
"Apa yang tadi mereka lakukan disana Dit??" Tanya Elea menghampiri Aditya dan Cahya yang tengah menikmati makanan bersama yang lainnya
"Karena pakaiannya sama dengan Ariel dan Maysa, mereka ingin menikah, hahaha" Aditya masih tidak bisa menahan tawanya melihat kepolosan kedua bocah itu.
Elea tersenyum kemudian mengajak Gienka ke Danist yang tengah mengobrol dengan Mamanya. Semua orang sedang menikmati sajian yang ada, beberapa lainnya memberi selamat kepada kedua mempelai. Pesta pernikahan Ariel kali ini tidak kalah dengan yang sebelumnya. Meriah dan sangat mewah.
Senyum Ariel dan Maysa tidak luntur dari wajah keduanya. Bahagia sudah pasti. Ariel setiap hari meyakinkan Maysa bahwa dia benar-benar akan menerima segala kekurangan perempuan itu, karena Maysa sangat mengkhawatirkan tentang kondisinya yang tidak akan pernah bisa hamil. Ariel hanya membutuhkan teman hidup, permasalahan memilimi anak bukan lagi hal utama karena dia sudah memiliki Gienka yang bisa melengkapi kehidupannya.
Sampai akhirnya satu persatu tamu mulai meninggalkan tempat acara. Dan yang paling terakhir pulang dialah Aditya dan Randy serta yang lainnya. Mereka masih mengobrol dan menikmati champagne dan sajian lainnya sebelum akhirnya pulang.
Kamar pengantin tentu sudah disiapkan dengan penuh istimewa untuknya dan Maysa. Sebelum besok siang mereka pergi ke negara Fiji, negara kepulauan yang terletak diselatan samudra pasifik. Ariel memilih negara itu untuk bulan madunya adalah karena negara itu memiliki pantai yang sangat cantik dengan laut berwarna biru juga pasir putihnya yang sangat indah. Dan selama satu minggu Ariel dan Maysa akan menghabiskan waktu disana.
Petugas hitel mengantar keduanya ke kamar pengantin yang sudah disediakan, dihias sesuai dengan keinginan Ariel. Saat pertama kali memasukinya tentu saja disambut oleh ratusan bunga yang sudah di decor sedemikian rupa, diatas ranjang juga sudah tersedia nampan yang dihias dengan aneka bunga dan terdapat sebotol champagne mewah serta 2 gelas dan kartu ucapan untuk Ariel dan Maysa.
"Apa kau menyukai ini???" Tanya Ariel.
"Sangat cantik" Gumam Maysa sambil tersenyum
Ariel melepaskan tuksedonya dan melemparkannya ke sofa kemudian mengajak Maysa untuk duduk diatas tempat tidur menikmati champagne yang sudah disediakan. Mereka berdua pun menikmatinya sambil mengobrol. Ariel membuka botol itu dan menuang isinya yang bening dan berwarna emas itu, terlihat sangat menggoda.
"Cheerrsss...." Ariel dan Maysa saling menempelkan gelas berisi Champagne itu lalu mulai menyesapnya perlahan, menikmati rasanya.
Ditengah obrolannya bersama Maysa, Ariel meninggalkannya sebentar untuk ke kamar mandi. Sementara Maysa memilih untuk melepaskan hiasan di kepalanya. Di dalam kamar mandi, Ariel merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah permen yang sudah lama sekali tidak di konsumsinya, dan dikesempatan kali ini tentu dia tidak akan melewatkannya begitunya saja. Ariel pun membuka bungkusnya dan memakannya, malam ini tidak bisa dilewatkan begitu saja dengan percintaan yang biasa-biasa saja, tetapi harus sangat istimewa karena sudah cukup lama dia menahan diri dan tidak bercinta sama sekali.
"Bagaimana perasaanmu Nyonya Ariel Harsya??" Ariel muncul dari kamar mandi membuat Maysa terkejut dan menjatuhkan hiasan kepalanya ke lantai.
"Kau mengagetkanku saja" Maysa terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang masih dipakainya dan tersenyum lebar melihat Ariel. "Tentu saja aku bahagia"
"Aku senang melihat kau bahagia, sekarang berhenti memikirkan hal yang mengganggu pikiranmu, kita harus fokus untuk bahagia saja" Ariel mendekati Maysa dan menghela perempuan itu ke pelukanya. "Aku sangat mencintaimu"
Ariel melepaskan pelukannya dan mendongakkan dagu istrinya itu. Sementara Maysa menatap wajah Ariel, mengagumi ketampanannya. Arielmenelusurkan bibirnya dengan ringan di telinga Maysa, membuat Maysa menggeliat geli. Lelaki itu lalu mengecup telinganya dan memagutnya dengan penuh gai rah. Ciumannya lalu berpindah ke rahang Maysa, meninggalkan kecupan-kecupan di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mendongakkan dagu Maysa.
"Kau semakin cantik, dan kau adalah isteriku"
Mata Ariel berkilat penuh napsu, suaranya serak dan menggoda. Lalu lelaki itu mengecup bibir Maysa penuh napsu, tangannya langsung bergerak ke belakang melepaskan gaun Maysa, kemudian menurunkannya dengan bebas.
Ariel tersenyum mengagumi tubuh indah Maysa, sudah lama dia tidak melihat tubuh itu. Ariel kembali memeluk Maysa sambil melepaskan pengain dari pembungkus dada Maysa kemudian jemarinya menelusur kebawah dan membebaskan sutra putih pembungkus area v Maysa.
Ariel mencium bibir Maysa lagi dan jemarinya memainkan area sensitif bawah Maysa, membuat perempuan itu mengerang karena sensasi nikmatnya. "Sshhhhssss... Hmmmppp.... Ahh.. Ssshhh..." Gumam Maysa dengan suara serak.
"Kau sudah basah sayang, aku ingin memilikimu, segera..."
Maysa merasakan gerakan-gerakan Ariel ketika lelaki itu membuka celananya, dan kemudian tanpa pembukaan, Ariel perlahan mendorong tubuh Maysa ke atas tempat tidur dan langsung menyelipkan miliknya, menelusup masuk ke dalam milik Maysa yang basah, lalu menggerakkan tubuhnya penuh gairah, ke dalam ritme pelan yang tidak tertahankan lagi.
Sambil bergerak, Ariel menggunakan kedua tangannya untuk memegang kedua aset Maysa dan bergerak dengan ritme yang semakin lama semakin cepat. Hingga kemudian Ariel membungkukkan tubuhnya dan tepat berada diatas Maysa, memeluk perempuan itu, menenggelamkan kepalanya di bant, sedangkan Maysa memeluk Ariel dan mengerang kenikmatan di telinga Ariel, meminta agar Ariel mempercepat gerakannya, karena dia menyukai itu. Mendapat perintah, Ariel pun langsung melakukannya.
"Kau merindukanku kan??? Merindukan ini?? Jadi kita akan menghabiskan malam ini dengan penyatuan tanpa henti, dan jangan bergmharap kau bisa tidur karena aku tidak akan membiarkan itu, sekarang kita nikmati malam ini dengan penuh kepuasaan dan kenikmatan" Ariel semakin mempercepat gerakannya, sedangkan erangan Maysa semakin keras membuat Ariel semakin bersemangat karena dia sangat menyukai suara perempuan yang sedang menikmati setiap gerakannya.
"Sekarang naik ke atasku dan puaskan dirimu! Aku yakin mulai malam ini kau pasti akan selalu menginginkannya lagi dan lagi, ayo naiklah....!" Pinta Ariel dan Maysa langsung menurutinya.
Ariel dan Maysa benar-benar tidak bisa tidur semalaman. Ariel membuat Maysa bebar-benar menikmati penyatuan mereka. Maysa selalu menuruti keinginan Ariel yang ingin mencoba berbagai gaya, dan dia tergila-gila dengan semua itu. Dan mereka terus bercinta sampai pagi, tidur sebentar sebelum siangnya berangkat ke airport untuk pergi bulan madu.
*********
Setelah kembali dari bulan madunya bersama Maysa, Ariel langsung memboyong Maysa ke rumah keluarganya agar rumah itu tidak kosong terlalu lama. Dan tetap akan datang ke rumah lama agar bisa tetap mengunjungi Gienka. Kali ini Ariel bersama dengan pengacara datang ke rumah Danist. Danist dibuat keheranan dengan kedatangan mereka mengingat dia sudah mengatakan kepada Ariel bahwa dia tidak menginginkan apapun lagi dari warisan Ayah mereka. Akan tetapi dari semyum Ariel, tampaknya adiknya itu sudah merencanakan sesuatu, entah itu apa. Danist mempersilahkan mereka untuk masuk.
Ariel pun menyuruh Danist untuk memanggil Elea juga sebelum pembicaraan ini di mulai. Tak lama setelah dipanggil, Elea datang bersama nampan berisi minuman yang dibawanya kemjdian duduk bersama dengan Danist, Ariel dan pengacaranya.
Pengacara pun mulai membacakan lagi surat pembagian warisan yang telah diubah sesuai dengan permintaan Ariel. Dalam perubahan itu ternyata Ariel bersedia mengurus semua perusahaan milik mendiang Ayahnya, dan setiap tahunnya akan ada pembagian hasil sebesar 50% untuk dimasukkan ke tabungan Friddie dan Gienka, dimana keduanya masing-masing akan mendapatkan 25% : 25%. Dan itu akan berlangsung sampai mereka dewasa, dimana ketika keduanya sudah menyelesaikan pendidikannya tertingginya keduanya akan memiliki jatah yang sama untuk mengurus perusahaan itu, dalam pengawasan Ariel tentunya. Tetapi jika suatu saat Danist ingin masuk dan membantu di perusahaan, Ariel akan dengan senang hati menerimanya, karena dia tetap memiliki hak yang sama seperri Ariel, tetapi jika tidak mau tentu tidak apa-apa. Kemudian catatan terbesarnya adalah, Danist tidak boleh lagi menolak keputusan ini karena ini adalah keputusan Final dari Ariel.
"Iel....!!! Apa ini tidak terlalu berlebihan??? Anak-anak masih terlalu kecil untuk menerima semua itu, aku tahu nilainya bukan lagi puluhan atau ratusan juta, tetapi tentu milyaran disetiap tahunnya, lebih baik jangan 25%, 5 atau 10% saja itupun aku pikir sudah banyak sekali..!" Ujar Danist dengan persaan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru di paparkan oleh pengecara itu.
"Tidak kak.....!!! Anak-anak tentu butuh pendidikan yang terbaik nantinya, itu adalah tabungan pendidikan untuk mereka, jangan menolak lagi, kakak sudah terlalu banyak menolak selama ini, dan ini adalah keputusan terakhirku, tidak boleh di ganggu gugat!" Ucap Ariel yang kemudian diikuti pemberian berkas-berkas itu oleh pengacara.
"Tetapi kenapa kau memutuskan hal sebesar ini Iel?? Padahal aku juga sudah menolak semua ini sejak awal"
Ariel tersenyum. "Aku ingin bersikap adil padamu mengingat sejak dulu kau tidak pernah mendapatkan itu, aku juga ingin Ayah memaafkan semua kesalahanku jika aku melakukan ini, dan berharap dia juga merasa senang dengan keputusan ini karena aku menempatkan kedua cucunya dalam posisi yang sama serta imbang, aku harap kau tidak menolak lagi, jika kau menolak untuk dirimu, aku akan menghargainya tetapi aku memberi ini untuk keponakanku Friddie, dia juga berhak mendapatkan hak yang sama seperti Gienka, ingat itu kak...!!
Ariel membuka lembarnya satu persatu, membubuhkan tanda tangannya disana. Kemudian bergantian memberikannya pada Danist memintanya agar menandatanginya juga, setelah itu Elea bertugas sebagai saksi dalam hal ini. Ketika Ariel memberikan berkas-berkas itu, Elea dan Danist saling berpandangan, tatapan Danist begitu berat karena hal sebesar ini diputuskan oleh Ariel dengan mudahnya. Kemudian Elea menutup matanya dan mengangguk menyuruh agar suaminya itu menandatanginya, mengingat ini pasti sudah dipikirkan matang-matang oleh Ariel. Dan dari sini mereka bisa melihat keadilan yang ditunjukkan oleh Ariel, lelaki itu memberikan hak yang sama pada Gienka dan Friddie.
Ariel meminta agar Danist membacanya lebih dulu sebelum menandatanginya. Danist melakukannya, membaca semuanya kemudian menandatanginya, disusul Elea. Ariel tersenyum bahagia karena Danist menyetujui keinginannha, dan berharap bahwa semua ini akan lebih mendekatkan mereka lagi. Ariel berdiri dari sofa dan melebarkan kedua tangannya, mengerti maksud Ariel, Danist juga berdiri dan memeluk adiknya itu dengan perasaan terharu. Danist sangat bangga dengan sikap yang diambil oleh Ariel, dia dulu sering mendengar kebaikan dan ketulusan Ariel tetapi sayangnya dia tidak melihatnya karena sikap buruk Ariel yang selalu saja dilihatnya dulu, tetapi ketika bisa lebih dekat dengannya, semua keburukannya selama ini ternyata lebih kecil dari kebaikan hatinya. Mungkin saat itu Ariel telah dibutakan oleh keegoisan sesaatnya yang membuat hatinya yang baik itu terselimuti oleh kemarahan serta prasangka buruk. Dan sekarang Ariel sudah kembali seperti dulu, menjadi Ariel yang baik, bertanggung jawab, penuh kasih sayang dan penuh canda tawa.
★★★★★★
Di tempat lain, keluarga Aditya sedang dilingkupi kebahagiaan juga karena Chika dinyatakan positif hamil. Kehamilan Chika sudah memasuki minggu ke enam. Chika tidak menyangka jika dia akan hamil secepat ini. Dia sudah terlambat mendapatkan haidnya dan coba-coba membeli testpack dan ternyata hasilnya positif, hanya saja dia belum yakin dan mengajak Cahya untuk ke dokter kandungan memastikan semuanya. Karena dia belum mengatakan pada Adri jika dia sudah terlambat mendapatkan haidnya. Chika takut jika itu hanya terlambat biasa dan belum tentu hamil sehingga takut Adri akan kecewa, itu sebabnya dia mengajak Cahya untuk memastikannya.
Dan ternyata dokter mengatakan bahwa Chika benar-benar hamil. Kabar itu tentu saja langsung diberitahukan ke seluruh keluarga mereka, dan kebahagiaan terlihat dari semua orang. Rasa syukur tidak hentinya terucap dari mulut Ibu dan Mama mertuanga karena mereka akan menjadi nenek lagi untuk bayi ke tiga dikeluarga mereka setelah Kyra dan Kyros. Mama Aditya sendiri sudah rindu untuk merawat bayi lagi, mengingat dia juga sering mendukung Cahya agar memiliki bayi lagi, tetapi sayangnya Aditya menolak hal itu, membuatnya terpaksa harus menunggu bayi dari Adri dan Chika. Dan sekarang akhirnya mendapatkannya.