SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 393



"Ya, aku dipenjara selama 3hari atas tuduhan yang tidak pernah aku lakukan, itu juga yang membuat Mama marah besar kepada Brianna dan keluarganya, aku keluar karena memang tidak ada bukti yang kuat bahwa aku menyembunyikan Brianna"


"Lalu setelah itu apa yang terjadi???" Tanya Elea lagi.


"Setelah aku kembali pulang, Mama memintaku agar berhenti berurusan dengan Brianna, sejak saat itu aku mulai melupakan semuanya secara perlahan, aku tepiskan semua perasaanku dan mulai fokus mencari pekerjaan, ketika aku mendapatkannya, aku benar-benar menyibukkan diriku dengan pekerjaan hingga akhirnya aku benar-benar lupa, bayangan Brianna hanya datang sesekali tetapi aku hanya menganggapnya angin lalu, aku bertahan dengan kesendirian selama bertahun-tahun sampai akhirnya aku bertemu denganmu" Danist memandang Elea dan melemparkan senyumnya. Elea tidak berkata apapun dan balik menatap Danist.


"Apa kau ingat El bagaimana pertama kali kita bertemu? Kau terpeleset dan aku menangkapmu, aku melihat mata indahmu itu sembab seperti habis menangis, tetapi wajah cantikmu begitu membekas dihatiku, aku berdoa pada Tuhan agar bisa bertemu lagi denganmu lagi dan doaku itu terwujud bahkan setiap hari kita bertemu membuatku semakin mencintaimu, Brianna hanya bagian dari masalaluku yang sudah aku lupakan, saat ini yang paling penting dihidupku hanyalah kau dan anak-anak kita" Danist menggenggam jemari Elea dan menciumnya.


Danist berharap dengan ceritanya itu bisa membuat Elea berhenti berpikir hal buruk tentang masalalunya bersama dengan Brianna. Juga agar Elea percaya bahwa hubungan itu sudah lama berakhir. Brianna hanya masalalu yang sudah lama dia lupakan.


"Tetapi dari sikap yang Brianna padamu di rumah sakit itu, aku rasa Brianna masih sangat mencintaimu, dan mungkin dia merasa bahwa hubungan kalian belum berakhir jadi dia berani melakukan itu, padahal aku ingat jelas sekali saat dia pertama kali datang, Mama sudah memperkenalkanku sebagai istrimu, aku pikir kau harus menemuinya"


Danist mengernyit. "Menemuinya??? Untuk apa?? Jika dia sudah tahu kalau aku sudah memilikimu"


Elea membantu Danist berdiri dari kursi roda dan membawanya ke tempat tidur. "Temui dia dan katakan apa yang tadi kau katakan padaku bahwa kau sudah mengakhiri hubungan dengannya, agar dia tidak selalu berharap kepadamu, mungkin dengan itu aku juga bisa merasa tenang...!"


Danist terdiam, dan memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Elea. Haruskah dia melakukan itu atau tidak. Tetapi perkataan Elea memang ada benarnya juga, ya walaupun dia sendiri sudah malas untuk bertemu dengan Brianna.


Danist melempar senyum ke Elea, dan menyetujui untuk bertemu dengan Brianna, agar kesalahpahaman tentang hubungan mereka tidak terus berlanjut. Brianna bisa menerima dan Elea mungkin akan merasa lebih tenang.


******


Ariel membawa Gienka pulang saat sore hari, tadi dia tidak tega melihat kebahagiaan putrinya saat bermain bersama Kyra. Dan sebenarnya Gienka menolak untuk pulang tetapi karena hari sudah sore mau tidak mau Ariel memaksanya agar mau pulang.


Ketika sampai di depan rumah, terlihat Elea sedang menggendong Friddie. Gienka turun dari mobil dan berlari menghampiri adik dan Mamanya, serta mendaratkan ciuman untuk mereka berdua.


"El, berikan Friddie padaku, dan mandikan Gienka, dimana kakak???" Tanya Ariel sambil mengambil Friddie dari gendongan Elea.


"Dia ada di atas, kau kesana saja, aku akan membawa Gienka ke kamar"


Ariel mengangguk lalu membawa Friddie menaiki tangga. Ariel memenuhi semua janjinya, dia juga sudah mulai memperhatikan Friddie, mencurahkan kasih sayangnya pada bayi itu seperti dia mencurahkan kasih sayangnya pada Gienka. Ariel juga mencoba lebih dekat dengan Mama Danist, mencoba memulai memperbaiki hubungan dengan keluarga Elea.


"Rumah sudah lama kosong, kenapa kau tidak tinggal disana saja???" Gumam Ariel tiba-tiba.


Danist menoleh, mengggerutkan dahinya. "Rumah?? Tinggal disana? Tinggal dimana??"


"Ku sarankan lebih baik kau tinggal di rumah Ayah saja, disana ada banyak pelayan yang akan membantu Elea merawatmu dan anak-anak, daripada rumah itu kosong lebih baik kalian tinggal disana, karena kau juga memiliki hak tinggal disana" Ujar Ariel.


"Ada Mama disini yang bisa membantu Elea merawatku dan anak-anak, kau saja yang pulang kesana Iel?? Kau bisa membawa Gienka sesuka hatimu untuk tinggal disana, kami sudah nyaman disini"


"Rumah itu terlalu luas untuk ku tinggali sendiri" Gumam Ariel sambil terkekeh.


"Apa kau akan selamanya hidup sendiri??? Cepatlah menikah agar ada yang bisa mengurus dirimu, apa lagi yang kau tunggu?"


"Aku tidak berpikir kesana, sendiri pun aku bisa mengurus hidupku, jika aku menikah tetapi istriku tidak mau menerima Gienka lalu untuk apa aku melakukannya, kebanyakan perempuan yang dekat denganku karena mereka hanya melihat siapa diriku bukan karena ingin menghabiskan hidup bersamaku dan Gienka, mungkin jika ada perempuan yang memiliki sifat sepertimu aku pasti akan langsung menikahinya hahaha...!"


Ariel tertawa begitu juga dengan Danist. "Bukankah sudah ada yang begitu menyayangi Gienka selama ini??? Kulihat dia juga sangat baik, kenapa kau tidak mencoba memperbaiki hubungan kalian dan kembali bersama???"


"Siapa???"


Danist kemudian menyebut nama Maysa, seketika itu Ariel tersenyum sambil mengatakan bahwa dia sangat malu jika meminta Maysa untuk kembali padanya mengingat apa yang dulu sudah terjadi. Ariel sendiri menyadari jika selama ini Maysa memang sanga baik juga sangat menyayangi Gienka tetapi meminta perempuan itu untuk kembali adalah hal yang sangat tidak mungkin. Dan mungkin saja Maysa juga tidak akan mau kembali bersamanya lagi. Saat ini hubungan itu hanya hubungan persahabatan saja, dan akan seperti itu.


"Kenapa hanya persahabatan saja Iel?? Kau dulu sudah hampir melamarnya kan?? Lanjutkan saja, aku yakin dia tidak akan menolakmu" Gumam Danist lagi.


Ariel menggelengkan kepalanya. Hal itu pasti tidak akan pernah lagi bisa terulang. Maysa pasti diam-diam juga masih menyimpan kemarahan kepadanya karena penghinaan yang dulu dia lontarkan pada Mama Maysa juga bagaimana dia mengatakan di depan banyak orang tentang hal yang seharusnya menjadi privasinya dan Maysa. Dia sudah merendahkan harga diri Maysa, mempermalukan perempuan itu juga. Sudah pasti hal itu tidak akan pernah bisa di lupakan oleh Maysa.


"Maysa terlalu baik, aku merasa tidak pantas bersanding dengannya, apa yang ku lakukan dulu sangatlah buruk dan dia pasti masih menyimpan luka yang ku tinggalkan itu di dalam hatinya, kita sendiri tidak pernah tahu kan hati orang, aku sangat malu Kak...!"


Danist menyentuh pundak Ariel. "Coba saja dulu Iel?? Kita juga tidak tahu isi hati Maysa kan???"