
Elea sudah terlihat lebih tenang, dan Gienka juga sudah tertidur lagi. Aditya kembali masuk ke ruangan Elea, Cahya terlihat sedang duduk menggenggam jemari Elea. Sedangkan Papa dan Mama Elea duduk disofa dengan wajah yang begitu kalut tetapi keduanya hanya diam. Aditya kemudian bergabung dengan mereka dan duduk disofa.
Cahya melihat kearah suaminya itu dan mengangkat matanya mencari jawaban tetapi suaminya itu justru menggelengkan kepalanya menandakan bahwa pembicaraannya dengan Ariel tidak menemukan titik tengah.
"Kenapa Dit? Apa Ariel telah mengatakan sesuatu padamu??" Tanya Elea penasaran karena melihat Aditya masuk dengan wajah muram.
"Ah tidak El, tidak ada, Ariel tidak mengatakan apapun, dia hanya marah saja seperti yang kau lihat tadi"
Elea tidak mempercayai ucapan Aditya begitu saja, pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Terlihat jelas bahwa Aditya sedang menyembunyikan sesuatu darinya tentang Ariel. Danist datang lalu masuk keruangan itu dan melempar senyum ke semua orang lalu duduk disebelah Aditya.
"Dit, kau menyembunyikan sesuatu dariku, ayo cepat katakan, apa Ariel mengatakan sesuatu padamu? Tolong jangan sembunyikan apapun dariku" Ucap Elea.
"Ariel, dia tetap memaksa untuk membawamu dan Gienka pulang dan tinggal bersamanya, melihat dari keadaannya kurasa dia benar-benar serius dengan perkataannya dan akan melakukannya dalam waktu dekat ini"
"Apa dia sudah gila???" Sahut Cahya.
"Dia memang sudah gila, kurasa kemarin dia hanya menyerah sejenak karena posisi Elea sedang hamil dia tidak ingin mengganggunya hingga akan mempengaruhi kehamilannya, tetapi kini dia semakin kuat dengan kehadiran Gienka, bahkan jika kita menghalanginya sudah pasti dia akan mencari cara agar bisa membawa Elea dan Gienka menjauh dari kita semua, Ariel bukan orang yang mudah menyerah, dia akan berusaha mencari celah untuk masuk dan melakukan apa yang dia inginkan, saat ini yang dia inginkan hanya Elea dan Gienka"
"Berarti kita harus membawa Elea pergi dari sini, sayang, coba kau pikirkan lagi dimana tempat yang cocok untuk Elea" Gumam Cahya panik.
Elea kembali terisak, sekali lagi kehidupan telah mempermainkannya lagi. Ternyata masalah ini lebih pelik dari sebelumnya, dia mulai melupakan semua hal buruk yang terjadi dihidupnya, tetapi sekarang justru Ariel membuat luka lagi dihatinya. Membayangkan Ariel akan memaksanya untuk kembali bersamanya itu tidak pernah sama sekali ada dalam pikirannya selama ini.
Cahya dan Aditya sudah banyak membantunya selama ini, Elea tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan mereka, mengingat persahabatan Ariel dan Aditya sudah terjalin sejak lama, jika Aditya membantunya pasti persahabatan itu akan hancur karena dirinya. Elea tidak ingin itu terjadi, apapun resikonya dia harus bisa menghadapinya sendiri. Jika memang Ariel akan benar-benar melakukan hal itu dengan membawanya juga Gienka, dia akan menuruti keinginan Ariel walaupun hatinya menolak. Cintanya pada Ariel sudah benar-benar lenyap dari hatinya saat lelaki itu memilih tidak menghadiri persidangan mereka. Ariel hanya dia anggap sebagai masalalu yang harus dilenyapkan dan dikubur dalam-dalam. Itu yang selama ini sudah dia lakukan, walau terkadang bayangan Ariel hanya sekelebat datang tetapi dia langsung menepisnya dengan mengingat semua kenangan buruk yang ditinggalkan lelaki itu padanya.
Tetapi jika kali ini Ariel melakukan apa yang sudah diucapkannya tentu Elea tidak akan mengambil resiko dengan mengorbankan orang lain yang selama ini ada digarda terdepan untuk membantunya. Elea tidak tahu bagaimana akan membalas semua kebaikan dari mereka yang selama ini ada bersamanya, yang bisa dia lakukan sekarang adalah menuruti keinginan Ariel walaupun hidup dan kebahagiaannya harus dia korbankan.
"Tidak Ca, sudah cukup aku merepotkanmu dan Aditya, jika itu yang diinginkan Ariel, aku akan datang membawa Gienka dan kembali padanya walaupun setelah itu aku akan merasa hidupku bagai di neraka aku akan ikhlas menerimanya, ini semua demi kebaikan kalian semua, aku harap Mama dan Papa juga mau menyetujui keputusanku ini, kurasa Gienka juga pasti akan butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya"
Semua orang langsung berdiri karena terkejut mendengar ucapan Elea. mereka semua langsung memprotes keputusan Elea, terutama kedua orangtuanha. Menerima keputusan Ariel dengan alasan Gienka bukanlah hal yang tepat, karena Gienka akan tetap mendapat kasih sayang kedua orangtuanya tanpa harus mereka kembali bersama. Cara Ariel meninggalkan Elea dulu juga sangat buruk, membawa perempuan pulang dan berselingkuh didepan istri adalah tindakan keji yang tidak bisa ditolerir. Selain itu umpatan Ariel pada Elea yang dikatakannya mandul juga tidak bisa mereka terima begitu saja. Sebagai orangtua tentu saja mereka tidak akan menerima hal itu, kehidupan anak mereka sudah dipermainkan seperti itu, dan sekarang dengan pongkahnya, Ariel ingin membawa anak dan cucunya kembali dengannya, tentu mereka berdua tidak akan setuju.
"Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah mengijinkanmu kembali pada laki-laki seperti Ariel itu, kau anak papa satu-satunya, papa selalu ingin putri papa bahagia, tapi kau justru ingin jatuh dilubang yang sama, lillahi ta'ala El papa tidak rela, apa kau senang melihatku dan Mamamu hidup dalam tangisan disetiap karena harinya memikirkanmu?? Kau ingin melihat kami meninggal lebih cepat karena terus memikirkan nasibmu?" Ucap Papa Elea sambil menangis.
"Tidak Papa, bukan begitu, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin menghentikan kekacauan yang dibuat Ariel, itu saja"
"Tapi itu bukan cara yang tepat El" Ujar Papa Elea, dengan kesal dia lalu memilih keluar dari ruangan itu.
Elea berteriak memanggil sang Papa tetapi teriakannya tidak berhasil membuat Papanya kembali. Elea pun hanya bisa menangis, karena sepertinya keputusannya telah melukai hati papanya. Cahya menghampiri Elea dan memeluknya mencoba menenangkannya lagi.
Mama Elea akhirnya juga keluar untuk mengejar suaminya. Sementara Elea masih terus menangis dipelukan Cahya. Danist dan Aditya hanya bisa terdiam dengan situasi ini, ulah Ariel telah membuat kekacauan yang luar biasa.
Danist memilih untuk keluar dan meninggalkan Elea, Cahya juga Aditya.
****
Papa Elea duduk dibangku taman dengan perasaan yang sudah tidak bisa digambarkan lagi, kesal, marah dan kecewa dengan keputusan yang akan diambil oleh putrinya. Dia yakin pasti ada cara lain yang bisa dilakukan selain harus menuruti kemauan Ariel.
Mama Elea datang dan duduk disamping suaminya, mencoba menenangkan hatinya. "Papa tenanglah, mungkin maksud Elea baik"
"Baik??? Bagaimana kau juga bisa berpikir seperti itu? Kita membesarkan putri kita selama ini dengan penuh kasih sayang, kita selalu menuruti semua keinginanya agar dia tidak menangis, lalu sekarang kita harus menuruti kemauannya tetapi itu justru akan membuatnya tersakiti dan menangis, bagaimana kau bisa melihat penderitaan putrimu lagi? Apa kau bisa menjamin bahwa laki-laki brengs*k itu tidak akan menyakiti putri kita lagi? Kau tidak lihat bagaimana angkuhnya dia, bagaimana dia bersikap, sudah cukup dia menyakiti putri kita kemarin sudah cukup, melihat wajahnya saja aku langsung ingin menghajarnya"
Mama Elea membenarkan semua perkataan suaminya itu, tidak ada jaminan bahwa Ariel tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Penderitaan yang dialami Elea selama ini membuat dadanya juga sesak, putrinya yang dulu ceria telah kehilangan senyumnya. Putrinya itu selama ini juga selalu berusaha mengendalikan suasana hatinya sendiri, bahkan dengan begitu tegarnya menjalani hidupnya yang sudah dihancurkan oleh Ariel tetapi saat ini tidak ada pilihan lain untuk menghindari rencana Ariel selain membiarkan putrinya itu untuk kembali dengan lelaki itu.
"Tapi tidak ada cara lain Pa selain cara itu? Bagaimana kalau Ariel membawa putri kita dan cucu kita pergi menjauh dari kita? Itu pasti akan sangat menyakitkan, bagaimanapun tidak ada cara lain selain menyetujui keinginan Elea"
"Ada tante, ada cara lain yang bisa menghentikan kekacauan ini dan itu akan bisa membungkam mulut Ariel juga bisa membuatnya menyerah dengan keadaannya" Danist tiba-tiba datang dari belakang dan langsung membuat Papa dan Mama Elea menengok ke arahnya.
"Danist??" Seru Mama Elea terkejut.
"Apa itu Dan?" Tanya Papa Elea penasaran.
"Ariel tidak akan pernah berhenti mengganggu Elea walaupun kalian sekuat tenaga membawa Elea pergi, dia terobsesi dengan Elea dan saat ini ada kehadiran Gienka, itu justru membuatnya tidak akan pernah mau menyerah begitu, itu sangat terlihat diwajahnya, harus ada yang mengikat Elea dan itu akan membuat Ariel terbungkam dan Elea juga tidak harus kembali kepadanya"
"Maksudnya apa Dan? Om tidak mengerti?"
"Ariel pernah mengatakan padaku bahwa dia akan terus berusaha mendapatkan Elea bagaimanapun caranya sebelum Elea diikat oleh orang lain, yang artinya Ariel akan terbungkam saat melihat Elea sudah menikah dengan orang lain, jadi jalan satu-satunya menyelamatkannya adalah Elea harus menikah secepatnya"
"Apa??? Menikah?" Seru Mama Elea.
Danist kemudian duduk dan menceritakan tentang kesepakatan yang telah dia buat dengan Elea beberapa waktu yang lalu dimana Elea meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya, dan karena itulah Ariel juga pernah menemui dirinya dan menantangnya untuk mendapatkan Elea. Tetapi pada akhirnya kesepakatan itu di akhiri oleh Elea karena dia tidak ingin membuat dirinya jadi bulan-bulanan Ariel.
"Om, tante, aku merasa Ariel melakukan ini semua karena dia takut jika setelah melahirkan ini Elea akan menikah denganku, itu sebabnya dia melakukan ini semua agar tidak ada kesempatan untukku dan Elea menikah, karena jika itu terjadi dia akan kehilangan seluruh haknya terhadap Elea, padahal dia tidak tahu jika itu hanya sebuah kesepakatan tetapi jika sampai dia mengetahui kesepakatan itu, dia pasti akan tambah bersorak senang, jadi itu sebabnya aku mohon ijinkan aku untuk menikahi Elea, itu pasti akan menghentikan kekacauan ini" Ucap Danist.