SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 295



Selama perjalanan Cahya tidak mengajak Aditya berbicara sama sekali. Dan juga Aditya tidak menjelaskan apapun kepadanya, bahkan meminta maaf saja tidak, membuat Cahya semakin marah dan kesal kepada suaminya itu. Saat sampai dirumah, Cahya keluar mobil dan membanting pintu mobil dengan keras membuat Aditya kaget. Cahya kemudian masuk ke dalam rumah dengan kesal. Aditya bergegas menyusul Cahya ke kamar dan baru akan menjelaskan semuanya.


Cahya masuk ke kamar dan melihat Kyra sudah bangun dan berada di pangkuan ibunya. "Eh anak Amam sudah bangun ya???" Ucap Cahya dan menggendong putrinya.


"Kau sudah pulang? Mana suamimu?" Tanya Ibunya.


"Ada di belakang! Apa Kyra tadi menangis???"


"Tidak!!! Cucu nenek sangat pintar, mana mungkin menangis saat bangun tidur, Oh iya Ca, Ibu akan membuatkan makanan untuk kedua bayimu, mereka sepertinya lapar"


"Di kulkas ada pumpkin, Ibu bisa mengukusnya bersama dengan brokoli, mereka sangat menyukainya"


"Baiklah, akan ibu tambahkan parutan keju juga" Ucap Ibunya lalu pergi meninggalkan kamarnya.


Tak lama setelah ibunya keluar, masuklah Aditya dan langsung mencium Kyra yang ada di gendongan Cahya. Aditya hanya tersenyum melihat kemarahan di wajah istrinya. Cahya hendak membawa Kyra pergi keluar kamar tetapi dengan sigap Aditya memegang pergelangan tangannya, langkahnya pun terhenti.


"Apalagi??? Aku ingin menyiapkan makan untuk Kyra dan Kyros, jadi jangan memggangguku" Gerutu Cahya.


"Ibu sudah menyiapkannya, sekarang duduk dan dengarkan aku"


"Tidak!!!! Aku malas denganmu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di otakmu, kau mengajakku pergi dengan motor tetapi tiba-tiba saat perjalanan pulang kau malah menyuruh Marco mengantarkan mobil, apa yang sebenarnya kau pikirkan, kalau mau pakai mobil ya mobil saja jangan diganti-ganti"


"Diamlah, duduk lalu dengarkan aku, jangan membuatku memintanya lagi" Tatapan Aditya menajam yang akhirnya membuat Cahya menyerah dan menuruti permintaannya.


Aditya kemudian menjelaskan perihal kenapa dia memutiskan menghubungi Marco dan meminta supir itu untuk menjemputnya, itu karena mereka sedang diikuti oleh mobil saat keluar dari restoran. Entah siapa yang mengikuti yang jelas dia tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan mereka.


"Tapi kenapa kau tidak menjelaskannya lebih awal?"


"Aku tidak ingin membuatmu khawatir atau takut"


"Lalu siapa mereka dan kenapa membuntuti kita??"


"Aku tidak tahu, mungkin mereka penjahat atau apa entahlah, sudah lupakan saja"


Aditya sendiri tidak ingin terlalu memikirkan lebih jauh, tetapi tentu dia tetap harus memastikan keamanan keluarganya saat bepergian.


Disisi lain, orang suruhan Cyntia dibuat geram karena kehilangan jejak Aditya. Tadi Aditya masuk ke spbu tetapi setelah menunggu hampir 2 jam tidak ada tanda-tanda lelaki itu keluar dari sana. Dia mulai berpikir bahwa mungkin Aditya tahu jika sedang diikuti atau mungkin tadi dia tidak fokus sehingga tidak tahu jika Aditya sudah keluar dari sana. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja memantau rumah Aditya dan akan melaporkan kepada Cyntia, serta bersiap untuk dimarahi oleh wanita itu. Usahanya mendapat tambahan bonus sepertinya gagal. Padahal tadi dia sudah bersiap untuk menyerempet motor Aditya di jalanan yang agak sepi, belum sempat sampai dijalanan yang sepi itu, dia malah kehilangan jejak Aditya.


*****


Malam harinya, Aditya mengajak kedua anaknya bermain setelah akhir-akhir ini dia sama sekali tidak memiliki waktu bersama mereka saat malam karena kesibukannya. Dan kali ini dia sedang tidak memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan maka dia akan menghabiskan waktunya bersama dengan mereka. Aditya tengkurap di atas karpet bulu menghadap ke kedua anaknya yang sedang duduk bermain.


Aditya menggoda Kyros dengan menyembunyikan mainan berbentuk bintang kesayangan bayi itu di punggungnya, membuat Kyros berusaha mengambilnya tetapi dia kesulitan lalu menangis dengan keras. Cahya yang sibuk melipat pakaian kedua bayinya langsung melemparkan bantal sofa ke arah Aditya dengan kesal.


Aditya tertawa lalu memberikan mainan itu ke Kyros, sayangnya bayi itu tidak mau menghentikan tangisannya. Aditya akhirnya bangun dan mengangkat Kyros lalu mengajaknya ke balkon. Langit terlihat begitu cantik dengan kerlap-kerlip bintang serta sinar bulan menambah semakin indah.


"Lihatlah itu, bulannya hanya setengah tetapi sinarnya sangat indah, ada banyak bintang juga di sisi lainnya, serta banyak hal menarik di langit, suatu saat Ky akan belajar tentang apa saja yang ada di langit dan Ky pasti akan sangat menyukainya" Ucap Aditya sambil menunjuk ke arah dimana letak bulan di langit.


Kyros langsung menghentikan tangisannya dan tampak fokus melihat ke arah bulan. Aditya tersenyum kemudian duduk di kursi yang ada di balkon. Aditya menceritakan tentang bulan dan bintang kepada putranya itu walaupun tahu bahwa Kyros masih belum mengerti tentang apa yang ia katakan tetapi dia ingin motorik anaknya berkembang dengan baik. Hingga akhirnya Kyros mulai menguap, Aditya bergegas membawanya masuk lagi ke kamar agar anaknya bisa segera tidur dengan nyaman di kamarnya.


Ternyata Kyra juga sedang ditidurkan oleh Cahya di ranjang kecil yang ada di kamar itu. Cahya berbaring miring dan menepuk-nepuk pelan paha Kyra yang matanya mulai terpejam dengan botol susu di mulutnya.


"Aku sudah membuat susu untuk Ky, berikan itu dia pasti akan langsung tidur, itu di atas meja" Bisik Cahya pada Aditya yang berdiri di depannya.


Aditya duduk di sofa dan meraih botol susu yang ada di atas meja kemudian membaringkan Kyros di pahanya dan menumpukan leher bayi itu di lengannya lalu memasukkan susu itu ke mulut Kyros. Tidak lama Kyros pun terlelap, Aditya menunggu beberapa saat sampai putranya itu benar-benar tidurnya sudah nyenyak sebekum memindahkannya ke box bayinya.


Kedua bayi itu sudah terlelap dengan nyaman di box bayi mereka masing-masing. Cahya dan Aditya keluar dari kamar si kembar yang terhubung langsung dengan kamarnya.


Aditya menarik tangan Cahya hingga membuat istrinya itu berbalik arah dan langsung jatuh ke pelukannya. Aditya mendongakkan wajah Cahya dan menatapnya dengan dalam. "Aku sangat merindukannmu, apa kau juga merindukanku??" Suara Aditya terdengar serak.


"Menurutmu bagaimana??"


"Menurutku kau sangat dan sangat sangat merindukanku" Aditya mendesakkan tubuh Cahya agar lebih dekat dengannya. "Kau rasakan ini??? Dia lebih merindukanmu daripada diriku"


Cahya merasakan bahwa milik Aditya sedang menegang di bawah sana. "Aku bisa merasakannya" Ucapnya sambil tersenyum.


"Lalu??? Jika kau sudah merasakannya, apa yang akan kau lakukan??" Tanya Aditya.


Cahya tidak menjawab dan menatap Aditya dengan senyumnya yang manis tetapi dia kemudian langsung duduk berjongkok dan berusaha melepaskan ikat pinggang dan celana pendek yang dikenakan Aditya. Setelah menurunkannya, Cahya menggenggam milik Aditya yang hangat dan mengusapnya dengan lembut, membuatnya semakin keras dan memanjang.


Aditya memejamkan matanya merasakan usapan lembut jemari Cahya yang berekplorasi di bawah sana. Aditya sangat merindukan hal ini, kelembutan dari telapak tangan istrinya saat menyentuhnya. Cahya sudah sangat ahli dalam melakukannya, jadi Aditya hanya diam menikmatinya.


Aditya menghentikan gerakan tangan Cahya dan menyuruh istrinya itu agar berdiri. "Tanganmu sudah cukup untuk bekerja, maukah kau sekarang menggunakan mulutmu??" Gumam Aditya lalu mengecup lembut bibir Cahya.


Aditya menarik Cahya, lalu dia duduk di tempat tidur, seolah sudah mengerti, Cahya duduk berjongkok dan memulai lagi, bukan dengan jemarinya tetapi kali ini dengan mulutnya. Cahya sangat ahli melakukannya seolah tahu bahwa setiap gerakan yang dibuatnya selalu membuat Aditya meracau.


"Bagus sayang, terus gerakan mulut dan lidahmu!" Gumam Aditya lalu menekan kepala istrinya beberapa detik kemudian melepaskannya, seketika itu Cahya terbatuk-batuk dan menarik napasnya dalam-dalam dan mendongakkan kepalanya menatap Aditya seraya tersenyum.


"Sudah cukup! Sekarang jadikan aku kudamu, lalu bergeraklah seperti seorang koboi yang handal mengemudikan kudanya" Aditya kemudian berbaring.


Tanpa melepaskan dress dan pakaiannya, Cahya mengikuti arahan Aditya, dan menyingkap sutra berendanya lalu menyatukan dirinya dengan Aditya. Aditya mengangkat kedua tangannya agar bisa dijadikan pegangan oleh Cahya.


Cahya mulai bergerak sesuka hatinya dan mendapati Aditya memejamkan matanya sambil menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri, suaminya itu pasti sangat senang dengan apa yang dilakukannya. Hingga akhirnya mereka berdua jatuh ke dalam pusara kehangatan dan melayang bersamaan. Cahya menjatuhkan tubuhnya diatas Aditya lalu keduanya terlelap karena lelah dengan apa yang baru saja mereka lakukan.