SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 241



"El, kau ada disini??? Bagaimana bisa??"


Elea melepaskan pelukannya pada Danist. "Aku datang bersama Cahya dan Adit, kau kenapa seperti itu? Kau tidak suka ya aku dan Gienka ada disini???"


"Tidak, bukan begitu, aku hanya terkejut saja, kau tidak memberitahuku, aku pasti akan menjemputmu, kau jahat sekali dan membuatku sangat khawatir karena kau tidak membalas pesanku sejak kemarin dan sekarang tiba-tiba kau disini, jam berapa kau sampai?"


Elea tersenyum dan mencubit lembut pipi Danist. "Aku sampai sekitar 2 jam yang lalu dan sengaja sejak kemarin cuek but I'm so sorry, aku sudah memasak untukmu, maaf lagi karena lancang menggunakan dapur dan bahan makanan di kulkas"


"Memasak?" Danist terkekeh tidak percaya. "Baiklah kita akan makan bersama tapi aku mandi dulu" Danist membungkuk dan mencium Gienka, dia masih tidak percaya bayi kecil yang sangat di rindukannya sekarang ada di depan matanya.


"Aku tadi sudah makan saat perjalanan kesini, aku lelah sekali ingin istirahat, tidak mudah perjalanan jauh membawa seorang bayi" Gumam Elea.


Danist tersenyum memahami, Elea pasti sangat kesulitan, dia memutuskan untuk makan sendiri dan menyuruh istrinya itu untuk beristirahat.


Ditempat lain, Aditya juga membiarkan Cahya tidur bersama kedua bayinya di kamar. Cahya tampak sangat lelah sekali, walaupun dia sudah memberikan penerbangan yang dirasa nyaman, tetap saja bukan perkara yang mudah membawa ikut serta bayi. Drama rewelnya mereka membuat Aditya merasa kasihan kepada Cahya dan Elea yang berusaha keras menenangkan bayi mereka, tetapi pada akhirnya semua bisa diatasi.


Aditya melupakan sesuatu, karena terlalu sibuk mengurus keberangkatannya dia sampai lupa memberitahu anak buahnya disini untuk menyiapkan tempat tidur bayinya. Bisa susah kalau membiarkan kedua bayinya tidur di ranjangnya, selain dia dan Cahya harus selalu memastikan agar keduanya tidak jatuh, tempat tidurnya juga akan menjadi sempit. Aditya mengambil ponselnya dan menghubungi Aline agar besok membeli 3 box bayi dan mengantarnya lagi kesini juga ke rumah yang ditinggali Danist.


Aditya sendiri merasa sangat lelah dan mengantuk, disini hari masih sore tetapi di negara asalnya tentu saja ini sudah malam dan waktunya tidur. Masih butuh penyesuaian waktu. Aditya berjalan ke ruang tamu dan mengunci pintu, tidak memperdulikan koper-koper yang masih ada disana, masih ada banyak waktu untuk membongkarnya. Aditya kembali ke kamar dan langsung menyusul Cahya dan kedua bayinya tidur.


Danist keluar dari kamar mandi dan langsung disuguhkan pemandangan Elea yang sudah tidur disamping Gienka. Danist masih tidak percaya kedua orang yang dicintainya dan dirindukannya akhir-akhir ini sekarang ada disini. Mereka sengaja datang untuk menemuinya. Danist menghampiri Gienka dan menciumnya sekali lagi, lalu pergi ke dapur untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan Elea


*****


Danist terbangun di pagi hari, Elea dan Gienka masih tidur dengan pulasnya di hadapannya. Dia mencoba mencubit pipinya sendiri sekali lagi memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan dan kejutan yang benar-benar luar biasa. Danist mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah diberi anugrah yang luar biasa, kehadiran Elea dan Gienka akan membuat harinya lebih bersemangat, dia tidak lagi peduli akan bagaimana nanti kehidupan pernikahannya, yang jelas dia hanya selalu ingin bersama Elea dan Gienka, dan menjaga keduanya dengan sebaik mungkin. Danist beranjak dari tempat tidur, setelah mandi, dia akan menyiapkan sarapan untuk Elea. Ini weekend, saat yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama dengan mereka berdua.


Cahya sudah bangun dan sudah rapi tetapi Aditya dan kedua bayinya itu masih belum bangun. Tidak ada apapun di kulkas yang bisa dimasak, sambil menunggu Aditya bangun, Cahya memilih untuk membereskan semua barang bawaannya. Saat hendak membawa kopernya masuk ke kamar, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Cahya membuka pintu, dan 2 laki-laki turun dari mobil lalu menghampirinya dan mengatakan jika mereka akan mengantar box bayi yang sudah dipesan. Cahya pun mempersilahkan mereka untuk membawa masuk box bayi itu.


Di tempat lain, Danist sibuk memanggang roti dan membuat kopi untuk teman sarapannya bersama Elea. Dia terkekeh karena memang hanya itu yang ada, siapa yang peduli, dia bisa makan apapun untuk sarapan. Kedatangan Elea memang tidak dia duga jadi tidak ada persiapan apapun, tetapi nanti siang dia akan mengajak Elea untuk berbelanja. Saat sedang sibuk mempersiapkan sarapan di meja, Danist teralihkan oleh suara ketukan pintu di depan, bergegaslah dia kesana dan membuka pintu. Mereka menjelaskan kepada Danist jika mereka datang untuk mengantar box bayi ke rumah ini. Danist mengernyit, lagi-lagi bosnya itu membantunya, entah ini sudah berapa kali dia menerima bantuan Aditya. Bosnya itu memang sangat baik, hingga dia tidak tahu harus membalas semua kebaikannya dengan apa.


"Siapa yang datang??" Tanya Elea yang muncul dari dalam.


Danist menoleh lalu tersenyum. "Kau sudah bangun? Ini Pak Aditya mengirim box bayi untuk Gienka"


"Ah ya Tuhan, aku sampai bingung bagaimana caranya harus membalas semua kebaikan mereka kepada kita" Gumam Elea.


Kedua orang itu terlihat sibuk memasukkan box bayi ke dalam rumah setelahnya mereka pun pergi. Danist mengajak Elea untuk sarapan terlebih dulu, sebelum nanti mengajaknya untuk berbelanja kebutuhan rumah.


Elea tersenyum melihat sudah ada dua cangkir kopi dan beberapa roti yang sudah dipanggang diatas meja makan. Danist meminta maaf kepadanya karena hanya itu yang tersisa di rumah, karena kedatangannya yang tiba-tiba membuatnya tidak menyiapkan apapun. Elea mencoba memakluminya karena memang salahnya yang tidak memberitahu Danist sebelumnya jika akan datang.


Setelah sarapan, Elea membereskan meja makan dan mengambil piring serta cangkir yang baru selesai digunakan. Elea teringat bahwa sekarang sudah ada disini, dan tujuannya adalah untuk menanyakan langsung kepada Danist apakah benar selama ini laki-laki itu mencintainya atau tidak, atau hanya sekedar ingin menolongnya dan Gienka. Jika nanti sudah mendapatkan jawabannya langsung, Elea baru bisa memutuskan akan dibawa kemana rumah tangganya ini bersama Danist.


Elea membalikkan badan dan melihat Danist sedang sibuk merapikan kursi dan meja makan.


"Dan....!!!" Ucap Elea pelan.


Danist menghentikan aktifitasnya dan mengangkat kepalanya menatap Elea sambil tersenyum. "Ya El, ada apa??? Apa kau butuh sesuatu?"


Dengan langkah meragu, Elea mendekati Danist. "Ehhh aku mau bertanya sesuatu kepadamu, apa.......???" Belum selesai dia berbicara, terdengar suara tangisan Gienka dari kamar. Elea memejamkan matanya seraya bergumam kesal dalam hatinya, kenala disaat seperti ini anaknya itu malah bangun.


"Sebentar El, kau bereskan semuanya, aku yang akan mengurus Gienka" Ucap Danist lalu meninggalkan Elea yang masih berdiri di dapur.


****


Elea dan Danist sudah sampai dirumah setelah berbelanja. Sejak pagi Danist hanya fokus mengajak Gienka bermain, saat bayi itu terbangun Danist menenangkannya kemudian memandikannya sampai memakaian baju untuknya. Setelah itu mengajaknya bermain lagi membuat Elea belum memiliki kesempatan untuk menanyakan pertanyaannya kepada Danist. Tidak apa, masih ada banyak waktu untuk membahas hal itu, yang terpenting adalah Elea bisa melihat lagi secara langsung perhatian yang diberikan Danist kepada Gienka.


Hari sedikit siang, Danist mengajaknya dan Gienka untuk berbelanja, lelaki itu juga sempat berniat mengajaknya jalan-jalan sebentar tetapi Elea menolaknya karena dia masih merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, ya Elea masih merasakan jetlag. Danist pun mengerti itu dan langsung mengajak Elea untuk pulang saja setelah berbelanja. Sampai dirumah, Danist menyuruh Elea agar menyusui Gienka, karena pasti Gienka merasa sangat lapar seharian ini, sementara dia akan membereskan belanjaannya di dapur.


Elea membawa Gienka masuk ke kamar, dan berbaring miring menyusui Gienka, tidak butuh waktu lama, putrinya itu langsung tertidur. Wajar saja, karena Danist mengajaknya berceloteh dan bermain sejak pagi membuat waktu tidur bayi itu sedikit terganggu. Elea sangat memahami itu, Danist memang begitu dekat dengan Gienka, seolah akan lupa dengan segalanya ketika bersama bayi itu. Elea merasa jika apa yang di ucapkan Cahya ada benarnya, bahwa Danist memang sangat mencintainya begitu juga dengan Gienka. Jika memang lelaki itu tidak mencintainya dan Gienka, untuk apa dia harus bersusah payah menghabiskan waktu istirahatnya hanya agar bisa menghubunginya, melihat wajah Gienka lewat panggilan video.


Elea mengingat semua kebaikan Danist selama ini kepadanya, dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya dan Gienka, bahkan saat Gienka masih ada di perutnya. Bagaimana Danist selalu setia menemaninya di masa-masa sulitnya saat hamil, bahkan Danist juga yang membawanya ke rumah sakit saat dia kontraksi di toilet kantor. Semua itu dilakukan pasti karena Danist sangat menyayanginya, jika tidak untuk apa seorang laki-laki single mau menghabiskan waktunya hanya untuk perempuan hamil yang ditinggalkan suaminya, pasti ada alasan kenapa dia melakukan itu. Bahkan Danist tetap menjaganya dengan sangat baik di kondisi yang sebenarnya sangat sulit untuk seorang laki-laki, dia tinggal dan tidur bersama istrinya tetapi dia tidak bisa mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan. Elea memejamkan matanya sedih dan menyesal dengan apa yang dia lakukan selama ini kepada Danist, laki-laki itu pasti merasa tersiksa selama ini tapi dia tidak pernah sekalipun marah kepadanya, tidak pernah menuntut haknya kepada dirinya.


Elea beranjak dari tempat tidurnya dan mengangkat untuk menaruh Gienka menaruhnya di box bayi barunya. Elea tidak sengaja menjatuhkan mainan bola plastik yang mengeluarkan bunyi ketika digerakkan, milik Gienka di lantai tepat di bawah tempat tidur, tetapi nanti dia akan mengambilnya setelah membaringkan putrinya itu. Elea mengusap lembut dahi Gienka, merasa bersyukur karena putrinya itu sekarang memiliki sosok Ayah yang begitu mencintai dan menyayanginya, dulu Elea sangat ketakutan akan nasib Gienka, takut bayi itu tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya yang utuh, tapi kehadiran Danist seolah menampik semua ketakutannya. Danist begitu tulus dan baik hati menerima semua kekurangan yang ada di dirinya, selalu menghujaninya dan Gienka dengan limpahan kasih sayang.


Danist masuk ke kamar. "Wah putriku sudah tidur rupanya" Ucapnya sambil berdiri di depan tempat tidur.


Elea membalikkan badannya dan tersenyum "Dia langsung tidur tidak lama setelah menyusu, kurasa dia sebenarnya sangat mengantuk tapi karena kau mengganggunya dia jadi tidak bisa tidur"


"Aku memang sedikit bersalah, ya hanya sedikit tapi mau bagaimana aku sangat bahagia bisa melihatnya lagi secara langsung" Gumam Danist bahagia, tetapi kemudian dahinya berkerut saat melihat ada sesuatu yang tersangkut di rambut Elea. "Sebentar El, ada benang di rambutmu"


Elea memegang rambutnya untuk mengambil benang itu. "Mana??" Tanya Elea.


"Itu di rambut belakang, sepertinya itu dari baju Gienka"


Elea mencoba mencari benang yang dimaksud Danist tapi tidak menemukannya. Danist yang merasa kesal akhirnya maju untuk mengambilnya dari rambut Elea tetapi tiba-tiba telapak kakinya menginjak sesuatu membuatnya terpeleset dan secata refleks dia menarik tubuh Elea untuk pegangan. Tetapi karena sama-sama terkejut, bukannya menahan tubuh Danist, Elea malah ikut tersungkur. Mereka berdua jatuh tepat di atas ranjang. Dan karena tarikan Danist, Elea kini tepat berada diatas tubuh Danist yang terbaring di tempat tidur. Bukannya mencoba berdiri, mereka berdua justru menertawakan kejadian ini.