
Elea mendekati Ariel dan Danist, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. "Iel, lepaskan dia!!! Kami memang sudah menikah, kami mengundangmu untuk datang ke acara resepsi pernikahan kami yang belum terlaksana!"
Mendengar itu Ariel langsung melepaskannya dan melihat ke arah Elea yang menghela napasnya dengan lega.
"Kau ini kenapa lagi Iel??? Kau bilang ingin berubah tetapi ini apa??? Ayo kita pulang sekarang, alu sangat menyesal sudah membawa Gienka kesini!" Elea menarik Danist dan mengajaknya untuk segera pergi dari tempat ini.
Wajah panik Ariel mulai terlihat, Elea marah kepadanya dan bisa berbahaya jika Elea tidak membawa Gienka kesini atau mengijinkannya menemui putrinya itu. Ariel langsung mengejar Elea untuk meminta maaf.
"Tunggu tunggu....!!" Ariel berlari mengejar mereka dan berhenti di tengah pintu. Napasnya terengah dan menangkupkan kedua tangannya. "Aku minta maaf atas sikapku tadi, please maafkan aku oke??"
Elea mendengus kesal tetapi mencoba bijak. "Aku harap kau tidak mengulanginya lagi, bukan apa Iel, tetapi harusnya kau tanya lebih dulu kejelasannya juga jangan pernah lakukan hal seperti ini di depan Gienka, sekarang dia belum mengerti tetapi dia akan semakin tumbuh nanti kau jangan seperti ini lagi!"
"Sorry El, sorry juga Dan, aku janji tidak akan melakukannya lagi dan tolong jangan halangi aku untuk bertemu Gienka, jangan juga kapok datang kesini, ya???"
Elea dan Danist kemudian berpamitan untuk pulang. Ariel sangat menyesali apa yang dilakukannya tadi, harusnya dia tidak boleh bersikap seperti itu karena saat ini dia juga sudah tidak memiliki hak apapun atas Elea. Ariel sangat berharap Elea dan Danist tidak lagi marah kepadanya. Ariel takut sekali jika mereka marah dan tidak mengijinkannya bertemu dengan Gienka lagi.
Dalam perjalanan menuju apartemennya, Elea memasang wajah kesal sambil menyusui Gienka. Danist menoleh dan hanya tersenyum melihat kekesalan istrinya itu. Ariel memang sedikit berlebihan tetapi Danist mencoba memahami sikap lelaki itu.
"Wajahmu terlihat sangat lucu jika kesal seperti itu!" Gumam Danist.
"Aku kesal sekali kenapa dia bersikap seperti itu lagi, perubahan yang bagaimana yang dia katakan kemarin sikapnya sama saja"
"Dia mungkin terkejut, harusnya kau memahami itu, dia kan tidak tahu jika kemarin kita menikah siri, mungkin dia pikir saat itu kita menikah sudah secara resmi" Danist mencoba menenangkan Elea.
"Tetapi harusnya dia bisa menanyakan baik-baik dan meminta penjelasan, bukan marah seperti itu!!"
"Sudahlah sayang, toh dia sudah meminta maaf, terlihat dari wajahnya dia menyesal sekali tampaknya, sudahlah"
Elea mencoba menenangkan dirinya, mungkin Ariel bersikap seperti itu karena dia terkejut. Lagipula memang tidak ada yang memberitahu Ariel bahwa pernikahan waktu itu hanyalah pernikahan siri. Hanya saja Elea sedikit menyayangkan sikap Ariel yang berlebihan padahal seharusnya bisa lebih bijak dan tidak mengutamakan emosi atau kemarahannya.
Hari berlalu begitu cepat, sudah hampir 2 minggu usaha Ariel untuk meyakinkan Maysa dan ternyata itu cukup berhasil. Selama itulah mereka selalu menghabiskan waktu bersama terlebih lagi mereka tinggal di apartemen yang sama. Setiap malam Ariel selalu mengajak Maysa untuk makan malam bersama, dan setiap weekend mereka mengisi waktu untuk berolahraga bersama baik itu hanya sekedar jogging ataupun ke tempat gym. Ariel pernah menawarkan Maysa agar bisa mengantar perempuan itu ke kamtor, tetapi Maysa menolaknya karena itu dirasa berlebihan.
Maysa kali ini sedang berada di jalan untuk pulang, hari sudah malam tetapi jalanan begitu macet. Maysa baru saja kembali dari meeting pentingnya bersama klien dan Aditya. Ariel tadi siang mengajaknya untuk makan malam di restoran milik lelaki itu dan Maysa sudah mengiyakan sayangnya tiba-tiba dia harus menghadiri meeting yang mendadak ini, membuatnya harus membatalkan rencananya dengan Ariel. Setelah membatalkan itu, Ariel tidak lagi membalas chatnya bahkan sampai sekarang, padahal biasanya Ariel selalu mengiriminya pesan, sekedar hanya menanyakan dia sedang apa ataukah sudah makan, tetapi Ariel tidak melakukannya. Maysa tahu bahwa Ariel pasti saat ini sedang marah kepadanya, itu sebabnya setelah meeting tadi dia memesan makanan untuk dibawa pulang dan bisa dia nikmati dengan Ariel nantinya agar lelaki itu tidak lagi marah padanya, tetapi sekarang dia malah terjebak macet.
Disisi lain, Ariel mencoba menyibukkan dirinya didepan laptopnya. Maysa membatalkan acara makan malam mereka, padahal Ariel sudah menyiapkan sesuatu untuk perempuan itu, karena dibatalkan Ariel kesal dan memutuskan untuk tidak mengirimi Maysa pesan. Ariel berniat mengungkapkan perasaannya kepada Maysa agar mereka bisa memulai hubungan yang baru, bukan lagi sebagai teman dekat tetapi memulai hubungan sebagai pasangan kekasih. Tetapi sepertinya rencananya itu saat ini gagal, Ariel harus bersabar lagi. Ariel mendengus kesal lalu memundurkan kursi putarnya dan menyandarkan kepalanya disana. Tak lama Ariel pun tertidur.
Ariel terbangun saat ponselnya berdering, dia mengerjapkan matanya dan melihat ada nama Maysa disana. Dengan malas Ariel mengangkatnya, beberapa detik kemudian dia langsung bangun dari tempat duduknya dan berlari keluar ruangan kerjanya menuju pintu. Saat membuka pintu Maysa sudah berdiri disana dengan cantiknya dan melempar senyum kepadanya.
"Apa kau sedang tidur??? Aku sejak tadi menekan tombol interkom tetapi tidak ada jawaban jadi aku meneleponmu, maaf jika mengganggu" Ucap Maysa penuh penyesalan.
"Ya aku tadi tertidur setelah menyelesaikan pekerjaanku" Jawab Ariel ketus.
"Kau marah ya??? Aku minta maaf, sebagai gantinya aku membawakan makan malam untukmu, kau pasti belum makan, ambilah ini" Maysa mengulurkan kantong makanan yang dibawanya kepada Ariel, lalu mengucapkan permisi dan hendak pergi karena dia merasa lelah sekali dan ingin beristirahat.
Ariel menarik pergelangan tangannya dan menahan kepergian Maysa. Sebagai gantinya atas pembatalan acara makan malamnya, Ariel meminta Maysa agar masuk dan menemaninya makan malam walaupun perempuan itu tadi mengatakan sudah makan malam saat meeting. Maysa tersenyum dan menyetujui permintaan Ariel, dia pun masuk ke apartemen mewah Ariel itu. Maysa mengikuti Ariel ke dapur dan menyiapkan makanan yang dibelinya untuk lelaki itu, setelahnya menyajikannya pada Ariel yang sudah menunggunya. Maysa menumpukan dagunya ke telapak tangan kanannya kemudian tersenyum melihat Ariel makan dengan cukup lahap.
"Kenapa kau menatapku seperti itu??? Jangan tersenyum, kau tahu aku sangat lapar sekali karenamu" Gumam Ariel.
"Iya maafkan aku, tetapi hal ini sering terjadi kan?? Harusnya kau tidak marah kepadaku dan juga balaslah pesanku, kau seperti anak kecil saat sedang marah"
Ariel tidak menjawab atau merespon perkataan Maysa dan melanjutkan lagi makan malamnya hingga habis lalu mengambil air putih yang ada di gelas dan meminumnya. Ariel menyingkirkan piring didepannya juga gelas air, lalu meraih kedua tangan Maysa, dan mengusap jemari lembut perempuan itu.
"May, kurasa sudah cukup pendekatan kita saat ini, aku ingin kau menjadi kekasihku yang sebenarnya, kita sudah dewasa kurasa bukan saatnya kita bermain-main lagi dengan perasaan, aku ingin kita menjadi kekasih, kita sudah menemukan kecocokan dalam berbagai hal, dan jika hubungan ini berhasil tentu aku akan siap menikahimu, kesalahanku dimasalalu tidak akan kuulangi lagi karena itu sudah cukup menghancurkan hidup dan impianku, percayalah aku akan menjagamu dan membahagiakanmu. Kuharap kau juga nantinya bisa menjadi istriku dan ibu sambung yang baik untuk putriku, aku sangat menyukaimu May, perlahan aku juga mulai memupuk perasaan cintaku padamu, aku mohon kau bersedia kan menjadi kekasihku?? Aku janji hubungan kita nanti tidak main-main dan aku berniat menjalin hubungan serius padamu, kau mau kan???"
Maysa benar-benar terkejut dengan pernyataan cinta Ariel kepadanya. Dia tidak menyangka Ariel akan mengatakannya secepat ini, karena dia pikir hubungan ini hanyalah sebuah pertemanan biasa dan menghormati Ariel sebagai kolega dari atasannya dan menghirmatinya, bagi Maysa ini terlalu cepat. Ariel bahkan mengatakan ingin menjalin hubungan yang serius, bagaimana bisa dia menerimanya, Ariel pasti tidak mungkin bisa menerima keadaannya yang sebenarnya. Maysa melepaskan pegangan Ariel di jemarinya dan berdiri untuk meninggalkan ruangan ini.
"Maaf aku tidak bisa!! Aku hanya berpikir hubungan ini hanya sebatas pertemanan saja! Aku harus pergi, maafkan aku" Ucap Maysa.