SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 363



Ariel, Aditya dan Cahya memasuki sebuah apartemen yang direkomendasikan oleh Ariel untuk melihat-lihat. Mereka meninggalkan Kyros dan Kyra di rumah Elea dan Danist, tentu dalam pengawasan bodyguard di luar rumah. Ariel memilih apartemen ini adalah karena dia memiliki beberapa unit disini dan juga Ariel merasa ini sangat cocok dengan keinginan Aditya. Sahabatnya itu memang selalu menginkan kenyamanan disetiap tempat yang akan ditinggalinya. Dan dia juga selalu mengatakan pada Aditya bahwa tidak akan pernah menyesal menginvestasikan uang di bisnis properti karena harganya tidak akan pernah mengalami penurunan. Itu sebabnya, Ariel sangat menyukai membeli unit apartemen dimana-mana, selain untuk investasi, bisa sekedar disewakan atau dijual lagi dengan nilai berlipat ganda. Dan Ariel sendiri akan memulai melebarkan sayapnya untuk membangun beberapa Apartemen di kota besar tahun depan. Bisnisnya tidak lagi hanya perpusat pada perhotelan, perumahan atau villa dan resort, dia harus pandai mencari peluang.


Mereka bertiga keluar dari lift dan berjalan menuju unit yang dimaksud oleh Ariel. Saat memasukinya kesan mewah dan nyaman sangat jelas terlihat. Ruang depan yang begitu luas dimana ada sofa-sofa berjejer dan menghadap ke private pool yang panjang dengan pemandangan kota yang sangat cantik dibawah. Tersedia 2 kursi dan sebuah meja di balkon yang sangat cocok digunakan menikmati pemandangan senja sambil minum kopi. Ruang tamu itu juga terhubung langsung ke dapur dan ruang makan tanpa sekat, dengan sebuah piano yang ada disana menambah kesan elegan. Disisi kanan ada 3 kamar yang juga sangat bagus dan ketika tirai atau gordennya dibuka langsung disuguhi oleh pemandangan kota dan jalanan dibawah sana.


Kamar utama terlihat begitu maskulin dengan ranjang lebar juga balkon, serta kamar mandi yang begitu luas. Serta ada walk in closet mini yang bisa digunakan menyimpan tas, jam tangan, baju serta sepatu. Dikamar lainnya, tidak terlalu luas tetapi itu terlihat sangat cocok untuk dijadikan kamar Kyros, dan memiliki balkon juga.Aditya berpikir bahwa nanti dia akan meletakkan teleskop Kyros disana agar anaknya itu bisa menikmati pemandangan langit malam dan mengamati bintang dilangit yang menjadi kesukaannya. Dan kamar satunya bisa digunakan oleh Kyra. Selama ini Kyra dan Kyros masih berada dikamar yang sama yang terhubung langsung dengan kamar Aditya dan Cahya. Itu sebabnya Aditya ingin merenovasi total rumahnya dan membuatkan kamar untuk Kyra dan Kyros sendiri-sendiri, juga ingin menambah satu lantai lagi. Dan di apartemen ini dia akan melatih kedua anaknya agar berani tidur sendiri-sendiri dan berbeda kamar dengannya dan Cahya. Sebenarnya di rumahnya masih ada beberapa kamar kosong yang bisa dimanfaatkan untuk kamar 2 bocah itu, tetapi Aditya ingin suasana baru, karena rumahnya itu tidak pernah mengalami banyak perubahan sejak dulu, dan sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.


Sementara di bagian belakang terdapat ruangan keluarga dengan televisi besar dan juga masih terhubung dengan balkon, serta sebuah ruangan perpustakaan kecil yang bisa dijadikan sebagai ruang kerja. Ada lorong penghubung ruang deoan dan belakang yang bisa dijadikan untuk area bermain Kyra dan Kyros, juga 2 kamar tamu, jadi total ada 4kamar di apartemen ini.


"Bagaimana Dit?? Ca??? Apa kalian menyukainya??? Jika tidak, aku akan carikan yang lain!" Ucap Ariel.


Aditya menoleh ke arah Cahya yang ada disebelahnya. "Aku menyukainya tetapi semua terserah Cahya saja!"


"Apa ini milikmu Iel???" Tanya Cahya.


"Kebetulan aku memiliki 6 unit disini Ca, dan ini yang paling premium karena memiliki 5 kamar, aku memilih ini untuk kalian karena ini yang paling dekat dengan tempat yang akan ditinggali mertuamu, jadi tidak butuh waktu lama saat kau ingin mengantar Kyra dan Ky menemui oma opa nya, dan kurasa ini juga sangat cocok dengan apa yang diinginkan Aditya"


"Kau selalu saja tidak pernah tanggung-tanggung ketika memilih sesuatu" Gumam Cahya pada Aditya.


Aditya tersenyum. "Semua untuk kenyamananmu dan anak-anak". Aditya melihat ke arah Ariel. "Iel, kurasa aku akan membeli ini, berapa harga yang kau inginkan jika aku membelinya?"


"Membelinya??? Untuk apa??? Kita sudah memiliki rumah!" Protes Cahya.


"Kau ini, kita bisa membelinya untuk koleksi saat kita bosan dengan suasana rumah" Jawab Aditya dengan entengnya.


"Tidak...! Rumah kita akan direnovasi dengan alasan kau bosan sekarang dengan alasan yang sama lagi kau ingin membeli ini, tidak...!!!"


"Sayang...!! Ingatlah kalau properti adalah investasi yang sangat bagus, aku sudah menurutimu dengan mengurungkan niatku saat aku ingin membeli mobil lagi, kau bilang daripada uang dihabiskan untuk menambah mobil dan hanya menyetujui mengganti mobil saja karena lebih baik diinvestasikan, nah ini yang paling cocok, benar kan Iel???"


Ariel terkekeh melihat kedua orang yang ada didepannya itu berdebat. Dia masih teringat dulu, pasca Aditya kecelakaan dan sembuh, Aditya melanjutkan lagi niatnya untuk membeli rumah yang ada di kawasan tempat tinggalnya sekarang, dan itu membuat Cahya marah dengan Aditya. Tetapi bukan Aditya namanya jika tidak bisa meyakinkan Cahya. Dan untuk kesekian kalinya Aditya dibantu olehnya melakukan hal ini lagi. Ariel tahu bahwa Aditya saat ini sedang meminta bantuannya untuk meyakinkan Cahya lagi.


"Ya Ca, akemarin aku juga baru saja menjual satu unit milikku disini seharga 7,8 M, tahun lalu aku hanya membelinya 5,9 M saja, kurasa Adit benar memiliki 1 unit disini akan sangat bagus, dan untuk unit yang seperti ini harganya nanti bisa 2x lipat"


Aditya dan Ariel tersenyum melihat kejengkelan Cahya, tetapi mereka tahu bahwa Cahya menyetujui keinginan Aditya. Dan setelah berkeliling, mereka pun memutuskan untuk kembali.


******


Setelah sampai, Cahya kembali lagi ke rumah Elea, sementara Aditya dan Ariel akan berbicara tentang pembelian apartemen tadi di rumah Ariel. Saat Ariel dan Aditya hendak naik ke tangga, sebuah mobil hitam memasuki halaman depan rumah Ariel.


Dahi Ariel berkerut saat mengetahui siapa yang datang. Ternyata itu adalah pengacara Ayahnya yang dulu diminta untuk mengurus peralihan seluruh aset miliki Ayahnya. Dan entah apa lagi yang akan mereka lakukan dengan datang kesini.


"Siapa???" Tanya Aditya.


"Itu pengacara Ayahku yang mengurus pembagian asetnya! Aku tidak tahu hal apa lagi yang akan mereka bicarakan disini!"


Pengacara itu datang bersama rekannya dan menghampiri Ariel kemudian menyalaminya.


"Ada perlu apa kalian datang??? Aku sudah tidak ada urusan apapun dengan kalian? Atau jangan-jangan Ayahku belum membayar jasa kalian, jadi kalian mendatangiku???"


"Tidak pak Ariel, kami datang bukan untuk hal itu melainkan ada hal lain yang harus kami sampaikan, mengenai amanat dari almarhum pak Andi, bisakah kami masuk dan membicarakan ini dengan anda di dalam???"


Ariel menggelengkan kepalanya dan menolak permintaan pengacara itu, karena merasa dia sudah tidak ada urusan apapun dengan Ayahnya. Tetapi kemudian Aditya memberitahu Ariel agar memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan apa yang menjadi amanat dari mendiang Ayahnya, karena mungkin adalah sesuatu yang penting. Ariel pun menyutujuinya dan mengijinkan pengacara itu untuk masuk.


"Well, langsung saja apa yang ingin kalian katakan padaku setelah itu pergilah" Ucap Ariel.


"Kami datang untuk menyampaikan sesuatu atas amanat pak Andi beberapa hari sebelum beliau meninggal, juga kami sudah menemui pak Danist kemarin untuk meminta tanda tangannya dan beliau sudah menandatanginya menandakan bahwa beliau menyetujui semua yang sudah tertulis di berkas ini"


Pengacara itu kemudian membuka berkas yang di bawanya lalu membacakan semua isinya di depan Ariel dan Aditya. Dimana itu berisi wasiat dari mendiang pak Andi atas persetujuan dari Danist juga. Disana tertulis bahwasannya seluruh aset serta perusahaan yang dimiliki pak Andi akan diberikan kepada Ariel, bukan lagi 50% tetapi 100% atas nama Ariel. Dan jika Gienka sudah dewasa, Ariel berhak untuk memberikan semuanya kepada Gienka, karena Danist menolak segala pemberian dari pak Andi, baik itu berupa uang, cek, aset berupa rumah, tanah, perusahaan, bangunan atau barang apapun. Danist menolak atas namanya ataupun atas nama Friddie, karena yang lebih berhak atas semuanya hanyalah Ariel sebagai anak yang sah secara hukum. Dan semua itu sudah disetujui oleh Danist sebelumnya dan saat semua berkas ini siap, Danist secara legowo menandatanginya tanpa paksaan atau tekanan dari siapapun. Dan Danist tidak akan pernah menuntut apapun dari Ariel karena dia tidak ingin hanya karena sebuah warisan hubungannya dengan Ariel akan semakin memburuk yang justru bisa mengganggu perkembangan Gienka nanti ke depannya.


"Itulah amanat dari mendiang pak Andi, dia sudah bertanda tangan di surat ini, sementara di salinan berkas kami pak Danist juga sudah menandatanganinya, ambil berkas ini dan anda bisa membacanya sendiri sebelum menandatanganinya, kami akan meninggalkannya disini, kami harap anda tidak mempersulit tugas kami karena ini amanat yang besar yang harus segera diselesaikan, dan hubungi kami segera ya pak jika sudah selesai, kami permisi dulu"


Pengacara itu menyalami Aditya dan Ariel lalau pergi. Tetapi Ariel dan Aditya masih di buat terkejut oleh apa yang baru saja mereka dengar. Hal sebesar itu ditolak oleh Danist dengan alasan untuk kebaikan hubungannya dengan Ariel juga Gienka. Aditya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap bijaksana dari Danist. Aditya berharap Ariel bisa segera meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Danist