
Setelah menyelesaikan meetingnya, Ariel langsung pergi dari kantor dan akan datang ke dealer mobil milik Randy untuk menemui sahabatnya itu disana. Ariel akan menanyakan perihal permintaannya pada Randy untuk membantunya mencari Elea. Bagaimanapun caranya dia harus bisa segera menemukan Elea agar hatinya menjadi tenang.
Sampailah Ariel disana dan langsung disambut oleh para pegawai Randy yang memang sudah mengenalnya. Dan diantarnya Ariel ke ruangan Randy. Randy tampak sedang berbincang dengan seseorang ditelepon, Ariel duduk menunggunya.
Randy menutup teleponnya dan sedikit terkejut melihat kedatangan Ariel. "Hai Iel, tumben kau kesini tidak menghubungiku lebih dulu, ada apa?"
"Aku sedang suntuk dikantor setelah meeting, bagaimana kalau kita makan siang direstoranku, aku akan menghubungi Adit juga"
"Adit sedang pergi liburan dengan Cahya dan bayinya, kau makan siang disini saja, aku baru saja menyuruh staffku memesan makanan, kau ingin makan apa?"
"Terserah kau saja, apapun aku akan memakannya! Memangnya Adit pergi liburan kemana?"
Randy menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu, dia pergi juga untuk urusan pekerjaan." Randy terpaksa berbohong saat berkata tidak tahu kemana Aditya pergi padahal sebenarnya dia tahu.
"Bagaimana dengan kau yang ingin membantuku mencari Elea, apa kau sudha terjunkan anak buahmu?" Tanya Ariel.
Inilah pertanyaan Ariel yang Randy sangat takutkan, sekali lagi dia harus berbohong pada Ariel. Dia tidak mungkin menerjunkan anak buahnya untuk mencari Elea. "Aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk membantumu, ku harap kau bersabar, ini tidak mudah karena kau sendiri sudah kehilangan jejaknya cukup lama"
"Oke baiklah, besok aku juga akan mencoba mencarinya lagi, berharap Elea masih mau menerima dan memaafkanku" Gumam Ariel sedih.
Randy sedikit mengumpat dalam hatinya melihat tingkah Ariel saat ini. Jika saja Ariel tidak mengetahui kehamilan Elea, Randy sangat yakin Ariel tidak akan seperti sekarang, menjadi gila karena mencari Elea. Tetapi sekesal apapun perasaannya, Randy tidak bisa begitu saja memusuhi Ariel mengingat janjinya pada Elea agar tidak merusak persahabatan yang sudah terjalin sejak lama antara dirinya, Aditya dan juga Ariel hanya karena permasalahan Elea.
******
Malam harinya, Kyra dan Kyros sudah tidur dengan nyenyaknya dan Cahya menaruh mereka di box bayi.Aditya juga sibuk dengan laptopnya mengurus pekerjaannya. Cahya menawarkan membuatkan minum untuk suaminya itu dan Aditya langsung menyetujuinya. Cahya langsung turun ke dapur dan membuat kopi, Cahya tahu Aditya pasti akan marah kepadanya karena diberikan kopi, tetapi Cahya sudah lama tidak melihat suaminya itu marah dan jengkel kepadanya. Cahya merasa akan sangat lucu jika melihat Aditya kesal.
Cahya kembali naik ke kamar sambil membawa nampan berisi kopi, air dan camilan untuk Aditya. Cahya menaruh nampan diatas meja dan menyuapkan cookies cokelat ke mulut Aditya yang masih sibuk dengan laptopnya. Tangan Aditya hendak mengambil minuman yang dibuatkan oleh Cahya tetapi dia terkejut karena yang dipegangnya adalah cangkir yang isinya sangat panas.
"Auuuwww panas.....!!!" Seru Aditya. Matanya pun langsung tertuju pada cangkir diatas meja itu dan dia terkejut melihat isinya, karena cangkir itu berisi kopi.
"Sayang...!!! Kenapa kau membuatkan kopi untukku?? Aku kan tidak minum kopi dimalam hari, atau jangan-jangan kau memasukkan sesuatu lagi didalam kopi ini? Kau ingin mengerjaiku dan menyiksaku semalaman ya??"
"Tidak ada apapun didalam kopi itu, kau ini tidak menghargaiku malah menuduhku"
"Tidak...!!! Aku tidak percaya padamu, kau pasti ingin mengerjaiku lagi seperti dulu, aku sudah menderita lebih dari sebulan dan kau malah mau mengerjaiku, aku tidak melakukan kesalahan apapun kenapa kau mau mengerjaiku? Sudahlah jika kau tidak mau turun lagi, aku akan membuat jus untukku sendiri"
Aditya menutup laptopnya dan hendak berdiri untuk ke dapur tetapi justru Cahya menahannya dengan memegang pergelangan tangannya, menarik Aditya membuat lelaki itu duduk kembali di sofa. Aditya menatap Cahya dengan wajah kesal, tetapi Cahya justru tersenyum padanya dengan wajah seolah tidak merasa berdosa. Dengan kesal Aditya berdiri lagi untuk pergi tetapi sekali lagi Cahya menariknya, membuat Aditya semakin merasa kesal.
*****
Cahya tetap memaksa Aditya untuk meminum kopi buatannya. Tetapi Aditya tetap menolakknya karena dia pasti akan susah tidur jika meminumnya.
Cahya mendekatkan wajahnya ditelinga Aditya "Itu yang aku inginkan, aku ingin kau terjaga sepanjang malam denganku, jadi minum kopinya ya?"
"Sayang, tanpa minum kopi aku juga selalu tidur terjaga jika anak-anak bangun aku juga pasti selalu bangun dan menemanimu mengurus mereka, aku tidak mau minum kopi itu, aku takut kau membuatku gila semalaman"
"Ayo makan? Kali ini aku tidak akan mengerjaimu tetapi aku menawarimu untuk menghabiskan kopi dan permen ini, setelah itu kita akan menghabiskan malam ini bersama dengan begitu intiim, kau selalu bilang jika kau merindukan memasuki ku maka malam ini kau bisa melepaskan kerinduanmu" Ucap Cahya dengan nada sensuall ditelinga Aditya.
Aditya membelalakkan matanya tidak percaya. "Are you seriously? Memangnya kau sudah bisa?" Tanya Aditya.
Cahya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengisyaratkan persetujuan untuk berciinta. Darah Aditya langsung menggelegak penuh gaiirah, tatapannya berubah membara. Aditya benar-benar tidak menyangka jika akhirnya penantiannya sudah berakhir. Aditya lalu mengambil permen ditelapak tangan Cahya dan memakannya setelah itu menghabiskan kopinya dan dilanjutkan dengan meminum segelas air agar reaksi dari permen itu cepat bekerja.
Aditya memegang kedua pipi Cahya dan menciumnya lalu mellumat bibirnya dengan lembut, mereka berdua saling mencecap satu sama lain. Setelah puas berciuman, Aditya mengangkat Cahya dan membawa ke tempat tidur.
Dibaringkannya Cahya di tempat tidur dan ditindihnya, tangannya menumpu tubuhnya sehingga tidak membebankan berat tubuhnya di tubuh Cahya, wajah mereka berhadapan.
"Kau ingin cara yang bagaimana?" Aditya berbisik menggoda, tidak bisa menahan dirinya untuk menunduk dan mengecupi bibir Cahya yang ranum, "Aku sudah terlalu lama menahan gairahku untukmu, mungkin aku akan langsung meledak begitu memasukimu"
****
Aditya sudah siap, kejjantanannya sudah menonjol keras di balik celananya, menggesek Cahya dengan menggoda ketika dia bergerak. Jemari Aditya menurunkan gaun tidur Cahya dengan lembut. Memuja tubuh isterinya yang semakin montok dan berisi setelah melahirkan, membuat darahnya menggelegak. Aditya menghindari untuk menyentuh payudarra Cahya yang ranum, tahu bahwa itu begitu sensitif karena menyimpan asi untuk bayi mereka.
Mereka saling menellanjangi dengan cepat, dan Aditya mendesakkan tubuhnya pelan, menyentuh kewanitaan Cahya dengan kejantanannya dan menggodanya dan berbisik parau.
"Kau benar-benar sudah tidak apa-apa sayang?" suaranya serak oleh gaiirah tertahan, tetapi Aditya menahan diri, takut menyakiti isterinya.
Cahya hanya memberi jawaban berupa senyuman lembut, jemarinya naik dan mengelus rambut Aditya, lalu turun, mengusap pundak dan dada Aditya yang keras, sexy dan sangat menggoda membuat lelaki itu mengerang. Aditya dan Cahya saling bertatapan dengan intens dan bergaiirah, bibir keduanya membuka. Membuat Aditya tidak bisa menahan diri untuk mellumatnya. Mereka berciuman dengan jemari Aditya bermain di pusat kewaniitaan Cahya, memainkan titik sensitif di sana dengan begitu ahli, sehingga Cahya terengah dalam kenikmatan, dalam lumattan bibirnya dengan Aditya.
Permainan jemari Aditya sungguh membuat Cahya menggila. Semakin lama semakin cepat, dengan gesekan memutar yang menggoda, menyentuh dan menstimulasi setiap titik dengan elusan dan sentuhan yang tepat. Cahya mengerang karena bibirnya masih dilumat oleh Aditya. Kenikmatan itu membakarnya, mengalir bagai aliran listrik dari pusat kewaniitaannya ke seluruh tubuhnya. Gerakan jemari Aditya makin cepat dan bergairah menstimulasi tubuhnya, hingga Cahya hampir mencapai puncaknya, hampir sampai....
Dan di titik yang tepat, Aditya melepaskan jemarinya, membuat Cahya mengerang karena protes, dihentikan ketika dia sudah hampir mencapai puncak orgassmenya.
Aditya tersenyum lembut dan menatap Cahya yang larut di dalam gairahnya, dia mendesakkan kejanttanannya ke pusat kewanitaan Cahya yang sudah sangat basah dan siap. Aditya juga tidak perlu menunggu reaksi dari permen itu, yang terpenting saat ini dia bisa melepaskan semuanya yang pada akhirnya permen itu juga akan bereaksi dengan sendiri nantinya.
"Kau bisa menggunakan ini untuk membuatmu mencapai puncak. Ini milikmu sayang, gunakanlah untuk memuaskanmu." Aditya menggeram penuh gaiirah sebelum menekankan dirinya dalam-dalam ke tubuh Cahya, membuat istrinya memekik karena rasa nikmat yang melandanya.
Aditya menggerakkan tubuhnya lagi, tidak menahan-nahan diri. Memuaskan dirinya dan istrinya. Napas keduanya terengah dalam pencapaian orgassmenya. Mereka berdua bergerak lama, dalam ritme yang bergairah, berusaha memuaskan dahaga akan tubuh mereka satu sama lainnya.
"Oh Ya ampun, Cahya, istriku, kau nikmat sekali...kau nikmat sekali..." Aditya mengerang parau sebelum menekankan tubuhnya dalam-dalam dan untuk kesekian kalinya meledakkan kenikmatannya di dalam tubuh isterinya. Membawa Cahya ke dalam ledakan kenikmatan yang sama.
*****
Mereka berbaring berpelukan dalam kepuasan yang dalam, seperti saat-saat bercinta mereka dulu.
"Aku tidak pernah lupa rasanya, rasanya bahkan lebih nikmat dari yang kubayangkan" Aditya mengelus paha Cahya dengan menggoda, lalu menyentuh kewanitaannya, "Di sini bahkan terasa begitu rapat, mencengkeramku hingga aku tidak bisa menahan diri"
Cahya mengerang karena gerakan-gerakan Aditya yang intiim itu. Kejantanan Aditya mengeras lagi, padahal baru beberapa menit setelah mereka meledak dalam kenikmatan bersama-sama. Dan Cahya juga menggerakkan pinggulnya menggoda, Aditya tidak dapat menahan diri lagi, dengan erangan keras, menyebut nama isterinya, dia mendesakkan diri, memasuki tubuh Cahya lagi.
Mereka berdua bercinta sampai dini hari, seolah tidak ada habisnya dengan mencoba berbagai gaya. Dan terhenti beberapa saat ketika bayinya mulai menangis karena lapar dan setelah tenang, mereka kembali melanjutkan sesi percintaannya.