
Hari sudah hampir senja, matahari mulai turun, Ariel terbangun dari tidurnya dan Maysa juga masih terlelap disebelahnya. Ariel menatap wajah cantik Maysa yang sedang terlelap. Mereka sudah melakukannya, Ariel merasa sangat senang dan menikmati tetapi ada perasaan bersalah dibenaknya. Ariel takut Maysa nanti menganggapnya hanya memanfaatkannya saja seperti mantan kekasihnya dulu.
Maysa membuka matanya dan menemukan Ariel sedang melamun menatap keluar jendela. Maysa mengumpulkan ingatannya lalu tersenyum mengingat apa yang terjadi tadi. Kemudian jemari Maysa mengusap lembut pipi Ariel, membuat lelaki itu tersadar dan menatapnya sambi tersenyum.
"Apa kau sudah bangun sejak tadi???" Tanya Maysa.
"Tidak juga! Aku baru bangun beberapa menit yang lalu, bagaimana tidurmu???"
"Aku sangat menikmatinya" Maysa mendekatkan tubuhnya dan memeluk Ariel. Mereka berdua tidak memakai apapun dibalik selimut, tubuh hangat Myasa menyentuh tubuh Ariel. Ariel membalas pelukan Maysa kemudian mengusap lembut ounggung perempuan itu.
"Aku minta maaf karena sudah melakukannya, aku tidak ingin kau menganggapku bajing*n atau menganggapku memanfaatkanmu, maafkan aku"
"Kenapa kau minta maaf, aku yang menyuruhmu, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, sudah hampir senja lebih baik kau mandi, aku harus kembali ke apartemenku, aku mencintaimu" Ucap Maysa lalu mencium pipi Ariel. Maysa menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan Ariel, kemudian turun dari tempet tidur dan memunguti seluruh pakaiannya yang tercecer.
Setelah memakai pakaiannya, Maysa kembali mendekati Ariel dan menanyakan apakah Ariel ingin dimasakkan sesuatu atau ingin makan malam diluar. Ariel pun melarang Maysa untuk memasak dan akan mengajak perempuan itu makan diluar sekaligus jalan-jalan karena ini hari libur, tentu sebagai sepasang kekasih mereka harus menikmati masa-masa ini dengan baik dengan berbagai kegiatan menyenangkan mengungat siang tadi Ariel disibukkan dengan pekerjaannya. Maysa kemudian berpamitan untuk kembali ke apartemennya.
*****
Pengacara pak Andi datang ke rumah untuk mengantarkan berkas-berkas yang diinginkan olehnya. Karena besok dia akan membawanya ke Bandung dan akan mengatakan semuanya pada Danist serta menyuruh putra sulungnya itu untuk menandatanginya setelah itu dia baru akan menjelaskan pada Ariel. Pak Andi juga sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima semua kemungkinan yang bisa terjadi. Baginya yang terpenting adalah mengungkap semuanya lebih dulu. Setelah menerima berkas-berkas itu, pak Andi membacanya dan mempelajarinya satu persatu memastikan bahwa semuanya sesuai dengan keinginannya.
"Bagus, ini semuanya sudah benar, aku akan menghubungi anda lagi jika ini sudah beres" Ucap Ayah Ariel pada pengacaranya.
"Pak Andi, apa anda benar-benar yakin dengan keputusan anda ini??? Bagaimana jika pak Ariel tidak bisa menerimanya??? Harusnya anda berbicara lebih dulu dengannya sebelum mengungkapkan pada putra sulung anda!"
"Jika aku mengatakannya pada Ariel, dia akan langsung marah kepadaku, aku hanya ingin Danist tahu tentang diriku lebih dulu, setelah itu urusan Ariel aku akan mencoba menyelesaikannya sendiri"
"Baiklah pak, segera hubungi saya nanti! Saya permisi dulu!"
Setelah kepergian pengacaranya, pak Andi membawa berkas-berkas itu ke ruang kerjanya, untuk mempelajarinya lagi.
******
Akhirnya hari ini tiba juga, malam nanti adalah acara resepsi pernikahan Elea dan Danist. Aditya dan Cahya juga sudah siap sejak semalam mengemasi pakaian mereka juga pakaian si kembar, karena mereka akan menginap di rumah Yongki untuk beberapa hari kedepan. Selain datang ke acara pernikahan Elea dan Danist, Aditya juga akan mengunjungi kantornya disana. Dan mereka sudah sampai dirumah keluarga Yongki, untuk kemudian sore nanti menghadiri akad nikah Elea dan Danist. Sedangkan Chika dan Ibu Cahya berada di mobil lain yang juga sudah dalam.perjalan kesini.
Kedatangan Cahya dan Aditya ke rumah itu tentu saja disambut hangat oleh orang tua Yongki, sayangnya Yongki tidak berada dirumah saat ini dan baru akan kembali sore nanti. Cahya memeluk Bibinya dan mencium punggung tangannya dengan sopan begitu juga dengan Aditya. Ayah Yongki menyapa kedua cucunya yang terbaring di stroller mereka.
"Akhirnya kalian membawa kedua cucuku datang kesini, sejak mereka lahir sampai sekarang kalian baru membawanya kesinj" Gumam Ayah Yongki dan membungkukkan punggungnya kemudian mencium Kyra dan Kyros.
"Jika bukan Yongki yang memintanya, mereka pasti tidak akan kesini" Sahut Ibu Yongki.
"Bukan begitu Bibi, kami memang sudah berniat mengunjungi kalian sebelumnya" Ucap Aditya.
Ibu Yongki kemudian mengantar mereka berdua ke kamar yang sudah disediakan. "Bibi harap, kalian nyaman tinggal disini"
"Tentu saja, dan Bibi harus bersiap karena kami akan sangat merepotkanmu nanti" Gumam Aditya sambil tersenyum.
"Itu tidak masalah, bahkan Paman dan Bibi juga sudah bersiap dengan kehebohan yang akan dibhat oleh kedua bayi kalian, silakan bereskan barang bawaan kalian, Bibi dan Paman akan mengurus Ky dan Kyra"
Ibu Yongki kemudian meninggalkan Aditya dan kembali ke ruang depan untuk bermain dengan cucunya yang saat ini bersama dengan suaminya. Aditya mengangkat kopernya dan menaruhnya diatas tempat tidur kemudian membukanya.
"Sayang, apa Ariel nanti akan datang???" Tanya Cahya.
Adityaenoleh dan tersenyum kepada istrinya itu. "Dia akan datang, tadi sudah memberitahuku"
"Dengan Maysa???"
"Tidak! Maysa tidak bisa meninggalkan kantor selama aku pergi, ada banyak yang harus dia urus"
"Owh... Aku kira dia akan datang bersama Ariel" Gumam Cahya lalu memindahkan pakaian-pakaiannya dari koper ke dalam lemari.
****
Sementara itu ditempat lain, pak Andi memanggil pengawalnya menyuruhnya untuk pulang dan mengambil berkas pembagian warisan yang dia tinggalkan diruang kerjanya. Dia lupa membawanya, dan setelah dari kantor dia akan langsung menuju tempat acara Elea dan Danist diadakan. Pengawalnya itupun langsung keluar dari ruangannya untuk pulang menuju rumah dan mengambil berkas itu.
Disisi lain, Ariel pulang ke rumahnya. Dia sudah memutuskan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Elea dan Danist untuk menghargai keduanya yang sudah datang mengatarkan undangan padanya, itu sebabnya hari ini dia kembali dari kantor lebih awal. Dan kepulangannya hari ini juga untuk mengambil beberapa barang miliknya serta buku-buku yang ingin dia bawa ke apartemennya.
"Ayah belum kembali dari kantor???" Tanya Ariel pada seorang pelayan dirumahnya.
"Tuan bilang dia nanti akan langsung ke Bandung untuk menghadiri pernkkahan nona Elea, apa tuan muda butuh sesuatu??"
"Tidak aku tidak sedang membutuhkan sesuati, aku datang kesini hanya untuk mengambil beberapa barangku saja dan akan langsung pergi"
Ariel kemudian naik ke kamarnya tak lama dia kembali turun dengan beberapa barang miliknya kemudian menuju perpustakaan dimana disana juga dijadikan ruang kerja oleh Ayahnya. Ariel berkeliling untuk mencari buku-buku yang akan dia bawa ke apartemennya.
Setelah mengambil beberapa buku, Ariel memundurkan kursi kerja Ayahnya dan duduk disana sambil bermain ponselnya. Setelah membalas pesan dari Maysa, Ariel berdiri lagi tak sengaja tangannya menepis dan menjatuhkan sebuah stofmap hingga membuat kertas-kertas yang ada di dalamnya berceceran di lantai. Ariel duduk berjongkok dan memungutinya, dia tidak sengaja membaca isi dari kertas-kertas.
Matanya terbelalak saat membacanya, kertas itu ternyata berisi penjelasan tentang pembagian hak waris. Ariel membacanya satu persatu dan terkejut saat ada nama seseorang disana. "Danistyar Pratama???" Gumamnya dengan bingung.
Ariel seperti tidak asing dengan nama itu, tetapi dia tetap melanjutkan membacanya. Sekali lagi dia dikejutkan dengan apa yang ada di kertas itu, disana sangat jelas tertulis bahwa Danistyar Pratama adalah putra sulung dari Ayahnya dan namanya tertulis sebagai putra bungsu.