
Elea datang ke rumah sakit bersama Ariel membawa pakaian untuk Cahya dan Aditya, mereka melihat Aditya sedang duduk diluar ruangan rawat inap dan menghampirinya. Elea masuk keruangan rawat inap meninggalkan Ariel dan Aditya diluar, dan ia melihat Cahya sedang tertunduk disamping ibunya.
Elea menghampiri Cahya dan memeluknya sambil berkata “ Ca, ini aku bawakan pakaian ganti untukmu, mandi dan gantilah pakaianmu, kau sangat berantakan, biarkan aku yang menjaga ibu”
“ Kau membawakan pakaian untukku, darimana kau tau kalo ibu ada disini?” Tanya Cahya.
“ Kebetulan tadi aku sedang jalan dengan Ariel dan Aditya meneleponku untuk membawakanmu pakaian ganti, kebetulan aku sedang berada di Mall bersama Ariel jadi langsung aku belikan pakaian untukmu dan Aditya, sudahlah kau pergilah dulu untuk bersih-bersih” Elea berucap lembut karena dia melihat Cahya masih kalut dan cukup berantakan lalu Cahya mengambil pakaian itu dan berjalan menuju kamar mandi.
Ibu Cahya masih belum sadar, Elea bingung apa yang sebenarnya terjadi kenapa bisa sampai seperti ini, Ariel dan Aditya pun masuk, Aditya sudah mengganti pakaiannya dikamar mandi ruangan rawat inap sebelah dan tampak lebih segar.
“ Apa yang sebenarnya terjadi Dit?” Tanya Ariel dan Aditya pun menjelaskan bahwa saat itu dia mengantar Cahya pulang tapi Cahya menolak diantar sampai depan rumah dan turun di gang arah rumahnya saat dia diperjalanan baru beberapa menit kemudian Cahya meneleponnya sambil menangis dan meminta bantuannya.
“ Dan kurasa Cahya pun masih tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya, sampai rumah dia sudah menemukan ibunya terkapar dihalaman belakang dan kepalanya berdarah, mungkin lebih jelasnya memang kita harus menunggu ibu sadar” Jelas Aditya.
Cahya keluar dari kamar mandi, Elea tersenyum melihat sahabatnya itu tampak lebih baik setelah mandi. “ Aku dan Ariel akan keluar mencari kopi, Elea, kau temani Cahya dulu” Ucap Aditya dan berpamitan untuk keluar sebentar.
“Ca, kau sudah merasa lebih baik??” Tanya Elea dan dijiwab Cahya dengan senyuman dan anggukan kepala, tetapi wajah Cahya menunjukkan ada sesuatu yang ingin diketahuinya, nampak senyumnya seolah akan menuduh Elea.
“ Kenapa kau bisa bersama dengan Ariel? Padahal pertemuan kalian baru sekali dan itu terjadi tadi siang? Coba katakan padaku?” Cahya bertanya seolah ada sesuatu dengan sahabatnya itu.
“Hehehe tadi sesampainya kita dikantor, Ariel menghubungiku dan mengajakku jalan-jalan setelah pulang kerja”
“ Dan darimana dia mendapatkan nomor hp mu, aku tidak melihat dia meminta kontakmu?”
“Tadi saat dikantor setelah kita makan siang, pak Edward manager kita memanggilku mengatakan bahwa ada telepon penting untukku ternyata Aditya yang meneleponku dan meminta nomor ponselku”
“Astaga laki-laki itu selalu punya cara untuk mendapatkan nomor kontak seseorang” Gerutu Cahya karena untuk mendapatkan nomor kontaknya, Aditya juga melaukan hal yang sama bahkan langsung meminta pada pak Denis.
“Lalu Ariel menghubungiku beberapa saat kemudian dan mengajakku jalan, saat pulang dia menjemputku dikantor, mobilku masih dikantor hehehe”
“Ah ya Tuhan Elea kau ini, aku sudah curiga karena di Cafe itu kalian berdua saling berpandangan dan tersenyum, aku tau kalau kau saat itu memang tertarik pada Ariel”
Cahya sangat memaklumi sikap Elea yang memang orang yang suka berterus terang dan apa adanya. Kedatangan Aditya dan Ariel membuat obrolan Cahya dan Elea terhenti dan Ariel akan mengajak Elea untuk pulang, Aditya tadi sempat mengobrol sebentar dengan dokter dan dokter mengatakan ibu Cahya akan siuman besok karena mereka memberi obat agar ibu Cahya bisa beristirahat lebih lama. Ariel dan Elea pun berpamitan dengan Cahya dan Aditya dan mengatakan besok akan kesini lagi untuk mengunjungi ibu Cahya.
“ Anda juga lebih baik pulang saja, nanti mama anda mengkhawatirkan anda?”
“ Ah astaga Cahya, kau menganggapku seperti anak kecil saja yang sedang ditunggu ibunya, tidak apa-apa aku akan menemanimu disini”
“ Aku disini sendiri tidak apa-apa, anda pulang saja, pasti nyonya Harry menunggu anda dirumah dan besok anad juga harus bekerja”
Aditya mendengus kesal kepada Cahya “ Aku akan disini menemanimu, pekerjaanku bisa menunggu, dan ya, mamaku saat ini tidak ada dirumah dia ke Singapura untuk Check Up rutin setiap bulan, lebih baik kau istirahat saja di sofa itu, kau pasti lelah”
Cahya memang merasa sangat lelah sekali karena tadi terlalu panik mungkin benar kata Aditya bahwa dia harus beristirahat, Cahya pun berbaring disofa dan tertidur dengan lelap.
Aditya tersenyum dan berdiri didepan sofa yang ditiduri Cahya, dalam diam Aditya mengagumi perempuan yang ada didepannya.
“ Saat tidurpun dia tetap terlihat cantik, dia sangat mencintai ibunya” Gumam Aditya dalam hati dan Aditya menyelimuti Cahya agar tidurnya lebih nyenyak dan besok bisa merasa lebih baik lagi.
*****
Cahya ingat sekali saat dulu Theo membawanya menemui orang tua nya, mereka sangat sinis bahkan ketika Cahya mengulurkan tangan untuk bersalaman, Papa dan Mama Theo malah tidak membalas uluran tangannya dan berdiri dari kursinya lalu meninggalkannya begitu saja, saat itu Cahya merasa sangat malu, karena secara langsung orang tua Theo menolak kehadirannya, dia ingin menyerah dan mengakhiri hubungannya dengan Theo. Tetapi Theo menolaknya dan meyakinkannya bahwa dia akan berusaha mati-matian untuk memperjuangkan Cahya. Dan Cahya pun percaya dengan semua ucapan Theo sampai pada akhirnya Theo tidak memenuhi janjinya dan malah meninggalkannya dengan sangat kejam tanpa penjelasan apapun membuat hatinya kini seolah tidak ingin lagi mengenal dengan laki-laki terutama laki-laki kaya.
Gerakan Aditya memudarkan lamunan Cahya sesaat, dan Cahya melihat Aditya sepertinya sedang kedinginan, dengan segera Cahya mengambil selimut disofa yang barusan dia pakai dan menyelimuti Aditya yang masih tertidur dengan lelapnya. Dan Cahya juga masih mengantuk lalu memutuskan untuk kembali ke sofa dan melanjutkan tidurnya lagi.
Sinar matahari mengintip melalui sela-sela jendela rumah sakit dan Cahya terbangun dari tidurnya dan dia melihat Selimut yang tadi dini hari dia pakaikan untuk Aditya saat ini sedang ada dibadannya mungkin Aditya sudah bangun, dia melirik kearah ranjang ibunya ternyata ibunya sudah sadar dan tersenyum padanya.
“ Ibu sudah siuman? Syukurlah Alhamdulillah, bagaimana kondisi ibu, apakah ada yang terasa sakit??” Cahya berucap sambil mencium kening ibunya.
“ Ibu baik-baik saja”
“ Kapan ibu sadar dan kenapa tidak membangunkanku?” Mata Cahya melirik kekanan dan kekiri seolah mencari sesuatu dan ibunya menyadarinya.
“ Nak Aditya sedang keluar membeli kopi, tadi ibu bangun saat adzan subuh dan ibu lihat kau sangat lelap jadi ibu tidak membangunkanmu, sudah pergilah ke kamar mandi agar kau terlihat segar” Ibu Cahya berucap lirih dan segera Cahya mengangguk menuruti kemauan ibunya.
Aditya datang dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
“ Cahya sudah bangun ya bu? Baguslah aku membawakan roti dan minuman untuk dia sarapan” Aditya tersenyum dan menaruh kantong plastiknya dimeja lalu menghampiri ibu Cahya dan menggenggam tangannya, dengan suara lirih ibu Cahya mengucapkan terima kasih kepada Aditya.
“ Terima kasih ya nak Aditya, maaf kami sudah merepotkanmu!”
Aditya tersenyum menggelengkan kepalanya, staf rumah sakit masuk mengantarkan sarapan untuk ibu Cahya.
“ Ibu sekarang sarapan ya, aku akan menyuapimu?” kemudian Aditya membantu ibu agar duduk dengan nyaman lalu menyuapinya. Tak disangka Cahya melihat ibunya sedang makan disuapi Aditya, betapa baiknya Aditya, semalam Cahya terlalu panik hingga belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Aditya. Menyadari Cahya sedang bengong didepan pintu kamar mandi, Aditya memanggilnya.
“ Kau sudah selesai mandi Ca? duduk dan makanlah, aku tadi ke kantin rumah sakit membeli roti untukmu, semalam kau juga pasti belum makan”
“ Eh sini biar aku yang menyuapi ibu?” Pinta Cahya.
“ Tidak usah, ini tinggal sedikit lagi biar aku saja, kau duduk dan makanlah Roti itu!” Seru Aditya, mau tidak mau Cahya menuruti perkataan Aditya.
“ Oh iya, semalam aku sudah menghubungi Adri tentang kejadian yang menimpa ibu, tetapi aku menyuruh Adri untuk tidak memberitahu Chika lebih dulu takut dia akan panik, dan pagi ini mereka akan balik ke Jakarta dan melihat kondisi ibu, tadi Adri bilang mereka sudah bersiap, Chika marah karena tidak diberitahu, tapi Adri bisa menanganinya” Aditya menjelaskan.
“ Pak Aditya terima kasih sudah menolong aku dan ibuku, entah apa yang terjadi jika anda tidak segera datang saat itu” Ucap Cahya.
“ Tidak perlu berterima kasih sudah sepatutnya kita harus saling membantu, apalagi kamu dan ibu adalah calon keluarga kami, dan panggil saja aku Adit tidak usah terlalu formal, kita bukan berada dikantor, oh dan juga aku sudah menghubungi pak Denis dan memintakanmu izin selama beberapa hari karena kamu harus merawat ibu”
****
Cahya sudah menyelesaikan sarapannya begitu juga Aditya yang membantu ibu untuk kembali berbaring lagi. Cahya duduk disamping ranjang ibunya dan menggenggam tanganya dan mengajukan pertanyaan pada ibunya tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga ibunya bisa terkapar dihalaman belakang, dan ibunya bercerita bahwa lampu halaman belakang tidak menyala sehingga ia berinisiatif untuk mengganti Bohlamnya kemuadian mengambil kursi untuk dijadikan pijakan. Karena masih kurang tinggi akhirnya memutuskan kakinya untuk berjinjit, setelah bohlam lepas ia tidak bisa mengatur keseimbangannya, karena terkejut tak sengaja bohlam lampu yang berada ditangannya terjatuh disusul dengan dirinya juga ikut terjatuh kebelakang dari kursi, dan kepalanya berdarah karena tertancap Bohlam yang pecah.
"Astagfirullah bu, kenapa tidak menungguku saja kenapa ibu melakukannya sendiri?"
Cahya nampak menghela nafas panjang dan menasehati ibunya agar tidak melakukan hal seperti itu saat drumah sendiri.
Aditya berpamitan untuk pulang sebentar karena harus mengurus beberapa hal dan berjanji siang akan kembali lagi, serta akan membawakan pakaian ganti untuk Cahya.