
" Ca, kamu gak apa-apa Ca"
Cahya langsung memeluk Aditya dengan erat sambil menangis karena sangat ketakutan. Melihat istrinya dilanda ketakutan yang luar biasa Aditya menciba menenangkannya.
" Oke tenanglah, sekarang kita pulang"
Aditya memasangkan seatbelt Cahya lalu menutup pintu mobil dan segera dia masuk ke dalam mobil untuk segera pulang. Cahya masih menangis karena shock, dan Aditya masih mencoba untuk membuatnya merasa tenang.
Sampailah mereka dirumah, Aditya membawa Cahya ke kamar dan membantunya untuk berbaring, Aditya mengambil obat dan melihat gelas dimeja kosong tidak ada Air, dia lalu meminta istrinya untuk berbaring saja karena dia akan mengambilkannya air. Aditya turun ke bawah dan tiba-tiba bel berbunyi, dia melihat Mbak Tina sedikit berlari untuk membuka pintu itu, lalu menghentikannya dan menyuruhnya membawakan Cahya air ke kamarnya. Aditya membuka pintu dan menemukan Erica disana.
" Shiit, kenapa perempuan ini datang lagi" Gerutu Aditya dalam hati.
" Hai Adit sayang, apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu, kenapa kau tidak pernah membalas pesanku? " Suara sensual Erica sangat jelas membuat Aditya memalingkan wajahnya.
" Mau apa kau kesini? Pergilah dari rumahku "
" Pergi?? Kenapa aku harus pergi, aku tamu kau harus bersikap baik kepada tamu " Erica menyentuh pipi Aditya dan Aditya langsung menampik tangannya.
" Sudahlah Erica pergi dari sini, aku sedang tidak ingin diganggu, pergilah"
Suara teriakan mbak Tina mengagetkan Aditya, mbak Tina berteriak memanggilnya dan mengatakan jika Cahya merasakan sakit di perutnya. Aditya segera berlari naik ke atas dan mengabaikan Erica.
" Ca, kenapa kau kenapa?? Apa yang sakit" Kepanikan terdengar jelas dari suara Aditya.
" Perutku Adit, perutku sangat sakit, aaauuuwww" Cahya menangis meronta kesakitan sambil memegang perutnya.
" Oke kita akan ke rumah sakit sekarang "
Aditya menggendong Cahya membawanya dengan hati-hati menuruni tangga dan melihat Erica masih berdiri didepan pintu.
" Kenapa kau masih disini, cepat pergi! Mbak Tina tolong kau suruh perempuan ini pergi dari sini, dan tutup gerbang serta pintunya, jangan menerima tamu siapapun itu, aku harus segera membawa Cahya ke rumah sakit, aku tidak ingin bayiku kenapa-kenapa"
Aditya segera membawa Cahya ke rumah sakit dan meninggalkan Erica, Mbak Tina segera menyuruh Erica untuk pergi dari rumah lalu menutup gerbang dan menguncinya.
*****
Cahya segera mendapat perawatan dan dokter mengatakan jika Cahya tidak boleh terlalu banyak pikiran dan harus dalam keadaan baik, juga tidak boleh mengalami shock berlebihan, karena kandungannya masih terlalu muda dan akan ada banyak resiko jika dia terlalu kelelahan dan banyak pikiran.
" Apa istriku harus dirawat dok?" Tanya Aditya.
" Tidak perlu pak, biarkan istri anda beristirahat sebentar lalu anda bisa membawanya pulang "
Aditya menghela napas merasa lega, dia merasa sangat bersyukur istrinya dan bayinya tidak mengalami hal yang buruk. Cahya pasti sangat shock karena kejadian pelemparan itu, Aditya masih memikirkan siapa yang melempar batu ke mobilnya dan sepertinya pelakunya dengan sengaja melakukan itu.
" Aku memaafkanmu, jangan pikirkan banyak hal, itu sangat berpengaruh pada bayi kita " Aditya berucap lembut dan menarik tangan Cahya lalu menciumnya.
" Benarkah?? Kau sudah memaafkanku, terima kasih Adit, aku berjanji padamu bahwa aku akan membuang semua sifat burukku, aku sangat sedih melihat kau tidak mau bicara denganku, terima kasih kau sudah mau memaafkanku"
*****
Mereka sampai dirumah, Aditya menggendong Cahya dan membawanya naik ke atas lalu membaringkannya di tempat tidur. Cahya membelai pipi suaminya sambil tersenyum menatapnya dalam-dalam.
" Aku sangat beruntung memilikimu dan menjadi suamiku, kau selalu menjagaku, aku sangat malu jika teringat bagaimana sikapku padamu, terima kasih atas semua yang kau berikan untukku, cintamu, kasih sayangmu, perhatianmu dan kau selalu menjagaku dan maafkan semua kesalahanku padamu, aku terlambat menyadari semuanya, aku mencintai mu Aditya suamiku, sangat mencintaimu" Cahya menatap wajah suaminya dalam-dalam. Aditya terperanjat dan menatap Cahya tidak percaya dengan apa yanng baru saja didengarnya.
" Apa?? Kau bilang apa tadi? " Aditya sudah mendengarnya tetapi masih tetap hatinya takut untuk percaya dan ingin memastikannya lagi.
Cahya memberikan senyuman terindahnya untuk Aditya dan mengatakannya lagi untuk membuat suaminya percaya.
" Aku mencintai mu Aditya, sangat mencintaimu, aku tidak tahu kapan cinta ini datang mungkin saat aku butuh sandaran dan kau selalu menjadi orang pertama yang memelukku, atau saat kau selalu menjadi pahlawan yabg menjagaku, atau bisa saja saat kita berdua menghabiskan waktu bersamaa dan tertawa bahagia, tetapi bisa juga sebenarnya aku sudah mencintaimu saat pertama kali kita bertemu, entahlah tetapi saat ini bisa ku katakan aku sangat mencintaimu"
Mendengar semua itu Aditya langsung memeluk Cahya. Kini kebahagiaannya sudah lengkap istrinya sudah mencintainya, sudah tidak ada penghalang diantara mereka. Aditya mencium kening istrinya dan menyuruhnya untuk beristirahat.
" Bukankah tadi siang Erica datang kesini, apa yang kalian bicarakan??" Saat dia kesakitan dan Aditya menggendongnya, dia sempat melihat Erica didepan pintu.
" Tidak ada yang kami bicarakan, dia datang dan kemudian kau merasa sakit jadi aku meninggalkannya lalu menemuimu, jangan pikirkan hal buruk, beristirahatlah sayang"
Aditya menata selimut istrinya dan menyuruhnya untuk tidur, dia mengecup bibir Cahya lembut lalu melepasnya perlahan, dia tidak boleh terbawa suasana karena istrinya harusss beristirahat.
" Kau mau kemana kenapa pergi, kita bisa melakukannya, kau tidak perlu takut" Cahya menarik tangan Aditya tetapi suaminya itu justru tersenyum padanya.
" Aku tahu sayang, tapi tidak sekarang, perutmu baru saja kram, aku tidak mau membuatmu dalam keadaan tidak baik, sekarang tidurlah"
" Aku mau tidur jika kau memelukku, itu akan membuatku merasa nyaman, kemarilah"
Aditya akhirnya berbaring disebelah Cahya dan menarik tubuh Cahya pelan untuk berbaring di lengannya, memeluknya lembut. Kepala Cahya ada di lekukan lengan dan lehernya dan Aditya memeluknya hingga akhirnya istrinya itu tertidur.
Aditya sangat bahagia karena Cahya mencintainya, dia akan selalu menjaga Cahya dan membahagiakannya, memastikan istri dan calon bayinya selalu sehat dan Cahya tidak boleh terlalu memikirkan banyak hal yang bisa membuatnya shock.
Keesokan harinya Aditya melarang Cahya untuk pergi ke kantor, sempat ada perdebatan kecil diantara mereka karena Cahya memaksa untuk tetap bekerja, hingga akhirnya menyerah tidak mau membuat Aditya marah lagi padanya. Aditya juga mengatakan bahwa dia akan tetap dirumah untuk menemaninya.
Sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari rumah Aditya dan ada seorang laki-laki didalamnya sedang mengawasi rumah Aditya, sampai siang dia menunggu tetapi sepertinya sang pemilik tidak keluar dari rumah. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Sepertinya dia tidak keluar rumah hari ini bos "
Lalu menutup teleponnya setelah mendengar arahan dari orang yang dia panggil bos tadi, yang mengatakan bahwa dia harus tetap nengawasi rumah ini.