
Aditya membawa makanan untuk dirinya dan Cahya, dia membeli makanan di kantin rumah sakit, Aditya masuk membawa makanannya dan mengajak Cahya untuk makan dan melihat ibu mertuanya sedang tertidur.
"Adit, ibu tidak mau tinggal bersama kita" Suara Cahya pelan karena ibunya baru saja tertidur.
" Tidak mau tinggal bersama kita?? Kenapa Ca??"
" Ibu merasa tidak enak jika harus tinggal bersama Mama dan juga Papa"
" Tapi Mama dan Papa kan tidak mempermasalahkannya Ca??"
" Aku tahu, tetapi ibu benar-benar tidak mau, dia meminta untuk dicarikan rumah kontrakan saja"
" Tapi kita perlu memastikan keselamatan ibu dan kesembuhannya, kalau tinggal bersama kita akan baanyak yang membantu menjaga nya"
Cahya menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa keputusan ibunya tidak bisa diganggu gugat, Aditya termenung memikirkannya, dia sangat perlu menjaga ibu mertuanya tidak ingin kejadian seperti ini akan terjadi lagi.
" Kita makan dulu Ca, nanti akan kita cari solusinya"
Mereka menikmati makan malam sederhana, Aditya tersenyum melihat Cahya sudah tidak marah dengannya lagi tetapi mungkin istrinya itu ingin fokus menjaga ibunya dan tidak ingin terlihat sedang bersitegang dengannya dihadapan orang-orang.
Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka dan melihat ternyata Elea datang bersama Ariel.
" Hai Cahya sayang, upss ibu sedang tidur ya?? Maaf!" Seru Elea pelan sambil menutup mulutnya.
" Kalian datang, terima kasih ya?" Cahya beranjak dan memeluk Elea, bahagia dengan kedatangan sahabatnya itu.
" Maaf ya aku baru sempat datang, pekerjaan sangat banyak, oh iya aku membawakanmu pakaian untuk besok, kau ada meeting kan? Aku tau kau tidak membawa baju untuk kerja karena meeting ini dadakan jadi aku membawakanmu"
" Kau memang sahabatku dan penyelamatku El, thanks ya? "
Elea mendekati ibu Cahya dan melihat kondisinya, ibu Cahya sudah seperti ibu kedua baginya, dia sangat menyayangi Elea sering membuatkan masakan untuknya, sering menjadi tempat Elea berkeluh kesah, melihat kondisinya seperti ini membuat Elea sangat bersedih dan mengutuk siapapun yang berniat mencelakainya.
Aditya sedang mengobrol dengan Ariel, Elea duduk bersama Cahya disamping ranjang ibunya.
" Ca, mendengar dari cerita Ariel, masalah ini sungguhlah besar dan sangat keterlaluan jika ada seseorang yang berniat menyakiti ibu bahkan hampir melenyapkan nyawa nya, beliau dibius dan rumahnya dibakar, ini sungguh keterlaluan Ca" Ungkap Elea dengan kesedihan dan kekesalannya menjadi satu.
" Entahlah El, aku juga tidak mengerti kenapa kejadian seburuk ini menimpa ibuku, apa salahnya? Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika saat itu Beno tidak datang tepat waktu, entah apa yang terjadi" Suara Cahya terdengar pelan dengan wajahnya yang murung.
" Ca, Ariel bilang, dia dan Randy menemukan beberapa bukti, tidak jauh dari rumahmu tepatnya dihalaman belakang Ariel menemukan jerigen dengan bau seperti habis diisi bensin dan mereka percaya bahwa memang rumahmu sengaja dibakar, kau tahu Ca saat itu Aditya sangat marah dengan apa yang dia lihat, Ariel bilang jika Aditya sudah marah itu sangat menakutkan, dia memang selalu terlihat ramah dan murah senyum kepada orang tetapi sangat menakutkan jika ada yang mengusiknya dan orang yang dia sayang, bahkan dia bisa saja melenyapkan orang itu jika tidak ada yang menahannya"
" Benarkah??? Kau jangan menakut-nakuti El, Ariel pasti hanya mengarang"
" Tidak Ca, itulah Aditya, Ariel bersahabat dengannya sejak kecil jadi dia tahu betul watak dan sifat Aditya, itulah mengapa Aditya tidak langsung menghubungi polisi, karena dia ingin mencari bukti terlebih dulu dan menemui pelaku nya langsung, kau pasti bisa bayangkan apa yang dia rencanakan, dia semarah dan semenakutkan itu Ca, bahkan dia menangis saat baru keluar mobil karena melihat kondisi rumahmu yang sudah tidak berbentuk, mendengar itu aku bisa mengambil kesimpulan jika suamimu itu sangat mencintaimu dan keluargamu, dibalik penampilannya yang lembut dan gagah, Aditya adalah laki-laki penyayang, kau harus bersyukur dia menjadi suamimu"
Cahya termenung mendengar perkataan Elea, benarkah Aditya sangat mencintainya dan keluarganya, dan benarkah dia menakutkan jika sedang marah, dia hanya pernah sekali melihat Aditya marah yaitu saat meneriakinya tetapi setelah itu Aditya menyesal dan meminta maaf sambil memohon padanya, jika seperti itu apa yang menakutkan, itu adalah hal yang wajar ketika seseorang meminta maaf karena berbuat salah, dan masalah mencintainya dan keluarganya memang benar, selama ini Aditya menjaganya dengan baik bahkan memastikan keselamatan ibunya, Aditya penuh dengan kasih sayang padanya dan keluarganya, tetapi apakah Aditya mencintainya atau hanya menganggapnya hanya sebagai seorang istri itu Cahya tidak tahu, mungkin seperti halnya dengan dirinya, Aditya hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang suami saja, bukan mencintainya karena tidak mungkin Aditya mencintainya, mengingat betapa Cantiknya Erica bak seorang peri dari kayangan, bahkan mungkin karena cintanya yang begitu besar pada Erica, Aditya bahkan masih melanjutkan pembangunan rumahnya dengan Erica walau mereka sudah putus, Erica sangat jauh berbeda dibandingkan dengan dirinya yang hanya perempuan biasa, tentu tidak mungkin Aditya mencintainya.
Tidak bisa dipungkiri sikap Aditya sangat baik padanya dan penuh kasih sayang, bahkan Cahya tidak bisa melupakan moment percintaan mereka yang begitu romantis, sikap Aditya yang begitu lembut saat menyentuhnya pertama kali tidak akan pernah bisa Cahya lupakan, suaminya itu sangat tampan dan sexy membuatnya nyaman berada didekatnya. Tetapi jika mengingat kejadian Aditya memeluk Erica dihadapannya membuat hati Cahya sangat sakit, dia tetap memutuskan tidak akan kembali ke kamar itu, dia memiliki kebiasaan aneh, trauma terhadap tempat yang membuatnya memiliki kenangan buruk, tetapi jika ibunya sudah sembuh, Cahya tetap akan memilih tinggal dikamar barunya, terserah Aditya mau meninggalkan kamarnya itu atau menyusulnya ke kamar baru, Cahya tidak peduli tapi nanti dia akan membicarakan lagi dengan Aditya.
Elea dan Ariel berpamitan pulang karena sudah malam. Cahya menyelimuti ibunya yang sudah tertidur sejak tadi, Aditya duduk disofa melihat istrinya, bagaimanapun dia harus meminta maaf pada Cahya dan menyelesaikan kesalahpahaman mereka.
" Ca, bisakah kau duduk sebentar disini, kita harus bicara"
" Apa yang ingin kau bicarakan?? Aku sangat lelah dan mengantuk, jangan membahas apapun denganku oke??? Apalagu membahas mantan kekasihmu itu, aku tidak mau mendengarnya, aku hanya ingin fokus merawat ibu lebih dulu" Cahya duduk disamping ranjang ibunya dan merebahkan kepalanya untuk tidur.
" Kau tidur disofa saja Ca, jangan disitu, badanmu akan pegal-pegal saat bangun, kesinilah aku akan pindah" Ucap Aditya, tetapi Cahya tidak memperdulikannya dan tetap pada posisinya sekarang disamping ibunya.
Dini hari Aditya terbangun, dan mengangkat Cahya ke sofa lalu membaringkannya serta menyelimutinya, dia tidak ingin Cahya merasa pegal saat bangun apalagi besok istrinya itu harus ke kantor, walaupun Aditya masih bersedih karena Cahya masih belum memaafkannya dia akan tetap berusaha agar dimaafkan oleh istrinya.