SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 380



Cahya mengusap lembut punggung Elea dan berbisik kepada sahabatnya itu. "Danist akan sembuh El, jangan pernah pikirkan hal yang buruk tentangnya, apa kau lupa bagaimana hancurnya aku dulu saat pencarian Adit dihentikan, aku menyerah dan kehilangan harapan tetapi kau selalu ada disampingku dan mengatakan padaku bahwa aku tidak boleh menyerah serta berpikir buruk karena Adit pasti akan kembali untuk berkumpul dengan kita semua, dan ucapanmu itu benar, kita semua mendapat kabar baik tentangnya, itu juga pasti akan terjadi pada Danist, dia akan sembuh dan akan kembali kepadamu dan anak-anak, yakinlah El, Tuhan selalu bersama kita jika kita selalu berdoa kepadanya, kau percaya itu kan??"


"Iya Ca...! Aku harus yakin bahwa suamiku akan baik-baik saja"


Cahya melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Elea, tersenyum kepada sahabatnya itu dan menyeka airmata yang jatuh di pipi Elea. "Danist pasti akan memilih jalan untuk kembali kepadamu dan anak-anak, karena dia tahu bahwa kalian sangat membutuhkannya, sekarang kita kembali ke ruang operasi, tante Sari ada disana, dia juga pasti membutuhkanmu saat ini, kalian harus saling menguatkan!"


Elea kembali menyeka airmatannya kemudian Cahya mengajaknya berdiri, meninggalkan taman rumah sakit itu dan kembali ke ruang tunggu operasi. Elea merasa bebannya sedikit berkurang setelah menceritakan semua kepada Cahya.


Ketika sampai disana, Elea memeluk Mama mertuanya sambil berurai air mata. Elea mencoba menenangkan Mama mertuanya itu dan mengajaknya untuk terus berdoa. Sementara Ariel masih duduk dalam diam, wajahnya terlihat sangat sedih. Aditya dan Randy saling berpandangan, ya sejak tadi Ariel memang tidak mengatakan apapun, padahal sseharusnya disaat seperti ini Ariel meminta maaf kepada Mamanya Danist tetapi itu tidak dilakukan oleh Ariel. Bahkan saat Mama Danist bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, Aditya yang menjawabnya tetapi Aditya berusaha menata ucapannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dari Mama Danist. Aditya sebenarnya sangat berharap Ariel sendiri yang menjelaskan sekaligus meminta maaf tetapi ternyata harapannya itu tidak terjadi.


Cahya mendekat ke Aditya. "Bagaimana?? Apa tante Sari meminta penjelasan tentang kejadian ini pada kalian???" Suara Cahya bertanya pada Aditya dengan suara pelan dan lirih. Aditya hanya menjawabnya dengan mengangguk.


"Lalu??? Apa jawaban Ariel???" Tanya Cahya lagi.


Aditya kali ini menggelengkan kepalanya, membuat Cahya memasang wajah kesal dan mengernyit, Ariel selalu saja bersikap seperti itu. Kenapa dia masih tidak mau mengerti keadaan ini. Pantas saja Elea tadi bercerita dengan penuh kemarahan, ternyata Ariel memang sangat keterlaluan.


★★★★★★


Sudah 5 jam berlalu tetapi dokter belum keluar dari ruang operasi. Kedua orangtua Elea juga sudah ada disini sejak tadi. Elea duduk menundukkan kepalanya dan tidak berhenti merapalkan doa. Sementara Cahya masih terus berkomunikasi dengan orang-orang dirumah menanyakan keadaan Gienka dan Friddie. Setelah berbicara cukup lama dengan Mama mertuanya via telepon, Cahya kembali mendekati Aditya dan Randy yang tengah mengobrol.


"Gienka terus menangis, tidak mau makan atau minum apapun,, dan dia sangat ketakutan berada di dalam rumah dan meminta keluar di ruang terbuka, serta terus memanggil nama Danist, aku khawatir dia teringat dengan kejadian tadi sehingga dia takut berada disekitar tembok, apa yang harus kita lakukan??? Aku tidak mau menambah ketegangan disini dengan mengatakan ini pada Elea dan yang lainnya!" Ucap Cahya dengan suara pelan dan terdengar khawatir.


"Separah itukah??? Astaga....!!! Jangan sampai Gienka mengalami phobia yang berlebihan, kita harus melakukan sesuatu Dit...!" Gumam Randy.


Cahya, Aditya dan Randy saling berpandangan diam dan tampak memikirkan sesuatu agar keadaan tidak semakin rumit. Mereka bertiga yakin bahwa siang tadi Gienka pasti melihat semuanya di depan matanya, itu yang akhirnya menyebabkan anak itu mengalami ketakutan seperti saat ini. Sangat berbahaya jika diusianya yang belum genap 5tahun Gienka harus mengalami trauma berat dan nanti bisa menyebabkan phobia yang berlebihan. Semua ini harus segera diselesaikan sebelum terlambat.


Cahya tersenyum, dia tiba-tiba memiliki ide bagus untuk keadaan ini. "Aku punya ide....! Bagaimana kalau kita memanggil psikolog anak untuk mengatasi ini, mungkin itu akan membantu Gienka"


Aditya dan Randy mengangkat kepalanya dan langsung menyetujui ide Cahya itu. "Hai Ran, apa kau ingat dengan Brianna?? Teman kita waktu Sma dulu, dia kan sekarang jadi psikolog anak dan punya tempat praktek sendiri"


"Brianna??" Randy tampak mengingat-ingat, kemudian tersenyum. "Ah ya, Brianna si wakil ketua osis dulu kan?? Yang dulu naksir berat sama si Ariel?? Aku ingat sekali..."


Aditya kemudian menjauh dan mencari kartu nama Brianna di dompetnya kemudian menghubunginya. Cukup lama Aditya berbincang ditelepon dan menjelaskan semua kejadian yang sedang menimpa Gienka, kemudian meminta agar Brianna bersedia datang ke rumah orangtuanya dan bertemu dengan Gienka secara langsung. Setelah berbicara dengan Brianna, Aditya kembali menemui Cahya dan Randy.


"Bagaimana???" Tanya Cahya dan Randy secara bersamaan.


"Brianna bersedia untuk datang ke rumah, untungnya dia sudah kembali dari kliniknya, dia akan bersiap untuk ke rumah! Sayang..! Hubungi Mama dan katakan jika akan ada psikolog anak yang akan datang!


Cahya mengangguk dan langsung menghubungi Mama mertuanya agar bisa menyiapkan Gienka. Saat ini menurut Mama mertuanya, Gienka sedang keluar bersama dengan Maysa dan Chitra, mereka berdua mengajak Gienka untuk ke taman yang ada di kawasan kompleks tempat tinggalnya, karrna Gienka sama sekali menolak untuk berada di dalam rumah. Sementara Friddie tidak terlalu rewel karena sudah diberi susu formula.


Ruang operasi akhirnya terbuka dari dalam, dokter keluar bersama seorang perawat. Aditya, Randy dan Cahya juga bergegas ikut menghampirinya. Semua orang berdiri menatap dokter dan menanyakan tentang operasi Danist.


.Operasi telah berhasil dilakukan dengan baik, akan tetapi segala kemungkinan masih bisa terjadi karena kondisi Danist masih kritis. Untuk perawatan lebih intensif Danist harus berada di ruang ICU dan harus di awasi dengan ketat dan baik, mengingat sewaktu-waktu kondisinya bisa turun. Benturan begitu keras sehingga luka dalamnya cukup parah bahkan ada beberapa tulang dibagian punggung dan kakinya juga mengalami keretakan. Tetapi yang lebih penting adalah bagian kepalanya yang memang harus jadi prioritas utama.


"Jika masa kritisnya sudah terlewati, tentunya keluarga harus siap untuk merawatnya dengan baik karena kondisinya butuh waktu yang cukup lama untuk pulih seperti sedia kala, kami juga masih butuh beberapa kantung darah lagi, jika ada yang memiliki golongan darah yang sama, kami harap bisa segera melakukan donor, tuan Danist sedang berada di ruang recovery sebelum nanti dipindahkan ke ruang ICU, kami permisi dulu!"


Elea kembali memeluk Mamanya dengan sedih, dia masih belum bisa bernapas lega, karena kondisi Danist masih belum stabil dan segala kemungkinan masih bisa terjadi. Ariel memundurkan langkahnya dan hendak pergi tetapi Aditya menahannya dan menanyakan mau kemanakah dia. Ariel menjawab jika dia akan pergi lagi untuk mendonorkan darahnya.


"Kau tidak bisa melakukannya lagi Iel?? Tadi darahmu sudah diambil, dan tidak bisa diulangi lagi, ada jeda waktu untuk bisa melakukannya lagi, aku akan menghubungi Adri, dia memiliki golongan darah yang sama dengan Danist, dulu Danist pernah melakukan itu untuk Adri, maka kali ini Adri juga harus melakukan hal yang sama" Ucap Aditya.


"Ku mohon berhentilah mengkhawatirkan suamiku, kami semua tidak membutuhkanmu disini, jadi pergilah, kehadiranmu disini tidak akan merubah apapun, suamiku masih terbaring lemah didalam sana karena dirimu, jadi lebih baik cepat oergi dari sini" Kali ini Elea menyahut dengan suara penuh kemarahan.


Semua orang yang mendengar ucapan Elea itu pun terkejut dibuatnya, terlebih Ariel. "Tapi El, aku harus memastikan kondisi Danist baik-baik saja, kau tidak bisa mengusirku, aku harus bertanggung jawab, dia kakakku!"


"Kakakmu??? Kau menyebutnya sebagai kakakmu? Suamiku tidak pernah memiliki adik seperti dirimu, yang bahkan kau selalu merendahkan dirinya tetapi kali ini kau memanggilnya kakak? Ciiihhh.... Menjijikkan sekali" Elea menangkupkan kedua telapak tangannya dan menatap tajam Ariel.


"Aku mohon padamu, pergilah dari sini, kau tidak dibutuhkan disini, lebih baik cepat pergi sebelum emosiku kembali memuncak, pergilah.....!!!" Kali ini Elea kembali berteriak pada Ariel dengan penuh kemarahan.


Ariel masih memohon dengan wajah memelas kepada Elea, tetapi Elea mengabaikannya dan tetap menyuruhnya untuk pergi. Karena tidak ingin suasana lebih panas, Aditya dan Randy memegang bahu Ariel dan mengajaknya untuk pergi dari temapat ini. Ariel menuruti keinginan Elea, dan tangisnya pecah saat Aditya dan Randy mengajaknya menjauhi lorong ruangan operasi itu.