SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 93



Mentari mulai bersinar, pagi pertama Cahya setelah meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama, dia bangun dan Aditya masih terlelap disampingnya dan melingkarkan tangannya diperut Cahya. Cahya harus segera bangun dan membantu menyiapkan sarapan, ia sangat merindukan suasana rumah, banyak hal menyedihkan yang terjadi sebelum Aditya membawanya pergi. Cahya harus memperbaiki semuanya, dan kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang menantu yang begitu disayangi oleh mertuanya. Cahya melepas perlahan tangan Aditya dan beranjak dari tempat tidur untuk segera mandi.


Setelah mandi Cahya mencoba membangunkan Aditya agar segera mandi dan juga sarapan tetapi tampaknya Aditya enggan bangun. "Aku masih mengantuk biarkan aku tidur sentar lagi, kamu sarapan saja dulu" Ucap Aditya dengan suara berat dan tidak membuka matanya.


"Ya udah lanjutin aja tidur kamu, aku ke bawah dulu" Cahya lalu mencium kening suaminya lalu meninggalkanya dan menutup pintu kamarnya.


Cahya menghampiri mbak Tina yang sedang menyiapkan bahan untuk memasak. "Selamat pagi mbak Tina, hari ini mau masak apa untuk sarapan? Biar aku bantu"


"Pagi non Cahya, senang sekali non sama tuan Muda sudah pulang, ini saya mau bikin nasi goreng, kebetulan tadi malam ibu minta dibuatkan nasi goreng untuk sarapan" Ucap Mbak Tina.


"Ya sudah aku saja yang bikin, mbak Tina potong bawang sama sayurnya ya?"


****


Setelah sarapan Cahya membuatkan jus dan membawanya ke kamar, beserta sepiring nasi goreng untuk Aditya. Ternyata Aditya masih belum bangun juga, Cahya menaruh nampan yang dibawa nya lalu mendekati suaminya yang sedang tertidur. Cahya membungkukkan badannya dan meniup-niup telinga Aditya agar suaminya itu terbangun. Aditya akhirnya terbangun dan langsung menarik Cahya membuat istrinya itu langsung tersungkur diatasnya.


"Aku bilang aku masih ingin tidur, kenapa kau terus saja menggangguku sayang?" Bisik Aditya parau.


"Ini sudah terlalu siang, ayo cepat bangun dan mandilah, aku sudah membuatkan nasi goreng untukmu"


"Kau ingin aku yang bangun atau ini yang bangun?" Aditya mengarahkan tangan Cahya diantara 2 pahanya.


"Ini bukan waktunya bercanda Adit, cepat bangun mandi dan sarapan, kau harus membantuku membereskan barang-barang kita di koper" Cahya mengangkat badannya dan pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Aditya pun beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi jika tidak Cahya tidak akan berhenti mengganggu tidurnya.


Cahya keluar dari ruang ganti setelah menyiapkan pakaian Aditya, dan merapikan tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian suaminya itu keluar dari kamar mandi, ternyata Aditya tidak mandi hanya mencuci muka dan menggosok gigi, dia bilang dia sedang malas untuk mandi.


"Aku sudah menyiapkan pakaianmu dan kau malah tidak mandi, ya sudah habiskan sarapanmu"


Aditya pun duduk di sofa dan sarapannya ada disana. Aditya termenung sejenak sambil memandang ke arah nasi goreng didepannya kemudian tersenyum karena mendapatkan sebuah ide untuk mengerjai istrinya.


"Aawwww" Teriak Aditya.


Cahya bergegas menghampirinya "Kenapa? Ada apa kenapa berteriak kesakitan? "


"Tanganku sakit karena kemarin aku menggendongmu sampai ke kamar, aku tidak bisa makan sendiri, mau kah kau menyuapiku?"


"Tadi kau tidak apa-apa kenapa sekarang kesakitan, kau bohong ya? Aktingmu tidak meyakinkan"


Aditya hanya tertawa ternyata memang dia tidak berbakat untuk mengerjai istrinya. Cahya pun mengambil piring itu untuk menyuapi Aditya. "Kau sangat konyol dan seperti anak kecil, ayo buka mulutmu?" Guman Cahya dan Aditya pun membuka mulutnya.


****


Suara ketukan pintu membuat Cahya beranjak dari duduknya dan membuka pintu, ternyata mbak Tina yang ada didepan pintu, dan mengatakan jika ibunya Cahya ada dibawah dan menunggunya serta Aditya. Bergegas Cahya dan Aditya langsung ke bawah serta menyuruh mbak Tina untuk membawa piring serta gelas bekas makan Aditya.


Melihat ibunya sedang duduk bersama Mama mertuanya, Cahya langsung berlari menuruni tangga dan memanggil ibunya. Cahya memeluknya erat dan cukup lama melepaskan kerinduannya.


"Aku sangat merindukan ibu"


"Ibu juga sama, sangat merindukan putri ibu, bagaimana kabarmu"


"Aku baik bu" Jawab Cahya dan melepaskan pelukannya.


"Ibu tahu kalian pasti masih lelah jadi biar ibu saja yang datang kesini"


Mereka akhirnya mengobrol dan Cahya banyak bercerita tentang berbagai hal. Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu untuk makan siang, Nyonya Harry pun mengajak Aditya, Cahya dan juga besannya untuk makan siang bersama. Setelah makan siang, ibu Cahya memutuskan untuk pulang agar putri dan menantunya bisa kembali beristirahat.


Setelah kepulangan ibu mertuanya, Aditya kemutuskan untuk berenang, rasanya sudah lama dia tidak melakukan kegiatan faforitnya itu. Cahya juga membuatkan suaminya jus dan mengantarnya ke halaman belakang dimana Aditya berada disana. Hari ini Cahya akan meminta sesuatu pada Aditya, yang sudah sejak lama diinginkannya saat berada di Swiss karena itu hanya bisa dilakukan disini.


"Jus untukmu sudah siap, naiklah dan minum ini" Teriak Cahya.


Aditya akhirnya naik dan menghampiri istrinya dan mengambil jus yang sudah dibuatkan untuknya.


"Thank you so much my love" Ucap Aditya dan langsung meminumnya.


Cahya menatapnya dalam, seperti ingin menyampaikan sesuatu padanya. Aditya pun menanyakan apa yang diinginkan istrinya itu.


"Adit, bisakah kau mengantarkanku ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Aku ingin berziarah ke makam anak kita dan juga Ayah, maukah kau mengantarku?"


"Tentu saja, kapanpun kau menginginkannya aku akan siap tetapi kau harus ingat, kau tidak boleh larut dalam kesedihan, kita kesana hanya berziarah dan berdoa bukan untuk bersedih, oke?"


Cahya pun menganggukkan kepalanya, dia memang harus menyiapkan dirinya agar tidak terus larut dalam kesedihannya jika mengingat bayinya.


"Kapan kau ingin pergi??" Tanya Aditya.


"Sore ini, bisa?"


"Baiklah, nanti jam 3 kita pergi"


****


Cahya dan Aditya membeli bunga tabur 2 bucket bunga mawar. Dan akhirnya sampailah mereka di Tempat Pemakaman Umum, dan berjalan menuju area pemakaman dimana Ayah Cahya dan bayinya dimakamkan disana.


Cahya langsung duduk berjongkok diantara makam Ayahnya dan bayinya. Dia mengusap lembut seraya meminta maaf karena baru bisa mengunjunginya. Airmatanya tak bisa dibendung, Cahya memeluk nisan bayinya. Aditya mencoba menenangkan istrinya dengan memegang kedua pundaknya.


"Tadi kau sudah berjanji untuk tidak bersedih, itu tidak baik, ayah dan Aaron tidak akan menyukainya, ayo kita berdoa untuk mereka"


Cahya dan Aditya mulai berdoa lalu menaburkan bunga di kedua makam tersebut. Setelah selesai, Aditya mengajak Cahya untuk kembali ke mobil dan pulang.


Saat dalam perjalanan pulang, Cahya penasaran dengan suatu hal. "Kenapa kau memberi nama bayi kita dengan nama Aaron? Apa artinya??? Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang hal itu?" Tanya Cahya.


Aditya menengok ke arah istrinya dan tersenyum.


" Aku pernah memberitahumu saat kau belum sadar setelah operasi dan nama itu memiliki arti Cahaya yang bersinar, kau tahu kan jika nama kita digabung akan memiliki arti Cahaya Matahari, jadi aku rasa nama itu cocok untuk bayi kita"


"Kau jahat sekali tidak memberitahuku tetapi aku sangat menyukai nama itu, andai saja aku tidak melakukan kesalahan pasti saat ini kita sudah mempersiapkan kelahiran bayi kita, dulu aku sangat ingin segera merasakan ketika bayiku akan menendang nendang perutku, tapi aku bukanlah ibu yang baik untuknya" Gumam Cahya sedih.


"Sudahlah, kau tidak perlu mengingat apa yang sudah terjadi, sekarang kita harus menjalani hidup yang lebih baik lagi"


Aditya menggenggam tangan Cahya untuk menguatkan istrinya.