SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 110



Aditya meminum kopi yang dibuatkan oleh Cahya, sebenarnya dia paling tidak suka jika meminum kopi dimalam hari itu akan membuatnya susah tidur tetapi jika dia menolaknya Cahya akan lebih marah lagi.


Aditya menatap laptopnya dengan sangat serius, sambil sesekali menyesap kopinya, lama kelamaan tidak sadar jika kopi itu sudah habis. "Sial kopinya habis, pekerjaanku masih banyak, aku harus mengambil air, Cahya hanya membawa kopi dan camilan saja tanpa air" Aditya akhirnya keluar untuk mengambil air dan bertemu dengan Mamanya.


"Adit, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Mamanya.


"Aku haus Ma, aku ingin mengambil air didapur"


"Ambil saja ini, nanti biar Mama mengambil lagi didapur"


Aditya langsung mengambil pitcher dan gelas yang dipegang Mamanya dan menuang airnya lalu meminumnya hingga habis.


"Oh iya Mama ingin bertanya padamu, apa kau sedang bertengkar dengan istrimu, Mama lihat beberapa hari ini kalian tidak saling bicara, Mama tidak tahu apa yang kalian ributkan tetapi cepat selesaikan permasalahan kalian, istrimu sedang hamil jangan membuatnya memikirkan banyak hal"


"Iya Ma, aku sedang berusaha mengatasi permasalahan kami"


"Ya sudah, Mama pergi kedapur dulu untuk mengambil air, kau lanjutkan pekerjaanmu dan jangan terlalu larut, kasihan Cahya sendirian dikamar"


***


Aditya kembali masuk keruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya. Belum ada 10menit duduk, Aditya mulai merasakan gerah yang luar biasa hinga dia harus mengurangi suhu AC diruangan itu agar lebih dingin dan fokus lagi dengan pekerjaannya.


Bukannya dingin, justru badannya semakin terasa panas dan gerah. "Haduh kenapa lagi ni badan, kenapa jadi kerasa panas banget, apa aku mau sakit lagi ya?"


Aditya mengambil map dan mejadikannya kipas untuk mengurangi rasa panas dan gerah yang dia rasakan. Semakin lama Aditya semakin merasa tidak nyaman, jantungnya berdetak lebih cepat dan mulai merasa dejavu, dia seperti pernah mengalami hal seperti ini. Tetapi belum sempat berpikir jauh, kejantaanannya mulai mengeras.


"Apalagi ini kenapa dia mulai tegang" Aditya mulai gelisah.


Disisi lain Cahya terus saja tertawa sendiri diruang ganti mengingat kekonyolan yang sedang dia buat pada Aditya, dimana setelah makan malam dia naik ke kamar dan membuka laci mengambil permen yang disimpan Aditya. Permen yang sama milik Ariel dimana dia menemukannya saat di Swiss.


Cahya membawa permen itu ke dapur dan melelehkannya di microwave lalu mencampurnya dengan kopi dan memberikannya pada Aditya. Cahya berharap efek permen itu berhasil membuat Aditya kelabakan. Akan sangat menyenangkan jika menonton Aditya menggila karena efek permen itu.


Cahya sengaja mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang terlihat sexy untuk mengerjai Aditya. Cahya duduk bersandar ditempat tidur, sangat tidak sabar menunggu Aditya masuk ke kamar dan melihat reaksinya.


Sebelum semakin parah, Aditya meninggalkan ruang kerjanya dan berlari naik ke kamarnya. Aditya melihat sekililing berharap tidak ada yang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Saat melihat kebelakang sambil berlari tidak sengaja Aditya justru menabrak seseorang. Bruuuukkk....!!!


"Aduuuhhh"


Aditya menabrak Adri yang sedang berjalan dari arah berlawanan. "Shiiit kau kalau jalan hati-hati dong Dri"


"Yeee malah nyalahin, kakak itu yang salah kenapa malam-malam malah berlarian tetapi bukannya melihat kedepan kau malah menengok kebelakang, udah kayak maling aja"


"Ah diam kau, aku buru-buru, minggir!!" Seru Aditya kesal dan langsung berlari.


Adri melihat kakaknya dipenuhi dengan kecemasan tetapi kedua tangan kakaknya sedang memegang area sensitiifnya, membuat Adri tertawa. "Pasti dia baru saja selesai menonton film dewasa dan dia berkeringat hahaah, payah sekali kakakku itu"


Mendengar gagang pintu terbuka, Cahya bergegas berbaring dan pura-pura tidur tanpa menarik selimut. Aditya masuk ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Cahya perlahan membuka matanya dan tertawa kecil karena sepertinya Aditya mulai bereaksi. Aditya mondar-mandir didalam kamar mandi karena merasakan nyeri dan gerah diseluruh badannya.


"Aaaahhhh shiiittt kenapa aku seperti ini lagi dan selalu disaat yang tidak tepat, tetapi kenapa bisa begini???" Aditya mulai mengingat apa saja yang dilakukan dan dimakannya sejak pagi sampai tadi, tetapi dia tidak memakan atau meminum apapun yang bisa membuatnya seperti ini. Mengingat permen tetapi dia tidak mengkonsumsi permen apapun seharian ini.


"Oke, keep calm Adit... Rilex....! Fuuuuhh" Aditya menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulutnya.


Cukup lama Cahya menunggu Aditya didalam kamar mandi, entah apa yang sedang dilakukan suaminya disana. Sampai akhirnya Aditya membuka pintu kamar mandinya dan Cahya langsung pura-pura tidur lagi dengan memasang pose tidur yang cukup menggoda dengan tetap tidak menutup bagian tubuhnya dengan selimut.


Aditya keluar dari kamar mandi dan mendapati pemandangan yang tidak biasa dihadapannya dan langsung mengumpat dengan nada yang cukup tinggi. "F*ck.....!!!! Kenapa dia tidak memakai selimutnya!!!"


Aditya menghampiri Cahya dengan kesal, dan mencoba menarik selimut yang dibawah badan Cahya tetapi justru Cahya bergerak membalikkan badannya.


"Ca, bangun sebentar, ini pake dulu sekimutnya, ntar kamu kedinginan"


Lagi dan lagi bukannya bangun, Cahya justru berganti posisi terlentang yang awalnya tidur miring. Aditya menelan ludahnya melihat istrinya, dengan pakaian tidur seperti itu ternyata Cahya juga tidak memakai braa. Dia sudah cukup tersiksa dengan dirinya sekarang ditambah lagi dengan keadaan istrinya yang sungguh membuatnya semakin disiksa, apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak menyentuhnya sama sekali karena Cahya sedang marah padanya. Apapun yang terjadi malam ini dia harus bisa mendapatkan istrinya, dengan keberanian Aditya mencoba membangunkan Cahya.


"Sayang.....!!! Bangun....!!!"


Cahya sangat terlelap hingga usaha Aditya membangunkannya tidak berhasil. "Sayang.... Aku mohon bangunlah....!!!"


Aditya menjadi semakin frustasi karena keadaanya semakin menggila dan Cahya masih tidak mau bangun. Aditya duduk disisi Cahya dan langsung membungkukkan badannya meniup belakang telinga istrinya berharap dia mau bangun. Ternyata itu masih tidak berhasil juga, akhirnya Aditya memutuskan untuk melepas Tshirtnya dan menciumi Cahya dari bibir keseluruh wajahnya dan tangannya mulai menelusuk kedalam baju tidur istrinya dan mencoba memainkan buah dadanya. Benar saja Cahya membuka matanya dan langsung mendorong Aditya dengan keras.


"Apa yang kau lakukan?" Cahya setengah berteriak.


"Aduh sakit Ca.... Kenapa mendorongku?"


"Kau sendiri kenapa menyentuhku saat aku tidur?"


"Maaf tapi lihatlah ini, dia terus saja mengeras dan menyiksaku, dia sangat menginginkanmu, ayo sayang aku mohon"


"Adit, aku sangat lelah setelah perjalanan seharian ini dan perutku tadi sedikit kram, sekarang aku sangat mengantuk jadi jangan menggangguku oke? Aku ingin tidur, kau juga lebih baik tidur besok kau harus kekantor" Cahya menarik selimutnya dan memejamkan matanya kembali tidur, sedangkan Aditya hanya terdiam dan berdiri menjauhi istrinya.


Aditya hanya pasrah, dia tidak bisa memaksa Cahya saat ini mengingat istrinya juga masih belum memaafkannya ditambah lagi tadi istrinya bilang bahwa perutnya tadi terasa kram. Dengan langkah gontai Aditya pergi kesisi yang lain dan melepaskan celananya agar merasa tidak lebih tersiksa lalu berbaring nyalang ditempat tidur sambil berharap ini berakhir. Aditya masih bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi padanya padahal dia merasa tidak mengkonsumsi apapun yang aneh-aneh. Walaupun sangat tersiksa karena hasratnya tidak terpenuhi, Aditya mencoba tenang dan memejamkan matanya berharap bisa segera tidur.


Cahya ternyata masih belum tidur, hanya memejamkan mata dan mencoba menahan tawanya saat tadi melihat ekspresi kekecawaan Aditya atas penolakannya. Setelah kurang lebih satu jam setelah penolakan itu, Cahya tidak merasakan lagi tanda-tanda kegusaran dan kegelisahan Aditya disebelahnya, mungkin suaminya sudah tertidur. Untuk memastikannya Cahya membalikkan badannya dan kini Aditya sedang tidur dalam posisi membelakanginya. Sambil tertawa kecil, Cahya bergumam pelan. "Rasakan pembalasanku suamiku sayang, kau kemarin sudah berani sekali membuatku kesal, dan sekarang aku berhasil mengerjaimu dengan melelehkan permen itu lalu mencampurnya dikopimu, memang enak ditolak oleh istrimu"


Tanpa disadari Cahya, ternyata Aditya mendengar ucapannya karena dia belum bisa tidur dan hanya memejamkan mata untuk menenangkan dirinya. Dengan senyum seringai penuh kekesalan, Aditya langsung membalikkan badannya dan kini berhadapan dengan wajah Cahya, sontak membuat Cahya terkejut dan memekik kecil. Aditya menatap tajam kearah Cahya hingga membuat perempuan itu memundurkan badannya karena takut. Aditya langsung bergerak menelantangkan Cahya lalu berada diatasnya membungkuk memegang kedua bahu istrinya dengan tatapan tajam.


"Berani-beraninya kau mengerjaiku hanya untuk membalaskan dendammu? Kemarin kau dengan sengaja bermesraan dengan Yongki untuk membalasku dan sekarang kau mencampur permen itu kedalam kopi buatanmu lalu memberikannya padaku, sekali lagi dengan alasan membalaskan dendammu padaku" Suara Aditya terdengar sangat kesal dan marah.


Cahya sangat ketakutan melihat mata Aditya yang terus saja memandangnya dengan begitu tajam dan penuh amarah padanya.