SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 187



Danist mengangkat punggungnya lalu bersandar disofa. "Ca, menjalin hubungan dengan orang sepertiku ini tidak akan mudah, kau saja semalam memarahiku karena aku tidak pernah menghubungimu, lalu menurutmu bagaimana dengan orang yang menjadi kekasihku? Semua akan terasa sulit baginya"


"Kakak tidak mencoba menghubunginya lagi dan berbicara dengannya? Kakak kan sekarang sudah pulang"


"Apa dia pernah datang kemari, atau menghubungi Adit?"


Cahya tersenyum menatap kakaknya "Dia tidak pernah datang kesini bahkan belum menengok Kyra dan Kyros, aku tidak tahu kak apa dia sering menghubungi Adit atau tidak, kurasa kalaupun menghubunginya, Adit juga tidak akan berani mengatakannya padaku, kakak tahu sendiri kan hehehe"


"Kau masih kesal dan marah ya dengan Olivia?"


"Tentu saja tidak! Setelah aku mengetahui bahwa dia adalah pujaan hatimu, aku tidak lagi marah padanya, tapi kurasa Adit sendiri yang merasa takut mengatakan padaku jika dia memang berkomunikasi dengan Olivia, lagipula aku juga tidak pernah mengecek ponsel Adit"


Disaat Cahya sedang asyik mengobrol dengan Yongki, Aditya datang dan bergabung bersama mereka. Cahya meninggalkan kedua lelaki itu dan pergi ke ruang tamu karena mendengar salah satu bayinya menangis.


Cahya melihat ternyata Kyra yang sedang menangis, sepertinya putrinya itu sedang lapar. Bibinya langsung memberikan Kyra padanya, Cahya langsung menggendong dan menenangkannya.


"Ahh sayang kenapa menangis, kau pasti lapar ya? Padahal nenekmu sedang menggendongmu" Cahya langsung membawa sang putri ke kamarnya untuk menyusui nya.


*****


Aditya dan Yongki tampak serius mengobrol, Aditya membahas tentang hubungan kakak iparnya itu dengan Olivia. Olivia ternyata telah mengatakan segalanya pada Aditya, tentang renggangnya hubungannya dengan Yongki. Yongki hanya tersenyum menanggapi Aditya, dia menyadari bahwa hubungannya dengan Olivia terlalu rumit mengingat Olivia sedikit overprotective membuat mereka selalu berdebat saat berbicara di telepon ataupun saat sedang melakukan panggilan vidio. Padahal setiap ada kesempatan dan mendapatkan sinyal, Yongki selalu berusaha menghubunginya, tetapi itu selalu berakhir dengan pertengkaran.


"Kau sering berkomunikasi dengannya?" Tanya Yongki.


"Tidak terlalu sering, hanya saja sesekali dia mengirim chat"


"Dan kau tidak memberitahu Cahya tentang hal itu???"


Aditya tersenyum menggelengkan kepalanya, Yongki pun langsung menasehati Aditya agar tidak bersikap seperti itu, agar Cahya tidak berpikir buruk.


"Dit, aku sudah mendengar tentang kabar penculikan Cahya beberapa waktu yang lalu sampai Adri juga harus mengalami penembakan, lalj bagaimana sekarang dengan pelakunya?"


"Ah ya pelakunya adalah teman kuliahku dulu di London, dia sudah mengganggu kami sejak di Swiss dan saat itu aku bisa mengatasi semuanya, tetapi kami tidak menyangka dia datang kesini lalu menculik Cahya, dia ternyata mengalami gangguan jiwa dan sedikit menyimpang, dia dibebaskan lalu keluarganya membawanya pergi dari sini untuk mengobatinya tetapi aku tetap meminta perlindungan agar dia tidak bisa lagi datang dan mengganggu Cahya lagi"


"Hmmm baguslah mereka membawanya pergi, tapi kenapa selalu saja ada yang berniat buruk pada kalian"


Mereka semua menikmati berbagai hidangan yang sudah tersaji. Ditengah menikmati makan siang, Cahya mengatakan kepada Yongki bahwa tanah bekas rumahnya akan dibangun lagi dan akan dijadikan sebagai tempat usaha cathering ibunya. Mengingat ibunya sangat pandai memasak dan mengolah berbagai jajanan, ibunya pun memutuskan untuk membuka usaha cathering disana sekaligus bisa membantu memberi pekerjaan kepada para wanita disekitarnya.


Mendengar kabar itu Yongki sangat senang, karena memang tanah itu harus dimanfaatkan dan tidak dibiarkan kosong begitu saja, mengingat saat ini Bibi nya sudah diberi tempat tinggal oleh Aditya. Selain itu juga Aditya ingin memastikan keamanan dari seluruh keluarganya dan tidak bisa membiarkan anggota keluarganya dalam kondisi yang tidak aman. Yongki benar-benar merasa sangat bersyukur karena Aditya menjadi suami Cahya, Aditya melakukan tugasnya dengan sangat baik menjaga Bibi serta kedua saudari sepupunya.


*****


Ariel kembali datang ke kantor perkebunan, dan dia masih tetap melakukan hal yang sama dengan membawa berbagai hadiah untuk Elea. Sian mg ini dia berencana mengajak Elea dan Chika untuk makan siang bersama. Ariel sangat yakin jika dia bisa terus menghujani Elea dengan sikap baik dan penuh kasih sayang, lama-kelamaan Elea pasti mau kembali padanya. Dan jika Elea kembali padanya, Ariel akan langsung mengajak Elea dan bayi mereka untuk pulang ke rumahnya tidak lagi tinggal di apartment.


Ariel sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah dan akan menjaga Elea dengan sepenuh hatinya serta tidak akan menyakiti hati perempuan itu lagi. Kali ini dia akan berusaha menebus semua kesalahannya dengan sebaik-baiknya, walaupun saat ini Elea sedang menjalin hubungan dengan pria lain, tapi bagi Ariel, sebelum ada ikatan pernikahan diantara Elea dan pria itu, Ariel masih memiliki waktu untuk membuat Elea kembali padanya. Bagi Ariel, Danist bukanlah saingannya, Elea menjalin hubungan dengannya hanya karena pria itu telah banyak menolongnya bukan karena cinta.


Hingga akhirnya penantian Ariel tiba, Elea keluar dari kantornya bersama dengan Chika dan tentu saja dibelakang mereka ada Danist. Pandangan Ariel pun langsung berubah menjadi kesal saat melihat Danist. Elea sedang asyik berbincang sambil tertawa bersama dengan Chika.


Ariel keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Elea, Ariel berdiri tepat didepan Elea seolah ingin menghadangnya. "Hai selamat siang Elea dan Chika" Sapa Ariel.


"Siang kak Ariel" Jawab Chika.


"Kenapa kau datang lagi? Ada perlu apa? " Tanya Elea ketus tetapi Ariel justru tersenyum manis kepadanya.


"Aku datang karena ingin mengajak kalian makan siang bersama, bagaimana kalian mau kan? Aku yang traktir"


Elea dan Chika saling berpandangan. "Maaf kak, kami sudah ada janji makan siang dirumah kak Danist, dan ini kami akan pergi kesana, karena Mamanya kak Danist sudah menyiapkannya untuk kami" Ucap Chika.


Ariel melihat ke arah Danist yang terdiam dibelakang Elea dan Chika. Ariel lalu kembali menatap Elea dan Chika sambil tersenyum. "Oke baiklah jika kalian sudah memiliki janji yang lain, sepertinya lain kali aku harus membuat janji juga untuk mentraktir kalian berdua makan, sekarang aku akan kembali pulang, maaf sudah mengganggu"


Danist menghentikan Ariel agar tidak pergi, lalu mengajaknya untuk bergabung dan makan siang bersama. Ariel membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Danist seraya tersenyum sumringah. "Benarkah aku boleh bergabung? Tapi baiklah karena kau yang meminta aku menerimanya walau aku sendiri sudah lama tidak memakan masakan rumahan sejak aku berpisab dengan Elea, dulu dia selalu memasak untukku sebelum dan sesudah aku dari kantor, hmmm kurasa kapan-kapan kau harus memasak lagi ya El untukku, aku sangat merindukan masakanmu" Ucap Ariel sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Elea.


Danist tentu saja melihat bagaimana Ariel mengedipkan matanya kepada Elea seolah sedang menggoda perempuan itu. Tetapi Danist memilih diam dan tidak peduli dengan ulah Ariel pada Elea.


Mereka pun akhirnya pergi, Ariel mengikuti mobil Danist, sedangkan saat di mobil, Elea memarahi Danist karena lelaki itu justru malah mengajak Ariel untuk bergabung bersama mereka. Danist hanya menjawab Elea dengan senyuman dan mengatakan bahwa harus bersikap baik terhadap tamu.


Sampai akhirnya mereka sampai dirumah Danist dan turun dari mobil begitu juga dengan Ariel. Lelaki itu turun dari mobilnya sambil melihat suasana rumah Danist yang tampak begitu sederhana dan tentu saja itu bukanlah milik Danist tetapi merupakan properti yang disediakan oleh kantor perkebunan milik Mamanya Aditya.


"Tuan Danist, ini rumah dinas ya? Bagian dari kantor perkebunan milik tante Dina, dan rumah ini tentu saja bukan milikmu sendiri kan?" Tanya Ariel dengan nada mengejek.