SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Menangis Terharu!



" Theoooo.....!!!!" Teriak Aditya keras membuat Theo kaget dan hampir melepaskan Cahya.


Aditya segera merangkul Cahya dan mendorong Theo.


" Apa yang kau lakukan pada istriku??? Pergi kau dari sini, cepat pergi!!!!"


Mbak Tina datang dari minimarket terlihat terkejut mendengar teriakan Aditya lalu bergegas ketika melihat majikannya sedang menopang istrinya yang sepertinya pingsan.


" Non Cahya kenapa tuan" Mbak Tina sangat panik melihat keadaan yang terjadi.


" Mbak Tina darimana, kenapa membiarkan Cahya dirumah sendirian" Tanya Aditya.


" Saya habis dari minimarket tuan, ada yang harus saya beli" suara mbak Tina ketakutan karena sepertinya Aditya sedang marah besar padanya.


" Cepat suruh pria itu pergi dari sini!!"


Mbak Tina langsung berlari dan menarik Theo keluar dari rumah, sedangkan Aditya menggendong Cahya masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


Setelah mengusir Theo, Aditya menitipkan pesan untuk mbak Tina agar menutup gerbang dan pintu rumah jangan sampai Theo masuk ke rumah lagi.


Aditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil menepuk-nepuk pelan pipi Cahya dengan satu tanggannya.


" Sayang, bangunlah, jangan membuatku khawatir, ayo buka matamu sayang"


Cahya masih belum membuka matanya, Aditya semakin mempercepat laju mobilnya dan akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Cahya segera dibawa masuk oleh perawat.


" Apa yang terjadi tuan?" Tanya dokter.


" Istriku pingsan entah apa yang terjadi tetapi tadi siang dia merasa kepalanya sakit, tolong periksa dia dokter"


Dokter meminta Aditya untuk menunggu diluar dan akan memeriksa istrinya. Dokter memeriksa Cahya dan ternyata Cahya membuka matanya dan terlihat kebingungan kenapa dia ada dirumah sakit, kemudian dokter menjelaskan jika suaminya yang membawanya ke rumah sakit.


" Ibu, apa yang terjadi dengan anda, kenapa anda bisa pingsan??" Dokter mulai bertanya agar memudahkan pemeriksaannya.


" Sejak pagi saya mulai merasa pusing dok, perut saya juga terasa sedikit mual tapi saya bisa menahannya, dan entah kenapa semakin siang kepala saya semakin berdenyut, tadi saya pingsan karena sakit dikepala saya terasa lagi dan pandangan saya tiba-tiba saja kabur lalu saya tidak mengingat apapun lagi"


Dokter tersenyum mendengar penjelasan Cahya, karena sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


" Baik bu, saya akan memeriksa anda, apa sekarang masih terasa pusing, oh iya anda sudah menikah berapa lama dengan suami anda"


" Masih sedikit pusing tapi tidak separah tadi, saya menikah sudah hampir 3 bulan dok, kenapa dokter menanyakan itu??"


" Silakan ibu ke kamar mandi dan bawa ini" Dokter memberikan sebuah testpack kepada Cahya.


Cahya keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian dan memberikan test pack itu pada dokter.


" Selamat bu, anda hamil" Dokter mengulurkan tangannya untuk menyalami Cahya.


" Benarkah?? Saya hamil dok? " Cahya tersenyum bahagia mendengar perkataan dokter.


" Suster tolong panggilkan suami ibu ini karena saya akan melakukan pemeriksaan USG"


Perawat memanggil Aditya dan menyuruhnya untuk masuk karena dokter ingin berbicara dengannya, bergegas Aditya masuk dan melihat ternyata Cahya sudah sadar dari pingsannya dan sekarang sedang berbaring. Cahya tersenyum saat melihat Aditya masuk.


Aditya hanya terdiam mendengar perkataan dokter, tetapi langsung tersadar beberapa detik kemudian.


" Istri saya hamil dok?? " Pertanyaannya tidak perlu jawaban sepertinya, Aditya langsung memeluk Cahya dan meteskan airmata tidak percaya jika dia akan menjadi seorang ayah.


Dokter kemudian melakukan pemeriksaan USG dan menunjukkan kepada Aditya dan Cahya dimana posisi janinnya, sekali lagi Aditya meneteskan airmatanya melihat ada titik kecil yang berada didalam perut istrinya, dan titik itu akan tumbuh menjadi anaknya.


*****


Aditya mengemudikan mobilnya pelan dan menggenggam tangan Cahya, genggaman itu tidak dilepaskannya sampai mereka berdua sampai dirumah. Aditya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, kehidupan barunya sebagai seorang Ayah akan dimulai, Mama dan Papanya pasti akan bahagia mendengar kabar ini.


Aditya meminta Cahya untuk beristirahat saja dikamar, dan menyuruh mbak Tina membawakan air untuk istrinya. Aditya menggenggam tangan istrinya dan menciumnya lembut lalu meneteskan airmata.


" Hei kenapa kau menangis?? " Cahya mengusap airmata Aditya dan merasa bingung disaat bahagia seperti ini kenapa malah menangis.


" Aku menangis bahagia, tidak menyangka bahwa aku akan menjadi seorang Ayah, sekarang anakku sedang bertumbuh didalam perutmu, kau harus menjaga anak kita" Suara Aditya tercekat dan tangannya mengelus perut Cahya.


" Aku akan menjaganya dan kau juga harus menjagaku dan anak kita, kemarilah aku ingin kau memelukku"


Mereka berdua berpelukan penuh kasih sayang, Aditya mengelus lembut punggung Cahya, dan menumpahkan kebahagiaannya dipundak sang istri. Aditya melepaskan pelukannya perlahan, lalu mengatakan pada Cahya bahwa dia akan mandi dan berganti baju terlebih dulu. Mbak Tina masuk membawa air putih dan makanan untuk Cahya.


" Taruh dimeja saja mbak, nanti biar aku yang menyuapinya" Ucap Aditya.


Aditya keluar dari kamar mandi, terlihat segar dan sudah berganti baju. Cahya bersandar di tempat tidur dan sedang menyalakan televisi.


" Baiklah sekarang waktunya istriku makan, tapi makan buahnya terlebih dulu, kau mau yang mana apel, pisang atau jeruk?" Tanya Aditya.


" Pisang saja " Jawab Cahya singkat, lalu membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.


" Sayang, tadi aku melihat Theo datang kesini, apa yang dia lakukan sehingga kau bisa pingsan, apa dia melukaimu??"


" Tidak, dia tidak melukaiku, aku terkejut dan ketakutan saat dia datang, takut dia akan menarikku lagi seperti duku, aku berharap kau segera datang, lalu ku tanya apa keperluannya tetapi belum juga dia menjawabnya kepala ku sakit dan pandanganku kabur setelah itu aku tidak ingat apapun"


Aditya bersyukur tadi dia datang tepat waktu, jadi Theo tidak melakukan apapun terhadap istrinya, dia juga jadi teringat tentang kejadian Erica yang datang tiba-tiba ke rumahnya, sepertinya dia harus mencari security untuk menjaga rumahnya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, selama ini dia hanya mengandalkan keamanan hanya pada security komplek.


Tukang kebunnya hanya datang saat pagi hari saja, rumahnya benar-benar harus dijaga dan di sterilkan dari orang-orang yang membawa dampak buruk baginya dan keluarganya, apalagi saat ini istrinya sedang hamil Aditya harus menjaga semuanya dengan baik, dan dia memang benar-benar perlu untuk mencari security pribadi untuk menjaga rumahnya.


Setelah menyelesaikan makannya, Aditya menyuruh Cahya untuk meminum obatnya dari rumah sakit tak butuh waktu lama, istrinya itu langsung tertidur. Lelaki itu menata selimut untuk istrinya tercinta, lalu mencium keningnya. Aditya tidak sabar menunggu kepulangan kedua orangtua nya untuk mengabarkan kehamilan Cahya, sengaja dia tidak memberitahunya sekarang karena takut mamanya akan langsung heboh dan mempercepat kepulangannya, dan nanti akan berakibat pada mamanya tidak fokus pada pengobatannya, dia harus sabar terlebih dulu.


Ponsel Aditya berdering dan terdapat nama ibu mertuanya yang menelepon, segera dia mengangkatnya.


" Hallo assalamualaikum ibu, bagaimana kabar ibu disana??"


" Alhamdulillah nak ibu sangat baik, bagaimana kabarmu dan istrimu?? ibu khawatir sejak tadi ibu menghubungi ponsel istrimu tapi tidak ada jawaban" Suara ibu mertuanya itu terdengar sangat khawatir, tetapi sepertinya dari tadi Cahya juga tidak memegang ponselnya.


" Iya ibu, sejak tadi Cahya tidak memegang ponselnya, seharian ini dia merasa pusing, mungkin tidak sempat melihat ponselnya, kabar kami sangat baik ibu, sekarang Cahya sudah tidur setelah meminum obatnya"


" Baiklah nak kalau kalian baik-baik saja ibu hanya khawatir saja, ya sudah kau juga beristirahatlah, Assalamualaikum". Ibu mertuanya menutup teleponnya.


Aditya masih memikirkan apa tujuan Theo dan kenapa berani sekali dia mendatangi rumahnya. Apakah dia memiliki niat jahat lagi terhadap istrinya, Aditya juga masih belum mendapat jawaban dari pertanyaannya kenapa Theo saat itu juga datang ke kantor Cahya dan memaksa untuk ikut dengannya bahkan sampai menarik tangannya dengan keras hingga menimbulkan memar dipergelangan tangan Cahya. Aditya harus mencari jawabannya segera dan harus menemui Theo secara empat mata untuk membahas soal ini. Selama ini istrinya telah mengalami berbagai trauma atas perbuatan yang dilakukan oleh Theo, bahkan insiden didepan kantor Cahya meninggalkan ketakutan tersendiri baginya. Aditya akan membuat perhitungan pada Theo.