Tante Cantik..! Apa kau bisa membacakan dongeng untukku?? Biasanya Mamamu selalu melakukannya, Papa Yel juga tapi sekalang tante cantik yang tidul denganku, jadi tante cantik yang halus mencelitakan dongeng untukku, apa tante mau???"
Maysa tersenyum dan memegang kedua pipi Gienka. "Tentu saja, sekarang Gienka berbaring dan tante akan menceritakan sebuah dongeng tentang putri dan pangeran"
Maysa menarik selimut kemudian berbaring lebih dulu dan membuka lengan kanannya lalu meletakkannya diatas bantal sehingga Gienka bisa menggunakannya untuk alas kepalanya. Maysa kemudian menceritakan sebuah dongeng, tak butuh waktu lama Gienka pun mulai memejamkan matanya dan lama kelamaan bocah kecil itu mulai tertidur. Setelah memastikan Gienka sudah tidur dengan nyenyak, perlahan Maysa menarik lengannya dan bangun untuk kembali duduk.
"Sangat jarang sekali aku bertemu dengan anak kecil yang mudah sekali akrab dengan orang yang baru ditemuinya, Gienka sangat manis, kau pasti sangat bahagia memiliki anak sepertinya!" Ucap Maysa.
Ariel meletakkan ponselnya dan memandang ke arah Maysa. "Gienka memang sangat mudah sekali akrab dengan orang, apalagi jika orang itu memperlakukannya dengan baik, dia akan terus memujinya dan akan mengingatnya dengan baik, seperti denganmu"
"Kau juga terlihat begitu telaten mengurusnya, kau belajar darimana???"
"Tidak belajar dari mana-mana, semua kupelajari sendiri, aku sangat senang saat Elea memberiku kebebasan untuk mengurus Gienka jadi kupikir aku harus melakukan yang terbaik untuk putriku"
"Kenapa kau tidak menikah lagi saja jadi ada yang bisa membantumu mengurus Gienka??"
Ariel menyandarkan tubuhnya di sofa dan menghela napasnya. "Itulah yang aku inginkan sebelumnya, tetapi tidak ada satupun perempuan yang aku dekati mau menerima keberadaan putriku yang manis itu, mereka hanya mau denganku dan tidak dengan putriku, Gienka adalah hidupku jadi jika dia mau denganku maka dia juga harus menyayangi Gienka, hanya saja aku tidak pernah menemukan yang seperti itu jadi aku memutuskan untuk tidak akan lagi memikirkan untuk menikah karena aku bisa mengurus putriku sendiri saat dia bersamaku"
"Kau pasti akan mendapatkannya suatu saat nanti, kau pasti bahagia sekali memiliki anak yang begitu lucu, cantik dan menggemaskan"
Ariel hanya tersenyum mendengar ucapan Maysa. Entah ucapan itu akan menjadi kenyataan atau hanya sekedar pengharapan saja, karena selama ini dia sudah mencari perempuan yang seperti itu tetapi tidak juga menemukannya.
"Oh iya May, sorry lancang, tetapi kudengar kau bercerai dengan suamimu, memangnya ada permasalahan apa??? Kau cantik dan cerdas, lalu kenapa suamimu memilih meninggalkanmu???"
Maysa hanya diam saja, membuat Ariel merasa bersalah dan takut bahwa sepertinya Maysa tersinggung dengan pertanyaannya. Ariel pun meminta maaf pada Maysa dan mengatakan pada perempuan itu agar tidak perlu menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak bisa memberikan anak untuknya, jadi dia melakukan itu, menceraikanku!" Jawab Maysa.
"Apa...!!????" Seru Ariel terkejut.
"Aku sangat menyukai anak kecil, tetapi sayangnya aku tidak bisa menjadi perempuan yang sempurna, jadi suamiku memilih meninggalkanku, dokter sudah menjatuhkan vonis untukku bahwa selamanya aku tidak akan pernah bisa memiliki anak, membuat aku memutuskan untuk tidak akan pernah menikah lagi, karena selamanya aku tidak akan pernah bisa memberi suamiku anak!" Maysa menyeka airmatanya, dia tidak bisa menahannya jika membahas hal itu.
Ariel berdiri dan menghampiri Maysa kemudian mengusap bekas airmata Maysa yang masih tertinggal di pipi perempuan itu. "Kenapa kau berpikir seperti itu?? Pasti kau nanti juga akan menemukan laki-laki yang mau menerima kekuranganmu itu, aku yakin itu" Ariel melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dia tersenyum dan berucap lagi "Tidurlah ini sudah malam"
Maysa mengangguk kemudian berbaring dan menarik selimut. Ariel juga kembali dan berbaring di sofa dan mengucapkan selamat malam kepada Maysa. Ariel memejamkan matanya, tetapi sebenarnya dia belum mengantuk. Ariel memikirkan pembicaraannya dengan Maysa, perempuan itu ternyata juga memiliki permasalahan lain yang membuatnya gagal menjalani rumah tangganya dan tampak sudah menyerah dengan keadaannya. Hati Maysa pastilah sangat hancur saat mendengar kenyataan itu, sampai perempuan itu memutuskan bahwa dia tidak akan menikah lagi. Ariel berharap semoga Maysa nanti bisa menemukan kebahagiaannya dan ada laki-laki yang mau menerima kekurangan perempuan itu