SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 231



Elea membuka matanya dan meelihat di box bayi Gienka, tidak ada putrinya disana, dia melirik ke segala sudut kamarnya dan tidak ada siapapun, Danist juga entah kemana. Dengan kepala yang terasa pusing, Elea mencoba mengumpulkan ingatannya semalam, Ariel, Danist dan Obat. Elea mengingat semuanya, dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Semalam dia menggila didepan Danist dan entah pukul berapa hingga akhirnya efek obat itu berakhir dan dia bisa tidur dengan tenang.


Klik.....


Elea menoleh dan pintu kamar mandi terbuka, Danist keluar dari sana membawa Gienka yang baru saja dimandikannya. Elea terlonjak saat melihat bahwa ternyata ini sudah jam 7 pagi, dia terlambat bangun, sangat terlambat, dia melupakan semua tugas paginya karena kesiangan. Bergegas Elea menurunkan kakinya dan hendak berdiri tetapi tiba-tiba dia merintih kesakitan.


"Auuuuwww....!!!" Teriak Elea kesakitan.


Danist melihat Elea merintih bergegas menaruh Gienka ditempat tidur menghampiri Elea. "El, kau kenapa? Kalau masih sakit jangan dulu bangun"


"Kakiku sakit sekali!!! Kemarin tidak sengaja aku menabrak meja, atau apalah aku tidak tahu karena gelap"


Danist duduk berjongkok dan melihat kaki Elea bengkak, dia membantu Elea menaikkan lagi kakinya diatas tempat tidur lalu pergi mengambil minyak. Danist kembali membawa minyak dan dengan telaten mengusapkan minyak itu ke kaki Elea yang bengkak serta memijatnya dengan lembut.


Elea hanya diam memandang Danist, ya lelaki inilah yang lagi-lagi menyelamatkannya dari Ariel. Semalam dengan setia menemaninya yang sedang menggila karena obat itu, dan walaupun lelaki itu tahu obat apa yang diberikan Ariel, tetapi Danist tidak melakukan hal yang sebenarnya bisa menghilangkan rasa panas yang ada ditubuhnya, dia lebih memilih memberinya banyak minum daripada harus melakukan hubungan badan dengannya. Jika itu laki-laki lain pasti mereka dengan senang hati melakukannya tetapi Danist, dia berbeda.


"Dan...! Maafkan atas apa yang terjadi semalam, aku tidak tahu bagaimana Ariel bisa memberiku obat itu, dan sepertinya dia sengaja melakukannya, sekali lagi aku minta maaf Dan?" Gumam Elea sedih.


Danist mengangkat kepalanya dan melempar senyum ke arahnya. "Kau tidak bersalah, kau hanya korban dari keegoisannya, tetapi lebih baik lupakan saja apa yang terjadi kemarin, jika kau terus mengingatnya itu hanya akan membuatmu sakit, istirahatlah saja disini, aku akan mengurus Gienka"


"Kau tidak ke kantor? Nanti kau bisa terlambat, biar aku saja yang memakaikan pakaian Gienka, kau cepatlah mandi"


"Aku ke kantor nanti siang, pak Aditya memberi kelonggaran untuk kami, karena beberapa hari ini kami kerja sampai malam, dan dia sendiri juga butuh berkumpul dengan keluarganya, dan aku bersyukur semalam aku bisa pulang lebih awal karena tiba-tiba pak Aditya disuruh pulang oleh istrinya jadi kami semua juga diijinkan pulang, aku sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu jika aku pulang seperti biasa, sekarang kau istirahat saja, setelah mengurus Gienka aku akan membuatkanmu sarapan"


Danist mengambil pakaian Gienka dan mengurus bayi itu dengan sangat baik. Elea merasa sangat bahagia, Danist begitu menyayangi Gienka, dan lelaki itu juga sangat tulus, tidak pernah mengeluh tentang apapun padanya. Danist memposisikan dirinya sebagai suami yang bertanggung jawab, penyayang dan memiliki prinsip kuat, memenuhi janjinya dengan sangat baik. Tetapi sayangnya, dirinya masih belum bisa menerima Danist sebagai suaminya yang sebenarnya. Elea masih memiliki ketakutan tentang berumah tangga, traumanya masih belum mau pergi, Ariel meninggalkan begitu banyak luka hingga harus membuatnya sampai sekarang masih menutup hatinya untuk laki-laki.


*****


Danist sudah selesai mengurus Gienka dan menaruh bayi itu di box bayinya karena Elea ingin ke kamar mandi, jadi dia membantunya untuk berjalan. Elea memanggil Danist saat dia sudah selesai dikamar mandi. Danist masuk dan membantu Elea berjalan keluar. Elea terlihat lebih segar setelah mencuci wajahnya. "Aku akan menyusui Gienka, kasihan sejak semalam dia tidak menyusu, sekalian aku ingin ganti baju"


"Baiklah, aku akan meninggalkanmu disini dan akan menyiapkan sarapan untukmu"


Danist meninggalkan Elea dan gienka dikamar dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan. Sejak semalam perutnya kosong, rencana mengajak Elea keluar makan malam pun gagal karena ulah Ariel. Dan ditambah kaki Elea juga bengkak. Ariel selalu saja berulah dan kali ini lebih parah daripada sebelumnya, jika saja semalam Elea tidak terkulai lemah dilantai mungkin dia sudah membunuhh Ariel dikamar mandi itu. Tetapi Danist juga teringat akan perkataan Mamanya agar tidak tersulut emosi jika Ariel berulah, tetapi tadi malam dia melupakan itu semua karena apa yang dilakukan Ariel sudah diluar batas kesabarannya.


Danist membuat roti bakar untuk sarapannya dan Elea, ya hanya itu yang dia buat agar lebih cepat karena memang perutnya sudah memberontak untuk minta diisi. Panggilan Elea dari dalam kamar, membuatnya segera mematikan kompor dang mengangkat roti dari teflon dan bergegas masuk ke kamar.


"Gienka sudah tidur" Ucap Elea.


"Baiklah, aku akan memindahkannya, sarapan sudah siap, kau ingin makan disini atau diluar?"


"Diluar saja"


Danist memindahkan Gienka lalu membantu Elea berjalan ke ruangan depan untuk sarapan disana. Mereka berdua sarapan bersama, Danist meminta maaf karena hanya menyajikan roti kepada Elea, tetapi Elea tidak mempermasalahkannya dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena semua yang sudah dilakukan Danist untuknya.


Saat sedang menikmati sarapan, terdengar suara interkom yang ditekan. Danist memundurkan kursinya dan melangkah untuk membuka pintu. Tampak 2 orang laki-laki sedang berdiri didepan pintu dan mengatakan bahwa mereka adalah petugas yang diminta oleh pihak apartemen untuk mengganti handle pintu disini. Danist pun mempersilahkan keduanya untuk melakukan tugasnya. Tadi pagi dia memang turun untuk menemui pihak apartemen ini agar bisa membantunya untuk mengganti handle pintu dengan yang baru karena ada orang lain yang sudah keluar masuk sembarangan ke apartemen milik istrinya. Dan Danist meminta untuk diganti dengan smartlock password atau fingerprint, tidak lagi menggunakan access card. Danist kembali untuk melanjutkan sarapannya dengan Elea.


"Siapa yang datang?" Tanya Elea.


"Petugas apartemen, tadi pagi aku meminta mereka untuk mengganti handle pintu, agar tidak ada lagi yang bisa keluar masuk sembarangan masuk kesini, dan aku memang ceroboh sekali, harusnya sejak si berandall itu masuk kesini tanpa permisi, harusnya aku langsung menggantinya mungkin kejadian semalam tidak akan terjadi padamu"


"Bukan salahmu, semua pure kesalahanku, aku dengan sembarangan memberi access orang lain untuk keluar masuk ke tempatku, harusnya aku tidak melakukannya"


"Semua akan aman, kau tidak perlu lagi khawatir, apa kau tidak apa-apa nanti ku tinggal ke kantor?? Mengingat kakimu sakit seperti itu!"


"Tidak apa, aku baik-baik saja, hanya bengkak biasa, astaga aku lupa, hari ini aku ada janji untuk ke rumah Cahya tetapi sepertinya gagal, aku harus meneleponnya"


"Habiskan makananmu, aku akan mengambilkan ponselmu" Ucap Danist lalu berdiri untuk mengambil ponsel Elea di kamar.


*****


Ariel mengemasi pakaiannya, dia mencoba menahan rasa sakit yang ada di wajahnya. Danist memukulinya habis-habisan dan meninggalkan luka lebam cukup parah di wajahnya dan lelaki itu juga hampir saja membunuhnya. Rencananya sudah gagal total dan sudah pasti Elea tambah membencinya. Entah apa yang akan terjadi nantinya, apakah Elea akan mengijinkannya lagi untuk bertemu dengan Gienka atau tidak. Resiko yang diambilnya memang cukup besar tetapi dia lupa bahwa ada resiko besar lainnya yang harus siap diterimanya, yaitu akses menemui putrinya. Ariel mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohan yang dilakukannya dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Elea. Tatapan membunuh Danist dan ancaman lelaki itu membuatnya semalaman tidak bisa tidur, selain itu pasti Danist yang sudah menggantikan posisinya berciinta dengan Elea. "Shiiiiiittttt........!!!! Bagaimana bisa si brengseek Danist itu bisa kembali lebuh cepat dari kantor.... Shhhiiiiittttt" Teriaknya penuh kemarahan.