SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 349



Setelah berjalan-jalan di pantai sambil melihat sunset, Cahya dan Aditya membawa Kyra dan Kyros kembali ke villa. Kedua bayi itu terlihat sangat senang sekali, ini pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di pasir pantai walaupun Kyros ketakutan saat Aditya mencoba menyentuhkan kakinya di air laut. Tetapi kepolosan kedua bayi itu justru membuat Cahya dan Aditya tidak berhenti tertawa melihatnya.


Ditengah perjalanannya menuju villa, Cahya mengangkat telepon dari Elea yang menghubunginya. Wajah Cahya terlihat berbinar saat mendengarkan suara Elea diseberang teleponnya.


"Sorry ya El aku tidak bisa membantumu, tapi aku janji, aku dan Adit juga anak-anak akan segera mengunjungi kalian selepas dari sini" Cahya kemudian menutup teleponnya.


"Elea dan Danist akan pindah besok, jika tahu seperti itu kita kan bisa menunda perjalanan kita kesini dan membantu mereka"


"Danist sudah memberitahuku bahwa dia akan pindah tetapi dia tidak mengatakan tanggalnya, oh iya memangnya mereka akan tinggal dimana?? Aku belum sempat menanyakan itu pada Danist" Tanya Aditya.


"Cluster Supernova! Itu yang Elea katakan padaku"


"Cluster Supernova???? Kau serius???" Seru Aditya karena yang dia tahu Ariel juga tinggal disana saat ini.


Cahya menganggukkan kepalanya dan menceritakan pada Aditya bahwa rumah yang baru saja di beli oleh Danist dan Elea adalah rumah bekas sitaan dari Bank dan harganya jauh dibawah standart harga rumah yang ada di tempat itu. Dari cerita Cahya, Aditya langsung bisa menyimpulkan bahwa rumah itu sepertinya adalah rumah yag diceritakan oleh Ariel beberapa waktu yang lalu. Yang artinya Elea dan Danist akan bertetangga dengan Ariel, bahkan tempat tinggal mereka saling berhadap-hadapan. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan dan tidak pernah disangka. Aditya berharap dengan hal ini, hubungan Ariel dan Danist bisa membaik, juga pasti akan memudahkan mereka untuk mengasuh Gienka. Ariel juga bisa melihat Gienka setiap harinya.


*****


Keesokan harinya....


Setelah berolahraga pagi dan menikmati sepiring omelete, Ariel naik ke kamarnya membawa secangkir kopi dan membuka gorden pintu kaca arah balkonnya. Dia meletakkan kopi itu di sebuah meja yang ada dibalkon itu, disana juga ada sebuah kursi yang memang biasa dia gunakan untuk bersantai saat sore hari sepulang kerja sambil menikmati pemandangan di luar. Ariel kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil laptopnya karena ada pekerjaan yang harus dia periksa, kemudian keluar lagi ke balkon lalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


Setelah duduk hampir satu jam, Ariel mengangkat kepalanya dari fokusnya ke laptopnya sejak tadi. Ariel mengambil cangkir kopi yang sudah dingin itu dan meminumnya sampai habis. Saat sedang menyandarkan tubuhnya di kursi, Ariel melihat sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah yang ada di depannya. Tak lama beberapa laki-laki keluar dari mobil itu dan membuka terpal penutup box terbuka. Ada beberapa koper serta barang-barang di dalam kardus. Kemudian salah seorang dari mereka menurunkan sesuatu yang sepertinya itu adalah sebuah stroller bayi yang terlipat, dan disusul barang lainnya. Ariel berasumsi bahwa sepertinya rumah di depan akan segera ditempati.


Ariel duduk sambil tersenyum melihat orang-orang itu tengah sibuk menurunkan semua barang yang ada di mobilnya. Hingga akhirnya sebuah mobil mewah memasuki halamn rumah itu kemudian memarkirkannya langsung ke dalam garasi. Sebuah mobil yang sepertinya tidak asing lagi bagi Ariel tetapi Ariel mencoba untuk tidak berpikir lebih jauh karena mobil seperti itu sangatlah banyak yang memilikinya.


Danist keluar dari mobilnya dan setengah berlari menghampiri orang-orang yang sedang sibuk menurunkan barangnya dari mobil pickup itu. "Pak tolong sekalian bawa naik ya?? Aku akan membuka pintunya" Pinta Danist dan dia pun bergegas naik ke lantai dua untuk membuka pintu rumah barunya agar para pekerja itu membawa semua barangnya ke atas.


Ariel masih memperhatikan kesibukan orang-orang itu tetapi kemudian dia mengernyit saat melihat laki-laki yang tadi keluar dari garasi menaiki tangga dan membuka pintu rumah itu. "Danist????" Gumamnya.


Masih tidak percaya dengan yang dilihatnya, Ariel berdiri dari duduknya dan mendekat ke pembatas balkonnya untuk memastikan lagi. Dan benar saja itu adalah Danist. Tak lama setelah itu, Ariel melihat Mama Elea juga keluar dari garasi dan dibelakangnya ada Elea yang menggendong Gienka.


"Gienka??? Jadi mereka yang akan meninggali rumah itu sekarang???" Gumam Ariel lagi.


Ariel masih tidak menyangka bahwa dia akan bertetangga dengan Elea. Tetapi senyumnya tersungging dibibirnya menyadari bahwa dia akan lebih dekat dengan Gienka dan bisa setiap hari menemuinya nanti.


"Bagaimana Ma? Rumah ini sangat bagus bukan???" Tanya Elea pada Mamanya.


"Suamimu memang pandai, dia memilih tempat yang sepertinya sangat nyaman untuk ditinggali"


"Saat masuk Mama pasti akan menyukainya, ayo kita masuk, ada ruang keluarga dan kolam renang di dalam" Ucap Elea.


Ketika akan membalikkan badan untuk masuk lagi, tiba-tiba Gienka berteriak sangat keras dan tangannya menunjuk sesuatu ke arah depan rumah. Elea dan Mamanya langsung mengarahkan pandangannya ke rumah yang ada di depan rumah mereka. Elea dikejutkan dengan laki-laki yang berdiri di balkon rumah itu, tidak salah lagi itu adalah Ariel. Pantas saja Gienka dengan mudah bisa menemukan keberadaan Ariel karena ikatan bayi itu sangat kuat saat Ariel ada di dekatnya.


Elea jadi teringat cerita dari Cahya bahwa Ariel memutuskan pindah dari apartemennya setelah mengakhiri hubungannya dengan Maysa. Apa mungkin Ariel juga tinggal disini.


Ariel juga melihat ke arah Elea yang tampaknya sejak tadi memandang ke arahnya, dan berpikir bahwa sepertinya Elea menyadari tentang keberadaannya. Ariel tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Elea dan Gienka. Tanpa pikir panjang, Ariel masuk ke kamarnya dan berlari turun dari tangga untuk menemui putrinya. Dia sudah sangat merindukan Gienka, dan mungkin keinginanya selama ini untuk membawa Gienka ke rumahnya bisa terwujud. Ini kesempatan bagus untuk menghabiskan waktu bersama Gienka, mengingat Elea dan suaminya pasti akan sibuk berbenah setelah kepindahan mereka.


Ariel menghampiri Gienka dan napasnya terengah karena berlari, saat itu juga Danist melihat kedatangan Ariel. Danist turun dan menghampiri Ariel yang mengambil Gienka dari gendongan Elea.


"Aku tidak menyangka kalian akan pindah ke rumah ini, aku senang sekali mendapati bahwa aku bisa dekat dengan putriku" Ucap Ariel.


"Kau juga tingga disini???" Tanya Elea.


"Ya, aku sudah disini sekitar 2 minggu yang lalu, aku ada proyek besar yang harus kutangani disini jadi kirasa itu sangat baik jika tinggal disini, kalian pasti sibuk beberes, bolehkan aku membawa Gienka ke rumah??? Ya ku pikir agar kalian tidak terlalu direpotkan olehnya" Ujar Ariel sambil melihat ke arah Elea dan Danist yang saling berpandangan.


"Jika tidak boleh tidak apa, mungkin besok-besok kalian mau mengijinkanku membawanya bermain dirumahku"


"Bawa saja dia bersamamu" Jawab Danist singkat kemudian menyuruh Elea mengambil beberapa mainan milik Gienka yang ada di mobil agar nanti bayi itu tidak menangis.


******


Beberapa hari kemudian.....


Aditya dan Cahya baru saja tiba dari berkunjung ke tempat tinggal baru Elea dan Danist. Cahya membawa banyak oleh-oleh untuk mereka dan merasa sangat senang karena Elea menemukan suami yang sangat baik seperti Danist dan mereka terlihat sangat berbahagia. Cahya baru tahu jika Ariel juga tinggal di depan rumah mereka, bahkan tadi dia sempat memarahi Aditya karena tidak memberitahjnya tentang hal itu.


Liburannya kemarin selama beberapa hari juga membuat Cahya sangat bahagia. Dia dan Aditya hanya menghabiskan waktunya di villa saja seharian, dan hanya akan keluar ketika ingin membeli makanan atau bahan makanan. Mereka menghabiskan waktu untuk berenang, berjalan-jalan di pantai, menonton film, bermain bersama Kyra dan Kyros dan tentunya memanfaatkan waktu yang tepat untuk mereka dengan bercinta, itu adalah hal yang paling menyenangkan untuknya dan Aditya.


Cahya merasa ini adalah honeymoon keduanya bersama Aditya, karena mereka tidak ada habisnya untuk berhubungan di seluruh penjuru ruangan di villa itu saat Kyra dan Kyros tidur. Bahkan mereka juga pernah melakukannya secara diam-diam saat kedua bayi mereka sedang sibuk bermain, tentu dengan tetap berusaha mengawasi keduanya karena Kyra dan Kyros sering menarik rambut satu sama lain hingga salah satu dari mereka akan menangis.


Cahya dan Aditya juga sering melakukannya di beranda belakang tanpa takut siapapun bisa mengintip mereka karena tempat itu memang sangat pribadi dan tidak ada yang akan bisa memasukinya tanpa masuk dari pintu depan villa, itupun tentu harus atas persetujuan Aditya tentunya. Semua percintaan itu tidak pernah ada habisnya, benar-benar serasa seperti bulan madu.


Cahya selalu bersyukur memiliki Aditya yang begitu mencintainya. Dan berharap agar selalu bisa bersama Aditya selamanya hingga maut memisahkan mereka. Selalu berbahagia dan membesarkan Kyra dan Kyros sampai kedua bayi itu dewasa nanti. Cahya tidak bisa hidup tanpa Aditya walau hanya sehari saja, dan ingin selalu bersamanya saat Aditya kembali dari kantor. Cahya merasa saat ini hidupnya sangatlah bergantung pada Aditya, karena lelaki itu selalu mengerti apa keinginannya dan berusaha membuatnya selalu bahagia setiap detiknya. Cahya ingin kebahagiaannya dan Aditya bertahan selamanya dan tidak ada lagi yang berusaha menghancurkan kehidupan mereka.


Selama perjalanan kembali dari rumah Danist dan Elea, Cahya tidak melepaskan pegangan tangannya pada jemari Aditya yang ada disampingnya dan sedang fokus mengemudi. Sementara Kyra dan Kyros ada di car seat mereka di belakang. Aditya mendapat panggilan dan mengambil earphone kemudian mengangkatnya.


"Ya....!" Jawab Aditya.


"Apa....!!!!? Bagaimana bisa??? Oke aku akan kesana sekarang tetapi aku akan mengantar istri dan anakku pulang lebih dulu, akan sampai dalam beberapa jam" Aditya kemudian menutup teleponnya.


Wajah Aditya berubah menjadi kesal, membuat Cahya menanyakan apa yang terjadi. Aditya memberitahu jika ada permasalahan dan dia harus menemui seseorang untuk menyelesaikannya, setelah ini dia harus berangkat ke luar kota.


"Apa harus sekarang??? Ini sudah malam sayang, tidak...!! Aku tidak akan mengijinkanmu, kita juga baru sampai disini siang tadi, kau pasti lelah sekali"


"Tidak bisa, aku harus menyelesaikannya sekarang, aku akan mengantarmu dan anak-anak pulang, kau langsung istirahat ya???"


"Apa kau benar-benar tidak bisa menundanya sampai besok???" Tanya Cahya lagi.


Aditya justru menggelengkan kepalanya dan tersenyum meminta pengertian istrinya. Cahya menyarankan agar Aditya menghubungi Marco agar bisa mengantarnya, tetapi Aditya menolak karena tidak ada waktu untuk menunggu kedatangan Marco.


Sampailah mereka dirumah, Aditya memanggil asisten rumah tangganya agar membantu Cahya membawa Kyra ataupun Kyros masuk ke dalam rumah. Aditya memegang kedua bahu Cahya dan tersenyum dengan sangat manis menatap wajah cantik istrinya. Sementara Cahya tidak berekspresi apapun, entah kenapa dia memiliki firasat yang sangat buruk. Cahya memasang wajah memelas agar Aditya tidak pergi sekarang dan pergi besok saja, tetapi Aditya tetapi tidak bisa melakukannya karena ini sangat urgent.


"Jangan khawatirkan apapun, aku akan segera kembali nanti, kau istirahat dan jaga anak-anak, aku sangat mencintaimu" Ucap Aditya lalu mengecup kening Cahya dan memeluknya sangat erat.


Ada perasaan aneh yang menggelayuti Cahya, entah kenapa dia merasa tidak rela melepaskan Aditya pergi, bathinnya menolak keras tetapi suaminya itu tetap memaksa harus pergi dan tidak bisa di tunda. Cahya tidak bisa berbuat banyak selain membiarkan Aditya pergi.


Aditya mencium kedua bayinya dan mengusap kening mereka kemudian masuk ke dalam garasi dan menyalakan mobil kantor yang sementara ini dibawanya pulang. Keluar dari garasi, Aditya menurunkan kaca pintu mobil itu dan melambaikan tangan ke Cahya yang tengah menggendong Kyros dan Kyra ada di gendongan asisten rumah tangganya. Tiba-tiba airmata Cahya menetes di pipinya, dia menyekanya dengan cepat dan tidak mengerti kenapa dia menangis saat Aditya pergi, padahal biasanya tidak seperti ini.


******


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jama, Aditya akhirnya sampai di sebuah restoran untuk menemui kliennya yang tiba-tiba ingin memutuskan kerja sama dengan cabang perusahaannya yang ada di kota inj tanpa alasan yang jelas. Tentu Aditya tidak bisa membiarkan itu terjadi begitu saja, dia harus bisa meyakinnya agar tetap menjalin kerjasama dengannya. Ternyata direktur dari cabang perusahaannya disini tidak bisa meyakinkan orang itu dan meminta agar Aditya datang sendiri menemuinya karena jika tidak, besok perusahaan itu akan menghentikan kontrak kerjasamanya.


Aditya turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke restoran itu dengan terburu-buru. Saat Aditya sudah masuk, muncullah seorang laki-laki dari arah lain dan berjalan menuju mobil Aditya dengan mengendap. Dia telah ditugaskan untjk melancarkan aksinya dengan memutus rem mobil Aditya sehingga membuat lelaki itu mengalami kecelakaan. Setelah mendekati mobil Aditya, dia duduk berjongkok dan masuk ke kolong mobil Aditya dengan membawa gunting di tangannya. Dengan bantuan senter dari ponselnya lelaki itu akhirnya menemukannya dan tanpa pikir panjang langsung memotongnya setelah itu dia keluar dari kolong dan berjalan menyebrang ke sisi jalan raya dimana disana dia sudah ditunggu oleh seseorang yang akan membayarnya.


Amplom cokelat itu berisi uang, Regan memberikannya pada lelaki itu sebagai bayaran atas hasil kerjanya. Regan berhasil menjebak Aditya dengan mengancap rekanan kerja Aditya agar pura-pura ingin memutuskan kontrak kerjasama mereka dan akhirnya berhasil juga, Aditya datang kesini. Regan juga sudah membayar salah seorang staff di kantor Aditya untuk mendapatkan info tentang Aditya karena setelah Aditya memutuskan menolak ajakan kerjasamanya dengan perusahaan Andrew bosnya. Regan kehilangan jejak Aditya yang ternyata memilih membawa mobil kantor dan tidak memakai mobilnya sendiri menandakan bahwa Aditya sudah bisa menebak rencananya yang akan mengawasi gerak gerik dari lelaki sombong itu.


"Hallo bos, rencana sudab berhasil, kita tinggal menunggu kabar baik tentang Aditya yang angkuh itu" Ucap Regan pada Andrew yang ada di ujung telepon.


****


Setelah bernegosiasi dengan cukup alot, akhirnya pria itu membatalkan niatnya untuk mengakhiri kerjasama dengan perusahaan Aditya. Aditya merasa sangat senang sekali, dan mereka saling berpamitan untuk pulang. Aditya masuk ke mobilnya lalu teringat bahwa dia harus memberitahu Cahya kalau dia akan segera pulang. Aditya mengirim pesan pada istrinya itu agar tidak terlalu khawatir, setelah itu Aditya mulai menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan area restoran itu.


"Sepertinya aku harus sampai rumah lebih cepat, mungkin lebih baik aku mencari jalur alternatif saja daripada harus menembus kemacetan, Cahya pasti akan sangat khawatir jika aku tidak lekas sampai dirumah" Aditya membelokkan mobilnya ke arah jalan lain yang nanti akan tembus ke jalur alternatif walaupun dia tahu bahwa jalur itu dikelilingi oleh jurang dan hutan tetapi akan lebih cepat sampai.


Aditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun ingin sampai rumah tetapi dia harus fokus ke jalan dan berhati-hati. Ada tikungan yang cukup tajam di depan dengan turunan juga , perlahan Aditya membelokkan mobilnya tetapi tiba-tiba ada sebuah mobil di depannya yang berhenti mendadak membuat Aditya terkejut dan langsung mencoba menginjak rem mobilnya. Aditya panik saat menyadari rem mobilnya blong, karena sudah dekat dan sisi kanan sedang ramai kendaraan membuat Aditya membanting stir ke kiri dan mobilnya otomatis menabrak pembatas jalan. Sayangnya karena ini jalan turunan, mobil Aditya melaju dengan sangat kencang. Tak disangka justru pembatas jalan itu putus dan membuat mobil Aditya terjun bebas ke jurang.


Aditya berusaha melepaskan seat beltnya dan keluar dari mobilnya saat berhasil keluar, tubuhnya justru terlempar. "Cahya.....!!!!!" Teriak Aditya lalu seketika mejadi gelap dan tubuh Aditya berguling-guling jatuh ke dalam jurang.