
Elea terbangun dari tidur ayamnya, dia melihat jas Danist yang sudah tersampir si atas sofa, menandakan bahwa lelaki itu sudah masuk, tetapi kemana dia. Elea melihat seluruh sudut kamar tetapi tidak menemukan Danist disana. Hingga kemudian sayup-sayup dia mendengar suara dari dalam kamar mandi. Elea sedikit bergidik karena itu adalah seperti suara tangisan. Meragu tetapi penasaran Elea melangkah mendekati kamar mandi dan menguping di pintu kamar mandi. Elea mulai menyadari bahwa itu adalah suara dari Danist, dia pun membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu, dan menemukan Danist duduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Danist menangis, itu yang pertama kali ada di pikiran Elea.
"Dan.... Kau kenapa??? Kenapa menangis!?" Elea memeluk Danist agar membuat lelaki itu tenang.
"Dan.....!!! Kau ini kenapa??? Jangan seperti ini, ayo berdirilah kita ke kamar!" Ucap Elea lagi.
Danist menyeka airmatanya, raut wajahnya terlihat penuh dengan kesedihan. Hari ini harusnya menjadi hari yang bahagia untuknya tetapi justru menjadi hari yang sangat menghancurkannya. Elea menatap suaminya itu dengan penuh kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau kenapa? Apa yang membuatmu seperti ini, bukankah kau tadi berbicara dengan om Andi? Apa telah terjadi sesuatu??" Tanya Elea lagi.
"Dia mengatakan bahwa dia adalah Ayahku!!" Jawab Danist kemudian.
"Apa!!!???" Seru Elea. "Bagaimana bisa!!?"
Danist kemudian menceritakan semuanya saat dia bersama pak Andi diruangan itu. Bagaimana lelaki itu ingin memberikan sebagian aset yang dimilikinya untuk dia sebagai ungkapan permintaan maafnya selama ini karena tidak mengetahui keberadaannya dan saat ini dia ingin memperbaiki keslahannya di masalalu. Tetapi kesedihan yang dia rasakan saat ini bukanlah karena ekspresi terharunya mengetahui siapa Ayahnya tetapi lebih kepada penghinaan Ariel kepada Mamanya.
"Ariel mendengar semua pembicaraan itu, dia masuk dengan penuh kemarahan kepada Ayahnya, sebenarnya aku tidak peduli dengan permasalahn dia dan ayahnya, aku juga tidak peduli dengan aset ataupun warisan yang dibicarakan karena aku tidak membutuhkannya, tetapi aku tidak bisa mengendalikan diriku saat dia mulai merendahkan Mama, dia mengatakan bahwa Mama adalah perempuan jalanan yang biasa menggoda laki-laki, dan mengataiku sebagai anak tidak sah, juga mengatakan bahwa semua ini adalah rencana jahatku dan Mama untuk bisa mendapatkan harta itu"
"Apa!!!??? Bagaimana bisa Ariel mengatakan hal itu, ya Tuhan....!!! Lalu apa yang lakukan padanya? Tadi kau bilang tidak bisa mengendalikan dirimu???"
"Aku memukulnya!"
Elea mengusap pipi Danist dengan lembut lalu memeluknya, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, sikap Ariel seharusnya tidak seperti itu, dia boleh marah dan mengungkapkan kekesalahannya pada Ayahnya bukan pada Danist ataupun Mamanya. Seharusnya Ayah Ariel juga bisa berpikir lebih bijak, hal sebesar ini harusnya Ariel diberi tahu tentang yang sebenarnya jadi kesalahpahaman seperti ini tidak akan terjadi. Elea kemudian menyuruh Danist agar berdiri, lalu mandi setelah itu tidur sehingga esok hari dia sudah bisa merasa lebih baik. Elea sangat tahu bagaimana perasaan yang dirasakan oleh suaminya itu, luka lamanya seolah muncul lagi dan kali ini pasti lebih menyakitkan dari sebelumnya.
*****
Sesampainya di rumah Yongki setelah mengantar Randy, Aditya masuk ke kamar. Inilah yang selama ini dia takutkan saat pada akhirnya itu semua terungkap. Tidak akan yang bisa mengendalikan Ariel jika dia sedang marah dan merasa dikhianati. Tetapi Aditya bisa memahami kemarahan Ariel, kekecewaan sahabatnya itu, itu hal yang sangat wajar mengingat permasalahan ini sangatlah rumit dan tidak bisa diterima dengan mudah. Aditya juga memahami pemikiran dan penilaian Ariel yang buruk kepada Danist ataupun Mamanya karena dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, membuat Ariel mengerti dan menjelaskan semuanya disaat seperti ini kepada Ariel tidaklah mudah karena kemarahan masih melingkupi dirinya. Bagi Aditya yang salah di posisi ini tetaplah pak Andi, seharusnya sebelum mengungkapkan semuanya kepada Danist, terlebih dulu dia harus mengatakan semuanya pada Ariel. Sehingga Ariel tentu akan memiliki pandangan lain dan tidak akan melakukan penghinaan kepada orang yang tidak bersalah. Danist saat ini pasti merasa sangat sakit atas apa yang tadi terjadi.
Aditya kemudian menceritakan semuanya, tetapi saat menceritakan bagaimana Ariel menghina Danist dan Mamanya, Cahya langsung mengernyit dan tidak membenarkan apa yang dilakukan Ariel. Cahya juga tidak berhenti bergumam kesal kepada pak Andi yang tidak bisa mengambil sikap dengan baik. Seharusnya sebagai seorang Ayah yang sudah membuat kesalahan yang begitu besar, dia harus bersikap bijak dan menghentikan serta menjelaskan semuanya, bukan hanya diam menyaksikan penghinaan Ariel yang tidak ada hentinya kepada Danist dan Mamanya.
"Apa kalian semua disana tidak ada yang bisa menjelaskan semuanya pada Ariel??? Kau, Randy, om Andi bahkan juga Danist??? Kenapa tidak mencoba menjelaskan apa yang terjadi???"
"Sayang...! Aku pikir saat Danist memukul Ariel, dia akan mengatakan semuanya, karena aku melihat dengan jelas wajah Danist yang begitu marah tetapi aku sendiri tidak mengerti ternyata Danist tidak mengatakannya, dia hanya berucap bahwa Ariel yang tidak mengenal baik Mamanya sendiri, setelah itu Danist langsung pergi meninggalkan kami semua, dan om Andi sebenarnya ingin menjelaskan tetapi kurasa sikap yang diambilnya salah, dia malah mengajak Ariel pergi bagaimana Ariel akan mau? Kondisi Ariel sendiri begitu murka, setelah itu aku dan Randy juga berusaha menjelaskan pada Ariel tetapi dia tidak mau mendengarkan kami dan pergi begitu saja"
"Permasalahan mereka runyam sekali ya Tuhan....! Kasihan Danist, lagipula kenapa om Andi tidak memberitahu Ariel jika ingin membagi kekayaannya kepada Danist juga, pantas saja Ariel marah besar" Cahya tidak kalah jengkelnya.
"Sebenarnya Ariel pernah mengatakan padaku dan dia sempat curiga karena Ayahnya menyuruh menandatangani berkas warisan itu, kau tahu kan bahwa selama ini om Andi ingin memberikan semuanya pada Ariel, tetapi saat itu yang diberikan pada Ariel hanya setengahnya, aku sempet berpikir mengarah kesini dan ternyata itu benar, setengahnya ternyata ingin diberikan kepada Danist"
"Rumit sekali, aku berharap Danist sekarang dalam keadaan baik-baik saja, dia harusnya sedang berbahagia dengan Elea tetapi kekacauan ini merusak semuanya, menyebalkan sekali" Gerutu Cahya.
*****
Danist keluar dari kamar mandi, dan terlihat segar setelah membersihkan diri, walaupun raut wajahnya masih tidak terlihat bahwa dia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Elea memanggilnya dan menyuruh Danist agar segera beristirahat dan tidak terlalu memikirkannya karena yang terpenting adalah bahwa dia dan Mamanya tidak bersalah seperti apa yang dituduhkan oleh Ariel. Elea juga menyadari jika pak Andi adalah ayah dari Danist tentu suaminya itu juga memiliki hubungan darah dengan Ariel, setelah menikah dengan Ariel dia sekarang justru menikahi kakak Ariel, dan sudah tentu Gienka memiliki darah Danist juga. Entah apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan, hubungan kedua lelaki itu sudah buruk dari awal karena dirinya, dan kenyataannya sekarang mereka justru bersaudara.
Dalam hal ini memang sekali lagi pak Andi menjadikan Danist dan Mama mertuanya korban dari dari perbuatannya. Begitu juga dengan Ariel, dia juga korban dari Ayahnya, seharusnya pak Andi bisa mengambil keputusan dengan bijak, padahal semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, tidak hanya dengan satu pihak tetapi kedua belah pihak, sehingga kesalahpahaman seperti ini tidak terjadi.
Danist tiba-tiba berbaring di atas tempat tidur dan menjadikan kedua paha Elea sebagai bantal kepalanya. Airmatanya mulai menetes lagi, Elea dengan penuh kelembutan mengusap rambut dan dahi Danist, berharap suaminya itu bisa lekas tidur sehingga kesedihannya bisa hilang untik malam ini.
"Apa kesalahanku dan Mamaku El, sehingga kehidupan kami selalu ditimpa kesulitan sejak dulu? Kenapa Tuhan justru selalu menjadikan kami korban dari keegoisan seseorang, yang berbuat salah bukan kami tetapi kenapa kami berdua yang mendapatkan hukuman seperti ini, kami selalu berusaha menjadi orang yang baik, bahkan kami selama ini tidak pernah menuntut apapun darinya, tidak mengusik kehidupannya membiarkan dia menikmati kehidupannya dengan keluarga barunya, tetapi kenapa dia selalu meninggalkan luka yang begitu dalam untuk kami berdua, hanya karena dia aku dan Mama mengalami ribuan kesulitan setiap detiknya, dan dia kembali justru menambah lagi kesulitan kami, dia membiarkan anaknya selalu menghinaku dan tadi juga dia sekali lagi hanya diam saat anaknya merendahkan Mamaku, apa baginya selama ini belum cukup sudah menghancurkan dan memberi Mamaku kehidupan bagai di neraka setiap detiknya, apa dia pikir dengan memberiku kekayaannya, itu akan menghapus deritaku selama ini?? Tidak akan pernah El, semua penderitaan yang kami alami selama ini akan terus terbawa sampai kami mati, begitulah kenyataannya!" Gumam Danist dengan berurai airmata.
Elea yang mendengarnya juga ikut menitihkan airmatanya. Danist dan Mamanya tentu tidak bersalah tetapi perbuatan kejam pak Andi di masalalu kepada mereka, tentu bukanlah perkara yang mudah untuk dihilangkan begitu saja, karena duka dan penderitaan mereka selama ini pasti akan terbawa selama hidup mereka. Elea bisa merasakan kepedihan suaminya saat ini.