
Keesokan harinya, seperti biasa setelah sarapan, Aditya langsung pergi ke kantornya. Dia masuk ke dalam mobilnya yang sudah berada di luar garasi, karena Marco sudah datang untuk memanaskan serta membersihkannya. Selain itu Aditya memang selalu meminta Marco agar standby di rumah meskipun Cahya tidak sedang ingin pergi kemana pun.
Setelah gerbang di buka oleh security nya, Aditya menyalakan mesin mobilnya dan hendak keluar dari halaman rumahnya. Aditya menghentikan mobilnya tepat di tengah gerbang karena dari arah kiri ada mobil lain yang hendak lewat, jadi Aditya berhenti sebentar sebentar menunggu mobil itu. Setelah mobil itu lewat, Aditya menengok ke kanan memastikan di kanan juga tidak ada kendaraan, terlihat sepi, saat Aditya hendak menginjak gas, tiba-tiba ada yang menggelitik pikirannya.
Aditya menoleh lagi ke kanan, tampak sebuah mobil terparkir di sisi kanan rumahnya. "Mobil itu, plat nomornya???? Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana ya?? Ah sudahlah mobil seperti itu kan memang banyak" Gumam Aditya lalu melanjutkan perjalanannya ke kantor.
****
Ariel datang lagi ke kantor Aditya padahal tidak ada yang ingin di bahas dengan sahabatnya itu. Ariel keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Aditya. Maysa langsung berdiri dan membungkukkan badannya dengan sopan kepada Ariel yang berdiri di depannya.
"Selamat pagi pak Ariel? Ada yang bisa saya bantu??" Sapa Maysa.
Ariel tersenyum lalu menunjuk ke pintu ruangan Aditya. "Apakah Adit ada di dalam???"
"Ada pak" Jawab Maysa, kemudian memundurkan kursinya dan melangkah lalu mengetuk pintu ruangan Aditya untuk memberitahunya jika Ariel datang untuk menemuinya.
Setelah mendapat ijin Aditya, Maysa mempersilahkan Ariel masuk. Melihat Ariel, dahi Aditya berkerut, dia merasa tidak ada janji untuk bertemu dengan sahabatnya ini karena memang tidak ada urusan pekerjaan yang harus dibahas hari ini, lalu kenapa Ariel mendatangi kantornya.
Aditya mempersilahkan Ariel duduk dan menawari sahabatnya itu minuman.
"Kau tiba-tiba datang kesini??? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bahas denganku??"
"Ehhh itu Dit..... Ehhh aku ingin......????" Ariel terlihat bingung dan memikirkan sesuatu agar Aditya tidak curiga kepadanya, karena sebenarnya dia datang kesini hanya untuk melihat Maysa. "Aku ingin membahas Villa mu, ya Villa mu"
"Villa??? Ada perkembangan apa dengan Villa itu??"
"Ehhh.... Villamu sudah selesai dan tinggal finishing serta pemasangan furniture saja, bulan depan sudah bisa kau pakai" Ujar Ariel.
Aditya mengernyit dan melihat gelagat aneh Ariel, karena masalah Villa yang dalam tahap finishing dan pengaturan furniture sudah pernah dibahas beberapa waktu yang lalu, kenapa Ariel mengatakannya lagi. Aditya benar-benar curiga dengan Ariel, tidak seperti biasanya sahabatnya itu bersikap seperti ini.
"Kau sudah mengatakannya kepadaku beberapa hari yang lalu, kenapa kau mengatakannya lagi???"
Ariel mendongak menatap Aditya lalu tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Oh iya ya, aku sudah mengatakannya kepadamu, hehe aku lupa Dit..."
"Kau ini kenapa Iel???"
"Ah tidak Dit...!! Aku hanya lupa, berikan air itu padaku"
"Kurasa kau datang kesini bukan untuk membahas tentang Villa atau pekerjaan, karena urusan pekerjaan kita sudah kita bahas kemarin lusa, well kenapa kau datang kesini?? Jangan berbohong padaku, karena kau tidak bisa membohongiku"
Ariel hanya diam, tidak mungkin dia menjelaskan dengan detail bahwa dia datang kesini hanya untuk melihat Maysa. Ariel mencoba memikirkan sesuatu untuk dibahas dengan Aditya, agar Aditya tidak semakin curiga padanya karena dia tahu bahwa tidak mudah membohongi Aditya. Ariel tersenyum kepada Aditya, karena dia sudah menemukan bahasan lain untuk mengalihkan Aditya.
"Manager restoranku bilang bahwa kemarin kau datang bersama Cahya? Apa benar??"
Aditya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Ariel masih saja tidak mau mengatakan tujuannya datang kesini. "Ya kemarin aku dan Cahya makam siang di restoranmu, tetapi sialnya keluar dari sana ada yang mengikutiku"
"Mengikutimu??? Siapa???"
"Aku tidak tahu, yang jelas mobil itu keluar juga dari sana, aku memperhatikannya dari spion, kupikir itu han kebetulan satu arah denganku karena terus mengikutiku, aku mencoba mempercepat dan memperlambat laju motorku, mobil itu juga melakukan hal yang sama, karena aku takut terjadi sesuatu aku mengajak Cahya menepi ke sebuah spbu dan menghubungi supir agar menjemput kami disana" Gumam Aditya.
"Kau mengendarai motor???"
"Ya, aku mengajak Cahya pergi dengan motor Adri, aku ingin mencoba hal baru, aku rasa mobil itu mungkin ingin menjambretku atau Cahya"
"Adit Adit, kau bodoh atau bagaimana, kalau dia ingin menjambretmu yang mengendarai motor sedangkan mereka menaiki mobil bagaimana bisa mereka melakukannya? Jika sesama motor mungkin saja, kurasa mereka pasti ingin mencelakaimu dan Cahya"
"Mencelakaiku?? Memangnya apa salahku???" Tanya Aditya.
"Aissshhh.... Pake nanya apa salahku?? Semua kemungkinan bisa terjadi Dit!"
"Mungkin itu hanya orang iseng, lupakan saja"
"Tetapi kau harus berhati-hati dan waspada Dit, oke aku harus pergi ke kantor, kalau kau butuh bantuan kabari aku" Ariel berdiri dan meninggalkan ruangan Aditya.
****
Sore harinya, Aditya sudah memasuki kawasan perumahan tempatnya tinggal dan membelokkan mobilnya ke gang arah rumahnya. Hingga sampailah dia di depan gerbang rumahnya. Aditya menekan klakson mobilnya agar securitynya membuka gerbang. Tetapi pandangan Aditya mengarah lagi ke arah sisi rumahnya dimana dia melihat mobil yang sama seperti yang dia lihat tadi pagi dan mobil itu masih di tempat yang sama. Aditya masih belum menyadari jika mobil itu adalah mobil yang kemarin membuntutinya. Gerbang terbuka, Aditya lalu masuk ke halaman rumahnya tanpa menaruh kecurigaan sama sekali dengan mobil itu.
"Itu pasti Aditya yang masuk" Gumam lelaki itu saat melihat mobil Aditya masuk ke dalam rumahnya.
Setiap hari dia berada di tempat ini, tempat yang sama. Dia datang saat pagi dan akan pergi saat jam menunjukkan pukul 9 atau 10 malam. Karena itulah yang diperintahkan Cyntia kepadanya, untuk selalu berjaga di rumah Aditya, dan harus melaporkan setiap ada pergerakan dari rumah itu, karena Cyntia meminta update semua informasi itu. Semalam dia di maki habis-habisan oleh Cyntia karena telah gagal untuk mencelakai Aditya dan Istrinya. Dia justru kehilangan jejak Aditya dan gagal mendapatkan bonus tambahan dari Cyntia. Entah Aditya yang terlalu cerdik, atau memang dia yang terlalu bodoh sehingga bisa kehilangan jejak Aditya, tetapi beruntungnya Cyntia tidak memecatnya dan masih memberinya kepercayaan untuk tetap mengawasi Aditya, sebelum rencana besar perempuan itu selesai di siapkan. Dia masih tidak percaya bahwa perempuan secantik Cyntia ternyata memiliki kebusukan yang luar biasa menakutkan, bahkan bisa dikatakan tidak memiliki nurani.