SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 258



Cahya sudah bangun sejak tadi dan sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Aditya. Cahya melangkah menuju kamarnya untuk mengecek kedua anaknya tetapi terlonjak karena melihat Aditya masih terlelap di tempat tidur padahal harusnya suaminya itu sudah bersiap untuk ke kantor, jika tidak dia pasti akan terlambat.


Cahya menggerakkan tubuh Aditya membangunkan lelaki itu. "Sayang....!!! Bangun ini sudah siang...!!!" Teriak Cahya.


"Biarkan aku tidur sayang, aku tidak ke kantor hari ini" Jawab Aditya dengan suara serak dan justru menutup wajahnya dengan selimut.


Cahya menghela napasnya, lalu meninggalkan Aditya dan beralih membangunkan anaknya yang juga masih terlelap di box bayi mereka. Kyros bangun lebih dulu setelah Cahya menciuminya dan juga membisikkan nama bayi itu di telinganya. Karena tidak menangis, Cahya langsung membawa Kyros ke kamar mandi.


Sayup-sayup Aditya mendengar suara tangisan, bangunlah dia dengan setengah matanya terbuka karena masih mengantuk dan menemukan putrinya sedang menangis. Aditya mengangkatnya dan membaringkan Kyra ditempat tidurnya dan dia juga ikut berbaring lagu disebelah bayi itu, memeluknya dengan mata yang masih tertutup. Ya, Aditya kembali tidur, tetapi anehnya Kyra menghentikan tangisannya saat di peluk oleh Ayahnya.


Hingga akhirnya beberapa Cahya keluar dari kamar mandi bersama Kyros dan terkejut melihat Kyra sudah ada diatas tempat tidurnya. Bayi itu sudah bangun dan sibuk menyesap jempolnya sementara Aditya tidur sambil memeluk Kyra yang dibiarkan sendirian.


"Adit keterlaluan sekali membiarkan Kyra terbangun sendirian" Gumam Cahya kesal.


Karena Kyra diam dan menikmati menyesap ibu jarinya, Cahya memilih untuk mengurus Kyros lebih dulu sebelum bergantian memandikan Kyra. "Kyra sayang, sebentar ya? Mama urus kakak Ky dulu ya??" Gumam Cahya lalu mulai memakaikan Kyros baju dan yang lainnya.


Karena kesal, Cahya mencabut bulu kaki Aditya, tidak hanya satu tapi cukup banyak hingga membuat lelaki itu langsung berjingkrak kaget dan melompat dari tempat tidurnya sambil berteriak kesakitan.


"Arrghhhh aduh aduh sakit.....!!!" Teriak Aditya sambil membungkukkan badannya dan mengusap kakinya.


Cahya hanya tertawa melihat tingkah suaminya yang konyol itu tetapi Aditya langsung memandangnya dengan tatapan tajam. "Kenapa kau tertawa?? Dan kenapa kau jahat sekali mencabut bulu kakiku?"


"Kau yang kenapa? Tega sekali membiarkan putrimu bermain sendirian sedangkan kau malah masih tidur, cepat bangun, jika kau malas mandi setidaknya cuci mukamu lalu pergi sarapan!!"


"Iya iya, sudah biarkan Kyra mandi denganku saja, ayo Kyra sayang, mandi dengan Papa ya???" Aditya mengangkat Kyra dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi.


*****


"Kau sedang apa???" Gumam Elea mengejutkan Danist yang sedang sibuk di dapur.


"Kau mengejutkanku saja! Aku sedang membuat sarapan untuk kita, aku merasa menyesal kemarin tidak memakan sarapan buatanmu, sebagai penebusan aku membuat ini"


"Sebagai balasannya kemarin, aku tidak mau memakan sarapan buatanmu" Ucap Elea yang sontak membuat Danist menaruh piring yang dibawa nya dengan sedih, padahal sudah sejak pagi dia bangun hanya untuk membuatkan Elea sarapan, tetapi ternyata istrinya itu malah tidak mau memakan masakan yang sudah capek-capek dia buat.


Elea menutup mulutnya lalu tertawa terbahak-bahak memandang Danist. "Aku bercanda!!! Kenapa wajahmu tegang sekali, terima kasih sudah membuatkannya untukku, aromanya harum sekali pasti ini sangat lezat"


Danist menarik kursi untuk Elea lalu mempersembahkan masakan buatannya berupa omelet dengan potongan sayur, sosis jamur dan juga parutan keju. Aromanya memang sangat harum dan menggiurkan membuat siapa saja yang menciumnya pasti ingin mencoba rasanya. Elea lamgsung memotong dan memakannya dengan lahap seraya memejamkan matanya karena rasanya memang benar-benar enak, bahkan omelet buatannya pun tidak bisa seenak ini. Elea memuji Danist dan akan menerima dengan senang hati jika setiap pagi Danist yang membuat sarapan untuknya. Keduanya tertawa bahagia menikmati sarapan mereka sampai selesai.


"Sayang, biarkan aku yang membereskan, kau ke kamar saja dan tengoklah Gienka, sudah bangun atau belum" Ucap Elea yang sekitaka membuat Danist yang sedang minum menjadi tersedak dan batuk-batuk mendengar Elea memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Apa???" Seru Danist.


"Bukan itu, tadi kau memanggilku apa???" Tanya Danist masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.


"Dan......!!! Danistyar Pratama sayang suamiku tercinta!!! Cepat pergilah ke kamar, lihatlah Gienka" Ucap Elea lagi dengan kesal karena harus mengulang lagi perkataannya.


Danist tersenyum dan pipinya memerah lalu mengambil lagi gelas berisi air dan meminumnya lagi kemudian beranjak dan meninggalkan Elea menuju ke kamarnya.


Ternyata Gienka masih tenang di box bayinya, masih menikmati mimpi indahnya sehingga enggan untuk membuka matanya. Danist mengusap lembut kepala bayi itu. Bayi kecil yang tidak berdosa yang membuat Danist selalu merindukannya saat sedang tidak bersamanya. Gienka telah merubah dunianya bahkan sejak bayi itu masih berada dalam perut Elea, Danist sudah mencintainya. Gienka lahir dengan begitu cantiknya, wajahnya mewarisi kecantikan Elea. Kini seluruh kasih sayangnya seolah tercurahkan pada bayi itu walaupun tahu bahwa Gienka bukan darah dagingnya tetapi bagi Danist itu bukanlah masalah besar, Tuhan pasti sudah mengatur jalan hidupnya. Mungkin memang dia ditakdirkan untuk menjaga Elea dan Gienka, bahkan saat bayi itu masih berada didalam kandungan ibunya, seolah ada hasrat tersendiri untuk mencurahkan cintanya pada Gienka.


Danist mengangkat Gienka dan berniat membangunkan bayi itu agar bisa segera mandi. Elea datang dan menghampirinya.


"Apa dia sudah bangun???" Tanya Elea.


"Lihatlah, dia masih todur begitu lelapnya membuatku sedikit meragu untuk mebangunkannya, aku tidak tega, putriku cantik sekali" Gumam Danist.



"Berikan dia padaku, kau harus segera bersiap untuk pergi bekerja"


Danist mencium Gienka dengan penuh kasih sayang lalu memberikannya pada Elea dan harus segera bersiap memulai aktifitasnya lagi.


******


Aditya sudah selesai mandi dan Kyra juga sudah rapi dan membawa bayi itu keluar kamar untuk menemui Cahya. Kyros sedang duduk di kursi bayinya sambil memegang mainan, sementara Cahya juga terlihat heboh di meja dapur, entah apa yang sedang dilakukan istrinya itu. Aditya kemudian menaruh Kyra di kursi bayi lalu mendekati Cahya. "Apa yang kau buat dengan alpukat itu??? Kau ingin membuat saus alpukat ya??" Tanya Aditya.


"Bukan!!! Ini untuk anak-anak, sudah saatnya mereka mengkonsumsi makanan pendamping, jadi untuk pertama kalinya mereka makan, aku memilih menghaluskan alpukat ini dan juga mencampurnya dengan lelehan keju"


"Ya Tuhan, anak-anakku sudah besar, waktu cepat sekali berlalu, bolehkah aku juga menyuapi mereka untuk pertama kalinya?"


"Tentu saja, ambil mangkuk ini, terserah kau ingin menyuapi Kyra atau Kyros?"


Cahya dan Aditya akhirnya menyuapi bayi mereka untuk pertama kalinya. Wajah kedua bayi itu terlihat menggemaskan saat mulutnya mencoba mengenali rasa makanan yang baru pertama kali mereka makan tetapi kemudian mulai menikmatinya, dan berteriak-teriak senang.


Cahya dan Aditya terlihat saking berpandangan merasa takjub dengan perkembangan kedua bayi mereka. Tidak menyangka mereka sudah dalam tahap ini, padahal baru seperti kemarin bayi itu lahir ke dunia dan sekarang mereka sudah tumbuh begitu sehat dan setiap hari semakin terlihat menggemaskan. Walaupun Kyros lahir lebih dulu tetapi tubuh Kyra terlihat lebih berisi dibanding kakaknya, mungkin karena Kyra lebih agresif saat menyusu.


Setelah kedua bayi itu menghabiskan makanan pertama mereka, Cahya menyuruh Aditya untuk sarapan lebih dulu karena dia akan membersihkan mulut kedua bayinya yang belepotan.


Baru saja menyelesaikan sarapannya, ponsel Aditya berkedip dan menemukan pemberitahuan Email masuk. Itu adalah email dari sekretarisnya yang sudah diceritakan oleh papanya kemarin, Aditya mengambil minum lalu berpamitan pada Cahya untuk masuk ke kamar karena akan memeriksa pekerjaan.


Aditya menyalakan laptopnya dan mulai membuka emailnya di laptop untuk memudahkannya memeriksa pekerjaan dari sang Papa. Dengan penuh konsentrasi Aditya mulai membaca satu per satu laporan itu. Ya Aditya harus memeriksanya dengan teliti, mengingat itu berkas dari perusahaan yang selama ini tidak Aditya sukai, bukan karena persaingan tetapi karena reputasi perusahaan itu dikenal sangat buruk dengan berbagai permasalahan yang pernah timbul sebelumnya.