
Suasana sarapan pagi ini terasa sangat berbeda, dimana Aditya dan Adri tidak saling bertegur sapa. Walaupun begitu tampaknya Tuan Harry mencoba untuk mencairkan suasana agar istrinya tidak curiga dengan apa yang semalam terjadi. Sesekali Cahya juga mencoba untuk mengimbangi suasana yang mencoba dibangun oleh Papa mertuanya.
"Ma, bagaimana jika hari ini kita pergi berbelanja pakaian untuk kita gunakan nanti diwisuda Adri dan Chika" Ucap Cahya semangat, berusaha mencairkan agar suasana tidak terlalu tegang.
"Wah ide bagus, Mama juga sudah berniat untuk mangajakmu Ca, nanti siang kita pergi ya dan ajak ibumu juga, nanti kita jemput"
Cahya menengok kearah Aditya "Sayang, aku boleh pergi berbelanja kan??"
"Pergi saja dan belanjalah sepuasnya, tapi biarkan Marco mengikuti kalian dibelakang untuk menjaga kalian" Ucap Aditya.
"Oke tidak masalah dan terima... kas..." Cahya tiba-tiba merasa sangat mual dan langsung berlari menuju kamar mandi.
Nyonya Harry langsung mengerti dan menyuruh Aditya untuk segera menyusul Cahya. Setelah itu menyuruh Mbak Tina membuatkan Teh Mint dan mengambilkan biskuit asin untuk Cahya.
Cahya mengeluarkan semua sarapan yang baru saja dimakannya, Aditya datang dan memijat tengkuk lehernya agar membuat istrinya lebih nyaman. Cahya berkumur dan membersihkan lingkar mulutnya dengan air.
"Are you okay?" Tanya Aditya.
Cahya menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan kedua tangannya dileher Aditya. "Jangan bersikap seperti itu pada Adri, jika kalian terus seprti itu mama akan curiga, kau tidak lihat papa sangat berusaha agar tidak terjadi ketegangan diantara kalian, bersikaplah seperti biasa, beri ruang atau waktu untuk Adri agar bisa berpikir lebih jernih, nanti aku akan menanyakannya pada Chika mungkin dia tahu apa yang terjadi, sekerang berhentilah memikirkan ini fokus pada pekerjaanmu, nanti siang kau mau dibuatkan apa?"
"Aku makan siang diluar saja, kau pergilah bersama Mama dan juga ibu, beli saja semua yang kalian mau" Aditya mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu kreditnya lalu memberikannya pada Cahya.
Adri sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak beranjak dari duduknya tetapi Mamanya menahannya.
"Mama hari ini sudah mengatur janji dengan tante Fani sahabat Mama yang designer, nanti bawa Chika kesana untuk mengukur kebaya nya, dia siap menyelesaikannya dalam beberapa hari, jangan lupa"
"Iya Ma nanti aku akan mengantarnya kesana"
****
Setelah puas berbelanja, Cahya dana Mama mertuanya mengantar ibunya pulang. Saat sampai disana ternyata Adri baru saja keluar dari rumahnya dan Mama mertuanya mengatakan jika tadi menyuruh Adri untuk mengantar Chika ke butik sahabatnya untuk membuat kebaya. Cahya teringat bahwa dia harus menanyakan beberapa pertanyaan kepada Chika tentang Adri, dan ini kesempatan karenabChika ada dirumah.
Mereka masuk ke dalam dan melihat Chika baru saja keluar dari ruang makan. Chika langsung menghampiri mereka dan menyapanya.
"Kalian sudah kembali ternyata"
"Iya Chika sayang, tadi kami juga melihat Adri keluar dari sini, apa dia sudah mengantarmu?"
"Sudah, memang baru saja Adri mengantarku dan dia langsung pergi, aku suruh beristirahat sebentar tetapi dia menolaknya, aku akan membuatkan kalian minum, karena bibi sedang menjemur pakaian"
Chika membalikkan badannya dan berjalan menuju dapur, Cahya segera menyusulnya. Chika menyiapkan cangkir untuk membuat teh dan Cahya memegang pundaknya. "Kakak, kenapa kesini aku bisa menyiapkannya sendiri"
"Ada yang ingin kakak tanyakan padamu, antarkan dulu minuman untuk Mama, kita bicara dihalaman belakang"
Chika pun mengantarkan teh yang dibuatnya dan menyusul kakaknya yang sudah menunggunya di halaman belakang. Chika merasa sedikit takut, entah apa yang ingin dikatakan kakaknya, sepertinya ada hal yang sangat penting. "Kak, apa yang ingin kakak bicarakan denganku?" Tanya Chika dan Cahya menyuruhnya untuk duduk.
"Ada hal besar yang sudah terjadi dirumah semalam, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Adri mengingat kalian lebih sering bertemu dibandingkan kami?"
"Hal besar apa kak?"
Chika mencoba mengingat sesuatu dan kemudian menyadarinya. "Aku tidak tahu pasti kak, tetapi memang akhir-akhir ini Adri lebih banyak diam dan dia jarang sekali membalas pesanku, aku tidka berani menanyakan apa yang terjadi, tetapi memang dia menjadi pendiam akhir akhir ini, kecuali saat liburan kemarin dia bersikap seperti biasanya, apa yang sebenarnya terjadi dirumah kak?"
Cahya menceritakan semuanya kepada Chika tentang apa saja yang dikatakan Adri pada Papanya dan juga Aditya dan juga keadaan yang terjadi dirumah saat ini. Cahya juga berharap Chika bisa mencari tahu apa yang terjadi pada Adri dan jangan sampai masalah ini didengar oleh Mama mertuanya. Dan Chika mengerti apa yang harus dia lakukan.
****
Cahya mengantarkan teh untuk Aditya diruang kerjanya, suaminya itu sedang sangat sibuk dengan laptopnya. "Hentikan pekerjaanmu dan minum dulu tehnya"
Aditya tersenyum kearah Cahya dan menuruti untuk menghentikan kesibukannya. Aditya meminum teh buatan istrinya dan memujinya.
"Aku tadi sudah berbicara dengan Chika, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Adri, hanya saja dia bilang akhir-akhir ini Adri lebih banyak diam"
"Lalu??"
"Ya hanya itu saja yang Chika katakan, tetapi aku sudah menyuruhnya untuk bertanya pada Adri, mungkin Adri bisa mengatakan padanya"
"Adri masih belum pulang??"
Cahya menggelengkan kepalanya, Adri belum pulang sejak tadi pulang mengantar Chika.
"Suamiku sayang, jika kau tidak sibuk bisakah kau mengantarku jalan-jalan sekarang" Cahya tersenyum memelas.
"Mau jalan-jalan kemana ini sudah malam, kau ini ada ada saja"
Cahya menarik lengan Aditya dan memaksanya. Mau tidak mau Aditya harus menuruti kemauan istrinya. Cahya naik ke kamarnya untuk mengambil tas dan juga jaket untuknya dan Aditya. Dia sedang ingin makan Bakso, entah kenapa perutnya lapar padahal tadi sudah makan malam, rayuannya pada Aditya selalu berhasil membuat suaminya menuruti keinginanya.
"Jadi kamu mau jalan-jalan kemana?" Tanya Aditya.
"Sudah kita berkeliling saja, kamu jangan ngedumel mlulu ih aku minta begini juga karena anak kamu yang mau"
"Selalu itu yang jadi alasan kamu"
Cahya hanya menatap Aditya sambil tersenyum. Akhirnya Cahya menemukan apa yang dicarinya dan menyuruh Aditya untuk menghentikan mobilnya.
"Ayo turun, aku sedang ingin makan Bakso"
"Tapi Ca tadi kita sudah makan?"
"Ya sudah kamu tunggu disini aja aku yang akan keluar membelinya sendiri"
Cahya membuka pintu mobilnya dan langsung keluar, karena tidak bisa membantah Aditya pun mengikutinya. Cahya memesan hanya seporsi bakso karena Aditya menolak dengan alasan masih kenyang. Cahya memakan baksonya dengan sangat lahap, Aditya hanya memandang keheranan, kenapa setiap hamil istrinya ini selalu saja memakan banyak makanan seolah perutnya disetting seperti orang yang tidak makan seharian.
"Buka mulutmu cepat, aaaaa" Cahya mencoba menyuapi Aditya, tetapi ditolak oleh suaminya. Bukan Cahya jika tidak bisa memaksa Aditya. Senyumnya melebar saat Aditya menerima suapannya.
Setelah puas memakan bakso, Cahya meminta Aditya untuk berhenti membeli es krim karena kemarin mereka hanya membeli es krim yang sekali makan dan itu juga habis sebelum sampai rumah. Jadi kali ini dia ingin beli untuk stok dirumah.
Sampailah mereka dirumah dan malam sudah mulai larut. Aditya menyuruh Cahya untuk naik ke kamar lebih dulu karena dia ingin menaruh es krim yang tadi dibelinya di freezer. Cahya menurutinya dan Aditya masuk ke dapur lalu memasukkan semua es krimnya kedalam kulkas. Suara pintu dibuka mengalihkan Aditya, segera Aditya keluar dari dapur dan mengecek siapa yang datang selarut ini. Adri masuk ke rumah dalam keadaan sempoyongan, Aditya menghampiri adiknya itu. Bau alkohol menyeruak saat Aditya mendekati Adri, amarahnya memuncak mengetahui adiknya pulang dalam keadaan mabuk.