
Cahya bangun dan tidak menemukan suaminya dikamar. Cahya melihat meraih ponsel Aditya yang tergeletak dimeja untuk melihat jam.
" Ahh sudah jam 5 ternyata, syukurlah kepalaku sudah tidak sakit seperti kemarin, aku subuhan dulu abis itu bikin jus buat Adit, dia pasti sedang di ruang Gym"
Cahya turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
Setelah bersih-bersih diri, Cahya ke dapur membuatkan jus untuk Aditya dan membawanya ke ruang Gym nya, ternyata suaminya sedang treadmill.
" Good morning mister Armand Aditya"
" Morning my wife" Aditya menghentikan kegiatannya dan membalikkan badannya terkejut melihat Cahya membawakannya minum.
" Kenapa kau membawa ini, sini berikan padaku, suruh saja mbak Tina yang membawanya, kau kan masih sakit" Aditya mengambil nampan yang dipegang Cahya.
" Apasih aku udah gak pusing lagi kok"
" Bener udah gak pusing lagi?? Syukurlah! oh iya semalam ibu meneleponku menanyakan kenapa kau tingkat mengangkat teleponnya dan kemarin aku juga puluhan kali menghubungimu tapi tidak ada jawaban, untung saja aku segera menghubungi Elea, memangnya dimana ponselmu??"
" Ahh ya Tuhan, ponselku ada di tas, saat kemarin sampai rumah aku langsung tertidur dan tidak mengurus ponselku sama sekali"
" Ya sudah, sekarang kau kembali ke kamar dan beristirahatlah, jangan melakukan apapun, kau masih sedikit pucat, aku akan menyelesaikan ini lalu mandi dan kita sarapan" Aditya mencium kening Cahya dan menyuruhnya untuk naik ke atas.
****
Setelah menyelesaikan sarapannya, Aditya mengajak Cahya untuk duduk duduk di halaman belakang di gazebo tepi kolam renang. Hari ini hari sabtu, Aditya ingin menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan istrinya, sebenarnya dia ingin mengajaknya jalan-jalan tetapi mendengar kabar bahwa Cahya sedang hamil Aditya memutuskan untuk menghabiskan waktu dirumah saja dan kondisi Cahya juga masih sedikit pucat.
Cahya sedang menyandarkan kepalanya di dada Aditya, dan suaminya merangkulnya
" Nanti kita ke rumah Adri ya, kita harus menemui ibu dan mengatakan semua padanya, pasti beliau akan sangat senang" Ucap Cahya.
" Baiklah kita berangkat nanti siang saja, kau harus beristirahat untuk memulihkan tenagamu"
Cahya menyetujui dan tidak sabar memberitahu ibunya tentang kabar bahagianya. Sedangkan Aditya hari ini akan menemui Theo untuk mencari tahu apa yang diinginkannya sehingga terus berusaha menemui istrinya, dan tepat sekali Cahya mengajaknya menemui ibunya, jadi istrinya itu tidak sendirian dan dirumah Adri ada banyak orang yang berjaga disana, Cahya juga tidak akan merasa kesepian karena ada ibunya.
" Karena kau, aku jadi sangat menyukai jus semangka" Cahya berucap setelah meminum habis jus semangka milik Aditya.
" Kau menghabiskan jus ku??? Padahal aku belum meminumnya" Gerutu Aditya dengan wajah jengkel.
" Aku sangat haus, dan ini sangat segar " Cahya berucap seolah tidak merasa bersalah, padahal Aditya sudah memasang wajah sedikit jengkel karena kelakuannya. Tetapi justru Cahya tertawa melihat ekspresi jengkelnya.
" Haha kenapa dengan wajahmu itu, baiklah aku akan memanggil mbak Tina untuk membawakanmu lagi, dikulkas masih ada tadi aku membuatnya untuk 4 gelas, kau tahu yang kudengar ini sangat bermanfaat untuk ibu hamil, jadi kalau kau marah padaku akrena meminumnya berarti kau tidak peduli padaku dan anak kita, kau menyebalkan ". Cahya mencubit pipi Aditya agar tidak memasang wajah marah lagi.
Suara bel berbunyi, membuat Cahya terkejut dan langsung memeluk Aditya, takut jika Theo datang lagi. Aditya beranjak dan menyuruh istrinya untuk tetap ditempatnya, dia akan memastikan siapa yang datang.
Mbak Tina berlari untuk membukakan pintu tetapi Aditya memanggilnya dan mencegahnya karena dia sendiri yang akan membukanya.
Aditya membuka pintunya dengan pandangan waspada tetapi ternyata yang datang adalah Ariel dan Elea, dia pun mengehela napasnya.
" Kau kenapa, seperti singa yang akan menerkam mangsanya " Tanya Ariel heran dengan sikap sahabatnya.
" Ah kalian kupikir siapa, ayo masuklah"
" Memangnya kau pikir siapa yang datang?? " Elea menyahut dan penasaran dengan siapa yang sedang dimaksud Aditya hingga membuatnya seolah waspada dengan kehadirannya dan Ariel.
Aditya meninggalkan Ariel dan Elea untuk memanggil Cahya, sedangkan Ariel dan Elea saling berpandangan seolah mengerti siapa yang dimaksud brengsek oleh Aditya tadi. Tak berapa lama Aditya datang bersama Cahya, Elea langsung berdiri dan memeluk sahabatnya.
" Bagaimana keadaanmu Ca, sejak kemarin aku mengkhawatirkanmu "
" Aku sudah membaik El, ayo duduklah "
" Dit, yang lo maksud tadi itu Theo? Dia kemarin datang kesini, untuk apa?? " Tanya Ariel dengan nada keheranan.
" Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh lelaki sialan itu, melihat Cahya pingsan amarahku memuncak dan langsung kuusir pergi, jika saat itu Cahya tidak pingsan mungkin aku akan menghajarnya, aku sudah panik duluan melihat istriku pingsan" Suara Aditya terdengar sangat marah jika mengingat kejadian kemarin.
" Tapi Cahya tidak kenapa kenapa kan?" Suara Elea merendah khawatir akan sahabatnya, jika mendengar betapa nekatnya Theo.
" Aku dan calon keponakanmu tidak apa-apa El " Cahya tersenyum menatap Elea.
Elea menyelipkan rambutnya ditelinganya takut salah dengan apa yang didengarnya. " Calon keponakanku??? Apa kau??? Kau hamil Ca?? "
Pertanyaan Elea itu hanya dijawab oleh senyuman dan anggukkan kepala oleh Cahya.
Elea langsung berjingkrak kegirangan dan memeluk Cahya sambil terus mengucapkan selamat pada sahabatnya itu bahkan Elea meneteskan airmata terharu dan bahagia.
" Mulai sekarang aku akan lebih menjagamu saat dikantor, tidak akan kubiarkan kau pergi sendirian sampai Aditya datang menjemputmu saat pulang".
Mereka berempat mengobrol cukup lama hingga menjelang siang, kemudian Elea serta Ariel berpamitan karena mereka akan ke Bandung untuk menemui orangtua Elea. Cahya dan Elea berpelukan di depan pintu, dan Cahya membisikkan sesuatu pada Elea.
" Semoga pertemuannya lancar dan kau bisa segera menyusulku dan Adit, Goodluck beib"
Setelah kepergian Ariel dan Elea, Aditya mengajak Cahya ke kamar dan menyuruhnya untuk beristirahat sebentar sebelum menemui ibunya, selagi menunggunya bersiap-siap.
***
Aditya dan Cahya berangkat, Aditya mengendarai mobilnya pelan, perjalanan yang harusnya ditempuh hanya sekitar 30menit tapi sekarang hampir 1jam, yang membuat Cahya sedikit jengkel karenanya, tetapi Aditua mengatakan jika harus berhati-hati karena sedang membawa ibu hamil. Sampailah mereka dirumah Adri, kedatangan mereka disambut ibunya.
Cahya memeluk ibunya dengan rasa bahagia dan meminta maaf karena kemarin tidak mengangkat teleponnya.
" kata Adit kau sedang sakit, kau sakit apa Ca?? " Tanya ibunya khawatir.
" Aku tidak apa-apa bu, hanya sedikit pusing saja" Cahya mengeluarkan sesuatu dari tas nya dan memberikan beberapa foto pada ibunya sontak ibunya langsung memeluknya setelah melihat foto-foto itu.
" Putriku akan menjadi seorang ibu, Alhamdulillah terima kasih Ya Allah, Ca kau harus menjaga dirimu baik-baik jaga istirahat dan makananmu "
Ibunya menangis dipelukannya membuat Cahya juga ikut menangis.
" Apa kau dudah memberitahu Adikmu tentang kabar ini??? " Tanya ibunya dan Cahya menjawab belum, tetapi nanti akan menghubungi Chika.
" Aku akan menghubunginya Nanti, bahkan Mama dan Papa juga belum, kami menunggunya kembali, ibu aku sangat lapar "
" Ah iya ibu sampai lupa karena terlalu bahagia, ayo makan siang sudah siap, Adit ayo bawa istrimu, kita makan siang bersama "
Mereka akhirnya menikmati makan siang bersama, ditengah suasana itu ponsel Aditya bergetar dan mendapat informasi dari anak buah Beno yang mengatakan jika saat ini Theo sedang berada diluar rumah dan dia sedang mengikutinya. Segera Aditya menghabiskan makanannya lalu beroamitan oada istri dan juga ibu mertuanya untuk pergi sebentar karena akan mengurus beberapa hal dan akan segera kembali. Aditya bergegas mengendarai mobilnya untuk bertemu dengan Theo, meminta penjelasannya kenapa masih mengganggu istrinya.