SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Belum Dimaafkan



Aditya merasa begitu kecewa terhadap Cahya yang selalu bersikap kekanak-kanakan setiap ada masalah dan susah untuk mengerti dengan keadaan. Aditya melakukan ini semua untuk menjaganya, dan caranya juga selalu berhasil tatapi sampai saat ini istrinya tetap tidak mau dan tidak bisa mengerti. Tetapi setidaknya dengan melakukan ini Cahya bisa mengerti, walaupun sebenarnya Aditya sendiri merasa khawatir dengan keadaan istrinya yang saat ini sedang hamil.


Karena ini hari minggu, Aditya memutuskan untuk berenang karena sedang tidak ingin bertemu dengan istrinya dan juga tidak bisa meninggalkannya sendiri dirumah, jadi terpaksa dia menahan diri dirumah. Disisi lain Cahya menyeka airmata nya dan membawa kembali teh yang dia bawa untuk Aditya. Sarapan sudah siap tetapi suaminya tidak ada didapur, tadi dia pikir, Aditya keluar dari ruang kerjanya untuk sarapan tetapi ternyata tidak ada diruang makan.


" Mbak Tina, dimana suamiku? Bisa panggilkan dia untuk sarapan"


" Tuan muda sedang ada di halaman belakang sepertinya non, tadi meminta saya untuk menyampaikan kalau non Cahya disuruh untuk sarapan lebih dulu karena non harus minum obat"


Mendengar ucapan Mbak Tina, Cahya meneteskan airmata nya lagi, bahkan untuk sarapan saja Aditya menolak bertemu dengannya. Dia merasa sangat bingung, apa yang harus dilakukannya agar Aditya mau berbicara dengannya dan dia bisa meminta maaf padanya. Cahya akhirnya menghabiskan sarapannya sendiri tanpa Aditya setelah itu membuatkan jus untuknya tetapi meminta Mbak Tina untuk membawanya pada Aditya, takut jika dia membawanya sendiri, suaminya itu akan menolaknya.


Cahya naik ke kamarnya dengan perasaan sedih dan menyesal atas semua yang sudah dia lakukan. Setelah meminum obatnya, Cahya berjalan ke balkon kamar sambil tetap menyeka airmata nya dan melihat Aditya sedang duduk memainkan ponselnya di Gazebo. Dilihatnya juga Mbak Tina datang membawakan jus, dan Aditya menghentikan kegiatannya dan meminum jus buatannya. Cahya tersenyum melihatnya lalu berjalan masuk menuju kamarnya, tak disangka dari bawah, Aditya melihatnya saat berjalan masuk kembali ke kamar.


Cahya mengambil sebuah novel dan duduk bersandar di ranjang, memutar musik diponselnya sambil membaca novel itu, karena tidak tahu harus berbuat apa biasanya dia selalu menghabiskan waktu liburnya untuk mengobrol dengan Aditya atau juga bersama ibu mertuanya, Sednagkan saat ini suaminya itu tidak mau bertemu dengannya dan ibu mertuanya juga masih diluar negeri. Lama setelahnya Cahya merasa sangat mengantuk dan tertidur dengan posisi masih bersandar.


Aditya masuk ke dalam kamar untuk mandi dan melihat Cahya tertidur dan dipangkuannya ada sebuah buku serta ponselnya masih menyala memainkan lagu. Dengan segera dia mengambil buku itu dan membaringkan istrinya lalu menyelimutinya serta mematikan ponsel yang sedang memutar lagu. Aditya mencium kening Cahya, lalu pergi ke kamar mandi, perasaannya sakit harus melakukan ini semua, tetapi jika tidak melakukannya Cahya tidak akan pernah mengerti dengan semuanya.


Aditya keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti, ternyata disana Cahya sudah menyiapkan baju untuk dikenakannya. Setelah berganti dia keluar kamar untuk makan karena tadi dia belum sarapan dan melihat istrinya masih tertidur dengan pulasnya.


*****


Cahya terbangun menjelang siang, lalu mencuci muka dikamar mandi agar terlihat segar, dia menatap wajahnya dikaca, apapun caranya dia harus berbicara dengan Aditya untuk meminta maaf padanya. Cahya merasa sangat lapar, dan dia ingin memakan nasi padang, sudah lama dia tidak memakannya.


Cahya bergegas turun ke bawah mengecek apakah mbat Tina sudah menyiapkan makan siang atau belum, jika memang sudah dia harus menahan untuk tidak membeli nasi padang karena pasti nanti makanan dirumah akan mubazir.


" Mbak Tina, apa makan siangnya sudah siap??" Tanya Cahya.


" Aduh non maaf, saya baru mau menyiapkannya"


" Ahhh tidak usah mbak, aku sedang ingin makan nasi padang, aku akan pergi untuk membelinya"


Aditya keluar dari ruang kerjanya dan melihat Cahya berjalan dari ruang makan, mungkin Cahya baru saja menyelesaikan makan siangnya.


Cahya kembali naik ke atas untuk mengambil tas nya, dia juga akan memesan taksi online saja untuk pergi, karena Aditya masih tidak mau bicara padanya dia memutuskan untuk pergi sendiri. Sedangkan Aditya masuk ke ruang makan untuk makan siang.


" Loh mbak, kok dimeja ga ada apapun?" Tanya Aditya keheranan.


Mendengar itu Aditya bergegas menyusul Cahya, bagaimanapun Cahya tidak boleh pergi sendirian, apalagi dihari ini tidak ada supir dirumah karena biasanya ketika weekend supir sedang libur, kecuali kalau ada panggilan mendadak darinya atau Papanya.


Aditya sampai didepan pintu dan terkejut karena pintu terbuka dari dalam, dan kini dia bertatapan dengan Cahya.


" Kau mau pergi kemana dengan membawa tas??" Suara Aditya terdengar ketus.


" Aku..... Aku merasa lapar dan ingin makan nasi padang jadi aku akan membelinya"


" Kenapa kau mau pergi, pesan saja bukankah sekarang sangat mudah memesan makanan via online??"


" Aku ingin memakannya di tempatnya, aku akan memesan taksi online"


" Kau tidak boleh pergi!!!" Suara Aditya meninggi membuat Cahya memundurkan langkahnya dan merasa takut, Aditya masih marah padanya, dia tidak ingin membuatnya bartambah marah, mau tidak mau Cahya harus merelakan keinginannya untuk pergi


" Baiklah, aku tidak akan pergi jika kau melarangku, aku akan menyuruh mbak Tina untuk memasak makan siang" Cahya membalikkan badannya untuk menaruh tasnya tetapi Aditya menarik pergelangan tangannya.


" Kau tidak boleh pergi kecuali aku yang mengantarmu" Ucap Aditya.


Cahya tersenyum dan langsung memeluk suaminya sambil berterima kasih tetapi Aditya tidak membalas pelukannya, membuat Cahya melepaskan pelukannya sedih, ternyata suaminya masih marah kepadanya.


Didalam mobil, mereka berdua sama-sama terdiam. Cahya benar-benar merasa frustasi dengan keadaan seperti ini.


" Adit, aku mohon bicaralah padaku, aku minta maaf atas semuanya, kenapa kau terus diam, aku minta maaf, aku tidak akan bersikap seperti itu lagi" Tangisan Cahya pecah, dia menatap wajah Aditya dalam dalam tetapi Aditya hanya diam dan tetap fokus mengendarai tanpa menengok untuk melihat Cahya yang masih menangis disebelahnya.


Sampai ditempat makan, Aditya tetap diam dan memesan makan untuknya sendiri, sedangkan Cahya masih merasa sangat sedih, Aditya benar-benar mengabaikannya bahkan langsung duduk setelah menerima makanannya.


Setelah selesai makan, Cahya masuk ke mobil lebih dulu, menunggu Aditya membayar makanannya tetapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara yang berasal dari belakang. Cahya sangat terkejut melihat kaca mobil bagian belakang pecah akibat sebuah lemparan batu.


Aditya juga merasa terkejut dan berlari ke arah Cahya yang saat ini berada didalam mobil, sekilas dia melihat seorang laki-laki membelokkan motornya lalu pergi dengan cepat.


Aditya membuka pintu mobil dan menemukan Cahya sedang menunduk menutup kedua telinga nya karena terkejut. Panik itulah yang dirasakan pertama kali oleh Aditya, melihat Cahya shock dan menangis.