
Kyros dan Gienka membongkar belanjaan mereka, berupa buah, sayur dan protein seperti daging dan juga ikan. Mereka pergi berbelanja ketika sudah menjelang sore karena terlalu sibuk dengan kegiatan mereka sebagai pengantin baru. Gienka sangat bersemangat ketika berbelanja hingga tidak sadar bahwa mereka membeli banyak sekali aneka bahan makanan.
"Aku baru pertama kali belanja sebanyak ini, biasanya aku hanya berbelanja seperlunya saja ketika aku ingin makan sesuatu, itu saja yang aku beli, dan besoknya akan berbelanja lagi...! Tapi karena aku sudah memiliki istri maka kebiasaanku akan berubah...!" Kyros mendaratkan kecupan di pipi Gienka.
"Kau ingin makan malam apa?" Tanya Gienka.
"Terserah... Aku akan memakan apapun yang dibuat oleh istriku...! Aku juga akan membantumu!"
Gienka mengangguk lalu memutuskan untuk membuat aglio olio saja karena itu sangat simple. Kyros mencincang bawang putih dengan cepat dan terlihat sangat ahli, membuat Gienka memujinya. Kyros pasti sudah terbiasa melakukan apapun sendiri mengingat dia sudah lama tinggal sendirian jauh dari ruman dan pasti hal seperti ini sudah menjadi kebiasaannya.
Kyros tersenyum sambil melirik ke arah istrinya yang sedang sibuk memotong jamur dan smoke beef. Inilah yang selama ini di inginkannya, bisa menikmati waktu berdua dengan istrinya. Memasak, mengobrol dan melakukan banyak aktifitas menyenangkan bersama orang yang dicintai itu sangatlah luar biasa. Gienka sekarang sudah memenuhi semua impiannya selama ini. Dan bagi Kyros ini bukanlah masa pengantin baru, melainkan masa pacaran yang sangat nikmat karena mereka bisa melakukan apapun tanpa harus takut memikirkan batasan. Kedatangan Gienka kesini membuat semuanya jadi terasa lebih menyenangkan.
Bagaimana dengan Camilla?
Kyros sebenarnya merasa bersalah sekali dan apalagi sekarang melihat Camilla tampak marah sekali kepadanya. Kyros tidak tahu bagaimana caranya bisa memperbaiki hubungannya dengan Camilla seperti sebelumnya. Disisi lain dia juga tidak bisa memaksa Gienka untuk dekat atau berteman dengan Camilla, karena dia tahu betul bagaimana sifat dari istrinya itu ketika sudah tidak menyukai seseorang maka akan sangat sulit untuk didekatkan, karena yang ada Gienka pasti jadi tidak nyaman karena dipaksa melakukan hal yang tidak ingin dilakukan olehnya.
Gienka menoleh kearah suaminya yang sedang memegang pisau tetapi menghentikan kegiatannya mencincang bawang putih dan malah sibuk melamun. Gienka pun memanggilnya dan Kyros sedikit terkejut karena itu. "Ya....! Ada apa???" Tanya Kyros sambil melempar senyumnya.
"Garlicnya sudah apa belum?? Kenapa malah melamun??? Apa yang kau pikirkan???" Tanya Gienka balik.
"Ah tidak sayang...! Sudah sudah ku rasa ini sudah cukup, berikan olive oilnya aku akan merendamnya...!" Ucap Kyros kemudian sambil mengambil botol olive oil dari tangan Gienka.
Kyros menuang olive oil ke pan yang sudah diberi cincangan bawang putih tadi dan menunggunya beberapa saat. Sementara Gienka masih merebus pastanya.
"Aku nanti akan menelepon Papa, aku meninggalkan pekerjaan ku begitu saja kemarin dan ada beberapa berkas yang harus ke selesaikan jadi aku harus bertanya beberapa hal padanya...!" Gumam Gienka sambil mengaduk rebusan pasta nya.
"Apakah kau akan bergantian denganku lembur malam untuk bekerja???"
"Tidak sayang...! Aku akan mengisi waktuku untuk tetap mengurus pekerjaan itu ketika kau pergi bekerja, dan aku tetap akan tidur bersamamu setiap malamnya....! Oh iya aku juga nanti ingin menelepon Mama serta Papa Dan...!"
Kyros tersenyum. "Iya hubungi mereka juga, oh iya jika kau merasa bosan ketika aku pergi, kau bisa keluar dan jalan-jalan! Berbelanja atau apalah lakukan saja sesukamu, tapi ingat jangan seperti kemarin kau pergi minum sendirian! Aku tidak mau direpotkan dengan itu...! Kita bisa pergi minum bersama sekali-kali itupun jika besoknya aku tidak bekerja, oke???"
Gienka terkekeh. "Iya...!" Jawab Gienka, kemudian dia meminta agar Kyros mengambil penjepit untuk meniriskan pasta yang direbusnya.
Elea duduk dan melamun di atas tempat tidurnya, dia baru saja berbicara dengan Gienka melalui panggilan video. Dia sangat senang, putrinya terlihat bahagia dan baik-baik saja disana. Tetapi sebagai seorang ibu, Elea merasa ketakutan dan mengkhawatirkan keadaan putrinya disana yang jauh dari dirinya. Sebelumnya dia merasa tenang-tenang saja ketika dulu Gienka pergi untuk berkuliah, tetapi kali ini dia merasa khawatir sekaligus takut, mengingat Gienka sudah menikah dan tentu saja itu membuat seluruh kehidupan putrinya itu berubah.
Pernikahan adalah sebuah perjalanan baru dalam sebuah kehidupan, dan tidak ada kehidupan yang akan terus berjalan mulus, kerikil dan duri itu pasti selalu saja ada. Percekcokan itu juga selalu ada dan Elea yakin bahwa Gienka ataupun Kyros sudah dewasa dan pasti bisa mengambil sikap hanya saja Elea memiliki ketakutan jika putrinya mengalami nasib yang sama seperti pernikahannya dengan Ariel dulu.
Ketakutan itu muncul ketika Elea mengetahui dari Cahya jika keputusan yang diambil oleh Gienka untuk ikut Kyros adalah karena Gienka ingin menjaga Kyros dari hal yang buruk dimana Gienka memiliki ketakutan berlebihan kepada salah satu teman perempuan Kyros yang juga tinggal di satu apartemen yang sama. Cahya sendiri tidak bisa memastikan apakah perempuan itu menyukai Kyros atau tidak yang jelas dia beberapa kali memergoki Gienka memasang wajah jengkel jika perempuan itu sedang bersama Kyros. Hal itu menandakan bahwa Gienka sangat tidak mau jika ada perempuan lain yang dekat dengan suaminya.
Mendengar hal itu, Elea benar-benar sangat khawatir, hatinya tidak tenang, bagaimana jika sesuatu buruk terjadi kepada Gienka dan Kyros. Elea takut Gienka nanti akan menyembunyika semuanya sendiri, dan Elea benar-benar tidak mau jika putrinya akan mengalami kesulitan disana. Gienka nya yang manja dan ceria tidak boleh bersedih atau menderita. Bagi Elea cukup dirinya saja yang mengalami hal mengerikan seperti itu. Tetapi dia tidak berhenti berdoa agar semua ketakutannya itu tidak terjadi dan putrinya bisa menjalani rumah tangganya dengan baik mengingat Kyros juga sangat menyayangi putrinya itu.
Danist keluar dari ruang gantinya dan sudah rapi untuk berangkat ke kantor tetapi dia justru melihat Elea sedang melamun, padahal sejak tadi dia memanggilnya untuk menanyakan keberadaan aftershave nya tetapi tidak ada sahutan dari istrinya itu. Dan ternyata Elea justru duduk diam seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Danist mendekatinya dan menyentuh pundak Elea, membuat wanita itu terperangah. "Ya...! Kau mengejutkanku saja...!" Ujar Elea.
"Sejak tadi, aku memanggilmu karena aku tidak menemukan aftershave ku tapi kau tidak menyahut, kau kenapa? Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikiranmu??"
Elea beranjak. "Aku akan mencarinya, tunggu sebentar...!" Ucap Elea kemudian tetapi Danist lekas memegang pergelangan tangannya dan menyuruhnya duduk.
"Aku sudah menemukannya, kau tidak perlu mencarinya lagi, katakan apa yang mengganggu pikiranmu sekarang??" Tanya Danist lagi.
Elea kemudian menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu dan menumpahkan seluruh ketakutannya pada Gienka yang saat ini ada di Amerika. Dan alasan dibalik ketakutannya itu.
Danist hanya tersenyum mendengarnya dan mengusap pundak Elea dengan lembut dan masih memeluknya.
"Putri kita sudah dewasa, dia sudah sangat pandai untuk memutuskan sesuatu, dia mengambil keputusan untuk hidup jauh dari kita semua karena dia ingin menjaga suaminya, bukankah itu hal yang bagus?" Danist melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Elea menatapnya dalam-dalam sambil terus tersenyum.
"Gienka...?! Wajahnya memang sangat mirip sekali denganmu, senyumnya, cara bicaranya, serta keceriaannya semua itu mirip sekali denganmu tetapi...??? Tetapi tidak dengan sifat dan sikapnya! Gienka kita itu keras kepala, teguh pendiriannya, tidak mudah cengeng, juga punya prinsip yang kuat dan tegas, semua itu diwarisinya dari Ariel. Bukankah selama ini kita tidak pernah bisa menolak keinginannya? Jika dia meminta A maka kita harus memberinya A, kita selalu tidak pernah bisa membujuknya dengan hal lain meskipun kita memberinya B sampai Z dia akan menolak dan tetap meminta A sampai kita benar-benar memberikan itu! Karena dia kesayangan kita semua..!" Ujar Danist.
Elea tersenyum dan menyeka airmatanya. "Iya, dan dia tidak akan menangis meskipun kita menolak keinginannya tetapi dia akan mencari seribu cara untuk membuat kita mau memenuhi keinginannya itu, dan pada akhirnya caranya itu membuat kita luluh...!"
" Benar sekali itulah hebatnya putri kita, dia masih sama, Gienka kita yang manis dan sangat pandai dan dia keras kepala, tetapi dia tetap menjadi perempuan yang bijaksana, dermawan, rendah hati dan cerdas dalam mengambil sikap, ketakutanmu tidak akan terjadi karena aku sangat yakin bahwa putri kita sangat cerdas untuk bersikap, dia bisa menjaga dirinya dan suaminya yang sangat dicintainya itu. Dia tidak cengeng sepertimu dulu, dia punya banyak cara cerdas dalam mempertahankan yang menjadi miliknya, seperti halnya Ariel yang dulu melakukan berbagai cara untuk bisa membuatmu kembali meskipun caranya salah itu adalah usaha yang bisa dia lakukan saat itu. Tetapi Gienka tidak akan memutuskan atau melakukan hal yang salah, dia selalu berpikir lebih sebelum mengambil sikap. Jadi berhentilah mengkhawatirkannya, Gienka tahu cara menjaga dirinya, Kyros juga pasti akan memperlakukannya seperti seorang Ratu...! Kita hanya harus mendoakan yang terbaik untuk semua anak-anak kita!"
Danist menyeka airmata Elea dan memeluknya lagi. Dia sangat mengerti ketakutan istrinya tetapi dia juga yakin bahwa Gienka pasti akan bisa melewati kesulitan yang datang. Danist hanya bisa berharap agar Tuhan selalu menjaga anak-anaknya dan melimpahkan kebahagiaan untuk mereka sehingga mereka bisa melewati setiap liku dan kejamnya hidup ini dengan sangat baik.