SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 410



Keesokan harinya....


Axel memenuhi janjinya pada Gienka, dia menjemput Gienka di rumah Ariel untuk pergi ke rumah Kyra. Saat ini mereka sudah memasuki kawasan perumahan elit dimana Kyra tinggal. Axel mengemudikan mobilnya dengan pelan takut terlewat, sampai kemudian Gienka menunjuk ke sebuah rumah besar memintanya untuk berhenti disana. Axel pun menuju ke rumah itu dan tiba-tiba gerbang dibuka dari dalam.


"Stop stop, gerbangnya dibuka, sepertinya akan ada yang keluar!" Gumam Gienka.


Axel pun menghentikan mobilnya tepat disisi gerbang. Gienka membuka jendela mobil, sementara Axel melihat ke arah rumah itu. Rumah yang sangat besar dan memiliki 4 lantai, itulah yang pertama kali ada di pikiran Axel. Gienka melambaikan tangannya ketika mobil Aditya keluar dari gerbang.


"Wah sayang sekali uncle Adit pergi keluar, ayo masuk!" Ucap Gienka, kemudian berteriak melarang security menutup gerbangnya. Axel kemudian membawa masuk mobilnya.


Sampai di halaman depan Gienka membuka pintu mobil dan keluar sedangkan Axel meragu untuk ikut keluar. Tak lama setelah itu Gienka menggedor kaca mobil Axel dan menyuruhnya keluar, mau tidak mau Axel pun keluar.


"Ayo masuk...!! Kenapa diam saja....!" Gienka menarik Axel dan membawanya menuju pintu.


Gienka menekan bel tak lama pintu di buka oleh Cahya. "Eh Gienka....!!" Ucap Cahya. Gienka mencium tangan Cahya lalu memeluk sahabat baik Mamanya itu.


"Akhirnya kau membawa teman laki-laki juga Gie, aoa dia kekasihmu???" Tanya Cahya menggoda.


"Tidak ... Tidak....!! Axel bukan kekasihku, dia temanku aunty, dia datang untuk menjenguk Kyra, semalam dialah yang sudah menolong Kyra!" Jawab Gienka dengan cepat.


Cahya terkekeh. "Kau selama ini tidak pernah membawa teman laki-laki sata datang jadi aunty pikir dia kekasihmu!!! Lagipula kau sembunyikan dimana kekasihmu??" Cahya menggoda Gienka lagi.


"Ah aunty, aku kan sudah pernah bilang bahwa aku adalah calon menantu aunty, apa aunty lupa??? Hahahaha"


Cahya dan Gienka sama-sama tertawa. Kali ini Axel juga ikut tertawa mendengar celetukan Gienka itu. Axel menyalami Cahya dengan sopan. Kemudian Gienka menanyakan keadaan Kyra saat ini. Cahya pun mengatakan jika Kyra dalam keadaan baik dan saat ini berada di rooftop sedang mengerjakan pekerjaan. Cahya mengajak Gienka dan Axel ke atas tempat dimana Kyra berada saat ini, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam lift agar sampai disana lebih cepat dibanding harus naik tangga.


"Uncle Adit mau kemana tadi???" Tanya Gienka.


"Dia ada pekerjaan penting Gie jadi harus pergi" Cahya kemudian melirik ke arah Axel yang berdiri diam dan tidak bicara sejak tadi. Cahya melempar senyum pada Axel. "Kau tegang sekali sepertinya, apa kau sedang sakit???" Tanya Cahya pada Axel.


"Tidak tante!" Jawab Axel.


"Lalu kenapa diam saja?"


"Axel memang suka begitu aunty, suka malu-malu, kadang juga suka malu-maluin hahaha"


Cahya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ocehan Gienka, teringat dengan Elea dulu, semua yang ada di Elea menurun pada Gienka. Bukan hanya wajah tetapi sikap dan sifatnya juga sama seperti Elea.


Pintu lift terbuka, Cahya mempersilahkan Axel dan Gienka untuk keluar dan menemui Kyra, karena Kyra sedang menikmati sorenya sambil bekerja di area kolam renang. Sementara itu Cahya akan membuatkan mereka minuman.


Dari dalam Gienka dan Axel sudah bisa melihat Kyra sedang duduk di kursi roda tengah menghadap laptopnya. Sore seperti ini memang sangat menyenangkan jika duduk di area rooftop rumah Kyra sambil bekerja atau sekedar bersantai. Gienka sering sekali melakukannya bersama Kyra. Suasana asri sengaja dibangun disini, ditambah dengan infinity pool yang ada menambah kesan luar biasa cantik dan bagi siapapun yang ada disini tidak akan pernah merasa bosan.


Gienka memanggil Kyra, membuat sahabatnya itu langsung menoleh kearahnya. Kyra tersenyum melihat kedatangan Gienka, dan terkejut melihat siapa yang ada di belakang Gienka. Axel. Lelaki pemilik pesta semalam dan juga laki-laki yang sudah menolongnya. Gienka dan Axel mendekati Kyra.


"Aku datang bersamanya kesini karena dia yang memintaku menemaninya, dia sangat mengkhawatirkanmu Ra...!" Ujar Gienka.


"Harusnya kau tidak perlu repot-repot, karena aku baik-baik saja, tetapi Axel, aku ucapkan terima kasih sekali lagi padamu!" Ucap Kyra.


Axel tersenyum dan merasa senang karena Kyra sudah membaik. Tak lama Cahya menghampiri mereka bertiga membawa makanan serta kue. Mempersilahkan Gienka dan Axel menikmatinya. Gienka meraih gelas berisi jus nanas itu dan meminumnya kemudian mulai bercerita pada Cahya bahwa Axel semalam sudah menolong Kyra, dan Axel juga yang mengadakan pesta itu. Cahya pun mengucapkan terima kasih kepada Axel yang sudah menolong Kyra.


"Sering sekali Gienka datang bersama teman-temannya kesini tetapi tante baru pertama kali melihatmu???" Tanya Cahya.


"Ah saya dulu bertetangga dengan Gienka, satu kompleks dengan rumah om Ariel, kami sering bermain saat Gienka sedang berada disana, hanya saja saya hijrah ke luar negeri untuk pekerjaan saya, tetapi hubungan pertemanan saya dengan Gienka masih berjalan dengan baik sampai sekarang!"


"Oh begitu pantas saja tante tidak pernah melihatmu! Silakan kalian mengobrol tante harus ke bawah, dan Axel kau jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri dan terima kasih kau sudah membantu Kyra, sayang sekali suamiku sedang pergi, dia pasti senang sekali bertemu denganmu, tante pergi dulu!" Cahya kemudian meninggalkan Kyra, Gienka dan Axel di rooftop, membiarkan anak-anak muda itu menikmati waktunya.


★★★★★★


Hari sudah mulai gelap, setelah mengobrol dan menikmati matahari terbenam di rooftop rumah Kyra, Gienka dan Axel pun berpamitan untuk pulang. Tetapi Kyra meminta kepada Gienka agar membawanya juga untuk turun. Gienka pun mendorong kursi roda Kyra, bersama Axel mereka masuk ke dalam lift.


Sampai di bawah, Kyra memanggil Cahya, dan ternyata Amamnya itu sedang berada di halaman belakang. Cahya menghampiri mereka. "Kalian sudah mau pulang ya??? Apa tidak mau menunggu sebentar lagi??? Apapnya Kyra sedang dalam perjalanan pulang sebentar lagi juga akan sampai...!" Ucap Cahya.


"Sebenarnya ingin lebih lama lagi aunty Ca, cuma Axel ada keperluan lain, dan aku sendiri harus bersiap untuk pulang ke rumah Mama malam ini"


"Oke aunty Ca, terima kasih untuk Kue nya" Gienka memeluk Cahya lalu mencium tangannya dan berpamitan.


Axel juga berterima kasih pada Cahya karena sudah diberi kue dan merasa senang bisa datang kesini. Cahya pun meminta kepada Axel untuk tidak sungkan dan suatu hari nanti bisa kembali datang kesini.


Setelah meninggalkan kediaman Kyra, Axel langsung melahukan mobilnya untuk pulang. Gienka menoleh ke arah Axel yang sibuk mengemudikan mobil seraya tersenyum. "Well apa menurutmu orangtua Kyra menyeramkan atau menakutkan???" Tanya Gienka.


"Tidak...! Mamanya Kyra sangat baik dan lemah lembut, tetapi aku pernah melihat foto Papa Kyra disebuah majalah, dia terlihat dingin dan tegas, aku dengar dia juga kejam!"


Gienka menggeleng. "Kejam??? Itu benar sih tetapi dia hanya akan bersikap seperti ith ketika ada orang yang berusaha mengusik keluarganya, selain itu kau hanya akan melihat kebaikan hatinya, jika kita sudah mengenalnya tentu kau akan langsung menyukainya, dia penyayang keluarga, dan sangatlah baik kepada semua orang!"


"Pasti dia juga protektif! Biasanya seperti itu, seorang Ayah pasti akan protektif kepada anak perempuannya, apalagi mereka dari keluarga kaya"


"Haha tidak....! Tidak ada yang seperti itu, kedua orabgtua Kyra sangat baik, kalau soal protektif aku rasa bukan Uncle Adit tetapi lebih kepada kakaknya Kyra yaitu Kyros, dia cuek dan dingin tapi galak sekali, dia akan sangat marah jika ada yang melukai adiknya, untungnya dia tidak ada disini coba ada disini sudah pasti si Jelena itu tidak akan lolos darinya!"


Axel hanya tersenyum mendengar semua fakta tentang keluarga Kyra. Dari kesan pertamanya memang Mama Kyra orang yang sangat baik dan ramah, hanya saja dia masih belum bisa mempercayai ucapan Gienka tentang Papa Kyra karena belum pernah bertemu dengannya. Hanya saja setelah menemui Kyra, nyali Axel kembali menciut. Kyra benar-benar terlalu sempurna tetali dibalik semua itu, Axel melihat sikap apa adanya dari Kyra. Perempuan itu tidak terlihat arogan seprti perempuan pada umumnya yang jika mereka merasa memiliki segalanya, sikap mereka akan berlebihan tetapi sepertinya tidak dengan Kyra. Ya, Kyra sama seperti Gienka, keduanya berasal dari keluarga yang berada tetapi mereka tetap rendah hati. Axel memutuskan untuk menganggap pertemuannya dengan Kyra hari ini dan kemarin adalah sebuah mimpi indah saja.


★★★★★★


Beberapa minggu kemudian...


Kyra mengemudikan mobilnya dengan perasaan bahagia. Senyumnya tidak pernah luntur dari wajahnya sejak tadi, membuat Gienka yang duduk disebelahnya keheranan. Gienka sudah bertanya pada Kyra akan kemanakah mereka pergi, tetapi Kyra tidak menjawabnya sama sekali dan meminta agar Gienka diam saja karena nanti pasti akan tahu jawabannya. Akhirnya Gienka tidak banyak bertanya lagi dan duduk diam di mobil.


Sampai kemudian Gienka mulai menyadari bahwa arah mobil Kyra sepertinya akan menuju ke airport. "Kita akan airport Ra? Untuk apa kesana??? Apa kau akan menculikku lalu menjualku??" Gumam Gienka kesal.


"Astaga Gie kau sejak tadi banyak bertanya!"


"Astaga Ra....!!! Bagaimana aku tidak terus bertanya, kau sendiri tidak mau mengatakan kemana kita akan pergi!"


Kyra menoleh dan tersenyum. "Ya ya ya....! Kita akan ke airport!"


"Untuk apa??? Apa kau ingin kabur dari rumahmu?? Kesalahan apa yang kau lakukan? Sehingga kau akan kabur!" Gerutu Gienka lagi. Dia tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Kyra saat ini, karena ini tidak seperti biasanya.


"Oh cmon Gie....! Diamlah dan berhenti menggerutu, kita ke airport untuk menjemput Ky, dia akan kembali....!!!"


Gienka menoleh memandang Kyra dengan mulut menganga tidak percaya. Mereka akan ke airport untuk menjemput Kyros. Dan Kyra baru mengatakannya sekarang. "Kau jangan bercanda Ra... Kyros akan pulang dan kau baru mengatakannya sekarang?"


Kyra menjelaskan bahwa ini adalah kejutan dari Kyros untuk keluarganya. Kyra sendiri tidak menyangka karena Kyros juga baru mengatakannya lusa, dan memintanya agar tidak memberitahu siapapun termasuk seluruh keluarganya jika kakaknya itu akan pulang, karena ini akan menjadi kejutan untuk mereka semua.


Mendengar penjelasan Kyra, Gienka pun tersenyum bahagia, karena ini yang ditunggu-tunggu olehnya selama ini. Kyros akan pulang setelah sekian lama. Laki-laki yang selalu dirindukannya itu akan pulang. Ingin rasanya Gienka menampar pipinya dengan keras memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Tetaoi dia harus bersabar sedikit karena kebahagiaannya tidak boleh terlihat oleh Kyra, jika tidak Kyra pasti akan curiga kepadanya.


Dan sampailah mereka di airport, setelah memarkir mobil, Gienka dan Kyra bergegas menuju pintu kedatangan. Sesuai jadwal, pesawat yang ditumpangi Kyros segera sampai. Kyra dan Gienka sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Kyros. Detik berlalu, menit berlalu mereka berdua menunggu dengan sabar.


"Ky....!!!" Teriak Kyra sambil melambaikan tangannya.


Gienka langsung mengarahkan pandangannya ke pintu kedatangan mencari dimana Kyros berada. Sampai akhirnya dia menemukannya. Kyros dengan wajah tampannya, berkacamata hitam serta senyumnya yang begitu manis membalas lambaian tangan Kyra sambil berjalan dan mendorong trolli berisi koper. Perlahan Kyros mendekati Kyra dan Gienka.


Kyra langsung memeluk kakaknya itu dengan sangat bahagia seraya mengungkapkan kerinduannya. "Ahhh akhirnya....! Aku sangat merindukanmu Ky..... Kau semakin tampan saja, apakah di luar angkasa ada salon khusus untuk astronot???" Tanya Kyra sambil tertawa.


"Dan kau masih sama saja, masih menyebalkan!" Ujar Kyros.


Kemudian Kyros mengarahkan pandangannya ke depan dan tersenyum ketika melihat Gienka. "Hai Gie??? Bagaimana kabarmu??" Tanya Kyros lalu menyalami Gienka.


"Aku baik...! Aku senang Ky melihatmu kembali dalam keadaan sehat!" Gienka tersenyum tetapi kemudian melirik ke arah tumpukkan koper yang ada di trolli Kyros. "Apakah kau tidak akan kembali lagi ke Amerika? Sampai-sampai pulang membawa koper sebanyak itu???" Tanya Gienka pada Kyros.


"Tidak... Aku hanya membawa 3 koper saja, sisanya adalah milik Camilla, dia tadi ke toilet jadi aku pergi keluar lebih dulu!" Kyros menoleh ke belakang lalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada seorang perempuan cantik yang berjalan menghampirinya.


Kyra melompat kegirangan melihat siapa yang datang bersama dengan Kakaknya. Dia adalah Camilla temannya ketika kuliah S2 dulu. Setelah lulus Camilla tidak langsung pulang melainkan memilih tetap tinggal di Amerika dan bekerja disana. Camilla langsung memeluk Kyra dan menanyakan kabarnya. Kebahagiaan Kyra menjadi double dengan kedatangan Camilla.


Sementara itu wajah bahagia Gienka langsung berubah menjadi sedih ketika melihat Camilla. Dia pernah mendengar dari Kyra bahwa Camilla sangatlah dekat dengan Kyros dan mereka bertiga yaitu Kyra, Kyros dan Camilla sering menghabiskan waktu bersama ketika sedang libur kuliah. Hati Gienka benar-benar sakit dengan apa yang ada di depannya saat ini. Tidak sesuai dengan ekspektasinya sama sekali.