SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
KEKECEWAAN



Cahya membersihkan sisa sisa tanah dan rumput yang menempel di badan Aditya, suaminya memakai Tshirt berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna putih membuat terlihat jelas jika ada kotoran atau tanah yang menempel lalu bersiap mengambilkan air untuk mengelap tubuh suaminya yang kotor tetapi Aditya menahannya.


" Tidak usah, aku akan mandi saja, aku tidak akan bisa tidur dengan kondisi seperti ini" Ucap Aditya.


" Tapi luka di wajahmu??"


" Aku tidak akan membasahinya, kau istirahat saja" Aditya mengelus rambut Cahya sambil tersenyum.


Bibi masuk ke kamar dan membawa pakaian Adri agar bisa dipakai oleh Aditya, Cahya mengucapkan terima kasih padanya. Lalu mengetuk pintu kamar mandi dan memberikan pakaian itu pada suaminya. Cahya masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Aditya, dia berkelahi dengan siapa dan kenapa bisa sampai berkelahi. Aditya keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.


" Sekarang duduk dan aku akan mengompresmu lagi, dan sekarang jawab pertanyaanku sebenarnya apa yang terjadi denganmu??" Tanya Cahya kesal sambil mengompres pipi Aditya.


" Aku bertemu dengan Theo "


" Apa??? Kau bertemu dengan Theo?? Untuk apa kau menemuinya?? Untuk menghajarnya? Sudah aku bilang semarah apapun dirimu jangan sampai kau memukuli seseorang, kenapa kau tidak mendengarku "


" Tidak, aku tidak memukulinya, justru dia yang menyerangku lebih dulu"


" Dia menyerangmu lebih dulu, bagaimana bisa? pasti kau membuatnya marah jadi dia memukulmu, atau itu hanya alasanmu saja menuduhnya memukulmu lebih dulu supaya aku tidak marah padamu"


" Astaga Cahya, kau ini kenapa, kenapa kau justru menuduhku, aku hanya memintanya untuk tidak mengganggumu lagi itu saja tetapi dia tidak terima dan terus mengatakan hal konyol, aku menahan semua amarahku karena aku sudah berjanji padamu, ku abaikan semua ucapan konyolnya dengan meninggalkannya pergi, jika aku masih disana bisa saja aku menghajarnya, tetapi si brengsek itu justru menendangku dari belakang aku tersungkur karena itu"


" Apa??? Dia menendangmu dari belakang???"


" Iya dia menendangku dari belakang, setelah aku tersungkur dia membalikkan badanku dan naik diatas dadaku lalu menghajarku, aku harus melindungi diriku jadi jangan salahkan aku jika aku juga melakukan hal yang sama, kalau aku tidak melawannya apa kau senang melihatku babak belur, jika aku tidak menuruti kemauanmu mungkin saat ini aku tidak akan mengalami hal ini, wajahku tidak akan terluka seperti ini karena aku pasti sudah menghajar mantan kekasihmu itu lebih dulu, dan sekarang kau menuduhku, padahal aku sedang berusaha untuk membela dan melindungimu. Kau selalu saja bersikap seperti ini, aku selalu mencoba memahamimu, menuruti semua keinginanmu, bahkan aku juga menerima saat kau masih belum bisa mencintaiku sampai saat ini, aku tidak pernah mengeluh tentang dirimu tapi kau??? jika aku melakukan kesalahan kau selalu menganggap aku adalah orang yang paling buruk didunia ini, apa kau tidak sadar semua yang aku lakukan itu untuk siapa??? Untukmu!! Kau tahu itu kan, lalu kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini jika aku membuat sedikit kesalahan!"


Aditya berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Cahya dikamar, dia merasa sangat frustasi dengan sikap Cahya yang selalu seperti anak kecil dan tidak bisa mengerti akan keadaannya dan usahanya selama ini, justru Cahya mencurigainya telah memulai konflik dengan Theo. Itulah yang membuat Aditya sangat marah terhadap istrinya.


Setelah Aditya pergi meninggalkan kamar, Cahya hanya terdiam dan menatap kepergian Suaminya. Baru kali ini dia melihat Aditya sangat marah padanya, bukan marah, tetapi lebih kepada perasaan kecewa Cahya meralatnya. Cahya termenung memikirkan semua perkataan suaminya tadi, selama ini Aditya selalu membuatnya bahagia, menyayanginya, bahkan melindunginya dan dia selalu melakukan apapun untuk menjaganya, walau kadang caranya sedikit kejam tetapi itu membuat keadaan menjadi impas dan berhasil membuat keadaan berbalik. Semua dilakukan untuk menjaganya, memastikan dirinya baik-baik saja dan suaminya juga tidak pernah menerima jika seseorang berniat menghancurkan hidupnya.


" Ya Allah, benar apa yang dikatakan Adit, kenapa aku bersikap seperti ini padanya, dan sekarang dia pasti merasa sangat terluka oleh ucapanku"


****


Dalam perjalanan pulang, Aditya hanya diam dan tidak berbicara apapun dengan Cahya. Tatapan matanya terlihat jelas bahwa dia sedang terluka. Cahya mencoba menggenggam tangan suaminya yang sedang memegang perseneling tetapi dengan segera Aditya menarik tangannya, membuat Cahya terkejut.


" Adit....."


Belum selesai dia berkata tetapi langsung dijawab ketus oleh Aditya.


" Aku sedang berkonsentrasi mengemudi, jadi jangan mengajakku berbicara"


Mendengar jawaban ketus Aditya, Cahya langsung diam dan merasa sangat bersalah, biasanya jika dimobil mereka akan saling menggenggam tangan dan membicarakan banyak hal lalu tertawa, tetapi kali ini suaminya benar-benar tidak ingin berbicara padanya.


Sesampainya dirumah Aditya langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan badannya di tempat tidur karena kepalanya terasa pusing, mungkin efek dari pukulan Theo padanya. Cahya masuk membawa nampan berisi air dan obat pereda nyeri karena tahu pasti Aditya membutuhkannya.


" Minumlah obat ini, nyerimu akan berkurang"


Aditya mengambil obat itu dan meminumnya, dia melakukannya karena tidak mau merasakan nyeri sebelum tidur. Setelah meminumnya Aditya kembali membaringkan badannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan langsung memejamkan matanya. Rasanya Cahya ingin menangis melihat sikap diam Aditya padanya, dia tidak menyukainya, dia suka Aditya yang selalu membuatnya tertawa, sikap lembut dan penuh kasih sayang padanya.


Sebenarnya perlahan dia sudah mulai mencintai suaminya, seluruh sikap lembutnya membuatnya setiap hari memupuk sedikit demi sedikit perasaannya pada Aditya, hanya saja dia masih ingin meyakinkan hatinya. Melihat suaminya bersikap seperti ini hati Cahya sangat sakit dan menyesali semua yang sudah dia katakan pada Aditya tadi, sikap kekanak-kanakan nya justru membuatnya terjatuh kedalam jurang penyesalan, Cahya bingung dengan apa yang harus dia lakukan, sekarang suaminya bahkan tidak mau berbicara dengannya.


Pagi datang, Cahya bangun dari tidurnya dan melihat Aditya sudah tidak ada disampingnya, mungkin sedang berolahraga pikirnya. Setelah bersih-bersih diri, Cahya turun dan menuju dapur untuk membuatkan minum Aditya, tetapi mbak Tina mengatakan jika Aditya tidak sedang berada diruang Gym melainkan masuk ke ruang kerjanya. Membatalkan untuk membuat Jus, Cahya menggantinya dengan membuatkan Teh untuk suaminya itu.


Cahya masuk ke ruang kerja, dan benar saja yang dicari sedang disana menatap laptopnya.


" Teh hangat paling cocok diminum pagi-pagi bersama biskuit, aku membuatnya untukmu, minumlah selagi hangat" Ucap Cahya tersenyum lalu menaruh nampannya di meja Aditya.


Aditya menatap Cahya diam lalu berdiri dari kursinya, dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Cahya hanya terdiam lalu meneteskan airmata nya, karena suaminya masih belum mau berbicara dengannya bahkan sekali lagi dia meninggalkannya sendirian.