SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 390



Setelah berbicara dengan Ariel, Aditya memanggil Gienka untuk mengajaknya pulang karena sudah ditunggu oleh Cahya dan Kyra Kyros di mobil. Gienka pun mencium Danist lalu bergantian mencium Ariel juga Elea.


"Dadah Mama, Papa Iel, Papa Dan....!!! Gie pulang ke lumah uncle Adit dulu ya..!!"


Danist dan Elea melambaikan tangannya pada Gienka, sementara Ariel keluar untuk mengantar Aditya keluar dari ruangan perawatan Danist.


Saat kembali ke mobil, Cahya keluar dan melihat ada raut kebahagiaan di wajah suaminya itu. Sementara Aditya menyuruh Gienka masuk ke kursi belakang mobil bersama dengan Kyra dan Kyros, juga memasangkan seatbelt. Setelah menutup pintu belakang, Aditya masih tersenyum, membuat Cahya menggerutkan dahi nya penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam sehingga Aditya terlihat bahagia sekali.


"Kau kenapa senyum-senyum??? Apa kau baru saja bertemu dengan mantan kekasihmu di dalam???" Cahya menatap Aditya dengan keheranan.


"Kau ini....! Ada hal luar biasa terjadi tadi saat didalam, aku akan menceritakannya padamu nanti, oh iya apa kita perlu mampir ke restoran untuk makan siang? Aku tidak akan kembali ke kantor jadi kita punya waktu bersama anak-anak"


"Jika kau memang tidak kembali ke kantor, kita makan siang dirumah saja, aku akan memasak makan siangnya"


"Oke baiklah....!" Aditya kemudian membukakan pintu mobil untuk Cahya.


Sementara itu Ariel meminta ijin pada Elea agar bisa menyuapi Danist sebelum nanti dia harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan sama beberapa hari ke depan. Walaupun masih kesal pada Ariel, Elea pun mencoba untuk menahannya karena Danist sendiri yang sudah memutuskan untuk menerima Ariel dan memaafkan semua kesalahannya, membuat Elea pada akhirnya harus ikut menerima itu juga.


Elea memberikan makan siang Danist pada Ariel, dan laki-laki itu perlahan mulai menyendok nasi, sayur dan lauk kemudian menyuapkannya pada Danist. Senyum bahagia seolah tidak luntur dari wajah Danist sejak tadi. Bahkan dia masih tidak menyangka jika akhirnya semua penantiannya selama ini pada Ariel sudah terwujud.


Ariel mulai berpikir untuk hubungan mereka ke depannya. Jika Danist sudah sembuh nanti tentu dia akan memulai untuk merivisi semua surat warisan yang ditinggalkan mendiang Ayahnya, dan akan kembali membaginya 50% dengan Danist seperti dulu yang diinginkan oleh ayahnya. Kali ini Ariel sudah benar-benar yakin memutuskan hal itu, tidak ada lagi keraguan serta bersuudzon kepada Danist, karena Danist juga memiliki hak yang sama sepertinya, begitu juga dengan Gienka ataupun Friddie, kedua anak itu juga harus diperlakukan sama. Ariel berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia juga akan mulai untuk menyayangi Friddie dengan baik karena sebelumnya dia bersifat begitu acuh pada keponakannya itu, padahal selama ini Danist selalu mencurahkan seluruh cintanya pada Gienka, bahkan disaat Gienka masih berada dikandunga Elea, Danist sudah memperhatikannya dengan baik. Tidak akan ada salahnya jika saat ini dia harus mulai memperbaiki semuanya agar semakin lebih baik. Dan seperti sebelumnya, Danist adalah korban dari kesalahan masalalu yang dilakukan oleh kedua orangtua Ariel.


*****


Aditya membantu Cahya di dapur agar istrinya itu bisa menyelesaikan memasaknya lebih cepat. Sedangkan Kyra dan Gienka tengah asyik bermain di lorong yang sudah disulap menjadi playground, sementara Kyros lebih suka menyendiri, duduk bersila dan menatap layar laptop milik Aditya, sibuk menonton video kesukaannya.


"Well....! Apa yang terjadi dirumah sakit tadi, aku penasaran sekali" Gumam Cahya yang tengah mengaduk kuah bakso jamur sedangkan Aditya sibuk menggunting daun bawang.


"Ariel....! Dia tadi datang ke rumah sakit" Jawab Aditya.


"Ariel datang...??? Serius??? Lalu apa yang terjadi??" Cahya mematikan kompor dan melangkah mendekat ke Aditya.


"Ya mereka saling berpelukan, Ariel meminta maaf dan Danist memaafkannya, Ariel bertekad untuk tidak lagi melakukan hal yang sama seperti dulu pada Danist, Ariel akhirnya memeluk Danist dengan isakan penuh penyesalan, itulah yang diinginkan Danist selama ini yaitu dia bisa dipeluk oleh Ariel, dan itu terjadi tadi..."


"Syukurlah, dan setelah ini aku berharap Ariel tidak lagi membuat drama baru, dan benar-benar tulus dengan permintaan maafnya pada Danist"


Aditya terkekeh kemudian meminta agar istrinya itu bisa kembali menyalakan kompornya sehingga bisa melanjutkan lagi memasaknya karena dia sudah benar-benar lapar.


"Ky sayang, hentikan videonya, lanjutkan nanti lagi, sekarang ayo makan...!" Teriak Aditya pada Kyros yang sedang ada di ruang tamu, bicah itu tampak serius dengan tontonannya.


"Ya Pap...!" Kyros menghentikan videonya dan berdiri lal berlari menghampiri Aditya.


Aditya menarik kursi dan meminta putranya itu agar duduk tenang. Tak lama Kyra dan Gienka juga berlari ke meja makan diikuti oleh Cahya. Mata Kyra terarahkan pada apa yang ada di atas meja, matanya berbinar ketika melihat ada semangkuk bakso jamur kesukaannya. Cahya mulai menuangkan bakso jamur beserta kuahnya di dalam mangkuk yang sudah diisi dengan berbagai bahan pelengkapnya, lalu membagikannya pada anak-anak dan Aditya. Mereka berlima pun mulai menikmati makan siangnya.


Rupanya Gienka juga menyukai masakan yang dibuat oleh Cahya, bahkan dia selesai lebih cepat dari Kyra dan Kyros.


"Onty, bolehkah aku meminta tambah? Tiga bakso saja!"


Cahya terkekeh. "Tentu saja boleh, kau seprrtinya sangat menyukainya, apa Gie ingin tambah mie nya lagi?


"Tidak! Bakso saja, tiga...!" Gienka menunjukkan 3 jemarinya pada Cahya.


Cahya mengangguk dan memberikan 3buab bakso seperti yang diinginkan oleh Gienka.


"Amam...! Aku juga mau...!" Sahut Kyra.


Cahya mengangguk dan memberikannya juga pada putrinya, sementara Kyros tidak banyak bicara dan tidak menambah seperti yang lainnya.


"Oh iya Gie, besok Gie harus bertemu tante Anna lagi ya??" Kali ini tiba-tiba Aditya teringat dengan informasi yang diterimanya dari Brianna semalam. Gienka pun mengangguk dan mengatakan bahwa dia senang bertemu dengan Brianna.


★★★★★★★


2 Minggu kemudian....


Danist akhirnya sudah boleh dibawa pulang karena kondisinya semakin membaik. Ariel, tentu saja dia benar-benar telah merubah dirinya dengan baik. Setiap hari sepulang dari kantor dia selalu ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Danist dan ikut merawatnya walau hanya datang beberapa menit saja karena membawa Gienka jadi tidak bisa terlalu lama di rumah sakit tetapi dia selalu rutin datang setiap hari.


Sudah lama sekali Mama Danist tidak membawa Friddie jalan-jalan pagi keliling kompleks. Dia membawa Friddie pagi sekali karena tahu bahwa Elea akan direpotkan mengurus Danist, mengingat Danist masih harus menggunakan kursi roda. Jadi untuk mengurangi beban Elea, Mama Danist membawa cucunya itu pergi saja sementara dari rumah. Sedangkan Gienka sejak semalam menginap di rumah Ariel.


Karena matahari sudah mulai meninggi, Mama Danist memutuskan untuk membawa Friddie pulang dan berharap Elea sudah selesai mengurus Danist agar nanti saat sampai dirumah, Elea bisa langsung menyusui Friddie. Dan dia juga bisa menyiapkan sarapan untuk semua orang dirumah.


Dan sampailah Mama Danist di halaman depan rumah, kemudianmaju beberapa langkah dan hendak membungkuk untuk mengangkat Friddie dari strollernya, tetapi dia menghentikan niatnya itu saat melihat mobil sedan putih berhenti di depan rumah. Dia mengernyit karena sebelumnya tidak pernah melihat mobil itu.


Pintu terbuka dan Brianna keluar dari sana, dan tersenyum manis menyapa Mama Danist, dengan kedua tangannya memegang bucket bunga dan satunya keranjang berisi aneka buah-buahan. Tetapi respon dari Mama Danist justru datar saja tidak membalas senyum Brianna. Ya, Mama Danist masih sangat marah mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Brianna tempo hari pada Danist. Mungkin ini saatnya dia harus mengingatkan Brianna agar tidak lagi berbuat seperti itu, karena Danist saat ini sudah berbahagia dengan kehidupannya tanpa bayang-bayang perempuan itu lagi. Brianna mendekat ke arah Mama Danist sambil terus tersenyum, mencoba mengulurkan tangannya untuk menyalami Mama Danist, tetapi sayangnya uluran tangannya tidak mendapat balasan, justru Mama Danist memandabgnya dengan pandangan yang tajam.