
Aditya akhirnya sampai di rumah, kondisi sedang hujan deras dan juga ditambah dengan gemuruh suara petir. Bergegas dia masuk rumah dan menuju kamarnya, ternyata dia melihat Cahya sedang duduk di balkon kamar.
" Hei sayang, hari sedang hujan deras, ayo masuk nanti kau terkena flu"
Aditya membawa Cahya masuk ke kamarnya, Nyonya Harry masuk membawakan Air dan salad buah untuk menantinya karena sudah waktunya untuk meminum obatnya.
" Ayo kau harus makan salad buah ini, salad buah tanpa mayonais kesukaanmu, dan lihatlah stroberi dan kiwinya sangat banyak, ayo buka mulutmu" Aditya menyuapi Cahya.
Aditya memandang wajah istrinya dalam dalam, badan Cahya juga terlihat sedikit kurus karena setiap makan dia tidak pernah menghabiskannya jika tidak dipaksa. Semakin hari Cahya semakin diam dan tidak pernah mengatakan apapun.
" Kau menghabiskannya, bagus sekali, sekarang minumlah obatmu dan beristirahatlah"
Setelah memberikan obat untuk istrinya, Aditya membaringkannya dan menata selimutnya lalu mencium lembut kening Cahya sambil bergumam pelan.
" Kau harus segera sembuh sayang, dan kita bisa kembali berbahagia lagi, aku merindukan Cahya ku yang dulu, penuh dengan senyuman indah dan juga penuh perhatian"
***
Setelah mandi dan berganti pakaian, Aditya melihat Cahya sudah tertidur karena efek dari obatnya lalu dia meninggalkan Cahya dikamar dan ingin turun ke bawah untuk meminta dibuatkan jus. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat orangtuanya sedang duduk diruang keluarga dan langsung menghampiri mereka.
" Bagaimana Cahya sudah memakan saladnya dan apakah dia sudah meminum obatnya?" Tanya Nyonya Harry.
" Sudah Ma, saladnya hampir habis dan sepertinya dia menyukainya, dan sekarang sudah tidur"
" Syukurlah dia menyukainya, oh iya barusan Papa cerita ke Mama, katanya pihak asing yang bekerjasama dengan perusahaan kita, memintamu untuk terjun langsung mengawal proyek itu, kau akan aku pergi kesana bukan??? Mengingat kau sudah lama mengejar proyek itu dan akhirnya sekarang kau mendapatkannya"
" Iya Ma aku sangat senang perjuanganku akhirnya membawakan hasil, tetapi aku bingung, disaat seperti ini kondisi Cahya sangat tidak baik, pengerjaan proyek itu butuh waktu berbulan-bulan bagaimana bisa aku meninggalkannya dalam waktu yang lama, tetapi jika aku tidak kesana seluruh kerja kerasku akan sia-sia" Gumam Aditya sedih.
Nyonya dan Tuan Harry tampak saling berpandangan, memahami bagaimana kondisi putranya sekarang. Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupnya, dan kondisi menantunya juga tidak sedang baik, dia membutuhkan banyak support dari orang-orang disekelilingnya. Sampai kemudian Tuan Harry memiliki sebuah ide untuk putranya.
" Dit, menurut Papa tidak ada salahnya jika kau juga membawa istrimu kesana, siapa tahu Cahya bisa merasa lebih baik, disana banyak tempat yang indah untuk bisa dikunjungi" Ujar Tuan Harry.
" Ahh iya papamu benar sekali sayang, bawa saja Cahya bersamamu, itu negara yang sangat indah, Mama yakin Cahya juga akan sangat menyukainya, biarkan Papa mu yang mengurus perusahaan, kau fokuslah dengan urusanmu dan juga istrimu"
Aditya memikirkan saran dari kedua orangtua nya, memang benar negara itu sangat terkenal dengan keindahannya, pemandangan alamnya memang sudah tidak diragukan lagi. Sepertinya itu ide yang sangat bagus, mengingat Cahya pernah mengatakan padanya bahwa dia ingin liburan ditempat dimana dia bisa menikmati pemandangan alam yang menakjubkan seperti di pedesaan.
" Ya, seperti itu ide yang cukup bagus Ma, Pa, aku akan menyiapkan segalanya, tetapi bagimana dengan Mama, aku juga mengkhawatirkan keadaan Mama"
" Adit sayang, Mama tidak apa-apa Mama sudah sangat sehat, jangan khawatir mama tidak akan merasa kesepian, jika Papamu pergi ke Kantor Mama akan menemui ibu mertuamu dan kami bisa banyak mengobrol tentu dengan itu mama tidak akan merasa kesepian, pergilah dan jangan khawatirkan apapun"
Seminggu berlalu Aditya sibuk mengurus keberangkatannya ke luar negeri, 3 hari lagi sudah akan berangkat kesana. Dia juga sudah mengurus tempat tinggal yang akan ditempati sementara waktu disana. Perusahaan asing yang bekerja sama dengannya sudah menyediakan apartemen untuknya tetapi Aditya menolak untuk tinggal di apartemen dia lebih memilih untuk dicarikan rumah di pedesaan saja dan mereka menyanggupi nya.
Cahya tidak banyak bereaksi saat Aditya memberitahunya bahwa mereka akan tinggal sementara waktu jauh dari keluarganya. Persiapan kali ini jelas sangat jauh berbeda dengan persiapan saat dia akan pergi honeymoon bersama Cahya, karena selain membawa banyak pakaian, Aditya juga dibantu oleh Mamanya, karena memang kondisi Cahya yang tidak baik. Tidak ada perasaan excited atau yang lainnya yang biasa terlihat diwajah Cahya, bahkan Aditya sangat merindukan senyuman istrinya yang dulu seolah tidak pernah hilang dari wajah cantiknya.
Ditengah kesibukannya menata pakaian bersama mamanya, Mbak Tina mengetuk pintu dan mengatakan jika dibawah ada Ariel, Elea dan juga Randy yang datang berkunjung. Bergegas Aditya turun ke bawah dan menemui para sahabatnya itu.
" Hei kalian datang, kenapa tidak menghubungiku?" Tanya Aditya lalu menyalami para sahabatnya itu.
" Adit, dimana Cahya, aku sangat merindukannya" Gumam Elea.
" Dia ada dikamar, kau kesana saja ada mama bersamanya"
Elea langsung naik ke atas untuk menemui Cahya, setelah ini dia akan tidak bertemu dengannya dalam waktu yang lama. Elea harus menghabiskan waktu dengannya.
" Bagaimana keadaanmu dan Cahya??" Tanya Ariel.
" Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat dan Cahya, tidak ada yang berubah darinya"
" Semoga setelah kalian kembali kesini, Cahya juga kembali ceria seperti dulu" Randy menimpali.
" Kebetulan sekali kalian datang kesini, padahal rencana besok aku akan menemui kalian, sekali lagi aku minta maaf karena akan merepotkan kalian sekali lagi, saat nanti aku pergi aku minta kalian untuk tetap membantuku menjaga keluargaku, ada hal apapub aku mohon kalian langsung menghubungiku, dan Ran aku ingin rumah Adri dan Rumahku ini untuk tetap bisa dijaga oleh anak buahmu, aku harus memastikan keamanan dari orangtua ku serta ibu mertuaku"
" Tenang Dit, semua akan baik-baik saja, sudah ku atur permasalahan penjagaan untuk keluargamu, kau tidak perlu khawatir"
***
Disisi lain Elea masuk ke kamar Cahya, dan menyalami Mama Aditya, dia melihat Cahya sedang duduk diatas ranjang dan membantu ibu mertuanya walaupun hanya diam.
" Hai Cahya sayang, apa kabarmu???"
Cahya hanya tersenyum kecil melihat Elea datang dan hanya mengangguk, tetapi Elea tampaknya tidak mau menyerah.
" Kau akan tinggal ditempat yang sangat indah, aku yakin kau akan sangat menyukainya, hmmm tapi aku sangat sedih aku dan Ariel akan menikah kurang dari 2 bulan lagi dan kau juga Aditya tidak ada disini, tapi tidak apa-apa aku sudah bilang pada Ariel untuk mengajakku berbulan madu disana, jadi aku juga bisa menemuimu, Ca aku harap kau membaik setelah tinggal disana, kau bisa tersenyum lagi, aku sangat merindukan saat kita bercerita tentang banyak hal, kita tertawa kita menghabiskan waktu bersama aku sangat merindukan itu semua, aku ingin kau kembali seperti dulu, bersenang-senanglah disana siapa tau saat kau kembali kau bisa membawakan kami semua disini kabar bahagia lagi, aku sangat menyayangimu Ca, kau jaga diri baik-baik ya??" Elea memeluk Cahya erat.
Kehidupan sahabatnya itu sudah berubah 180° Elea sangat merindukan semua yang dulu sering dia lakukan bersama. Elea benar-benar berharap Cahya bisa kembali seperti dulu lagi, dan Aditya bisa kembali berbahagia dengan Cahya.