
Cahya keluar dari kamar untuk membuatkan Aditya teh dan juga camilan, saat keluar dari pintu Cahya bertabrakan dengan Adri, membuat keduanya sama-sama terkejut. Adri meminta maaf karena tidak melihat jika kakak iparnya berjalan didepannya.
"Tidak apa-apa Adri, aku juga salah tidak melihat kedepan saat berjalan, kau mau kemana?" Tanya Cahya.
"Apa Kak Adit sibuk? Aku ingin berbicara dengannya"
"Tidak, dia baru selesai maghrib sekarang dia sedang menyalakan televisi dan memintaku untuk membuatkan teh untuknya, kau masuk saja"
Adri mengetuk pintu dan masuk ke kamar kakaknya. Adri melihat kakaknya sedang menonton televisi dan menghampirinya. Aditya tersenyum melihat kedatangan adiknya dan menyuruhnya untuk duduk.
"Kak, ada yang ingin ku bicarakan padamu"
"Ya, katakan saja, ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu, bicaralah"
****
Cahya yang sejak tadi mengobrol dengan Mama mertuanya melihat Adri sudah keluar dari kamarnya. Dia tidak jadi membuatkan Teh untuk Aditya setelah melihat wajah serius Adik iparnya saat menanyakan keberadaan Aditya padanya. Sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan Adri pada suaminya jadi Cahya memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.
Cahya berpamitan kepada Mama mertuanya untuk ke kamar memanggil suaminya dan mengajaknya turun untuk makan malam. Aditya memandang istrinya dengan tatapan kesal karena dia meminta Teh tetapi Cahya tidak membawakannya Teh padahal dia sudah menunggu sejak tadi.
"Mana teh ku??"
"Kita makan malam dulu setelah itu akan kubuatkan teh untukmu, ayo" Cahya menarik lengan Aditya tetapi lelaki itu menolak.
"Sudah sekitar 1jam aku menunggu tehku tetapi kau masuk malah tidak membawa apapun"
"Tadi kau sedang berbicara dengan Adri aku tidak mau mengganggu karena sepertinya itu pembicaraan yang serius, berhenti mengomel dan ayo cepat turun, lampiaskan amarahmu padaku nanti saja, sekarang ayo makan"
Aditya merengkuh Cahya dalam pelukannya dan mengatakan jika dia ingin melampiaskan amarahnya sekarang. "Adit, lepaskan aku, semua sudah menunggu kita dibawah" Cahya mencoba melepaskan tangan Aditya yang melingkar dipunggungnya.
"Aku tidak lapar, karena aku harus menghukummu sekarang, istriku terlihat semakin cantik sejak hamil, lihatlah pipimu semakin membengkak dan itu menambah keimutanmu, ayo aku harus menghukummu"
Cahya akhirnya bisa melepaskan pelukan Aditya saat tangan kanan Aditya menyentuh pipinya. "Ayo tuan Armand Aditya hentikan kekonyolanmu dan cepat turun kebawah untuk makan jika tidak, nanti malam kau akan kelaparan lalu aku akan marah jika nanti kau membangunkanku disaat aku sedang terlelap" Cahya mengecup pucuk hidung Aditya lalu meninggalkannya keluar kamar.
****
Setelah makan malam, Cahya membuatkan Aditya Teh, karena jika tidak, suaminya itu pasti akan bertambah kesal dengannya. Cahya teringat sesuatu, bahwa dia masih memiliki Asinan yang belum dia makan, segera dia meminta mbak Tina untuk mengambilnya dikulkas dan menghangatkan kuahnya dan dia juga mengambil buah untuk tambahannya.
Cahya membawa Teh untuk Aditya dan Asinan untuknya sendiri ke kamar. Saat masuk dia melihat Aditya sedang menelepon seseorang membahas pekerjaan, Cahya menaruh nampan diatas meja dan menyalakan televisi. Selesai menelepon Aditya menghampiri Cahya yang sedang asyik makan asinan, Cahya tersenyum dna menghentikan kegiatannya.
"Ini tehmu, minumlah dan jangan marah-marah lagi, kau serius sekali tadi saat berbicara ditelepon" Cahya memberikan Teh untuk Aditya.
"Dikantor Cabang? Memangnya ada masalah disana?"
"Tidak, aku hanya memberitahunya jika besok Adri akan datang kesana untuk interview"
"Interview???"
"Iya, Adri setuju untuk bergabung diperusahaan tetapi dia menolak ditempatkan dikantor utama, dia juga tidak ingin mendapatkan keistimewaan apapun dariku atau Papa, dia ingin mengawali semuanya sebagai staff biasa jadi dia memintaku untuk bersikap profesional, membiarkannya berusaha dengan kekuatannya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan itu, jadi aku memberitahu GM agar pihak Hrd menyiapkan test dan interview untuk Adri tetapi tetap harus memperlakukannya sama seperti orang lain bukan sebagai adikku, aku sangat bangga padanya dia telah menunjukkan bahwa kesuksesan harus dimulai dari nol"
"Syukurlah, aku juga turut berbahagia, habiskan tehmu, apa kau mau Asinan? aku menghangatkannya tadi, buka mulutmu"
Kebahagian terlihat jelas diwajah Aditya, senyumnya tidak hilang dari wajahnya karena sikap yang ditunjukkan Adri hari ini. Bahkan Adri melakukan semua ini karena dia ingin membuktikan bahwa dia bisa meraih kesuksesan dengan usahanya sendiri.
****
Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul untuk sarapan kecuali Adri, Aditya memberitahu kepada Papa dan Mamanya tentang keputusan yang diambil Adri. Walaupun Tuan Harry sempat terkejut dan menolak karena Aditya membiarkan Adri ditempatkan dikantor Cabang tetapi Aditya memberikan pengertian kepada Papanya agar menghormati keputusan yang sudah diambil oleh Adri sendiri. Dan bahwa Adri juga ingin mendapatkan identitasnya sendiri dan ingin membanggakan mereka dengan usahanya sendiri, selagi itu baik tentu saja akan memberikan dampak yang luar biasa untuk kehidupan Adri selanjutnya. Nyonya Harry juga sangat berbahagia atas keputusan yang sudah diambil oleh putra kesayangannya dan mencoba menenangkan suaminya.
"Papa tidak perlu khawatir, dan percayalah Adri pasti akan melakukan yang terbaik, lagipula dia juga tidak akan jauh dari kita, dia tetap akan pulang setiap hari, kantor kan juga masih diwilayah ini, lihat dia sudah datang" Ucap Aditya.
Adri datang dan terlihat sudah rapi, semua orang memujinya. Dan mereka juga mendoakan agar Adri berhasil hari ini.
"Stay Cool Dri, jangan pikirkan apapun dan fokus" Tutur Aditya.
"Iya kak, Thanks ya! Tapi kakak tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatku diterima kan??? Kakak sudah berjanji bahwa akan membiarkan aku berusaha sendiri"
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya meminta agar mereka menganggapmu seperti orang lain yang mencari pekerjaan jadi mereka akan profesional saat mewawancaraimu, kau bisa tenang, oh iya ya Ma, hari ini aku akan mengantar Cahya untuk ke rumah sakit lebih dulu sebelum ke kantor"
"Berhati-hatilah kalian, dan ayo sekarang kita sarapan"
****
Aditya dan Cahya sampai dirumah sakit, dokter mulai memeriksa Cahya. Dokter mengatakan jika kondisi kedua janin yang ada dikandungan Cahya dalam keadaan yang sehat dan perkembangannya juga sangat baik. Aditya menanyakan diusia berapa bisa melihat jenis kelamin dari bayi.
"Biasanya akan terlihat jelas diusia 18 minggu pak, jadi sabar dulu ya dan harus diingat, bu Cahya tidak boleh terlalu stres dan kelelahan agar tidak mengganggu perkembangan janinnya"
Dokter meresepkan obat dan vitamin untuk Cahya. Aditya mengantarkan Cahya pulang lebih dulu sebelum ke kantor. Selama perjalanan tangan Aditya tidak lepas mengelus perut Cahya, bersyukur dan merasa sangat bahagia tidak lupa berdoa agar istri dan calon buah hati mereka diberikan kesehatan sampai waktu kelahiran tiba. Selama hamil Cahya juga terlihat semakin cantik setiap harinya membuat Aditya tidak berhenti mengaguminya.
Disisi lain hari ini adalah hari kebebasan Theo, Theo sudah mempersiapkan kepulangannya. Hidupnya sudah hancur sejak hari pernikahannya, dia telah kehilangan semuanya, wajah tampannya juga sudah dirusak oleh Aditya dan bekasnya masih terlihat jelas, pria itu telah mengambil semua darinya. Bahkan dia juga saat ini tidak tahu dimana keberadaan Cyntia, menurut keluarganya Cyntia telah menghilang bersama orangtuanya, rumahnya juga sudah kosong sejak Cyntia bebas. Saat ini Theo harus memulai kehidupan yang baru dan pergi dari kota ini agar tidak dihantui bayangan masalalu yang sudah menghancurkan hidupnya saat ini. Ingatannya tentang Aditya selalu membuatnya diliputi kemarahan.