
Cahya menyiapkan sarapan di dapur sementara Aditya masih berada di dalam kamar bersama kedua bayinya. Sampai akhirnya Aditya membawa satu per satu bayinya keluar dan mendudukkannya di Baby chair lalu mulai mengambil piring dan menikmati sarapannya. Masih dengan situasi yang sama, Cahya dan Aditya masih tidak saling berbicara, hanya sesekali dan itupun Cahya menjawabnya dengan ketus. Tetapi Aditya membiarkannya saja dan tidak terlalu memikirkannya.
Cahya menarik kursi dan duduk di depan Aditya, mengambil roti dan memakannya. Aditya hanya melirik sambil tersenyum tipis melihat istrinya hanya diam.
Ponselnya berdering dan ada nama Randy disana.
"Ya Ran, bagiamana kabarmu?" Tanya Aditya.
"Aku baik, apa aku mengganggumu?"
"Ah tidak, aku masih dirumah sedang sarapan? Memangnya ada apa?? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Everything is fine, aku ingin memberitahumu tentang Ariel, dia ternyata saat ini sedang berada di Swiss"
"Apa...!!!! Ariel ada disini???" Seru Aditya terkejut.
Cahya pun langsung tersedak ketika mengunyah roti dan langsung mengambil gelas minum.
"Darimana kau tahu Ariel ada disini??" Tanya Aditya lagi.
Kemudian Randy menceritakan tentang kedatangannya tadi ke kantor Ariel, dan menemukan fakta bahwa semua staff yang ada disana sebenarnya selama ini mengetahui keberadaan Ariel. Dengan sengaja mereka tidak memberitahukan kepada siapapun tentang hal itu.
Aditya memijat pelipisnya masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar tetapi kemudian teringat dengan kejadian kemarin, apa jangan-jangan yang dilihatnya kemarin adalah Ariel.
"Apa jangan-jangan yang aku lihat kemarin itu adalah Ariel???" Gumamnya kemudian yang lagi-lagi membuat Cahya kaget.
"Kau kemarin melihatnya? Dimana Dit???" Sahut Randy di telepon.
"Aku melihat seorang laki-laki sedang berjogging tetapi karena dia memakai hoodie dan berlari ke arah yang berbeda aku tidak bisa melihat wajahnya, aku akan mencoba mencari tahu tetapi tentu saja aku tidak bisa berjanji, apa dia masih disini atau tidak" Ucap Aditya lalu menutup teleponnya.
Cahya menatap tajam ke arah Aditya dan melipat kedua tangannya diatas meja. "Jika Ariel disini jangan kau mencoba mencarinya, kau tahu kan Elea ada disini, lalu bagaimana jika dia mencoba menyakiti atau melakukan hal buruk lagi pada Elea? Aku tidak mau itu terjadi lagi"
Aditya mengangkat alisnya. "Sayang, bukan seperti itu maksudku, aku juga ingin tahu kenapa Ariel harus menghindari kita semua"
"Aku bilang jangan mencari tahu apapun tentang Ariel disini, biarkan saja, Roland sudah menunggumu diluar jadi cepatlah berangkat ke kantor sekarang" Cahya kemudian berdiri dan mengambil piring bekas Aditya sarapan.
Tidak ingin berdebat panjang dengan istrinya, Aditya pun mencium kedua anaknya dan juga mencium kening Cahya lalu pergi keluar.
Di dalam perjalanan, Aditya masih memikirkan tentang Ariel. Pasti dia tidak salah lagi bahwa yang dilihatnya kemarin memang benar Ariel. Ariel jogging di daerah ini menandakan bahwa sepertinya sahabatnya itu memang tinggal disini, entah di rumah atau di hotel. Lalu dengan cara apa agar bisa bertemu lagi dengan Ariel, tempat ini begitu luas dan ada banyak hotel serta penginapan, belum lagi dengan ancaman Cahya. Aditya benar-benar dilanda dilema yang sangat besar.
Cahya menjadi begitu gelisah setelah mengetahui bahwa Ariel ada disini, dan bagaimana bisa Ariel ada disini. Apakah memang dia sengaja datang karena tahu bahwa Elea dan Gienka ada disini atau bagaimana, Cahya masih belum mengerti. Elea baru saja mendapatkan kebahagiaannya dan sekarang ada lagi permasalahan baru. Kenapa Ariel selalu saja ada diantara Elea dan Danist, kenapa tidak bisa membiarkan mereka berbahagia. Tetapi Elea tidak boleh mengetahui hal ini, karena jika Elea tahu bahwa Ariel disini pasti kecemasan dan kekhawatiran akan membuat Elea tidak tenang.
******
Aditya pulang lebih awal dari kantor hari ini karena memang dia hanya datang untuk meeting sebentar tentang persiapan pameran. Sedangkan Cahya terlihat sedang bermain dengan si kembar di kamar dan Cahya hanya meliriknya sekilas tanpa menyambutnya. Sepertinya ini sudah cukup, Aditya harus menghentikan kemarahan istrinya itu. Sangat tidak menyenangkan jika terus seperti ini. Jika mereka terus diam keegoisan ini tidak akan pernah selesai.
Aditya melepaskan jasnya, dan melemparnya ke sofa lalu duduk di lantai dan mencium kedua bayinya.
"Sayang, sudah cukup, mari kita hentikan semua ini, aku sudah lelah kau abaikan beberapa hati ini, aku pulang kau tidak menyambutku" Gumam Aditya.
Cahya hanya diam tidak merespon, dan berdiri sambil memunguti jas Aditya dan membawanya ke kamar mandi. Tidak lama dia kembali dan hendak keluar kamar tetapi Aditya bergegas berdiri dan menarik pergelangan tangannya.
"Tunggu, kau mau kemana? Tadi aku sudah mengatakan sesuatu kepadamu tetapi kau malah mengabaikanku, oke oke aku yang bersalah maafkan aku"
"Ya ku terima maafmu" Jawab Cahya kemudian lalu melepaskan pegangan Aditya dan hendak meninggalkan suaminya itu lagi.
Aditya kembali menarik Cahya. "Hanya itu??? Kau juga bersalah padaku, kau tidak meminta maaf padaku??"
"Ya aku minta maaf, sudah cukup kan??? Biarkan aku pergi dan membuatkanmu jus"
Aditya pun melepaskan pegangannya dan membiarkan istrinya itu pergi.
******
Danist pulang diantar oleh supir Aditya, karena memang tadi Aditya mengajaknya untuk pulang bersama. Hari ini pulang lebih awal tetapi kesibukannya akan dimulai besok. Jadi akan ada banyak persiapan yang harus dilakukannya esok hari.
Elea di kejutkan dengan kepulangan Danist, karena hari juga masih siang tetapi suaminya itu sudah sampai di rumah. "Kau sudah pulang???"
"Ya aku pulang lebih awal hari ini tetapi mulai besok semua kesibukanku akan dimulai bahkan mungkin weekend pun aku akan tetap sibuk"
"Begitu ya??? Uhmmm kebetulan sekali kau pulang lebih awal, diapers Gienka sudah habis bagaimana kalau kita pergi keluar untuk membelinya?"
"Oke kita pergi sekarang, aku mandi dulu" Danist mengusap lembut kepala Elea lalu pergi ke kamar mandi.
Saat dia dan Danist sudah siap dan akan mengunci pintu rumah, justru Gienka malah tidur membuat Elea sedikit gusar dan berniat membatalkan saja rencananya untuk pergi berbelanja. Karena takut Gienka akan rewel nantinya saat bayi itu terbangun tetapi ini juga mendesak karena popok Gienka benar-benar sudah habis dan dia harus segera membelinya.
Elea mengambil ponselnya dan menghubungi Cahya untuk meminta bangtuannya agar bisa menitipkan Gienka sebentar. Beruntungnya Cahya bersedia membantunya, akhirnya Elea dan Danist pergi ke rumah Aditya untuk mengantar Gienka.
Sesampainya disana, Elea dan Danist sudah disambut oleh Cahya. Cahya menyuruh Elea untuk menaruh Gienka di kamarnya saja. Karena kebetulan masih ada mobil dan supir, Aditya pun menyuruh mereka agar diantar oleh supir jadi bisa lebih cepat ketika pergi.
*****
Hingga sampailah Elea dan Danist di sebuah swalayan dan membeli beberapa kebutuhan. Setelah mendapatkannya mereka kembali ke mobil dan dibantu oleh Roland menaruh belanjaan mereka di bagasi. Tetapi tiba-tiba Elea merasa haus dan mengajak Danist untuk pergi sebentar ke sebuah coffee shop yang ada di seberang jalan membeli minuman. Danist pun menurutinya dan mereka pergi kesana, lalu menyuruh Roland untuk menunggu sebentar saja karena mereka tidak akan lama.
Di tempat lain Ariel baru saja menikmati harinya disebuah restoran setelah tadi berbelanja beberapa barang untuk mengisi kulkasnya. Setidaknya secangkir kopi dan sepotong kue bisa membantunya melepaskan penat dan mengurangi beban pikirannya. Bekerja jarak jauh juga tidak kalah melelahkan bahkan sering menghabiskan waktu istirahatnya.