
Tuan Harry menyuruh putranya itu untuk duduk, dan dengan perasaan yang campur aduk, Adri pun duduk di depan Papanya yang sedang menatapnya dengan tajam. Adri hanya menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Kenapa kau berkelahi?"
"Adri khilaf Pa"
"Papa sudah mendengar semuanya dari kakakmu, bahkan karena ulahmu dia juga harus menanggung semua kerusakan yang kau lakukan, sejak dulu Papa sudah sering mengingatkanmu untuk tidak mengambil hati setiap ucapan orang lain padamu, apapun itu selagi kau tidak merasa seperti apa yang mereka tuduhkan padamu, lihat dirimu??"
"Maafkan Adri Pa!"
"Kau pulang dengan keadaan wajah seperti ini, dan Mamamu histeris karenamu, kau sudah dewasa harusnya kau bisa bersikap, apa yang kau dapatkan dengan berkelahi? Hanya wajah lebam seperti ini, kalau sampai aku mendengar kau berkelahi lagi, aku akan mengambil mobil dan motormu dan memindahkanmu ke kantor utama, Papa tidak peduli lagi kau mau atau tidak, sekarang pergi temui Mama mu dan minta maaf padanya, tenangkan dia"
Adri meninggalkan ruangan kerja itu dan pergi untuk menemui Mamanya. Adri bersyukur karena Papanya tidak sampai marah berlebihan, dan sepertinya Aditya juga tidak mengatakan bahwa dia sempat dibawa oleh polisi setelah melihat sikap Papanya tadi yang tidak membahas hal itu.
*****
Elea bermain bersama Gienka di ruang keluarga. Tadi subuh dia menerima pesan dari Danist bahwa dia sedang transit dan akan kembali melanjutkan perjalanannya siang nanti, atau pagi waktu sana. Saat dia bangun dia membalas pesan itu, tapi Danist sampai sekarang belum membalas lagi pesannya, mungkin laki-laki itu saat ini sedang beristirahat. Padahal jika Danist membalasnya, Elea ingin sekali meneleponnya atau sekedar video call walau sebentar saja.
Cahya membawa Kyros dan Kyra dengan stroller untuk menyusul Elea ke ruang keluarga, karena tadi Mama mertuanya sedang berbicara dengan Adri dan dia tidak ingin mengganggunya. Cahya menurunkan Kyra dan Kyros satu persatu dari strollernya dan membaringkan mereka di lantai, lalu memberikan mainan kepada kedua bayi itu.
"Apa Danist sudah menghubungimu El??" Tanya Cahya.
"Sudah, dia bilang dia sedang transit di Doha, tapi dia belum membalasnya sampai sekarang"
Cahya melempar senyumnya melihat wajah sahabatnya itu seperti sedang kesal saat mengatakan Danist belum membalas pesannya. "Mungkin dia sedang istirahat El, tapi pasti nanti dia akan menghubungimu, belum ada 24jam kau sudah merindukannya" Gumam Cahya menggoda.
"Apa sih Ca, aku hanya khawatir saja"
"Dia akan baik-baik saja El, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, dia bisa menjaga dirinya dengan baik"
Elea tersenyum, Cahya memang benar bahwa dia tidak boleh mengkhawatirkan apapun, Danist pasti akan baik-baik saja dan jika sudah sampai pasti akan langsung menghubunginya. Elea kembali mengingat kemarin dimana dia memberikan sebuah ciuman untuk pertama kalinya kepada Danist, entah kenapa saat itu dia tiba-tiba melakukannya, itu terjadi srcara spontanitas saja. Setiap mengingatnya, Elea menjadi malu sendiri, kebersamaannya dengan Danist setiap hari membuatnya begitu berat saat melepaskan lelaki itu pergi, mungkin karena itulah dia mendaratkan sebuan ciuman manis untuk Danist. Dan lelaki itu juga memberikan kecupan manis di dahinya membuat perasaannya saat itu merasa sangat hangat.
"Kau kenapa senyum-senyum sendiri??" Cahya menyenggol pinggang Elea karena melihat sahabatnya itu tidak ada angin tidak ada hujan tetapi malah tersenyum sendirian.
*****
Setelah makan malam bersama keluarga Aditya, Elea mengajak Gienka untuk naik ke kamarnya dan menidurkannya. Besok dia bersama Mama dan Mertuanya akan pulang ke rumah mereka. Elea tadi sudah mendapat balasan dari Danist dan mengatakan bahwa dia saat ini akan melanjutkan lagi perjalanan menuju Zurich dan kemudian akan langsung ke tempat tinggal barunya. Jika sudah sampai disana Danist berjanji akan langsung menghubunginya. Elea sudah tidak sabar menantikannya, melihat wajah Danist lagi. Elea sudah bisa memperkirakan waktu Danist akan meneleponnya setelah mengetahui jam berapa dia akan take off dan perjalanan ke tempat tinggal barunya, karena dia dulu juga pernah kesana. Danist juga memilih tinggal di pedesaan daripada harus tinggal di apartemen seperti teman-temannya yang lain.
Elea mengajak Gienka bermain lebih dulu sebelum menidurkannya. Setelah puas dan bayi itu mulai merengek, Elea menyusuinya hingga putrinya itu terlelap dipangkuannya. Dan membaringkannya di tempat tidur dan memberi beberapa bantal disisi kanan Gienka lalu dia ikut berbaring di sisi kiri. Elea menaruh ponselnya di sisi bantal yang di tidurinya agar bisa langsung bangun jika Danist meneleponnya nanti.
Elea sudah tidur karena Danist belum juga menghubunginya padahal tadi dia memperkirakan Danist akan menghubunginga pada jam 8 atau jam 9 tapi ternyata dia menunggu sampai jam setengah 10, belum juga ada panggilan dari lelaki itu. Jika Danist tidak menghubunginya malam ini mungkin besok, jadi daripada kecewa, Elea terpaksa memilih untuk tidur saja.
Sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat, ponsel Elea berdering, dan dalam deringan pertama Elea langsung terlonjak bangun. Danist menghubunginya lewat panggillan video, Elea melompat dari tempat tidur dan berkaca lalu merapikan rambutnya juga mengecek wajahnya agar tidak terlihat bahwa dia sudah tidur, takut Danist ajan merasa tidak enak dan mengakhiri panggilan videonya. Setelah merasa cukup rapi, Elea langsung mengangkatnya.
"Hai.....!!!" Sapa nya pada Danist.
"Hai.... Maaf ya El, aku terlambat menghubungimu karena tadi harus mengurus beberapa hal dan mengantar yang lainnya ke tempat mereka masing-masing, lama sekali mengangkatnya? Kau pasti sudah tidur ya??? Maaf aku mengganggu waktu tidurmu"
"Tidak, aku belum tidur, lihatlah mataku masih sangat cemerlang, aku belum mengantuk" Ucap Elea sambil tersenyum. "Kau sudah sampai ya?? Kau tinggal dimana??"
"Aku baru saja sampai dan ini belum mandi, aku masih sangat lelah, aku tinggal di Lungern"
"Lungern??? Itu kan tempat dulu Cahya dan Adit tinggal, apa kau tinggal dirumah yang mereka tempati dulu??"
"Sepertinya tidak, tadi kata supir yang menjemput kami, rumah ini baru saja di sewa untuk aku tinggali selama aku disini, tapi tidak jauh dari rumah pak Aditya yang kau sebutkan tadi, kalau rumah itu sih sepertinya hanya untuk ditinggali empu nya, hahaha pak Aditya nanti kan akan menyusul kesini untuk proyeknya, bagaimana kabar tuan putriku yang cantik???" Tanya Danist.
Elea mengganti kamera depan menjadi kamera belakang dan mengarahkannya pada Gienka yang tertidur dengan begitu pulas. "Ini tuan putrimu, dia sangat merindukanmu, dia semalam sedikit rewel hingga membuatku sulit tidur, mungkin karena dia merindukanmu, btw apa kau hanya menanyakan kabar Gienka saja?? Tidak menanyakan kabarku?? Kau jahat sekali Dan" Gumam Elea sambil memasang wajah jengkel ke Danist karena lelaki itu hanya menanyakan kabar Gienka, padahal sejak kemarin dirinya lah yang paling mengkhawatirkan lelaki itu hingga setiap detiknya dia selalu menunggu Danist membalas pesannya, tapi Danist malah hanya menanyakan tentang Gienka.
Danist tertawa melihat ekspresi kesal Elea. "Hahaha kau manis sekali saat sedang kesal seperti itu, oke baiklah, bagaimana kabarmu miss Eleanor yang jutek??"
"Sudah terlambat!!!" Jawab Elea kemudian lalu mereka berdua tertawa bersama.
Elea mengobrol dengan Danist sampai larut, bahkan Danist tidak menutup panggilan videonya sampai Elea akhirnya tertidur dengan posisi menghadap ponselnya membuat Danist bisa lebih lama menatap wajah Elea saat tidur. Tanpa Elea sadari, dia diam-diam biasa melakukannya setiap malam, menatap Elea yang sedang tidur pulas disampingnya sambil terus berharap agar suatu saat perempuan itu bisa menerima dirinya sebagai suami yang seutuhnya.