SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 167



Sambil menyesap jus nya Danist hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tanpa mengatakan apapun kepada Cahya. Tetapi Cahya melihat dari sikap Danist bahwa memang sepertinya lelaki itu memiliki perasaan terhadap Elea. Seperti perkataan Chika pada Cahya, bahwa Danist masih menahan perasaannya karena masih menghormati Elea yang sedang hamil.


Setelah selesai makan siang bersama, mereka berempat pergi meninggalkan restoran untuk kembali ke kantor. Tetapi Aditya akan lebih dulu mengantar Cahya ke Villa sebelum dia dan Danist pergi ke kantor perkebunan. Cahya meminta kepada Aditya agar mengijinkan Elea untuk menemaninya di Villa hari ini selagi suaminya itu mengecek kondisi kantor perkebunan.


Akhirnya mereka sampai di villa Aditya, kedatangan Aditya dan Cahya sudah ditunggu oleh pak Mizan. Pak Mizan membantu Aditya dan juga Danist mengeluarkan barang-barang di mobil membawanya masuk. Setelahnya Aditya serta Danist meninggalkan Cahya dan Elea di villa.


Cahya mengambil Kyros dari stroller sedangkan Elea mengambil Kyra lalu membawa kedua bayi itu naik ke kamar di lantai 2. Sesampainya dikamar kedua bayi yang sedang tidur itu diletakkan diatas ranjang dan Cahya mulai membongkar pakaiannya yang ada di koper dibantu oleh Elea.


Sampai saat ini baik Cahya, Aditya ataupun yang lainnya tidak ada yang memberitahu Elea tentang apa yang terjadi pada Ariel. Elea sudah memulai hidupnya yang baru, rasanya bukan waktu yang tepat jika harus membahas masalalu yang sudah menyakiti Elea begitu dalamnya. Tuhan juga sudah mulai bekerja menunjukkan kuasanya bahwa setiap tindakan buruk pasti akan menuai hasil buruk juga nantinya.


"El, ku lihat kau begitu dekat dengan Danist, aku senang melihatnya"


"Dia rekan yang baik Ca, kurasa bukan aku saja yang dekat dengannya tetapi semua staff juga dekat dengannya karena memang dia orang yang baik dan mudah bergaul"


"Bagaiman rencanamu ke depannya El? Kau tentu sudah memikirkan masa depanmu dan bayimu" Cahya duduk disebelah Elea yang sedang merapikan pakaian Kyros dan Kyra.


"Tidak ada rencana apapun, aku hanya akan menjalani semuanya dengan biasa saja mengalir seperti air, aku tidak mau memikirkan hal yang terlalu tinggi itu hanya menyesakkan dada saja jika tidak sesuai dnegan yang kita harapkan"


"Apa kau tidak ingin menikah lagi suatu saat nanti? Kau pasti tidak akan selamanya menjadi single parents kan??"


"Aku belum terpikirkan ke arah sana Ca, tetapi setiap kemungkinan kan bisa saja kita tidak pernah tahu jalan Tuhan and then jika ada seseorang yang mencintaiku suatu saat nanti tentu saja dia juga harus mencintai anakku dan mau menerima segala masalaluku, tetapi itu bukanlah hal yang akan mudah, aku dulu menikah karena terlalu berlebihan dalam mencintainya, terlalu dalam jatuh pada pesonanya dibutakan oleh kasih sayangnya yang akhirnya justru menghancurkan hatiku, sometimes aku akan lebih berhati-hati jika ada yang memintaku menjadi istrinya, dia harus benar-benar mau berjuang untukku" Elea berdiri menghampiri Cahya yang berdiri didepan lemari dan memberikan tumpukan pakaian Kyros dan Kyra.


Setelah memasukkan pakaian bayinya, Cahya langsung memeluk sahabatnya itu. "I hope you will be happy El" Ucap Cahya.


"Thanks Ca, aku tidak bisa mengatakan apapun selain jutaan terima kasihku padamu dan Aditya yang selalu membantuku selama ini"


*****


Cahya dan Elea menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol serta menggendong Kyros dan Kyra di taman belakang. Elea sangat senang bisa menghabiskan waktunya dengan kedua bayi itu, dia sellau bergantian menimangnya dan mengajaknya berbicara serta bermain bebek karet yang suaranya sangat disukai oleh Kyra.


Hingga akhirnya hari sudah sore, Cahya mengajak Elea membawa Kyros dan Kyra ke kamar untuk memandikan kedua bayi itu lebih awal. Setelah memandikannya dan memakaikan pakaian, Kyra dan Kyros langsung tertidur, Cahya mengajak Elea untik kembali turun dan menaruh kedua bayi itu di stroller agar mereka bisa mengawasi kedua bayi itu sambil memasak karena sebentar lagi Aditya akan pulang. Cahya sudah memberitahu Aditya agar mengajak Danist dan Chika ke villa untuk makan bersama.


Cahya dibantu Elea untuk menyiapkan makanan didapur. Mereka berdua memasak beraneka macam makanan yang pasti akan sangat enak, mengingat keduanya memang memiliki hobi memasak. Makanan buatan mereka akhirnya sudah siap dan tersaji dimeja makan, tinggal menunggu Aditya, Danist dan Chika datang.


Yang ditunggu akhirnya datang juga, Cahya segera menyuruh mereka untuk ke ruang makan, selagi semua makanan masih hangat. Baru masuk diruang makan, aroma makanan langsung tercium membuat yang masuk langsung ingin segera menyantapnya. Aditya sangat bersemangat karena setiap Cahya memasak rasanya selalu enak, walaupun hanya masakan rumahan, Aditya selalu bersemangat saat menikmatinya. Semua tampak menikmati hidangan yang tersaji dihadapan mereka.


Karena sibuk mengunyah, Chika hanya mengangguk menjawab pertanyaan Aditya. "Pantas saja setiap malam minggu dia tidak pernah pulang, oh iya El, apakah Chika pernah tidak pulang saat bersama Adri?"


Chika langsung menelan makanannya dan mengambil minum. "Ih kak Adit, emangnya Chika cewek apaan, lagian kita cuma ngabisin waktu ngobrol dirumah aja, tanya aja kak Elea, Adri cuma menginap disini bahkan aku saja tidak pernah kesini bersamanya" Sahut Chika.


"Awas saja kalau kalian berani berbuat hal yang diluar batas, aku akan langsung menikahkan kalian"


"Menikah??? Tidak tidak aku masih belum menginginkannya, membayangkannya saja membuatku takut, aku akan menikah 3 sampai 4tahun lagi"


Semua tertawa mendengar ucapan Chika itu, Chika memang selalu menghindar dan selalu mengatakan jika dia masih belum terpikirkan untuk menikah karena baginya saat ini ingin fokus bekerja begitu juga dengan Adri yang ingin menabung lebih dulu agar kelak bisa hidup mandiri saat berkeluarga. Akhirnya acara makan bersama sudah selesai, Chika dan Elea langsung mengambil Kyra dan Kyros dari stroller dan membangunkan kedua bayi itu lalu mengajaknya ke taman belakang. Sementara Cahya membereskan piring dan gelas yang baru saja terpakai. Sementara Danist dan Aditya masih duduk dan mengobrol tentang pekerjaan.


Saat Cahya sedang sibuk mencuci piring, Aditya yang mengobrol dnegan Danist teralihkan karena ponsel Aditya berbunyi. Aditya menyuruh Danist untuk menunggu sebentar karena dia akan mengangkat telepon itu. Cahya sudah menyelesaikan kegiatannya membersihkan piring dan duduk, dia melihat Danist sedang tersenyum melihat ke arah Elea yang sedang bermain bersama Kyra dan Kyros di taman.


Cahya berdehem membuat Danist langsung mengarahkan padangan ke arahnya dengan perasaan sedikit malu. "Danist, mau belum menjawab pertanyaanku tadi siang"


"Pertanyaan yang mana bu?"


"Kau jangan berpura-lupa Dan, pertanyaanku tentang Elea tadi"


Sekali lagi Danist hanya melempar senyum ke Cahya, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


"Dan, jika memang kau menyukai Elea, aku akan jadi salah satu orang yang turut bahagia, sahabatku itu adalah orang yang sangat baik dan aku berharap dia akan mendapatkan kebahagiaannya lagi suatu saat nanti, memang mungkin ini bukan waktu yang tepat untukmu menyatakan perasaanmu padanya, tapi suatu saat kau harus mengatakannya, kau dan Elea sepertinya sangat serasi"


"Ah ibu bisa saja, saya hanya takut jika dia menolak saya, tetapi jika saya pikirkan lebih dalam lagi, saya rasa saya cukup nyaman berada dalam keadaan seperti ini, daripada nanti saya mengatakannya dan dia menolak saya, malah keadaan pasti akan berubah menjadi canggung dan tidak nyaman"


"Lalu apakah kau hanya akan menjadi penolongnya, sahabatnya, dan rekan kerjanya saja???" Tanya Cahya.


Danist tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Saya rasa, Elea masih sangat mencintai mantan suaminya, aku takut jika Elea masih berharap bisa kembali kepada mantan suaminya itu, terlebih lagi saya juga berpikir bayi yang dikandungnya juga pasti sangat membutuhkan ayahnya, saya takut akan kecewa jika saya memperdalam perasaan saya" Gumam Danist pelan.


Danist terlihat begitu sedih, terlihat lelaki itu memiliki banyak ketakutan dan keraguan, tetapi tatapannya selalu penuh cinta saat melihat Elea.


"Elea hanya akan memilih laki-laki yang tidak hanya mencintainya tetapi juga mau mencintai dan menerima anaknya serta mau berjuang untuknya, kehidupan yang dilaluinya sudah terlalu berat, pasti dia tidak ingin hal buruk itu terjadi lagi padanya, siapa yang mau berusaha dan berjuang menerima segala kekurangannya dan mencintai keluarganya tanpa syarat, maka tentu Elea akan menerimanya, jika kau bisa melakukannya bukan tidak mungkin kau akan memenangkan hatinya, mantan suaminya hanya bagian dari masalalu yang ingin sekali dia kubur dalam-dalam agar dia bisa menjalani kehidupannya lebih baik lagi"