
Elea berusaha keras melepaskan pegangan Ariel yang begitu kuat padanya tetapi tenaganya tidak cukup efek obat itu juga membuatnya lemas, dan tubuhnya terus saja terasa panas. Elea terus mencoba menghindar saat Ariel ingin menciumnya, tubuh Ariel juga semakin mendesak dirinya membuat Elea semakin terhimpit. Ariel mendekatkan wajahnya dan langsung mencium Elea walaupun perempuan itu meronta memintanya untuk berhenti, Elea membuka bibirnya dan saat bibir Ariel menyentuhnya, Elea langsung menggigitnya membuat Ariel berteriak kesakitan dan reflek menarik kepalanya dan melepaskan gigitan Elea hingga kepala Elea terbentur ke tembok dengan keras.
Karena kesal, Ariel langsung menatap Elea penuh dengan kemarahan dan merobek dress yang dipakai Elea. Bagian baju depan Elea sudah robek dan tentu saja dada nya terbuka, Ariel tersenyum penuh kemenangan dan langsung menciumi dada Elea membuatnya terus meronta dengan suara parau. Benturan dikepala nya membuat Elea merasa semakin kesakitan dan tidak berdaya. Ariel seperti orang sudah kehilangan akal sehatnya, tidak memperdulikan isakan Elea.
Danist keluar dari area parkir, dia pulang lebih cepat karena tadi tiba-tiba Aditya mendapat telepon dari Cahya dan menyuruhnya untuk segera pulang karena Kyra sedang rewel jadi Aditya memutuskan untuk memulangkan semuanya saja dan pekerjaan bisa dilanjutkan besok. Danist berniat mengajak Elea untuk makan malam diluar jika istrinya itu belum memasak. Danist setengah berlari menuju lift, tidak sabar untuk segera bertemu dengan Gienka, mengajaknya bermain.
*****
Danist keluar dari lift dan berjalan menuju apartment Elea. Saat sampai didepan pintu dan hendak menekan tombol intercom, pintu itu ternyata tidak menutup dengan sempurna menyisakaan beberapa sentimeter yang terbuka. Danist mendorong pintu itu agar terbuka dan menemukan apartment dalam keadaan gelap gulita. "Kenapa gelap sekali?? Apa Elea masih pergi menemui Ariel, dan dia ceroboh sekali pergi dan meninggalkan pintu tanpa terkunci dengan baik" Gumam Danist lalu mengambil ponselnya dan menyalakan flashnya untuk memudahkannya menemukan tombol saklar dan menyalakan lampu karena ini terlalu gelap hingga dia kesulitan melihat.
Danist berhasil menyalakan lampu ruang depan, dan sekarang melangkah menuju kamarnya. Lagi-lagi saat membuka pintu, kamar dalam keadaan gelap.
"Tolong.... Jangan lakukan ini..... Jangan lakukan.... Tolong.....!!!"
Danist menghentikan langkahnya saat akan memasuki kamar, ada suara lirih yang sayup-sayup terdengar dari kamar. "Itu seperti suara Elea, jadi dia ada di dalam tapi kenapa membiarkan semuanya dalam keadaan gelap seperti ini?" Belum sempat berpikir terlalu jauh terdengar suara rintihan meminta tolong dari kamar mandi, terlalu lirih tetapi sangat jelas terdengar.
Danist langsung berlari sambil mengangkat ponselnya untuk menerangi langkahnya dan langsung membuka pintu kamar mandi.
"Lepaskan aku Iel, aku mohon... Jangan Iel" Ucap Elea dengan suara lirih.
Danist terlonjak melihat apa yang ada dihadapannya, seorang laki-laki sedang menghimpit Elea dengan tubuhnya dan Elea tampak berusaha menghindarinya.
Danist melempar ponselnya dan langsung menarik kasar Ariel dari belakang. "Apa yang ingin kau lakukan pada Elea!!! Dasar Brengseek!!!!" Geram Danist dan langsung mendorong Ariel hingga tersungkur ke lantai kamar mandi.
Danist langsung menghajar Ariel dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan keras di wajahnya. Ariel berusaha melawan tetapi Danist dengan penuh kemarahan tidak berhenti memukulinya terurama diwajahnya.
"Berani-beraninya kau ingin memperrkosa ibu dari anakmu sendiri, dimana otakmu!!!" Ucap Danist marah dan terus menghajar Ariel tanpa ampun.
"Kau salah paham, Elea yang memintaku datang dan dia yang memaksaku agar melakukannya jadi apa yang bisa ku lakukan selain aku menuruti permintaannya" Gumam Ariel membela diri.
Danist semakin murka mendengar apa yang baru saja diucapkan Ariel, dia menyeret Ariel dan menarik rambutnya dengan kasar dan menenggelamkannya di bathtub lalu menarik dan meneggelamkannya lagi.
"Diamlah dasar brengseek....!!!! Aku mendengar dia meminta tolong yang menandakan bahwa dia menolakmu, dasar berandall bisa-bisanya kau memaksanya!!! Aku selama ini menghargaimu, aku menahan diri untuk tidak melawanmu karena kau ayah dari Gienka tetapi kau malah semakin menjadi-jadi, dimana otak dan pikaranmu...."
Danist terus mengangkat dan menenggelamkan kepala Ariel di bathtub, hingga laki-laki itu kesulitan untuk bernapas. Elea melihat itu tetapi tidak dia tidak berdaya untuk menghentikannya, dia terlalu lemah dan rasa panas ditubuhnya juga terus dia rasakan.
"Tolong..... Panas....!!!" Gumam Elea dengan suara lirih.
Danist yang mendengarnya langsung menoleh dan menemukan Elea terkulai lemas dilantai. Danist menarik rambut Ariel dengan kasar dan menyeret ya keluar dari kamar mandi. Dan mendorong Ariel dengan kasar keluar dari apartment itu. "Jika kau sekali lagi berani masuk kesini tanpa ijin, aku akan menghubungi polisi agar menangkapmu, cepat pergi sebelum batas kesabaranku habis!!!" Danist lalu menutup pintu dengan keras dan berlari kembali ke kamar mandi.
*****
Elea menggeliat dilantai kamar mandi, Danist berjongkok dan mendudukkan Elea menyandarkannya ditembok. Wajah Elea begitu pucat dan bibirnya bergetar, Elea basah kuyup dan gaun bagian depannya robek. Danist mengernyit melihat keadaan Elea yang terlihat begitu lemah. Danist berdiri untuk mengambil handuk yang terlipat di rak, lalu menutup tubuh Elea yang basah dengan handuk itu. Tetapi beberapa saat kemudian Elea melempar handuk itu dan menggeliat lagi.
Danist menyentuhkan telapak tangannya didahi Elea dan tidak merasakan apapun disana selain kulit Elea yang dingin karena basah. Elea bangun dan langsung melompat ke bathtub lagi membuat Danist terkejut melihatnya dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Elea. Tubuhnya dingin tetapi kenapa Elea mengeluh tubuhnya panas.
"El, ayo bangun dan keluar dari sini, nanti kau bisa sakit, lihatlah kau sangat lemah dan pucat sekali... Ayo beristirahatlah dikamar saja"
Elea memegang tangan Danist seraya berucap pelan. "Tubuhku terasa sangat panas.... Ariel..... Ariel memberiku obat itu, panas sekali...."
"Obat??? Dia memberimu obat apa??" Seru Danist.
Elea kemudian menyebutkan nama obat itu, tetapi Danist tidak tahu obat apa yang dimaksud Elea karena yang terpenting sekarang adalah Elea. Danist berdiri dan meninggalkan Elea dikamar mandi, lalu kembali beberapa saat kemudian. Danist membungkukkan badannya dan berusaha mengangkat Elea dari bathtub dan mengeluarkannya.
Danist mendudukkan Elea dilantai. "El, maafkan aku, aku tidak bermaksud melecehkanmu tetapi aku harus melakukan ini, karena jika tidak kau bisa sakit" Ucap Danist dan dia mulai melepaskan satu persatu pakaian Elea.
Setelah Elea tidak memakai apapun, Danist memakaikan jubah mandi kepada Elea dan membantunya berdiri lalu mengangkatnya ke kamar dan membaringkan di ranjang.
Wajah Elea merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dan selalu mengeluh kepanasan.
Elea menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Danist duduk di ranjang. Elea menatap Danist dengan mata berkabut.
“Aku sakit….tubuhku… panas…”
"Kau mau minum El?” dengan cekatan Danist berlari keluar kamar mengambil gelas lalu mengambil air dingin di dispenser dan kembali ke kamar.
"Sini, aku bantu kau minum" Danist membantu mengangkat tubuh Elea, lalu mencoba membuatnya duduk bersandar. Tubuh Elea menggayut lemah di lengannya, dan napas perempuan itu terengah, “Panas…. Tolong… panas sekali…." Sekali lagi Elea mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa. Danist meminumkan air itu kepada Elea, dan dengan rakus Elea menghirup air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.
"Kau ini sebenarnya kenapa El??? Ya Tuhan....!!! Ayo berbaringlah lagi"
Danist membantu Elea untuk berbaring lagi, dan Elea terus mengeluh kepanasan dan menggeliat diatas ranjang. Danist hanya menatap Elea dengan perasaan sedih tetapi karena dirundung rasa penasaran dengan obat yang disebutkan Elea, Danist mencari ponselnya yang tadi dia lemparkan ke lantai. Sayangnya ponsel itu mati dan tidak mau menyala lagi.
Danist melihat tas Elea ada diatas meja dan mencari ponsel Elea didalamnya dan mulai mengetikkan nama obat yang disebutkan oleh Elea. Danist membuka artikel pertama dan diam membacanya, tetapi kemudian dia bergumam kasar mengutuk Ariel.
"Dasar bajiingan...... Jadi dia sudah memberikan obat semacam itu pada Elea, kurang ajar!!!!!" Gumam Danist kesal.
Danist melanjutkan membaca artikel itu dan yang hanya bisa menghentikan kesakitan yang dialami Elea saat ini adalah dengan berhubungan badan dengannya. Danist menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukannya, itu bukan hal yang bagus. Jika dia melakukannya dengan keadaan Elea yang tidak sadar seperti ini, dia akan sama brengseeknya dengan Ariel. Memanfaatkan keadaan seorang perempuan karena efek sebuah obat adalah kejahatan yang luar biasa, dia tidak bisa melakukannya walaupun dia suami Elea.
Danist menatap sedih ke arah Elea dan mengusap lembut keningnya. "El, kau harus kuat dengan apa yang terjadi dengan tubuhmu, aku tahu obat apa itu tetapi aku tidak bisa melakukannya untuk membantumu, kau wanita terhormat aku tidak mau menjadi suami yang brengseek untukmu jika aku melakukannya dengan keadaanmu yang seperti ini"
Mata Elea berkaca-kaca mendengar ucapan Danist, tetapi laki-laki itu tiba-tiba keluar dari kamar dan meninggalkannya. Elea merasakan panas ditubuhnya tidak mau hilang juga. Beberapa saat kemudian Danist masuk lagi dan membawa pitcher berisi air dingin lalu menuangkannya ke gelas dan memberikannya pada Elea.
Selama semalaman penuh Danist tidak tidur menjaga Elea, dan hanya bisa membantunya dengan memberikan minum air dingin. Gienka juga sempat terbangun tetapi dengan cekatan Danist menenangkannya dengan menggendongnya lalu membuatkannya susu formula, karena memang selain minum Asi Elea, Elea juga sesekali memberikan susu formula kepada Gienka, jadi Danist tidak merasa kesulitan disaat keadaan Elea seperti ini.
Elea masih terus menggeliat kepanasan tetapi Danist tetap memegang prinsipnya untuk tidak melakukan hal itu. Ariel memang sangat kurang ajar bisa-bisanya memikirkan hal serendah itu. Danist masih bertanya-tanya bagaimana bisa Elea mengkonsumsi obat itu tetapi tentunya ini bukan saat yang tepat untuk menanyakannya pada Elea, karena perempuan itu masih terus merasakan sakit dan panas ditubuhnya.