SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 245



Cahya berdiri di tengah pintu kamar, melirik kanan kiri mencari Aditya lalu menemukan lelaki itu keluar dari dapur yang ada di belakang. Cahya merasa cemas sekali, permen itu pasti akan bereaksi, satu permen saja bisa membhatnya tidak bisa tidur semalaman bagaimana dengan 2 permen sekaligus, mungkin efeknya bisa sampai esok hari. Cahya benar-benar sudah terjebak dengan ulahnya sendiri, harusnya tadi dia tidak menertawakan Aditya. Tetapi bagaimana bisa tidak tertawa, setiap mengingat moment itu dia selalu saja ingin tertawa karena tingkah Aditya saat itu yang menurutnya lucu sekaligus konyol. Cahya harus mencari cara agar nanti bisa menghindari Aditya untuk sementara waktu.


Aditya duduk diruang tengah asyik menonton telivisi, dirinya merasa sangat kesal sekali dengan ulah istrinya. Cahya selalu saja menertawakannya jika membahas soal permen siialan itu, istrinya itu memang keterlaluan, sekali-kali memang harus diberi pelajaran agar tidak lagi menentangnya. Saat tadi keluar kamar setelah mengunyah permen itu, sebenarnya Aditya langsung mengeluarkan permen itu dan membuangnya, dia tidak mau mendapat efek buruk akibat permen itu karena lusa dia sudah mulai bekerja dan ingin menghabiskan waktunya hari ini dan besok untuk istirahat. Tetapi kali ini dia harus mengerjai Cahya, agar istrinya itu tahu rasa, mengingat dulu Cahya juga pernah mengerjainya dengan permen itu beruntungnya dia sudah tahu bagaimana cara menanganinya setelah bertanya pada Ariel jadi tidak harus terlalu tersiksa karena efeknya.


Aditya mematikan televisi dan beranjak untuk pergi ke kamar dan mengerjai Cahya. Sementara sejak tadi Cahya merasa sangat gelisah dan merasa bersalah kepada Aditya tetapi tidak berani mendekati suaminya itu. Handle pintu kamar bergerak yang artinya Aditya akan masuk ke kamar, dengan segera Cahya melempar tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimutnya lalu berpura-pura memejamkan matanya, berharap Aditya yang melihatnya tidur memutuskan untuk tidak memintanya agar melayaninya.


Aditya masuk dan mendapati Cahya berbaring di tempat tidur, lalu terkekeh. "Aku akan membalasmu" Gumam Aditya dalam hati lalu melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Cahya membuka matanya dan menghela napasnya merasa lega, tadi dia pikir Aditya akan ikut berbaring dengannya tapi tampaknya Aditya mengurungkan niatnya karena melihat dia tidur.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, Cahya kembali menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Aditya masih melempar senyum mengejek ke arah Cahya yang berbaring di tempat tidur lalu melangkah mendekati ranjang lalu melepas handuk yang membelit perutnya dan berbaring di sebelah Cahya.


Cahya memjamkan matanya lalu merasakan Aditya menelusup ke dalam selimut di belakangnya. Lelaki itu memeluknya dari belakang, rambutnya basah dan badannya segar, aroma sabun dan aftershave yang begitu jantan.


Tiba-tiba jemari Aditya menelusup dan meraih dadanya lembut tetapi tidak keras karena tahu disana masih menyimpan asi untuk bayinya, lalu ibu jari dan telunjuknya mengusap-usap lembut put*ng Cahya menggoda. Aditya mendekatkan tubuhnya kepada Cahya dan menekankan miliknya di bagian belakang tubuh Cahya. Saat itulah Cahya menyadari, Aditya tidak memakai apapun di balik selimut, dan lelaki itu sedang sangat ingin.


"Aku membutuhkanmu, kurasa efek permen itu sudah mulai terasa" Bisikan Aditya terdengar dalam dan misterius di tengah keheningan kamar, tetapi Cahya hanya diam dan berusaha pura-pura tidur tidak memperdulikan permintaan Aditya.


Karena tidak mendapat respon dari Cahya, Aditya pun memiringkan kepala Cahya ke belakang. Dan langsung menunduk dan mencium bibir Cahya dengan cepat. Cahya pun terpaksa membuka matanya, berpura-pura masih mengantuk, dan menolak Aditya menyuruh lelaki itu untuk nanti saja melakukannya tetapi Aditya tidak memperdulikannya.


"Kau menolakku????" Tatapan tajam Aditya pada Cahya membuat perempuan itu bergidik ngeri. "Kau sudah memancingku dan sekarang kau menolakku, berani sekali kau!!!"


Karena takut Cahya pun mendekatkan kepala Aditya ke wajahnya dan mulai mencium suaminya itu. Kemudian bibir mereka saling berciuman tanpa ampun, Lalu Aditya menurunkan jarinya dan menarik turun kain sutra yang membungkus milik Cahya. Diangkatnya sebelah paha Cahya ke atas, dan dari belakang dia menyusupkan miliknya yang keras ke dalam pusat diri Cahya yang telah basah dan lembab, siap menerimanya.


"Kau harus selalu siap untuk ku masuki" Aditya mencium bibir Cahya "Kau adalah isteriku jadi jangan sekali-kali kau menantangku" Aditya bergumam posesif dan jarinya menggoda, menggesek titik sensi itu di luar milik Cahya, menggodanya dengan gerakan-gerakan ahli, membuat Cahya mengerang dipenuhi oleh sensasi kenikmatan.


Aditya bergerak dalam ritme cepat dan cukup kasar tidak seperti biasanya. Satu tangan Aditya mengangkat pahanya yang sedang berbaring miring, dan satu tangannya yang lain menggoda dan memainkan titik sensi Cahya. Sementara itu di bawah, tubuhnya menggoda liar, menggesek Cahya dengan ritme cepat yang menghanyutkan. Penyatuan mereka begitu liar, hingga napas keduanya terengah-engah hanyut di dalam ga*rah


Lalu Aditya menggigit telinga Cahya pelan " Kau harus mengikuti semua perintahku sayang... Ikuti aku oke..." bisiknya, memberikan isntruksi penuh gai*ah, agar Cahya mau mengikuti perintahnya. Cahya menurut, membiarkan Aditya membawanya ke dalam pusaran puncak kenikmattan dan pelepasan yang luar biasa nikmatnya. Lelaki itu meledak bersamanya, sama-sama jatuh ke dalam jurang kenikmatan yang dalam.


Beberapa menit kemudian Aditya dengan nakal dipeluknya tubuh Cahya dan dinaikkan ke atas tubuhnya, "Kau rasakan itu?" Aditya berbisik dengan nada sensu*l, membuat tubuh Cahya menggelenyar. Dia masih merasakannya, milik Aditya yang begitu keras, lelaki ini masih sangat bernaps*


"Naiki aku sayang, cepat!!!" Aditya bergumam sambil mengarahkan pinggul Cahya sedikit turun sehingga kewanitaan Cahya menyentuh milimnya yang sudah siap. Cahya menempatkan dirinya, dan membiarkan Aditya membimbingnya. Lelaki itu menaikkan pinggulnya dan menurunkan pinggul Cahya, membuat tubuhnya menelusup dengan mudahnya ke dalam tubuh Cahya, terasa begitu panas dan berdenyut di dalam sana.


"Gerakkan tubuhmu, sayang, ayo puaskan aku, kau istriku yang sangat pintar" Aditya bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Cahya menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggeram ketika merasakan gerakan Cahya, matanya berkilat penuh kenikmatan.


"Oh, kau nikmat sekali sayang" Aditya mengimbangi gerakan Cahya.


Cahya dengan menggerakkan pinggulnya ke atas dan menurunkannya membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa itu. Cahya mengekplorasi dirinya sendiri seperti seorang penunggang kuda yang handal.


Penyatuan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensitif Cahya tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin berani, mengekplorasi kenikmatannya dengan sebebas-bebasnya. Aditya terus mengikuti gerakannya, dengan sama liar dan bergai*ahnya. Dan kemudian Cahya mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang ketika mencapai puncak itu, bersama Aditya yang mengikutinya di belakangnya.


Tubuh Cahya rubuh, terkulai di atas tubuh Aditya dengan napas terengah-engah. Sementara tangan lelaki itu memeluk punggungnya dan mengusapnya sambil lalu.


Lama kemudian Cahya mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Aditya tampak penuh senyum dan menggoda, "Senang menaikiku?"


Pipi Cahya merah padam atas godaan itu, membuat Aditya terkekeh, dengan lembut dia melepaskan dirinya dari tubuh Cahya, lalu menghela perempuan itu ke sampingnya untuk kemudian memeluknya erat-erat.


Hingga kemudian Cahya merasakan lagi ketegangan yang ada di diri Aditya. Walaupun nikmat Cahya sudah cukup lelah, tetapi sepertinya Aditya masih belum menginginkan ini berakhir. "Sayang, kau bisa merasakannya kan?? Aku menegang lagi, ayo turun ke bawah dan puaskan aku dengan mulut dan jemarimu yang lembut itu"


"Ayo buka mulutmu, dan puaskan aku dengan itu" Ucap Aditya lalu membimbing Cahya dan .... "Aaaahhhhh" Erang Aditya lagi saat mulut istrinya itu mengulum miliknya. Perlahan Aditya menggerakkan kepala Cahya dengan menarik rambut istrinya itu agar bisa mengekplorasi seluruh senjatanya dengan mulutnya. Hingga akhirnya, Aditya sebentar lagi akan sampai di ujung kenikmatannya, di tariknya kepala Cahya dan menyuruh istrinya itu untuk menggerakkan jemarinya lagi sampai dia meledak.


Dengan erangan panjang, Aditya meledak dan menyemburkannya di wajah Cahya membuat wajah cantik istrinya itu belepotan. Cahya lalu melepaskan pegangannya pada milik Aditya dan buru-buru kabur ke kamar mandi. Sialan lelaki itu, gumamnya kesal.


Melihat istrinya terbirit-birit Aditya malah terkekeh dan tampak puas mengerjainya.


*****


Saat masih berbaring dengan Danist, Elea tiba-tiba mendengar sesuatu lalu tertawa. Ya suara itu tampaknya berasal dari Danist, lelaki itu pasti saat ini sedang lapar, bagaimana tidak lapar, hari sudah sore sedangkan mereka berdua sejak siang belum makan apapun karena sibuk menghabiskan waktu ditempat tidur. Elea beranjak dari tempat tidur dan harus membuat sesuatu untuk mereka makan, kasihan jika membiarkan Danist kelaparan terlalu lama.


"Kalau kau masih lelah, beristirahat saja, aku akan membuat sesuatu untu kita makan"


Elea berdiri dalam keadaan tidak mengenakan apapun selain hanya braa yang menempel di tubuhnya, lalu membungkuk memunguti dressnya yang ada di lantai dan memakainya di depan Danist. Sementara lelaki itu masih terbaring di balik selimutnya. Wajahnya sedikit merona karena malu saat perutnya mengeluarkan bunyi karena lapar dan itu di dengar jelas oleh Elea.


Elea ke dapur dan mengambil beberapa sayur serta daging di kulkas lalu mulai memasak untuk makan siangnya dan Danist yang sangat terlambat. Entah kenapa kali ini Elea merasa dirinya lebih bahagia daripada sebelumnya, ya dia pernah merasakan ini sebelumnya saat bersama Ariel tetapi semua kisahnya dengan Ariel sudah berakhir, saat ini dia harus membuat kisah baru dengan Danist. Pria yang selama ini selalu mendukungnya, selalu membantunya dan sangat mencintainya juga Gienka. Elea juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik, dan berharap semoga ini adalah pernikahan terakhirnya, semoga tidak akan ada lagi orang ketiga yang akan berusaha menghancurkannya.


Makan siang sudah selesai Elea buat, dan dia pergi ke kamar untuk memanggil Danist. Ternyata Danist baru saja keluar dari kamar mandi, dan sudah rapi serta terlihat segar.


"Makanan sudah siap, ayo kita makan! Gienka juga masih tidur" Ucap Elea, tetapi tiba-tiba Gienka bangun dan menangis dengan sangat kencang.


Danist terkekeh dan menghampiri box bayi Gienka lalu mengangkat bayi itu untuk menenangkannya. "Dia sudah bangun El, uhhh sayang kenapa kau menangis?? Anak Papa Dan tidak boleh menangis, apa kau juga lapar???" Danist mencium Gienka lalu memberikannya pada Elea agar bisa menyusu, karena sepertinya Gienka menangis karena merasa lapar.


Elea duduk ditempat tidur dan mulai menyusuii Gienka, dan bayi itu langsung tenang.


"Aku bilang apa? Dia memang lapar" Gumam Danist dan ikut duduk samping Elea mengusap lembut kepala Gienka.


"Besok kita ke rumah Adit dan Cahya ya? Sekaligus jalan-jalan, rumah mereka kan tidak jauh dari sini"


"Tentu saja, aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada mereka karena sudah membawamu dan Gienka kesini juga telah mengirim box bayi itu untuk Gienka" Tutur Danist.


"Ayo kita ke dapur dan makan, Gienka sudah tenang, ayo"


Danist dan Elea meninggalkan kamar dengan membawa Gienka. Gienka dibaringkan di strollernya oleh Elea, kemudian dia melanjutkan menyiapkan makanan untuk Danist.


Danist menikmati makanannya dengan lahap dan memuji masakan yang Elea buat. Elea memang pandai dalam hal memasak dan rasanya juga selalu enak, Danist tidak memungkiri hal itu.


Saat sedang mengunyah makanan, tiba-tiba Elea teringat tentang sesuatu. Dia harus mengatakannya pada Danist, karena jika tidak, ini bisa menimbulkan permasalahan serta salah paham diantara mereka. Bagaimanapun Elea harus mengatakannya, mungkin Danist juga memiliki pendapatnya atau saran tentang hal ini.


"Dan.....!!" Panggil Elea.


Danist mengangkat kepalanya dan memandang Elea. "Ya???" Jawabnya singkat.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, ini tentang Ariel!"


Danist mengernyit tetapi hanya diam saja. Elea ingin membicarakan tentang Ariel kepadanya, apa jangan-jangan pria itu berulah lagi saat dia tidak ada disana dan Elea tidak langsung menceritakannya padanya.


"Ariel??? Apa lagi yang dilakukannya padamu? Atau kau ingin membandingkannya denganku???" Tiba-tiba wajah Danist berubah menjadi tidak bersahabat lagi setelah mendengar Elea menyebut nama Ariel.